Indonesia
NovelToon NovelToon
Bertransmigrasi Menjadi Grand Duches Yang Mengandung Pewaris Api Abadi

Bertransmigrasi Menjadi Grand Duches Yang Mengandung Pewaris Api Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Penyesalan Suami
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

~~

Demi aliansi politik, Iris von Draewyn—putri berambut perak dari Utara—terpaksa menikah dengan Grand Duke Darian von Ravengard, Panglima Tertinggi yang dikenal kejam dan berdarah dingin. Pernikahan mereka hampa dan dipenuhi jarak, hingga sebuah tragedi mengakhiri hidup Iris dalam kesendirian.

​Namun, alih-alih mati, Iris justru terbangun di masa lalu dalam kondisi hamil muda—mengandung anak dari suami yang mengabaikannya.

~~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 34 SARAPAN DI AULA KEKASAIAN

****

Tirai tenda besar itu bergetar pelan, hembusan angin musim dingin menyusup lewat celah kecil. Di dalamnya, Darian masih berbaring di atas ranjang lipat dari kulit rusa dan bulu salju. Aroma getah pinus dan besi darah masih menyelimuti udara. Namun ada yang berbeda pagi itu.

Darian mengernyit. Perlahan ia membuka mata.

“Kau bangun juga, akhirnya.”

Suara berat dan dalam itu tak lain berasal dari sosok berjubah tebal yang duduk di sudut ruangan—Duke Maeltorn, ayah kandung Iris, dan mertua yang lebih banyak dikenal sebagai legenda medan perang daripada kepala keluarga yang lembut.

Darian hanya mendengus pelan sambil menahan nyeri di tulang rusuk kirinya.

“Aku tak yakin, ini hidup... atau hukuman,” gumam Darian sambil menatap langit-langit tenda yang bergoyang ringan.

Duke Maeltorn menoleh, meneguk minuman dari kendi baja yang ia bawa sendiri—air jahe bercampur ramuan panas khas utara. Ia meletakkan kendi itu di meja lalu berkata datar, “Kalau ini hukuman, berarti Tuhan punya selera humor yang buruk. Tapi menurutku, ini hanya istrimu yang terlalu mencintaimu.”

Darian menoleh perlahan.

“Apa maksudmu?”

Duke Maeltorn berdiri, menghampiri, lalu menatap pria muda yang telah ia serahkan anak perempuannya itu. “Kau pikir aku tak merasakan badai yang datang tadi malam? Itu bukan badai biasa. Itu Iris.”

Darian terdiam, mata kelabunya memandangi sisa salju yang masih berputar di luar tenda. Dadanya terasa berat… tapi bukan karena luka, melainkan karena rindu.

“Dia… mengirim pesan lewat angin,” gumamnya lirih.

Duke Maeltorn mendengus. “Tepat. Dan kalau kau berani mati sebelum kau kembali dan menjelaskan langsung pada anakku tentang kenapa kau membuatnya menangis, aku sendiri yang akan mencabut nyawamu. Pelan-pelan. Sehingga kau bisa menyesal selama tujuh hari sebelum benar-benar mati.”

Darian memejamkan mata, menahan tawa dan nyeri bersamaan.

“Kau terdengar sangat penuh kasih, Yang Mulia.”

“Aku memang ayah mertua dari neraka,” jawab Maeltorn tanpa ekspresi.

Sunyi sebentar. Tapi kemudian Maeltorn menarik kursi kayu dan duduk di samping ranjang Darian.

“Kau tahu, aku dulu juga seperti kau.”

“Tampan dan sial?” Darian tersenyum kecut.

“Tidak. Dungu dan terlalu percaya diri.” Maeltorn menyeringai, matanya bersinar sedikit lebih hangat. “Waktu ibunya Iris mengandung anak kami, aku sedang di medan perang. Kubiarkan dia sendiri karena aku pikir itulah tugas lelaki—melindungi tanah dan bangsa. Tapi kutahu aku bodoh.”

Darian terdiam, menatap mata pria itu.

“Apa kau menyesal?”

“Tidak. Aku hanya menyesal tidak pulang lebih cepat. Karena tak ada kemenangan yang lebih besar daripada bisa menyentuh tangan istrimu… dan tahu dia masih menunggumu.”

Sunyi kembali turun di antara mereka. Tapi bukan sunyi yang menakutkan. Melainkan sunyi yang hangat, seperti ruang kecil di dalam salju yang menjadi tempat aman untuk bernapas.

Maeltorn berdiri.

“Satu hal lagi, Darian.”

“Ya?”

“Kalau kau mati dan membuat Iris jadi janda muda, aku tidak hanya akan membunuhmu, aku juga akan menuntutmu di akhirat. Dan pastikan kau tidak membawa pengacara.”

Darian tertawa kecil, wajahnya meringis kesakitan tapi tetap tertawa. “Tentu. Akan kubawa surat maaf langsung dari langit.”

Maeltorn melirik jam pasir di sisi tenda, lalu menghela napas.

“Istirahatlah. Tapi cepatlah pulih. Perang belum selesai. Dan anakku, cucuku, mereka menunggumu.”

Darian mengnoduk perlahan. “Aku akan kembali, meski harus menggenggam salju dengan tangan kosong.”

Maeltorn berhenti di pintu tenda, lalu menoleh sekali lagi dengan nada acuh tapi terselip perasaan.

“Dan Darian....”

“Ya?”

“Kau bisa tetap memanggilku Duke. Tapi... sekali-sekali saja, kau boleh memanggilku Ayah.”

Darian tak bisa menahan senyum. Luka-lukanya masih nyeri. Namun hatinya terasa sedikit lebih ringan.

Di luar tenda, salju turun pelan. Tapi di balik semua itu, hembusan angin dari utara terus berputar lembut… membawa pesan, rindu, dan harapan seorang istri yang menunggu.

**

Pagi menyelinap di antara lengkung-lengkung pilar marmer putih istana Valeria. Udara masih membawa embun, meski matahari mulai memantulkan cahaya keemasan di halaman berumput lembut. Di aula makan khusus untuk anggota keluarga kekaisaran, para pelayan berlalu-lalang dengan langkah ringan, membawakan sarapan khas musim panas—daging asap tipis, roti manis berlumur madu, buah anggur, dan teh dingin mawar putih yang hanya diracik dari bunga-bunga yang tumbuh di taman selatan istana.

Iris duduk anggun di kursinya, mengenakan gaun sutra pucat dengan bordiran lambang keluarga Ravengard di bagian dadanya. Rambutnya disanggul setengah, sisanya tergerai di punggung. Meskipun sedang mengandung, ia tidak menunjukkan kelemahan sedikit pun. Di wajahnya yang tenang dan postur duduknya yang tegak, terpancar kehormatan seorang Grand Duchess.

Kaisar Agung Severan, dengan jubah emas yang menjuntai, duduk di ujung meja panjang. Di sisi kirinya, Permaisuri—wanita berwajah dingin dan selalu tampak penuh perhitungan—menatap Iris dengan sorot mata tajam namun tersamar senyum sopan.

"Grand Duchess," ujar Kaisar Severan perlahan sembari menyesap teh dinginnya, "sudahkah kau menerima kabar dari Darian?"

Iris mengangkat wajahnya, tetap tenang meski dadanya berdebar. "Belum, Yang Mulia. Sejak saya tinggal di istana ini beberapa hari terakhir, belum ada satu pun surat dari beliau."

Permaisuri meletakkan cangkir tehnya dengan sedikit bunyi. Tatapannya menusuk. "Aneh. Bukankah seorang istri yang tengah mengandung seharusnya lebih gencar mencari tahu kabar suaminya yang tengah berperang? Terutama ketika suaminya dikenal sebagai ‘Iblis Perak dari Ravengard’?"

Iris tersenyum tipis, menolak terpancing. "Tentu saya khawatir, Yang Mulia Permaisuri. Namun, sebagai putri dari Duke Maeltorn, saya dididik untuk tidak menunjukkan kelemahan di hadapan publik, terlebih di tengah istana."

Sebuah hening yang kaku menggelayut di udara.

Tiba-tiba, salah satu penjaga pribadi Kaisar datang menghampiri, membungkuk dalam.

"Yang Mulia. Surat dari medan perang baru saja tiba. Ini langsung dari markas utama pasukan utara."

Kaisar Severan mengambilnya. Alisnya sedikit terangkat membaca isi gulungan pendek yang diikat dengan stempel keluarga Maeltorn. Matanya lalu beralih pada Iris.

"Darian terluka parah. Ia sempat tak sadarkan diri cukup lama."

Teh dalam cangkir Iris terasa mendadak dingin seperti salju di utara. Napasnya tertahan.

Permaisuri menimpali, kali ini tanpa basa-basi.

"Grand Duchess, kurasa kini kau menyadari bahwa bersikap terlalu tenang di hadapan kabar perang justru membuatmu tampak... tidak peduli."

Wajah Iris tetap tidak berubah, meski tangannya menggenggam erat pangkuannya. "Saya belum tahu kabar itu sampai detik ini, Yang Mulia. Tapi saya percaya suami saya lebih kuat dari luka yang mencoba menjatuhkannya. Dan jika saat ini saya tampak tenang, maka itu adalah bentuk keyakinan dan doa."

Namun rasa mulas ringan merambat di perutnya. Ia meraba lembut perutnya yang membulat, seolah hendak menenangkan calon pewaris yang ikut merespons kepedihan batin ibunya.

Kaisar Severan mencondongkan tubuhnya. Wajahnya lebih lunak dibanding istrinya. "Iris... Darian bukan lelaki yang mudah tumbang. Tapi medan utara adalah neraka yang membeku. Ketidakpastian selalu menjadi bagian dari perang. Kami hanya ingin kau bersiap pada segala kemungkinan."

"Saya mengerti, Yang Mulia Kaisar." Suaranya tetap stabil. "Namun jika ada satu hal yang dia ajarkan padaku sebelum pergi, maka itu adalah kepercayaan. Maka izinkan saya menjaganya... hingga ia kembali."

Permaisuri menyilangkan tangan di dada. “Kepercayaan tidak mengubah nasib jika takdir sudah menuliskannya.”

"Dan tidak ada takdir yang lebih kuat dari kehendak dua jiwa yang telah disatukan di medan perjanjian suci," balas Iris dengan nada halus namun tegas.

Hening lagi.

Severan tersenyum kecil. “Kau benar-benar putri dari Maeltorn.”

**

Tinta hitam menetes perlahan dari ujung pena bulu burung raven, membentuk huruf-huruf tegas namun sedikit bergetar di atas kertas perkamen. Darian duduk tegak di atas dipan kayu kasar, selimut wol membalut tubuhnya, sementara luka di bahunya masih dibebat dengan ramuan herbal berbau menyengat. Meski belum sepenuhnya pulih, cahayanya mulai kembali—tatapan tajam dan senyuman miring yang khas.

Di hadapannya, selembar surat sudah setengah penuh. Ia mendesah pelan.

"Iris pasti akan mengomel karena aku tidak menulis tiga hari ini. Tidak... lima hari? Hela napas panjang. Tujuh hari? Habis aku kalau surat ini sampai duluan ketimbang kabar bahwa aku masih hidup."

Suara geraman berat terdengar dari sisi tenda. Duke Maeltorn berdiri bersandar di sisi meja kayu kecil, menyesap anggur dari botol baja sambil menatap Darian seperti seekor elang tua yang sedang mengawasi mangsanya menulis puisi.

"Aku tak menyangka seorang Grand Duke yang dikenal kejam di medan perang masih bisa memegang pena. Kupikir kau sudah sekarat seperti pahlawan tragis dalam balada rakyat," gumam Maeltorn.

Darian mengangkat alis tanpa menoleh. "Sayangnya, balada itu tak cukup menjual bila tokohnya mati di tengah cerita. Aku masih punya utang pada putrimu, maksudku...."

"Lebih dari sekadar utang," sahut Maeltorn sambil menarik kursi dan duduk di seberang meja. "Kalau Iris tahu kau belum menulis surat seminggu ini, aku harus bersiap menerima surat ancaman darinya juga."

Darian terkekeh pelan. "Ancaman paling mematikan datang dari pena wanita yang sedang hamil. Aku sungguh tak ingin memicu badai hormonal dari jarak ratusan mil."

Duke Maeltorn mengangkat botol anggurnya sebagai tanda setuju. "Bijak juga kau, meski nyaris mati."

Darian menurunkan penanya, menatap hasil tulisannya sejenak. "Aku bilang padanya bahwa salju terlalu tebal untuk pengiriman surat. Mungkin dia tak akan percaya."

"Dia akan tahu kau berbohong. Iris selalu tahu," ujar Maeltorn datar. "Kau pikir dari mana dia mewarisi kemampuan membaca pikiran suaminya? Dari ibunya? Tidak. Dari bertahun-tahun melihat kebohongan para ksatria seperti kita."

Darian menutup suratnya, meniup tintanya agar kering. "Kau tidak datang hanya untuk menatapku menulis surat cinta, bukan?"

Maeltorn mendecak. "Aku datang untuk memastikan kau tak mati. Kalau kau membuat putriku menjadi janda muda, Darian, aku akan membunuhmu lagi di akhirat."

Darian menoleh, tersenyum lelah. "Aku pikir di akhirat, semua luka sudah sembuh."

"Aku serius, Darian. Jika kau membuat Iris menjadi janda muda, aku akan memburumu di akhirat hanya untuk membunuhmu lagi."

"Setidaknya... Iris menjadi janda kaya dan terkenal."

"Ya, tapi harga kekonyolan tetap berlaku di dua dunia." Maeltorn menyeringai. "Jangan beri aku alasan untuk jadi arwah penasaran."

Darian menaruh surat ke dalam gulungan kulit, menyegelnya dengan cap Ravengard. "Kau tidak seburuk yang orang pikirkan, Tuan Mertua."

"Jangan mulai sok sentimentil. Aku datang bukan untuk menyeka air matamu," balas Maeltorn sambil berdiri, mengenakan mantel kulit tebalnya.

Darian memandangi sosok itu dengan hormat, lalu berkata, "Terima kasih... Ayah."

Maeltorn berhenti di depan pintu tenda. Bahunya sedikit bergerak, mungkin tertawa kecil. "Panggil aku begitu sekali lagi, dan aku akan menyuruh tabib menusukkan jarum suntik di tempat yang lebih menyakitkan dari luka perangmu."

Darian hanya tertawa, hangat. Salju mungkin masih mengguyur dunia di luar tenda, tapi di dalam, antara dua pria keras kepala itu, percikan kehangatan keluarga perlahan tumbuh dalam bentuk sarkasme, ancaman halus, dan surat cinta yang tak pernah ditinggalkan.

****

Bersambung

1
Delta
lanjuuut thor👍👍👍
Delta
👍👍👍👍up yg byk thoor😄😍
Heresnanaa_: stay tune beb 😚🫶
total 1 replies
Delta
👍👍👍👍
Delta
maantaap thor👍
kiu kiu
suka bangdt ma cerita fantSi
Heresnanaa_: maaciw kak, happy reading yaa 🫶😍
total 1 replies
Dewi Anggraeni
Up lagi thor 👍 semangat
Dewi Anggraeni
lanjutttt dong thor 👍jangan lama" 🙏
Yue Li MZy
Cerita sebagus dan sekeren ini jarang didapatkan,tapi sekali didapatkan langsung haitus kadang gak dilanjutkan ditengah ².semoga KA uthor melanjutkan cerita nya sampai ending
Heresnanaa_: hai Kaka, stay tune terus yaaaa😚😚🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!