Bagi Jema (24 tahun), hidup ini hanya tentang bau oli, tagihan listrik, dan obat Ibunya yang mahal. Lulusan S1 Elektro yang terpaksa jadi montir ini punya hati sedingin es dan tidak punya waktu untuk urusan cinta.
Sampai akhirnya, Maikel (18 tahun) datang mengacaukan segalanya.
Ceria, berisik, dan kaya raya. Bocah SMA bad boy itu sengaja merusak mobil sport mewahnya berkali-kali hanya agar punya alasan sah untuk menggoda Jema di bengkel.
Jema mati-matian menjaga jarak. Baginya, Maikel hanyalah gangguan berisik. Namun, saat Maikel pelan-pelan menyusup ke titik paling rapuh di hidup Jema, benteng pertahanan itu mulai goyah.
Sanggupkah Jema mengabaikan perbedaan usia enam tahun dan jurang status sosial di antara mereka? Apalagi ketika dunia remaja Maikel yang liar mulai menyeret hidup Jema ke dalam bahaya.
"Gue punya alasan sah buat ngerusak mobil gue tiap hari, biar bisa dapet servis dari montir pribadi hati gue." — Maikel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nura_thequeen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MALAIKAT BERKEDOK BOCAH
Pagi hari di rumah sakit membawa sedikit ketenangan yang menenangkan badai di dadaku.
Sinar matahari menerobos masuk melalui celah gorden kamar rawat, menyinari wajah Ibu yang perlahan mulai kembali dialiri rona kehidupan.
Namun, begitu membuka mata dan melihat selang infus serta kantong darah yang tergantung di samping ranjang, hal pertama yang tersirat di wajah tuanya adalah kepanikan yang teramat sangat.
"Jema..." suara Ibu terdengar lirih, teramat lemah. Tangannya yang kurus bergetar meraba lenganku.
"Kita di rumah sakit? Biayanya... dari mana, Nak? Ini pasti mahal sekali. Ibu tidak mau merepotkan kamu. Ayo kita pulang saja."
Jantungku terasa diremas kuat-kuat mendengarnya. Aku buru-buru menggenggam tangan Ibu, berusaha memasang senyum paling cerah yang bisa kuukir agar dia tidak melihat badai kecemasan yang berkecamuk di mataku.
"Ibu jangan khawatir," ujarku lembut, mengusap punggung tangannya yang keriput. Aku terpaksa menyusun kebohongan demi menjaga kestabilan kesehatannya.
"Jema baru saja dapat bonus besar dari showroom tempat Jema kerja. Proyek kelistrikan mobil mewah kemarin sukses besar, jadi bos kasih bonus yang lebih dari cukup untuk bayar semua perawatan Ibu di sini. Ibu fokus sembuh saja, ya?"
Ibu menatapku lama, mencari celah kebohongan di mataku. Sebelum akhirnya, beliau menghela napas lega dan mengangguk pelan.
Aku berbalik, menelan ludah dengan susah payah. Bonus besar apa? Kenyataannya, aku baru saja menggadaikan harga diriku pada lembaran utang belasan juta rupiah milik seorang anak SMA.
Siang harinya, aku sudah kembali berada di bawah kolong mobil di bengkel showroom, berusaha mengalihkan seluruh beban pikiran dengan deru mesin dan bau oli yang menyengat.
Namun, ketenanganku pecah saat sepasang sepatu kets putih bersih tiba-tiba berdiri tepat di samping dongkrak mobil tempatku berbaring. Aku menggeser papan bersandarku keluar dari bawah kolong mobil.
Maikel berdiri di sana. Dia tidak lagi memakai seragam sekolah, melainkan kaus oblong putih polos berlapis kemeja flanel longgar yang sengaja tidak dikancing, lengkap dengan senyum jail yang langsung membuat kepalaku mendadak pening.
"Siang, montir kesayangan gue. Ayo ikut, kita jenguk nyokap lu sekarang," ajaknya tanpa basa-basi.
Aku bangkit berdiri, mengelap tanganku yang belepotan oli hitam menggunakan kain majun.
"Enggak bisa, Maikel. Ini masih jam kerja. Aku harus menyelesaikan tiga mobil lagi siang ini. Nanti malam aku baru ke rumah sakit sendiri."
"Sekarang aja, Kak. Gue anterin," paksa Maikel, meraih pergelangan tanganku dengan begitu santai.
"Maikel, lepas. Aku bisa dipecat kalau bolos kerja!" desisku ketus, berusaha menarik tanganku kembali dari genggamannya.
"Kamu jangan egois. Ini tempat kerja orang dewasa, bukan sekolah tempat kamu bisa membolos seenaknya."
Maikel hanya menaikkan sebelah alisnya, sama sekali tidak terpengaruh oleh gertakanku yang berapi-api.
"Pekerjaan lu aman, Kak Jema. Percaya deh sama gue."
Belum sempat aku melontarkan omelan berikutnya, langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar mendekat. Aku menoleh dan seketika membeku.
Pak Danu, kepala bengkel sekaligus atasanku yang terkenal sangat galak, kaku, dan pelit senyum, berjalan ke arah kami dengan langkah terburu-buru.
Aku langsung bersiap menerima amukan karena membawa orang luar ke area steril bengkel. Namun, pemandangan aneh luar biasa justru terjadi di depan mataku.
"Oh, Jema! Kebetulan sekali kamu masih di sini," ujar Pak Danu dengan nada suara yang... luar biasa ramah.
Senyumnya terkembang lebar, sesuatu yang belum pernah kulihat selama tiga bulan aku bekerja di bawah tekanannya. Dia bahkan sempat membungkuk hormat sekilas ke arah Maikel, yang hanya dibalas dengan anggukan santai oleh bocah itu.
"I-iya, Pak. Maaf, ini teman saya"
"Ah, tidak apa-apa, tidak apa-apa!" potong Pak Danu cepat, melambaikan tangannya enteng.
"Jema, kamu boleh pulang sekarang. Selesaikan saja pekerjaanmu besok. Oh ya, saya dengar ibumu sedang dirawat di rumah sakit besar di pusat kota, ya? Tolong sampaikan salam hangat saya untuk ibumu. Semoga lekas sembuh. Kalau butuh libur tambahan, bilang saja ya!"
Aku melongo. Lidahku mendadak kelu. Pak Danu yang biasanya akan mengamuk sejadi-jadinya jika aku telat lima menit saja, kini justru mengusirku pulang cepat dengan senyum ramah yang terasa sangat asing dan tidak wajar.
Aku melirik tajam ke arah Maikel. Bocah itu hanya bersedekap, menatapku dengan tatapan penuh kemenangan dan senyum jail yang seolah berkata: 'See. Gue bilang juga apa.'
Aku tidak tahu apa yang telah dikatakan atau dilakukan bocah SMA ini kepada atasanku di belakangku. Namun satu hal yang pasti, kekuatan uang dan latar belakang keluarga Maikel Sebastian Bach jauh lebih besar dan mengerikan dari yang bisa kubayangkan.
Aku melangkah mengekor di belakang Maikel menuju parkiran dengan kepala yang dipenuhi sejuta pertanyaan. Tanganku gatal sekali ingin menjambak kerah kemeja flanelnya dan menginterogasi bocah itu habis-habisan. Bagaimana bisa Pak Danu tunduk begitu saja?
Namun, egoku langsung berontak hebat. Aku menggelengkan kepala kuat-kuat, berusaha menepis pikiran liar itu. Enggak mungkin, pikirku membatin. Mana mungkin seorang kepala bengkel senior yang berkepala batu seperti Pak Danu bisa dikendalikan oleh anak SMA yang seragamnya saja kadang masih berantakan? Ini tidak masuk akal.
Mungkin saja Pak Danu tadi habis mendapat mukjizat dari langit, atau mendadak tobat setelah ikut pengajian malam jumat, makanya sifatnya berubah jadi malaikat begitu. Ya, pasti begitu. Aku menolak percaya kalau bocah di depanku ini punya pengaruh sebesar itu.
Sepanjang perjalanan di dalam mobil sport-nya, aku memilih bungkam sembari menatap jalanan dari balik kaca jendela yang buram. Sementara Maikel sibuk bersiul santai mengikuti alunan radio, sesekali melirikku dengan cengiran jail yang sengaja ia pamerkan untuk memancing kekesalanku.
Begitu sampai di rumah sakit, atmosfer mendadak berubah hangat saat Maikel melangkah masuk ke dalam kamar rawat Ibu. Aku sempat mengira dia akan bertingkah liar atau sok kaya di depan Ibuku. Namun, dugaanku salah besar.
"Selamat siang, Tante. Kenalin, saya Maikel," sapa Maikel dengan suara yang didekatkan pada kesopanan, jauh dari kesan berisik yang biasa kudengar di bengkel.
Dia membungkuk hormat, menyalami tangan Ibu dengan sangat santun, lalu meletakkan sekeranjang buah segar berukuran besar yang entah kapan dia beli ke atas meja kecil. Tatapan matanya begitu tulus, penuh perhatian saat melihat kondisi Ibu yang masih lemah.
"Siang, Nak Maikel... Ya ampun, repot-repot sekali pakai bawa buah segala," sahut Ibu, tersemut lemah dengan rona wajah yang mulai membaik. Ibu menatap Maikel dari ujung kepala sampai ujung kaki, menyadari penampilan kasualnya yang masih memancarkan aura remaja yang sangat kental.
Ibu kemudian beralih menatapku dengan kening berkerut halus. "Jem, Nak Maikel ini... siapa?"
Jantungku mencelos seketika. Tepat saat Maikel membuka mulutnya dan hendak bersuara, aku langsung memotongnya dengan cepat, tidak ingin bocah ini asal ceplos tentang utang belasan juta rupiah atau pengakuan cinta gilanya tempo hari.
"Ah! Maikel ini salah satu anak pelanggan setia Jema di bengkel, Bu!" sahutku setengah menyembur, sengaja memberi penekanan pada kata anak pelanggan.
"Iya, mobilnya kemarin sempat Jema perbaiki. Terus kebetulan tadi dia lagi main ke showroom dan dengar kalau Ibu lagi sakit, makanya dia berbaik hati mau ikut menjenguk ke sini."
Maikel langsung menoleh ke arahku, menaikkan sebelah alisnya dengan tatapan protes yang tertahan di ujung lidah. Aku memberikan kode lewat pelototan tajam, memintanya untuk diam dan menyetujui skenarioku.
Ibu terdiam sejenak. Matanya yang tajam khas seorang ibu seolah menangkap sesuatu yang tidak beres. Ada riak kecurigaan yang berputar di sana.
Namun, sedetik kemudian, Ibu tampak mengabaikan firasatnya sendiri. Aku tahu apa yang ada di dalam pikiran Ibu: mana mungkin anak gadis primadonanya yang berusia dua puluh empat tahun, memiliki hubungan khusus dengan anak laki-laki yang jelas-jelas masih kelihatan seperti bocah SMA. Hubungan seperti itu sangat tidak pantas dan tidak masuk akal di mata Ibu.
Ibu kembali tersenyum ramah, memperlakukan Maikel selayaknya seorang ibu yang sedang menghadapi anak kecil.
"Terima kasih banyak ya, Nak Maikel, sudah mau repot-repot menjenguk Ibu yang tua ini. Nak Maikel masih sekolah, ya? Kelas berapa?"
"Sama-sama, Tante. Saya baru kelas dua belas," jawab Maikel sopan, meski aku bisa menangkap nada geli di suaranya karena sadar dirinya baru saja dikategorikan sebagai 'anak kecil' oleh Ibuku.
Dia melirikku sekilas dengan tatapan penuh arti, lalu kembali tersenyum manis pada Ibu.
"Tante fokus istirahat saja ya, jangan mikirin yang lain. Biar cepat sembuh dan bisa pulang ke rumah."
Aku yang berdiri kaku di sudut ruangan hanya bisa mengembuskan napas panjang. Di satu sisi aku lega karena rahasia utangku aman, namun di sisi lain, dadaku bergemuruh aneh melihat betapa mudahnya bocah menyebalkan ini mengambil hati ibuku. Tembok pertahanan yang kubangun tinggi-tinggi, perlahan mulai terasa retak di beberapa sudut.