Indonesia
NovelToon NovelToon
Petualangan Mayanza

Petualangan Mayanza

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Penyelamat / Akademi Sihir
Popularitas:721
Nilai: 5
Nama Author: Novita Tory

Berawal dari membaca buku yang ditemukan di lemari tua, Mayanza mempunyai kekuatan merapal mantra.
Kesalahan mengambil bunga teratai emas..
Menentukan nasib di Kehidupan Mayanza

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novita Tory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tuan besar

Aku naik ke atap rooftop Rumah Sakit memandangi sekitar sendiri.

Menghirup udara pagi yang berhembus, piket semalam membuatku mengantuk, kuminum seteguk kopi hangat dari gelas kopi yang kugenggam.

Tadi saat sarapan pagi di kantin aku melihat Yuki, dokter Neurologi baru itu sudah mulai akrab dengan tenaga kesehatan yang lain.

Entah itu adalah Raja Yuko atau hanya orang yang mirip aku masih bertanya sampai sekarang,

Pikiranku kacau, Ibu dan Ayah masih harus banyak beristrirahat di luar negeri sementara aku harus tetap berkerja disini.

Seandainya aku bisa berpindah ke tempat lain dalam satu dunia tentu saja aku bisa menyelinap masuk dengan bebas.

Matahari mulai bersinar agak hangat, aku turun melalui tangga darurat.

“dokter…ada pasien yang menunggumu di ruangan” aku berpapasan dengan perawat.

“baik, terima kasih” kataku.

Aku memang mau ke keruangan mengambil barang dan pulang,

“dokter….” Gadis berumur 8 tahun dengan boneka beruang dipelukannya.

“Hai..karen..” pasien kanker darah yang positif sembuh total setelah menggunakan teratai emas.

“Apa kabarmu?” tanyaku membelai rambutnya yang tebal dan lebat, tubuhnya sudah lebih gemuk dari sebelumnya.

“Baik dokter..aku dan mama mampir kesini mau memberikan dokter ini” katanya menyerahkan paper bag berwarna biru bunga-bunga.

Aku duduk di kursiku, tersenyum pada Ibunya Karen.

“Wow…apa ini? Hadiah” kataku

Aku senang, “Aku buka ya?” kataku lagi

“Jangan dokter, bukanya nanti saja waktu aku sudah diluar ya..” anak gadis itu berdiri memegang tangan ibunya.

“Merepotkan Karen…” kataku berpura-pura cemberut.

“Dokter dulu juga sering memberikan Karen hadiah” kata Karen.

“Kami yang merepotkan dokter, maaf kami menggangu” kata Ibu Karen.

“Ah, tidak justru aku senang sekali.

Kapan hari dokter akan membalas kado ini”

“Janji…” kata Karen melingkarkan jarinya di jari telunjukku.

“Iya janji…” kataku membalas lingkaran kelingking.

**

Paper bag berwarna biru ku tenteng keluar Rumah Sakit.

Isinya belum aku buka.

“Mayanza, tunggu..” aku menoleh ada yang memanggilku.

“Dokter Yuki, ada apa” kataku

“Bisa ada waktu sebentar” katanya

Aku mengikutinya ke IGD.

Menunjukan beberapa rekam medis seorang pasien,

“Kudengar ini pasien yang kamu tangani tadi malam, pasien yang operasi saraf terjepit”

Katanya.

“Iya betul, kondisinya pemulihan” kataku.

“Baik akan kuresepkan obat sesuai dengan kondisinya saat ini” katanya.

“Oke…” aku melingkarkan beberapa data yang harus dia perhatikan dengan pensil dengan teliti.

Wajahku dipandangnya,

Aku menoleh, “Kenapa” tanyaku.

“Ah, tidak…” dokter Yuki melihatku tersenyum

Dalam hatiku berdesir, apakah ini orang yang sama dengan Raja Yuko dari Kerajaan Zink.

“Baiklah, sudah beres kan?” tanyaku pada pria berusia 28an tahun ini.

“Iya, terima kasih” katanya menerima rekam medik itu.

Aku pergi.

Di parkiran,

Jendela mobilku di ketuk.

Kubuka, “dokter Mayanza, barangmu tertinggal” kulihat paper bag berwarna biru.

“terima kasih” kataku pada dokter Yuki yang jauh-jauh mengantarkan dari IGD.

Aku pergi berkendara menuju Kediaman Kakek.

**

Di halaman Rumah Kakek, aku membuka hadiah dari Karen, Sebuah Liontin Giok berbentuk bunga berwarna hijau.

Dan Syal berwarna putih lembut, langsung aku pakai menutup leherku.

“Bi…, malam ini aku akan menginap disini” kataku.

“Bagaimana kabar orang tua nona?” kata Bibi cemas.

“Mereka baik-baik saja sekarang, ada Abang Rey dan calon istrinya menjaga di luar negeri” jawabku.

“Syukurlah” kata Bibi Sarah.

“Bi…ada sesuatu yang ingin aku tanyakan” kataku.

Wajah Bibi Sarah berubah serius, duduk di sampingku.

**

“Bi…apakah ada orang lain selain keluarga kita yang datang kesini rutin?” kataku.

Bibi Sarah menggeleng ragu,

“Bibi tidak yakin?” kataku.

Mengangguk pelan takut.

Memandang kamar utama di samping tangga.

“Apa yang terjadi, ceritakan jujur” kataku memegang kedua tangannya.

“Kamar Tuan Besar” katanya menatapku.

Aku berdiri dan membuka gagang pintu, Bibi Sarah pelan berdiri di belakangku.

Aku merasa ragu, ada yang kutakutkan.

Aku buka pintu kamar, ruangan besar terdapat tempat tidur di bagian tengah dan jendela besar di sampingnya, aku masuk membuka jendela itu lebar-lebar sehingga cahaya matahari masuk.

Tidak ada yang kutakutkan lagi, kamar ini terang.

Masih bersih.

“Kenapa dengan kamar ini” kataku berbalik.

“Sering kali kami dengarkan suara di dalam kamar ini, seperti ada orang, pelayan sampai takut dan minta berhenti berkerja Nona” kata Bibi Sarah, wanita paruh baya itu terlihat gemetar.

“Apa kalian ada melihat sesuatu disini?” tanyaku.

Menggeleng kepala.

“Setiap hari kami bersihkan, hanya saja terkadang aroma busuk keluar dari kamar ini” kata Bibi Sarah.

Dia berkeliling kamar mengecek lagi, bau pengharum bunga melati keluar dari pengharum otomatis di ujung ruangan.

Aku duduk di atas Kasur kakek, Kasur yang sangat luas, disini aku merawat kakek yang ternyata bukan kakekku.

“Bibi Sarah, berapa tahun bibi menjadi kepala pelayan disini?” tanyaku.

“Saya mulai berkerja disini dua puluh enam tahun Nona” kata Bibi Sarah.

“Bibi ingat bagaimana Nenek meninggal?” kataku.

“Nyonya besar meninggal jatuh dari tangga” katanya.

“Kakek…bagaimana dengan Kakek saat itu?” tanyaku

“Tuan besar sering mengurung diri di kamar, dia mengunci diri berhari-hari”

Jawabnya.

“Apa bibi ingat wajah kakek di awal berkerja sampai terakhir”

Mengangguk pelan.

“Tapi saya memang jarang melihat tuan, tuan besar selalu menggunakan masker”

Jawabnya.

“Apakah bibi ingat wajah kakek berubah” kataku.

“Maksud Nona?” katanya.

“Kakek yang meninggal bukan Kakek yang dulu kita kenal” kataku sambil menatapnya.

“Tapi Nona..., bukankah Nona yang merawat Tuan besar dan bersama setiap hari” kataku.

Kami berdua keluar dari kamar utama ke ruang tengah lagi melangkah, kuambil album foto yang kutemukan di buffet dekat meja.

“Aku menemukan perbedaan di sini” kataku.

“Nona…saya menjadi takut” kata Bibi Sarah.

“Apa saya sudah waktunya pindah, saya sebenarnya takut” kata Bibi Sarah.

“Tidak ada yang bisa kami percaya selain bibi menjaga rumah ini” kataku

“Malam ini aku akan menginap disini, tidur di kamar utama”, kataku.

**

Setelah makan malam, aku masuk ke kamar utama, kamar bekas kakekku.

Berbaring, menunggu.

Menunggu tamu yang datang.

Malam sudah mulai larut, aku mengantuk.

Lampu neon kamar berkedip, aku menutup mata berpura-pura tidur.

Aroma busuk itu muncul, aku membuka mata pelan, melihat seorang kakek berjalan dengan jubah hitam di dekat jendela, aku merasakan hawa dingin di sampingku.

Aku membuka mata, tepat di hadapanku Swanzi.

Aku tersenyum.

Swanzi mundur…tangan kanannya masih melepuh.

Pak Tua dengan matanya yang putih berbalik membuka portal hitam menyedot ku ikut serta, aku sudah siap melentikan jariku mengeluarkan kekuatan untuk melawan, mengarahkan tusuk konde berwarna emas berukirkan bunga teratai yang sudah kusiapkan di balik bantal.

Bersamaan dengan tubuhku yang hampir ditarik melalui portal, aku menusuk pria tua, dia berteriak kesakitan merintih.

“Mayanzaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa….” Memanggil namaku merintih kesakitan. Dan hancur menjadi abu…

Aku membuka portalku sendiri melapalkan mantra kembali ke Kamar Kakek.

Lekas kubuka pintu kamar lebar-lebar, aku muntah berlari ke wastafel.

Bibi Sarah belum tidur.

Bangun berlari ke arahku.

“Nona…Nona baik-baik saja?” mengusap bahuku.

Mengambilkan air putih.

“Sekarang kita aman bi…” kataku, dan bibi mengangguk.

**

𝘽𝙚𝙧𝙨𝙖𝙢𝙗𝙪𝙣𝙜...

Epilog

“Kakek…” aku berlari ke arah kakek.

“Mayanza kemari..” Kakek memberiku buah jeruk.

Usiaku 10 Tahun.

“Kakek ceritakan aku dongeng lagi” pintaku.

“Baiklah…” aku duduk di pangkuan kakek.

“Ada sebuah tempat disebut Dunia Zink, Negeri yang damai di pimpin turun temurun oleh seorang Raja yang tampan bernama Yuko, Keturunan kerajaan itu memiliki kekuatan gaib yang sangat hebat, kulit mereka putih pucat, mereka memiliki kekuatan murni untuk penyembuhan…”

“Apakah mereka juga dokter kakek?” aku bertanya.

Kakek mengangguk pelan menyuapiku dengan buah jeruk manis.

“Mereka hidup rukun dan damai, selama keseimbangan energi mereka tetap terjaga oleh penjaga bunga suci”

“Bunga suci, teratai emas yang kakek ceritakan minggu lalu bukan?”

“Betul sekali, cucu kakek pintar” aku sangat senang, berlari lagi kearah ibu yang datang.

1
Tory Ambay Satu
Mantap👍👍
Tory Ambay Satu
👍👍
Tory Ambay Satu
Semakin seru ceritanya👍
Novita Tory: terima kasih, dukung dan baca juga ceritaku yang lainnya ya🤭
total 1 replies
Tory Ambay Satu
Seru banget ya, Raja Yuko😍
Novita Tory: /Chuckle/🙏
total 1 replies
Novita Tory
🤭Aku memikirkan nasib ayam berwarna putih😅🥲
Tory Ambay Satu
Bagus banget alur ceritanya 👍
Novita Tory: Makasih...
total 1 replies
Tory Ambay Satu
Mantapp banget ceritanya👍
Novita Tory: makasih😊selamat membaca..
baca juga karyaku yang lain ya...
total 1 replies
Novita Tory
Lanjut untuk episode selanjutnya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!