Mati konyol tersedak bakso akibat mencak-mencak membaca novel dark romance, Ceisya malah bertransmigrasi ke dalam tubuh figuran malang yang tak dianggap. Di hari pernikahannya, sang mafia kejam—Sylus Blackwood, The Apex Sovereign penguasa Manhattan sekaligus The Crimson King bermata merah di dunia bawah Brooklyn—malah mangkir dan hanya mengirim seekor anjing berjas untuk mewakilinya.
Alih-alih menangis, jiwa mafia asli Ceisya bangkit. Ia mempermalukan keluarga toksiknya, menikahkan anjing utusan Sylus dengan anjing lain, lalu kabur usai menghajar para pengawal dengan keahlian bela dirinya.
Aksi ugal-ugalan itu justru memicu obsesi liar sang raja mafia. Di tengah kerasnya jalanan New York, perburuan maut pun dimulai, mengubah sang penguasa dingin menjadi pecandu abadi di bawah kaki istrinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan Masa Lalu di Balik Layar Rumah Sakit
Suara alarm darurat militer yang berkedip merah terang di sudut meja rias penthouse megah itu masih berdengung pelan, memecah keheningan malam yang sebelumnya dipenuhi oleh napas memburu, sentuhan intim, dan kehangatan mutlak di atas hamparan ranjang sutra hitam. Hologram medis interaktif dari pusat data rumah sakit kota yang terhubung langsung dengan sistem keamanan tingkat tinggi milik sindikat Blackwood menampilkan grafik vitalitas yang melonjak tajam secara drastis, disertai kalimat otomatis berukuran besar berwarna merah darah yang menegaskan bahwa Bianca telah siuman sepenuhnya dari koma panjangnya.
Di atas ranjang king-size yang berantakan, Ceisya membelalakkan manik mata hijau terangnya kencang-kencang. Ia menatap hologram menyala tersebut dengan perasaan campur aduk yang luar biasa hebat—antara rasa terkejut yang teramat sangat, ketidakpercayaan yang mendalam, dan gelombang kecemasan luar biasa yang tiba-tiba menghantam dinding dadanya tanpa ampun.
Di dalam rongga kepalanya, potongan memori dari novel aslinya yang ia baca dengan teliti sebelum mengalami transmigrasi berputar kencang dengan penuh kebingungan dan kekacauan total. Tunggu dulu! Bukannya di dalam cerita asli buku itu si Bianca baru bakal siuman setelah melewati tepat satu tahun penuh sesuai prediksi medis dari para dokter spesialis terbaik?! Kenapa sekarang dia malah bangun jauh lebih cepat?! Padahal aku baru beberapa hari menginjakkan kaki di dunia ini dan merasuki tubuh figuran sialan ini! batin Ceisya histeris di balik wajahnya yang terpaku kaku.
Kehadiran jiwanya yang mendadak di dunia fiksi ini ternyata telah benar-benar menciptakan efek domino atau butterfly effect yang merusak total seluruh plot asli yang sudah iahafal di luar kepala. Kontrak pernikahan satu tahun dan uang kompensasi senilai 5 miliar tunai yang ia jadikan rencana cadangan mutlak untuk kabur ke belahan bumi lain mendadak hancur berkeping-keping sebelum waktunya! Aturan main dunia ini telah bergeser secara radikal, dan ia kini berdiri di atas tanah yang jauh lebih berbahaya serta rapuh dari perkiraannya semula.
Namun, sebelum Ceisya sempat membuka mulutnya lebih lebar untuk melontarkan protes atau menyuarakan kepanikan yang melanda pikirannya, sebuah tangan besar dengan gerakan kilat mencengkeram tengkuknya, menarik tubuhnya kembali ke dalam dekapan yang begitu erat hingga napas mereka bersentuhan tanpa menyisakan celah sedikit pun.
Sylus Blackwood sama sekali tidak bergeming dari posisinya. Manik mata merah menyala bagai delima milik sang raja mafia itu menatap hologram merah di sudut ruangan dengan sorot mata yang sangat dingin, datar, dan sama sekali tidak menyiratkan secercah pun kebingungan, keterkejutan gembira, atau keraguan hati yang biasa ditunjukkan oleh pria dalam kisah klise. Tidak ada getaran bimbang sedikit pun di dalam dada bidang pria itu.
"Sylus..." panggil Ceisya tertahan, suaranya terdengar serak, bergetar, dan penuh kebingungan di sela-sela dekapan erat tersebut. "Si... si Bianca udah bangun. Padahal... padahal ini belum ada satu tahun! Baru beberapa hari aku ada di sini, tapi dia udah sadar... Ini sama sekali tidak sesuai dengan rencana awal kita!"
Cklek.
Belum sempat Ceisya merampungkan kalimat protesnya, Sylus mengangkat tangan kirinya tanpa sedikit pun mengalihkan pandangan tajam dari wajah sang istri, lalu mengetuk tombol mute pada sistem smart-home. Hologram merah di sudut ruangan itu langsung padam seketika, lenyap tanpa bekas, seolah keberadaan rumah sakit pusat kota dan wanita yang baru saja siuman itu tidak lebih penting dari sebutir debu di bawah sepatu kulit mahalnya.
Sylus menundukkan wajahnya perlahan, mengecup kening Ceisya dengan penuh pemujaan yang posesif, lalu menatap lurus ke dalam manik mata hijau gadis itu dengan tatapan yang mengunci jiwa.
"Jangan pernah memikirkan, merisaukan, atau bahkan menyebut nama orang lain di dalam kamar ini saat kau berada di dalam pelukanku, Ratu kecilku," suara serak Sylus mengalun rendah, dingin, namun mutlak membakar seluruh kebingungan yang sempat singgah di kepala Ceisya. "Biarkan dunia luar ribut dengan kebangkitannya yang terlalu cepat itu. Itu bukan urusanku, dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan singgasana kita."
"Tapi... tapi kontrak satu tahun kita, Sylus!" sergah Ceisya tidak mau kalah, mencoba mendorong dada bidang pria itu meskipun tubuhnya sendiri masih terasa lemas karena syok dan keintiman sebelumnya. "Sesuai alur aslinya, dia harusnya sadar tahun depan! Kenapa sekarang semuanya jadi kacau balau?! Lagi pula... aku kan dari awal cuma dianggap sebagai istri pengganti buat Bianca. Kalau dia sekarang udah sadar, bukankah seharusnya aku melepaskanmu dan pergi dari sini sesuai perjanjian hitam di atas putih?!"
Mendengar kata-kata Ceisya yang dengan santainya menyebut dirinya sebagai "istri pengganti", manik mata merah menyala Sylus mendadak membara sangat pekat hingga memancarkan amarah murni yang siap melumat apa saja di sekitarnya. Pria itu langsung mencengkeram kedua bahu Ceisya dengan erat, memaksa gadis itu menatap lurus ke dalam matanya tanpa bisa menghindar sedikit pun ke sisi lain.
"Jangan pernah sekali pun mengucap, memikirkan, atau bahkan meyakini hal bodoh itu, Ceisya!" suara berat Sylus menggelegar rendah penuh penekanan mutlak yang menggetarkan udara kamar. "Kau bukan pengganti siapa pun di dunia ini! Sejak hari pertama kau menginjakkan kaki di altar pernikahan dan menghancurkan duniaku dengan caramu sendiri, kaulah satu-satunya pemilik mutlak hatiku dan singgasana ini. Aku tidak peduli pada Bianca atau siapapun manusia di luar sana yang mencoba merusak kedamaian kita. Kau adalah pilihanku, mutlak milikku, dan sampai kapan pun, kau tidak akan pernah bisa pergi dari sisiku!"
Manik mata hijau Ceisya bergetar hebat. Ada sengatan aneh yang menghantam rongga dadanya—bukan rasa takut, melainkan gelombang dominasi mutlak yang membuat pertahanan logikanya goyah seketika. Sylus benar-benar gila dan tidak punya obat. Pria itu tidak sedikit pun tergiur, goyah, atau beralih perhatian pada tokoh utama wanita original novel tersebut, bahkan ketika takdir cerita aslinya hancur berkeping-keping jauh lebih cepat dari perkiraan siapa pun di dunia ini.
Namun, di balik ketegasan mutlak sang raja mafia, naluri mantan pemimpin mafia di dalam diri Ceisya langsung berteriak memperingatkannya: Siumannya Bianca yang terlalu cepat ini pasti disengaja! Seseorang di luar sana pasti sedang bermain api di belakang layar, mencoba memanfaatkan kebangkitan tokoh utama wanita itu untuk menggoyang posisinya sebagai nyonya Blackwood.
Seolah bisa membaca gelombang pikiran liar yang berputar cepat di kepala sang istri, sudut bibir Sylus terangkat membentuk sebuah smirk dingin yang mematikan. Pria itu mendekatkan bibirnya tepat ke daun telinga Ceisya, membisikkan sebuah kalimat janji berdarah yang membuat bulu kuduk gadis itu merinding seketika dari ujung kaki hingga ubun-ubun.
"Jika ada pihak-pihak berengsek yang berani menggunakan kebangkitan wanita itu untuk mencoba merebutmu dariku..." bisik Sylus kejam dan penuh ancaman di kulit lehernya, "...aku akan memastikan seluruh dunia mereka rata dengan tanah sebelum matahari terbit besok pagi."