Gwen Aditya cuma butuh kerja keras dan logika buat sukses. Urusan siapa yang naksir? Itu di luar spreadsheet-nya.
Sialnya, atasannya sendiri gak masuk kalkulasi.
Madoc Rhydian Kane—CEO Kane Group yang bikin ruang rapat sunyi—gak pernah nyangka bisa jatuh gara-gara satu manajer operasional yang rapi, blak-blakan, dan sama sekali gak keder dihadapannya.
Madoc jatuh duluan. Jatuh lebih dalam. Sementara Gwen bahkan gak sadar sedang diperhatikan, sampai seluruh kantor tahu lebih dulu.
Di antara laporan kuartalan, kopi yang selalu "kebetulan" ada di meja, dan satu papan catur, mereka belajar bahwa dua orang paling kompeten pun bisa gagap soal cinta.
Bukan sekadar "aku terima kamu", tapi tentang terus memilih satu sama lain—bahkan setelah semua syarat dan ketentuan terpenuhi.
📌 Workplace romance | Slow burn | Oblivious female lead | CEO x Manager
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Airen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hampir
Sebagian besar tamu sudah pulang jam sebelas malam, dan Gwen akhirnya punya waktu untuk duduk sejenak di teras belakang ballroom, menikmati udara malam yang jauh lebih sejuk dari ruangan ber-AC yang penuh sesak sepanjang acara.
Dia melepas sepatu hak tingginya sebentar, meletakkannya di samping kursi, dan menyandarkan punggung ke kursi rotan yang tersedia di sudut teras—satu-satunya area yang cukup tenang di antara kesibukan tim yang masih membereskan sisa-sisa acara.
"Capek?"
Suara itu membuatnya menoleh. Madoc berdiri di ambang pintu teras, dua gelas berisi minuman dingin di tangannya, dasi sudah dilonggarkan, dua kancing atas kemejanya terbuka.
"Capek banget, Pak," katanya, jujur, tersenyum lelah. "Tapi acaranya sukses, jadi lumayan."
"Boleh gabung?"
"Silakan."
Madoc duduk di kursi sebelahnya, menyerahkan salah satu gelas—air jeruk dingin, bukan minuman beralkohol seperti yang banyak ditawarkan sepanjang acara.
"Makasih," kata Gwen, menerima gelas itu, meminum sedikit. "Bapak juga capek kayaknya."
"Lumayan. Networking sepanjang malam emang selalu bikin capek, meski gak keliatan capeknya."
Mereka duduk berdua dalam diam sejenak, menikmati keheningan yang jarang mereka dapatkan di tengah rutinitas kerja yang biasanya penuh dengan agenda dan deadline.
---
"Acaranya beneran bagus, Pak," kata Gwen, memecah keheningan. "Total donasi lelang tadi berapa, ya, saya belum sempet cek angka finalnya."
"Dua koma tiga miliar," kata Madoc. "Lebih dari target awal."
"Wah, keren banget." Dia tersenyum puas, mengingat semua kerja keras yang sudah dia curahkan selama tiga minggu terakhir untuk persiapan acara ini. "Berarti gak sia-sia semua persiapannya."
"Semua berjalan lancar karena kamu yang atur," kata Madoc, pelan. "Saya cuma berdiri di sini, tersenyum ke tamu-tamu, sementara kamu yang beneran kerja keras."
"Itu bagian dari kerjaan saya, Pak. Wajar aja."
"Tetep aja," katanya, menoleh ke arahnya, "kamu selalu bikin hal-hal berat keliatan gampang. Saya notice itu dari awal kamu masuk kerja di sini."
Gwen tersenyum, menerima pujian itu dengan tenang, tidak menganggapnya lebih dari apresiasi standar yang biasa keluar dari atasan yang menghargai kinerja timnya.
---
Ada keheningan lain yang tercipta setelahnya, tapi kali ini terasa berbeda—lebih dalam, lebih berat, seperti ada sesuatu yang menggantung di udara yang belum sepenuhnya diucapkan.
Madoc menatap ke arah kota yang berkelap-kelip di kejauhan, memutar gelasnya perlahan, mencoba mengumpulkan keberanian untuk kalimat yang sudah lama dia simpan.
"Gwen," katanya, akhirnya, suaranya lebih pelan dari biasanya, "boleh saya jujur soal sesuatu?"
Gwen menoleh, memperhatikan perubahan nada suaranya. "Boleh, Pak. Ada apa?"
Dia diam sejenak, mencari kata-kata yang tepat, merasakan detak jantungnya sendiri berdegup lebih cepat dari yang seharusnya untuk sekadar percakapan santai di teras.
"Enam bulan terakhir," katanya, pelan, "sejak kamu masuk kerja di sini, saya... ngerasa hal-hal jadi beda."
"Beda gimana, Pak?"
"Lebih—" dia berhenti, mencari kata yang tepat, sesuatu yang bisa menjelaskan perasaan yang selama ini dia simpan tanpa terdengar terlalu jelas terlalu cepat, "—lebih hidup, mungkin. Kerjaan yang biasanya berat, jadi lebih... saya gak tau caranya jelasin."
Gwen mendengarkan dengan serius, tidak menyela, memberi ruang bagi Madoc untuk menyelesaikan kalimatnya.
"Diskusi strategi yang biasanya cuma rutinitas," lanjutnya, "sekarang jadi hal yang saya tunggu-tunggu. Rapat progress yang harusnya cuma laporan angka, jadi sesuatu yang saya nikmatin."
Dia menoleh, menatap Gwen langsung, dan untuk sesaat, kalimat yang sudah lama tertahan di ujung lidahnya nyaris keluar begitu saja.
Karena kamu.
---
"Itu artinya kerja sama kita emang solid, Pak," kata Gwen, tersenyum hangat, menangkap kalimat itu dengan pemahaman yang sepenuhnya profesional. "Saya juga ngerasa gitu. Kadang diskusi strategi kayak yang kita lakuin buat lawan Aditama itu jadi salah satu bagian kerjaan yang paling saya nikmatin."
Kalimat itu, meski tulus dan hangat, memotong momentum yang sedang Madoc bangun dengan susah payah—mengembalikan konteks percakapan itu ke ranah kerja profesional, tepat sebelum dia berhasil mengucapkan apa yang sebenarnya ingin dia sampaikan.
"Bapak jarang ngomong sesantai ini soal hal-hal kayak gitu," lanjut Gwen, masih tersenyum, sepenuhnya tidak menyadari betapa dekat mereka baru saja berada dengan percakapan yang jauh lebih personal. "Tapi seneng juga denger Bapak seterbuka ini. Berarti tim kita emang klik banget kerjanya."
Madoc menatapnya, mencoba mencerna respons itu, merasakan campuran antara kekecewaan dan kelegaan—kekecewaan karena momen itu terlewat begitu saja, kelegaan karena dia tidak jadi mengatakan sesuatu yang mungkin akan mengubah semuanya secara drastis, di waktu dan tempat yang mungkin belum sepenuhnya tepat.
"Iya," katanya, akhirnya, memilih untuk mengikuti arah yang Gwen sudah tetapkan. "Tim kita emang klik."
Dia meminum sisa air jeruknya, mencoba menenangkan diri, merasakan kalimat yang belum sempat dia ucapkan masih mengganjal di dadanya seperti sesuatu yang belum selesai.
---
"Pak Kane."
Suara itu datang dari arah pintu teras, dan keduanya menoleh bersamaan. Salah satu anggota tim event organizer berdiri di sana, terlihat sedikit terburu-buru.
"Maaf ganggu, Pak. Ada masalah kecil di area parkir—salah satu tamu VIP mobilnya gak bisa keluar karena ada mobil lain yang ngeblok. Butuh keputusan Bapak buat gimana penanganannya."
Madoc menghela napas pelan, menyadari momen tenang itu sudah berakhir. "Saya ke sana sebentar," katanya, berdiri.
Dia menoleh ke Gwen sebelum benar-benar pergi. "Kamu istirahat dulu di sini. Udah kerja keras banget malam ini."
"Baik, Pak. Makasih buat obrolannya."
Gwen tersenyum, dan Madoc, meski setengah hatinya masih ingin melanjutkan percakapan yang terpotong itu, mengangguk dan berjalan mengikuti anggota tim yang menunggu, meninggalkan teras yang kembali sunyi.
---
Gwen duduk sendirian beberapa menit setelahnya, menatap kota yang masih berkelap-kelip di kejauhan, memikirkan sekilas percakapan yang baru saja mereka lakukan.
Dia tidak menganggap ada yang aneh dari kalimat-kalimat Madoc tadi—baginya, itu cuma bentuk apresiasi tulus dari seorang atasan yang mengakui betapa dia menikmati dinamika kerja mereka. Sesuatu yang membuat dia merasa dihargai, tapi tetap dalam batas hubungan profesional yang wajar antara CEO dan salah satu manajernya.
Dia tidak tahu, dan tidak akan tahu untuk beberapa waktu ke depan, betapa dekat kalimat itu tadi dengan sesuatu yang jauh lebih personal—betapa satu kata sederhana, karena kamu, hampir keluar dari mulut orang yang baru saja meninggalkannya di teras itu, sebelum keadaan memilih untuk menginterupsi di detik yang paling menentukan.
Di dalam ballroom, di tengah masalah kecil soal parkir mobil yang harus dia selesaikan, Madoc menghela napas panjang, memikirkan momen yang baru saja terlewat begitu saja—kesempatan yang mungkin tidak akan datang lagi secepat itu, hilang begitu saja karena masalah teknis sesederhana mobil yang salah parkir.
Dia mengurus masalah itu dengan cepat, efisien, tapi pikirannya terus kembali ke teras belakang, ke kalimat yang belum sempat dia selesaikan, ke kesempatan yang untuk sesaat terasa begitu dekat sebelum akhirnya menghilang lagi ke dalam kabut ketidakpastian yang sudah lama menjadi bagian dari perasaannya sendiri.
Belum waktunya, katanya pada diri sendiri, mencoba mencari penghiburan dari kalimat itu.
Tapi jauh di dalam hatinya, dia mulai bertanya-tanya, berapa lama lagi dia harus menunggu sebelum "belum waktunya" itu akhirnya berubah jadi waktu yang tepat—dan apakah kesempatan seperti tadi akan datang lagi secepat yang dia harapkan.