"Mas... apakah kamu tidak mencintaiku, walaupun hanya sedikit?" tanya Indah dengan suara bergetar.
Namun jawaban yang ia terima menghancurkan hatinya.
"Lupakan saja, Indah. Aku tidak mencintaimu. Hatiku hanya untuk dia."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Marisa putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 19 - kebohongan
Rizki melangkah masuk ke lobi kantor dengan aura yang gagah dan berwibawa. Semua karyawan menunduk seketika, menyisakan ruang yang hening seketika. Pak Rizki dikenal sebagai bos yang sangat tegas dan disiplin — siapa pun yang melanggar aturan, ia tak segan memecatnya seketika. Bersama asistennya, ia masuk ke dalam lift, meninggalkan keheningan di lobi.
Begitu sosoknya hilang, dua orang karyawan, Kira dan Nan, saling berbisik.
"Pak Rizki itu orangnya misterius banget ya... mukanya kaku dan galak sekali," bisik Nan.
"Ssttt... jangan keras-keras. Nanti sekretaris Hana mendengar dan melapor ke kita," bisik Kira berhati-hati.
Namun sayang, baru saja kata-kata itu terucap, sosok sekretaris Hana lewat tepat di depan mereka. Tatapannya tajam dan sinis.
"Kalian ini ngapain? Bukannya bekerja, malah bergosip di jam kerja," tegurnya dingin.
"Maaf, Kak..." jawab mereka seraya buru-buru pergi menjauh.
Sekretaris Hana mendengus kasar. "Dasar karyawan tidak berguna," batinnya, lalu melangkah pergi menuju ruang kerjanya sendiri.
Dari kejauhan, Kira berbisik lagi pada Nan, nada suaranya sedikit kesal.
"Enak sekali ya jadi dia... telat sedikit saja tidak dimarahi bos," keluh Ana.
"Coba kalau kita yang begitu, pasti sudah lama dipecat," balas Kira dengan nada kecewa.
Hana melangkah masuk ke ruangan Rizki dengan senyum termanisnya, membawa kotak bekal di tangannya.
"Sayang... aku tadi pagi memasak khusus untukmu," ucapnya lembut, mendekat ke arah Rizki.
Rizki menoleh, senyum tipis terukir di bibirnya. "Terima kasih, Hana. Kamu begitu pengertian," jawabnya tulus.
"Iya, sayang. Aku sedang belajar jadi istri yang baik buat kamu. Memasak biar kamu tidak sembarangan makan di luar," ucapnya manja.
Rizki tersenyum lembut, belum sedikit pun curiga. "Kamu ini sudah sangat luar biasa. Aku beruntung sekali memilikimu, Hana."
"Boleh aku minta sesuatu nggak, sayang?"
"Katakan saja, Hana."
"Sepupuku itu lulusan luar negeri, belum mendapatkan pekerjaan. Jadi... boleh nggak kamu carikan posisi di perusahaanmu?"
"Boleh, Hana. Kirimkan saja portofolionya ke asistenku, nanti dia yang mencarikan posisi yang pas untuknya."
"Makasih banyak ya, sayang. Maaf kalau aku sudah banyak merepotkanmu."
"Tidak apa-apa, sayang."
Rizki sedikit menunduk, terlihat bingung sejenak. "Sepupu? Bukannya cewek setahuku?"
Wajah Hana sempat pucat seketika, tapi ia segera tersenyum cepat. "Ohh... iya, tapi ini sepupu dari keluarga ayahku."
Hana menghela napas lega dalam hati. Hampir saja ketahuan! Dia sengaja menyembunyikan bahwa itu Rio — ini langkah pertamanya untuk memasukkan kekasih gelapnya ke dalam perusahaan Rizki, supaya semakin mudah mengendalikan semuanya dari dalam.
Hana memeluk lengan Rizki sambil tersenyum manja. "Sayang... makasih banyak ya kamu sudah selalu menolongku."
"Sepatutnya aku melakukan itu untukmu, sayang," jawab Rizki lembut sambil menatapnya.
Namun tiba-tiba pandangannya tertuju pada leher Hana. Matanya sedikit menyipit.
"Itu... bekas apa di lehermu, Hana?"
Jantung Hana berpacu kencang. "Astaga... ketahuan! Padahal tadi pagi aku sudah pakai salep penutup, tapi tetap terlihat juga," batinnya panik. Ia buru-buru mengarang alasan secepat kilat.
"Oh... ini ya? Ini alergi kok, sayang. Semalam aku salah makan, jadi tubuhku terasa gatal sekali. Bekas merah ini muncul karena aku tidak sengaja menggaruknya sampai terluka," ucapnya sambil tersenyum canggung.
"Mau aku oleskan salep saja biar cepat sembuh?" tawar Rizki tulus.
"Nggak usah, sayang. Aku sudah minum obatnya tadi kok. Nanti juga hilang sendiri," tolaknya cepat.
"Baiklah kalau begitu. Asal kamu baik-baik saja, aku lega," ucap Rizki tenang, meski di dalam hatinya ada keraguan kecil yang mulai menyelinap.
Rizki menatap punggung Hana yang berjalan menjauh, pikirannya masih terus mencerna penjelasan tadi. Keraguan itu tak bisa ia tepis begitu saja.
"Kenapa aku merasa dia baru saja berbohong? Seperti ada sesuatu yang sedang ia tutupi dariku..." batinnya bergumul.
Namun seketika itu juga ia menggeleng pelan, menepis pikiran buruk itu.
"Tidak mungkin Hana berbuat seperti itu. Dia tulus dan baik padaku. Tidak mungkin dia bermain di belakangku dengan laki-laki lain. Pasti hanya perasaanku saja yang berlebihan," tegaskannya dalam hati, mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
Ia tersenyum tipis, berusaha menenangkan kegelisahannya. Tapi suara kecil di hatinya seakan tak mau diam — seakan memperingatkan bahwa kenyataan tidaklah seindah yang ia kira.
Hana berjalan keluar dari ruangan itu sambil menenangkan detak jantungnya yang masih tak beraturan.
"Sial banget... masa ketahuan begini? Untung Rizki gak bertanya lebih lanjut. Dasar pria bodoh, gampang sekali dibohongi," gerutunya dalam hati sambil mengelus dada. "Kalau sampai dia tahu aku selingkuh di belakangnya... bisa hancur aku."
Ia menghela napas kasar, kesal sekaligus takut. "Rio ini ceroboh banget! Bikin bekas merah di tubuhku, padahal aku sudah berpesan jangan sampai ada jejak. Untung Rizki tidak terlalu curiga dan tidak berpikir macam-macam. Lain kali aku harus lebih berhati-hati lagi. Satu kesalahan kecil bisa menghancurkan rencana besar ini."
Hana menyembunyikan ponselnya di balik bilik toilet, berbisik pelan namun penuh kemenangan.
"Sayang... aku sudah dapatkan posisi untukmu. Di kantor cabang perusahaan Rizki yang lain."
"Wah, sudah dapat? Kamu hebat banget!" seru Rio antusias di seberang telepon.
"Iya dong. Gampang banget aku kendalikan dia, Rio. Dia percaya saja begitu aku minta," jawab Hana angkuh.
"Oke, kalau gitu makasih ya sayang infonya. Bonusnya... aku manjain kamu deh nanti malam," goda Rio.
"Kamu ini bisa banget kalau ada maunya," terkikik Hana senang.
"Iya dong, kan sayang kamu."
"Ya sudah, mulai besok kamu sudah diterima di sana."
"Makasih, sayang! Muah!"
"Aku tutup dulu ya, mau kembali kerja," bisiknya, lalu memutus sambungan dengan senyum puas di bibirnya.
Rio tersenyum lebar di ujung telepon, merasa langkah pertamanya menuju kekayaan sudah dimulai.
"Akhirnya... gue gampang banget masuk ke perusahaan itu. Memang benar kata orang, koneksi itu lebih kuat dari kemampuan. Orang yang punya kenalan memang paling diutamakan, bukan yang sebenarnya kompeten. Mulai hari ini, semuanya akan berjalan sesuai rencana. Perlahan tapi pasti, semua yang dimiliki Rizki akan berpindah ke tangan kita."
Ia tertawa kecil, membayangkan masa depan yang semakin dekat di genggamannya.
Hana tersenyum puas menatap pantulannya di cermin kamar mandi, merasa seolah segalanya berjalan sempurna sesuai rencananya.
"Akhirnya semuanya beres. Rizki... kamu gampang sekali ditipu olehku. Selama begini kamu percaya begitu saja pada setiap kata-kataku. Biarkan saja kamu terus percaya, semakin gampang aku memanfaatkanmu."
Ia mencuci tangannya seolah baru saja menyelesaikan sesuatu yang luar biasa hebat, sama sekali tidak merasa bersalah sedikit pun. Kesombongannya sudah di puncak tertinggi — tanpa sadar, di saat dia merasa paling menang, kejatuhannya sudah berdiri tepat di belakang punggungnya.