Indonesia
NovelToon NovelToon
Istri Butaku Direbut Sahabatku

Istri Butaku Direbut Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam / Obsesi
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Sibewok

Rania Almira, gadis buta yang membawa rahasia keluarga Aristama, mengira telah berhasil meninggalkan suaminya, Brian Aristama.

Namun, ia tidak tahu bahwa pria yang ditinggalkannya sedang datang untuk merebutnya kembali dari tangan Daffa.

Saat obsesi, cinta, dan dendam saling bertabrakan, mampukah Brian merajut kembali rumah tangganya dan memberikan Daffa pelajaran yang membuat pria itu menyesal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sibewok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 - Obsesi Brian

"Malam ini belum selesai, sayang." Senyum tipis Brian masih terlihat jelas di wajahnya.

Rania menatap pria itu dengan jantung berdebar. "Brian... lepaskan aku."

Namun bukannya melepaskan, Brian justru mempererat pelukannya.

"Tidak." Jawab Brian. Lebih rendah. Lebih berat.

Dan entah mengapa, terdengar begitu manja.

Rania mengerutkan kening. "Kau mabuk?"

Brian menggeleng pelan. "Tidak."

"Kau sudah minum banyak."

"Aku masih sadar," ucap Brian.

Rania menatapnya curiga.

Namun beberapa detik kemudian, Brian justru menyandarkan kepalanya kembali pada perut Rania.

Rania membeku. "Brian..."

Pria itu menghela napas panjang. "Diam," satu kata itu terucap, membuat Rania membeku kembali, tangannya mengusap perlahan pinggang Rania.

Tidak kasar. Tidak terburu-buru. Justru sangat lembut. "Aku sudah lama tidak bisa melakukan ini."

Rania terdiam, tatapannya jatuh pada kepala Brian yang bersandar di perutnya.

Ada sesuatu dalam suara pria itu yang membuat hatinya terasa aneh. Tapi Rania berusaha tetap sadar, ia tidak akan terbujuk oleh setiap tingkah suaminya.

Brian kemudian mengangkat wajah. "Kau tahu?"

Rania menatap Brian.

"Aku merindukanmu," ucap Brian.

Rania tertegun.

Brian tersenyum kecil. "Merindukan suara cerewetmu."

Rania mengerutkan kening.

Brian tertawa kecil, tak mendapatkan jawaban apapun dari Rania, Brian kembali menyandarkan kepalanya.

"Dan aku merindukan sikap mu yang dulu."

Rania akhirnya bersuara, "Sadarlah, jangan hidup terus dalam masa lalu, aku bukan Rania yang dulu," ucap Rania.

Pria yang selama ini selalu terlihat dingin itu kini justru bersikap seperti seseorang yang sedang mencari tempat untuk pulang.

Rania menelan ludah. "Brian, kau benar-benar mabuk, kau harus istirahat," Rania mendorong bahu Brian, namun Brian enggan menjauh dari tubuh Rania.

"Aku mabuk, tapi aku masih tahu apa yang kulakukan." Brian mengangkat wajahnya lagi, lalu ia berdiri, tubuhnya sedikit limbung, tatapannya menatap Rania dalam. "Aku tahu kau ada di sini."

Lalu Brakk! Kedua lututnya jatuh ke lantai, Rania terkejut, namun saat tangan Brian bergerak perlahan menuju perut Rania.

Rania terdiam, ia menatap tangan Brian yang masih menggantung di udara, tatapan Brian berubah lembut, detik berikutnya Brian meletakkan telapak tangannya di atas perut Rania.

Sangat hati-hati.

Seolah-olah sesuatu yang berharga sedang berada di balik sana.

"Anakku..." Suara Brian berubah. Tdak ada lagi nada menggoda. Tidak ada kesombongan. Hanya kelembutan.

"Maaf... Ayah baru bisa dekat denganmu seperti ini."

Rania menahan napas.

Brian tersenyum tipis. "Kau dengar, Nak?" Ia mengusap perlahan perut Rania. "Ayahmu ada di sini."

Rania menundukkan wajah. Dadanya terasa sesak.

Brian benar-benar terlihat seperti seorang ayah.

Bukan seorang pria yang sedang berusaha merebut kembali mantan istrinya.

Brian menempelkan telapak tangannya lebih lama.

"Jangan khawatir." Suaranya begitu pelan. "Ayah akan menjagamu."

Rania menggigit bibir bawahnya.

Kemudian Brian kembali menatapnya. "Dan Ayah juga akan menjaga ibumu."

Rania tertegun. "Brian hentikan, kau mabuk, aku akan memanggil Rio untukmu,"

Rania hendak berbalik, namun Brian segera berdiri, Pria itu tiba-tiba menarik pinggang Rania, tubuh wanita itu kembali mendekat.

"Mulai sekarang..." Brian menatap matanya. "Jangan pergi terlalu jauh dariku."

Rania mengerutkan kening. "Kau mulai lagi." Ia mendorong Brian menjauh, "sudah cukup, kau terlalu mabuk Brian," ucap Rania.

Rania berhasil melepaskan sentuhan Brian pada tubuhnya.

Ia segera berbalik dan berjalan menuju pintu.

Namun tanpa Rania sadari, keputusannya untuk pergi sebelum Brian menyelesaikan ucapannya justru membuat pria itu semakin tersulut.

Rania menyusuri koridor Club Glamore yang mulai sepi.

Ruangan-ruangan VIP di kiri dan kanannya telah tertutup rapat. Hanya suara langkah kakinya yang terdengar di sepanjang lorong.

Namun beberapa detik kemudian...

Tap.

Tap.

Tap.

Ada langkah lain yang mengikutinya.

Rania menoleh.

Brian.

Pria itu berjalan beberapa meter di belakangnya.

"Dia masih mengikutiku?"

Rania menghela napas kesal.

Meskipun jelas terlihat mabuk, langkah Brian masih cukup tegap.

"Pria gila," gumam Rania.

Ia kembali mempercepat langkahnya.

Brian tidak mengatakan apa pun.

Ia hanya terus mengikutinya.

Tatapannya tak pernah lepas dari punggung Rania.

Hingga saat Rania berbelok di ujung koridor...

Langkah Brian tiba-tiba berubah.

Lebih cepat.

Lebih berat.

Brak!

Rania baru saja berbalik ketika sebuah tangan meraih pinggangnya.

"Ah!"

Tubuh Rania tertarik mundur.

Dalam sekejap, punggungnya menyentuh dinding.

Rambut panjangnya tergerai dan tersapu angin malam yang masuk dari sisi koridor.

Brian berdiri tepat di hadapannya.

Kedua tangannya menahan pinggang Rania.

"Brian!"

Rania terkejut.

Namun sebelum ia sempat mengatakan apa pun, Brian menundukkan wajahnya.

Sebuah kecupan singkat mendarat di bibir Rania.

Rania langsung mendorong bahunya.

"Berhenti!"

Brian tidak menjawab.

Ia hanya menatap Rania dengan napas berat.

Ada gejolak yang jelas terlihat di matanya.

Campuran antara alkohol, kerinduan, amarah, dan sesuatu yang selama ini mati-matian ia tahan.

"Kenapa kau selalu pergi dariku?" suara Brian terdengar rendah.

Rania menggeleng.

"Karena aku tidak ingin kembali kepadamu."

Kalimat itu membuat rahang Brian mengeras.

Untuk beberapa detik, ia hanya menatap Rania.

Kemudian ia kembali mendekat.

Rania mencoba menghindar, tetapi Brian menahan tubuhnya agar tidak terbentur dinding.

"Brian!"

Rania mendorong bahunya lebih kuat.

Namun Brian masih berdiri di sana.

Mabuk, tetapi tetap berusaha mempertahankan kesadarannya.

Matanya sempat terpejam.

Ia menarik napas dalam-dalam.

Seolah-olah sedang berusaha mengendalikan gejolak yang sejak tadi memenuhi dadanya.

"Aku tahu aku mabuk," bisiknya.

Tatapannya kembali terbuka.

"Tapi aku masih tahu siapa yang ada di depanku."

Rania menatapnya tajam.

"Kau harus berhenti."

Brian tidak menjawab.

Tatapannya justru turun sejenak ke wajah Rania.

Kemudian kembali ke matanya.

Ia tampak seperti seseorang yang sedang berusaha mengingat setiap detik yang terjadi malam itu.

Seolah takut ketika pagi datang, semua perasaan ini akan kembali terkubur.

Rania kembali mendorongnya.

Namun kali ini Brian benar-benar tak melepaskan tautannya, Rania terbelalak ketika Brian mendaratkan kembali bibirnya.

Rania segera mengambil satu kesempatan.

Krekk! Rania menggigit bibir Brian dengan kuat.

Brian langsung mendesis. "Agh!"

Refleks tangannya terlepas. Rania segera mendorong tubuhnya.

Brak! Brian mundur beberapa langkah.

Rania berdiri dengan napas memburu. "Kau menyedihkan, Brian."

Tatapannya penuh kekecewaan. "Kau bahkan tidak tahu kapan harus berhenti."

Brian hanya diam, tangannya menyentuh bibirnya yang terluka.

Namun bukannya marah, ia justru menatap Rania dengan sorot mata yang sulit diartikan.

Rania langsung berbalik. Ia berjalan meninggalkan Brian.

Kali ini lebih cepat.

Namun...

Brian kembali mengikutinya.

"Brian, berhenti mengikutiku!"

Pria itu tidak menjawab.

Langkahnya tetap mengikuti Rania hingga mereka keluar dari koridor dan tiba di area parkir.

Udara malam menyambut mereka.

Rania segera menuju mobilnya, tangannya meraih gagang pintu.

Namun sebelum pintu terbuka, tangan Brian menahannya.

Rania menoleh tajam. "Brian!"

Pria itu berdiri sangat dekat.

Tatapan mereka bertemu, untuk sesaat, tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara.

Brian hanya menatap Rania.

Ada luka, kerinduan, dan obsesi yang bercampur menjadi satu di matanya.

"Aku belum selesai."

Rania menggeleng. "Aku harus pergi." Ia mencoba membuka pintu kembali.

Namun Brian masih menahannya.

"Brian, cukup." Rania menatapnya tegas.

Namun pria itu justru mendekat.

Sebelum Rania sempat kembali menjauh, Brian mengecup bibirnya sekali lagi.

Rania terkejut.

Tangannya refleks mencengkeram lengan Brian.

Namun beberapa detik kemudian, Brian melepaskannya, ia tidak mengatakan apa pun.

Hanya menatap Rania dalam-dalam.

Seolah-olah tatapan itu sudah cukup untuk mengatakan semua hal yang tidak mampu ia ucapkan.

Rania membeku di tempat, tangannya perlahan menyentuh bibirnya. Jantungnya berdetak begitu cepat.

Sementara Brian masih berdiri di hadapannya.

Tidak ada lagi senyum. Tidak ada lagi candaan.

Hanya tatapan seorang pria yang seakan-akan baru menyadari betapa dalam dirinya telah tenggelam dalam perasaan terhadap wanita yang berulang kali berusaha meninggalkannya.

Bersambung...

1
Nisa Nisa
cerita nya seru, baru awal aja udah buat penasaran
Michelle Azahrah
응 anooo ini serius judulnya itu? sarkas bet, tapi aku suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!