"Budget nya ini terlalu berlebihan, harus lebih efisien!"
Kenzo Swara, memberikan revisi untuk Rain Edelweis tak terhitung jumlahnya.
Lelah dan ingin marah, tapi nasib sial Rain memang ada di tangan Teman Rival kantornya itu. Kepala Tim Marketing vs Kepala Tim Perencanaan memang sering bentrok.
Di sisi lain, ada Divisi Humas yang selalu jadi penengah.
Apa jadinya kalau rival kantor Rain malah diam diam suka sama Rain?
Padahal setiap hari Rain selalu mencacinya.
Simak kisah mereka disini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peri Bumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ujian dari Papa Kenzo
Seminggu berlalu dengan cepat, dan hari yang ditunggu, sekaligus ditakuti, Rain akhirnya tiba. Papa Kenzo, Pak Wirawan, baru saja pulang dari perjalanan bisnis panjang di luar negeri, dan seperti yang sudah diperkirakan, beliau langsung meminta bertemu dengan Rain begitu mendengar cerita dari istrinya.
Kali ini pertemuan diadakan di rumah keluarga Kenzo, sebuah rumah besar bergaya modern minimalis di kawasan perumahan elite, jauh berbeda dari rumah kontrakan sederhana yang selama ini Rain tinggali bersama Tiyu.
"Kamu tenang aja," kata Kenzo, menggenggam tangan Rain sesaat sebelum mereka masuk ke ruang tamu. "Aku di sebelah kamu terus."
Rain mengangguk pelan, meski jantungnya berdebar jauh lebih kencang dibanding waktu bertemu Mama Kenzo minggu lalu.
Begitu masuk, mereka disambut oleh Pak Wirawan yang duduk tegap di sofa, mengenakan kemeja rapi meski di rumah sendiri, memberikan kesan seorang pengusaha yang terbiasa dengan formalitas bahkan dalam suasana informal sekalipun.
"Jadi kamu yang namanya Rain," kata Pak Wirawan, suaranya berat dan penuh wibawa, matanya menyapu penampilan Rain dari atas ke bawah dengan tatapan menilai.
"Iya, Pak. Selamat siang," jawab Rain, berusaha terdengar tenang meski dalam hati gemetar.
"Duduk," Pak Wirawan mempersilakan, nada suaranya tetap datar dan sulit ditebak.
Mereka berdua duduk di sofa seberang, sementara Mama Kenzo duduk di sebelah suaminya, sesekali memberi senyum kecil ke arah Rain seolah memberi dukungan diam-diam.
---
"Kenzo cerita, kamu manajer Marketing di kantor yang sama dengan dia," Pak Wirawan memulai, nadanya lebih menyerupai wawancara kerja dibanding obrolan santai.
"Betul, Pak," jawab Rain.
"Berapa lama kamu kerja di sana?"
"Lima tahun, Pak. Mulai dari staf biasa."
"Lima tahun untuk jadi manajer," Pak Wirawan mengangguk pelan, tampak sedikit terkesan meski ekspresinya tetap sulit dibaca. "Lumayan cepat untuk ukuran perusahaan sebesar itu."
"Saya berusaha keras, Pak," jawab Rain sederhana, tidak ingin terdengar sombong.
"Kenzo cerita juga, keluarga kamu bukan dari kalangan berada," lanjut Pak Wirawan, langsung ke pertanyaan yang lebih personal. "Boleh cerita sedikit soal latar belakang keluarga kamu?"
Rain menghela napas pelan, memilih untuk menjawab dengan jujur apa adanya. "Bapak saya dulu punya usaha kecil, tapi bangkrut waktu saya masih kuliah, Pak. Sejak itu saya kerja sambil kuliah, dan setelah lulus, saya yang bantu biayai kuliah adik saya sampai sekarang."
"Kenapa bukan orang tua kamu yang tanggung jawab soal itu?" tanya Pak Wirawan, nadanya terdengar seperti menguji, bukan sekadar bertanya biasa.
Kenzo yang duduk di sebelah Rain tampak sedikit tegang mendengar pertanyaan itu, tapi Rain menggenggam tangannya pelan di bawah meja, memberi isyarat bahwa dia bisa menjawabnya sendiri.
"Orang tua saya udah berusaha semaksimal mungkin, Pak," jawab Rain tenang. "Tapi keadaan ekonomi keluarga kami memang terbatas setelah usaha bapak bangkrut. Sebagai anak sulung, saya rasa wajar kalau saya ikut membantu meringankan beban, bukan cuma menuntut orang tua saya yang sudah berjuang sebisa mereka."
Pak Wirawan terdiam sejenak, tampak mempertimbangkan jawaban itu. "Kamu nggak pernah menyesal harus berkorban sebanyak itu di usia muda?"
Rain tersenyum kecil, meski matanya sedikit berkaca-kaca mengingat perjuangan panjang yang sudah dia lalui. "Kadang capek, Pak. Tapi saya nggak pernah menyesal. Karena keluarga saya, sesulit apa pun keadaannya, selalu saling mendukung satu sama lain. Buat saya, itu lebih penting daripada seberapa banyak yang kami punya."
Ada keheningan sejenak setelah jawaban itu. Pak Wirawan menatap Rain lebih lama dari sebelumnya, seolah mencerna kejujuran yang jarang dia temukan dalam pertemuan-pertemuan formal semacam ini.
---
"Kenzo," Pak Wirawan akhirnya beralih ke anaknya, "kamu tahu, tanggung jawab besar menantimu di perusahaan dalam beberapa tahun ke depan. Papa nggak keberatan kamu punya hubungan serius, tapi Papa mau pastikan, kamu nggak kehilangan fokus karena itu."
"Aku nggak akan kehilangan fokus, Pa," jawab Kenzo tegas. "Justru Rain salah satu orang yang bikin aku makin semangat kerja, bukan sebaliknya."
Pak Wirawan mengangguk pelan, tampak mempertimbangkan jawaban anaknya. "Rain," katanya, kali ini menatap Rain langsung, "Papa akan jujur. Awalnya Papa khawatir, anak Papa cuma tertarik karena hal-hal sepele, penampilan, atau sekadar suasana baru. Tapi mendengar cara kamu menjawab tadi, Papa rasa, kamu bukan orang sembarangan."
"Terima kasih, Pak," jawab Rain, merasa sedikit lega meski masih menunggu kelanjutan kalimat itu.
"Satu hal yang perlu kamu ingat," lanjut Pak Wirawan, nadanya melembut sedikit, "hidup bersama keluarga kami nggak akan selalu mudah. Akan ada banyak omongan orang, banyak ekspektasi, banyak tantangan yang mungkin nggak pernah kamu bayangkan sebelumnya. Kalau kamu siap menghadapi itu semua, Papa nggak akan menghalangi hubungan kalian."
Rain menatap Kenzo sebentar, lalu kembali menatap Pak Wirawan dengan mantap. "Saya siap, Pak. Saya sudah terbiasa menghadapi hal-hal sulit sejak lama. Saya percaya, kalau kami saling mendukung, apa pun tantangannya, bisa kami hadapi bersama."
Untuk pertama kalinya sejak pertemuan dimulai, sudut bibir Pak Wirawan sedikit terangkat, membentuk senyum tipis yang jarang ditunjukkan. "Bagus. Papa suka jawaban itu."
---
Setelah pertemuan yang menegangkan itu berakhir, Kenzo mengantar Rain keluar menuju halaman rumah, keduanya menghela napas lega bersamaan begitu berada di luar jangkauan pendengaran orang tua Kenzo.
"Aku nggak nyangka bakal setegang itu," Rain mengaku, masih merasakan jantungnya berdebar kencang.
"Kamu keren banget tadi," puji Kenzo, tersenyum bangga. "Papa jarang banget kasih senyum kayak tadi ke orang baru."
"Untung aku nggak pingsan di tengah-tengah," Rain bercanda, meski lega yang dia rasakan sungguhan.
Kenzo tertawa kecil, lalu menggenggam kedua tangan Rain, menatapnya dengan sungguh-sungguh. "Makasih udah mau hadapin semua ini, Rain. Aku tahu ini nggak gampang."
"Buat kamu, aku rela," jawab Rain tulus, menatap balik mata Kenzo yang kini terlihat jauh lebih lembut dibanding kesan pertama yang dulu dia kenal di kantor.
Sore itu, saat langit mulai berubah warna jingga keemasan, mereka berdua berdiri di halaman rumah besar itu, merasakan satu babak baru dalam hubungan mereka baru saja dimulai, babak yang penuh tantangan, tapi juga penuh harapan akan masa depan yang mereka bangun bersama-sama.
se mistery apa dia...
biasany kalo rival gitu kan harus deket buat saling cekcok 🤭 tpi nyatanya ada hati disana...