Indonesia
NovelToon NovelToon
KATA KATA YANG TAK SEMPAT KU SAMPAIKAN PADAMU

KATA KATA YANG TAK SEMPAT KU SAMPAIKAN PADAMU

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Teen / Tamat
Popularitas:212
Nilai: 5
Nama Author: AME author

Duniaku selalu sunyi, tetapi Kaito mengajarkanku cara mendengar melalui jemarinya. Kehadirannya adalah kepastian yang selalu kuanggap wajar—sampai sesosok warna baru bernama Haruto mengetuk duniaku dan menawarkan keindahan yang belum pernah kurasakan.
Di antara rasa penasaran dan ketulusan yang mulai terabaikan, sebuah jarak tak kasatmata perlahan membentang. Saat aku akhirnya menyadari arti kehadiran Kaito yang sebenarnya, akankah suara hatiku masih memiliki kesempatan untuk sampai padanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RETAKAN YANG TAK BERSUARA

Setiap hal yang mulai hancur jarang sekali ditandai dengan gemuruh yang dahsyat. Sering kali, keretakan itu menjalar dalam keheningan yang sangat senyap—seperti es tipis di atas danau yang pelan-pelan pecah tanpa ada yang menyadari.

Hal itulah yang mulai kurasakan pada Haruto dalam seminggu terakhir.

Haruto yang kukenal selama beberapa bulan ini adalah pria yang selalu hadir dengan penuh perhatian yang presisi. Setiap kali ingin bicara padaku, ia selalu memastikan untuk duduk berhadapan, menatap mataku, dan menggerakkan bibirnya secara perlahan agar aku bisa membaca gerak bibirnya (lip-reading). Namun, entah sejak kapan, perhatian yang runtut itu mulai terasa seperti sebuah formalitas yang dilakukan secara terburu-buru. Ada ruang asing yang mendadak membentang di antara kami.

Perubahan itu dimulai dari hal-hal kecil yang semula kucoba maklumi.

Siang itu, kami duduk berdampingan di area kantin kampus yang cukup riuh. Haruto sedang memesan makanan, sementara aku menunggu di meja sambil merapikan alat tulis. Saat Haruto kembali dan duduk di hadapanku, ponselnya yang tergeletak di atas meja mendadak bergetar tipis.

Secara refleks, mataku terarah pada layar ponsel tersebut. Sebuah notifikasi pesan masuk dari nama yang asing melintas cepat di layar kunci. Namun, belum sempat aku membaca nama itu secara utuh, gerakan tangan Haruto melesat sangat cepat. Ia langsung menyambar ponselnya, membalikkan layarnya menghadap ke bawah, lalu menggesernya masuk ke dalam saku mantel.

Tindakannya begitu mendadak dan defensif.

Aku menatapnya dengan pandangan bertanya-tanya. Haruto tersentak pelan, seolah baru menyadari reaksi refleksnya yang terlalu berlebihan. Ia menyunggingkan senyum tipis yang terasa begitu canggung. Ia mengambil ponselnya kembali, lalu mengetik sebuah pesan singkat dan menyodorkannya ke hadapanku:

[Maaf ya Hana, hanya pesan dari teman organisasi. Ayo makan, nanti ramenmu dingin.]

Aku membaca tulisan di layar ponsel itu, lalu menatap Haruto lekat-lekat. Jemariku mengetik balasan di ponselku sendiri:

[Haruto, kamu sedang ada masalah di organisasi? Akhir-akhir ini kamu terlihat selalu gelisah.]

Haruto membaca pesan itu. Ia mengusap tengkuknya, lalu menggerakkan bibirnya dengan pelan dan sangat jelas agar aku bisa membacanya: "Aku baik-baik saja, Hana. Jangan cemas."

Kata-kata itu berulang kali disampaikannya, tetapi gerak-gerik tubuhnya menyuarakan hal yang sama sekali berbeda.

Perubahan Haruto tidak berhenti di sana.

Bahasa isyarat Haruto yang selama ini masih sangat terbatas dan patah-patah, kini makin jarang ia gunakan. Ia tidak lagi berusaha memperbanyak kosakata isyarat barunya seperti dulu. Haruto yang biasanya selalu berinisiatif menggenggam tanganku setiap kali kami berjalan bersama menuju stasiun, kini lebih sering membiarkan jemarinya berada di dalam saku mantel.

Bahkan saat kami berada di dalam gerbong kereta densha yang lengang sore harinya, Haruto tidak lagi sibuk mengetik hal-hal lucu di ponsel untuk membuatku tersenyum. Ia hanya berdiri di sampingku, menatap keluar jendela kereta dengan pandangan yang kosong dan menerawang jauh.

Puncaknya terjadi pada hari Jumat sore.

Kami berjanji untuk bertemu di depan toko buku besar di daerah Shibuya setelah jam kuliah terakhir. Aku sudah berdiri menunggunya di bawah pendar lampu-lampu neon kota sejak pukul empat sore. Rintik angin angin gugur bertiup cukup kencang, membuat jemariku membeku di dalam saku jas.

Pukul empat lewat tiga puluh menit, Haruto belum juga muncul. Ini adalah hal yang sangat tidak biasa. Selama ini, Haruto adalah orang yang paling disiplin terhadap waktu.

Aku mengambil ponselku dan mengirimkan pesan singkat:

[Haruto, kamu sudah di mana? Aku sudah di depan toko buku.]

Pesan itu bercentang dua, tetapi tidak segera dibaca. Aku menunggu dengan gelisah sambil mengusap-usap telapak tanganku yang kedinginan.

Hingga akhirnya, hampir satu jam kemudian—pukul lima lewat lima belas menit—sosok Haruto terlihat berlari-lari kecil dari arah persimpangan jalan. Napasnya memburu, rambutnya agak berantakan, dan mantel cokelatnya tampak dipasang terburu-buru.

Begitu berdiri di hadapanku, ia tidak langsung bicara. Haruto tahu aku tidak bisa mendengar kepanikan dari suaranya. Dengan tangan yang agak gemetar, ia mengetik pesan di ponselnya dengan cepat lalu memperlihatkannya padaku:

[Hana! Maafkan aku, maaf sekali! Tadi ada rapat darurat organisasi yang tidak bisa kutinggalkan.]

Aku menatap layar ponsel itu, lalu beralih menatap wajah Haruto yang cemas. Dalam keheningan duniamu yang sunyi, mataku menangkap detail-detail kecil yang tak mampu disembunyikan.

Aroma yang tercium dari kerah mantel Haruto saat ia berdiri dekat denganku bukan lagi aroma kayu manis lembut yang biasa ia kenakan. Ada samar-samar wangi aroma bunga (floral) yang sangat manis—aroma parfum wanita yang sama sekali bukan milikku. Selain itu, di sudut bahu kanan mantel cokelatnya, menempel sehelai rambut panjang berwarna cokelat terang yang terawat, sangat berbeda dengan warna dan gaya rambut pendekku.

Dada saya mendadak berdesir aneh. Sebuah kombinasi rasa bingung dan heran mulai merayapi benakku.

Aku menggerakkan jemariku pelan, menggunakan bahasa isyarat paling sederhana yang kurasa dipahami Haruto: [Rapat... sampai lupa janji?]

Haruto menatap gerakan jemariku. Pandangan matanya mendadak goyah. Ia menghindari kontak mata dariku, lalu mengangguk pelan sambil menggerakkan bibirnya dengan amat kaku: "Iya, maafkan aku."

Haruto merapikan syal di leherku, tetapi gerakan tangannya terasa begitu terburu-buru—seolah-olah ia sedang berusaha menutupi kepanikan yang teramat sangat di dalam dadanya.

Siapa pemilik aroma parfum ini? Mengapa Haruto harus berbohong? Dan mengapa ia tampak begitu takut menatap mataku?

Berbagai pertanyaan meletup-letup di dalam kepalaku. Haruto yang berdiri di hadapanku saat ini terasa seperti sosok asing. Kehangatan yang selama ini ia tampilkan perlahan-lahan mengelupas, menyisakan rahasia besar yang tersembunyi rapat di balik senyuman canggungnya.

Sore itu, saat Haruto akhirnya menuntun langkahku masuk ke dalam toko buku, aku melangkah dalam diam. Hatiku tidak menjerit sakit, melainkan diliputi rasa bertanya-tanya yang amat dalam. Dan untuk pertama kalinya sejak kami berpacaran, aku menyadari bahwa ada hal besar yang sedang disembunyikan Haruto dariku.

1
Prayy
JANGAN LUPA DI LIKE DAN KOMEN YA GUYS AGAR AKU SEMANGAT NULISNYA DAN NGEMBANGIN CERITA CERITA LAIN NYA🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!