Indonesia
NovelToon NovelToon
Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:343k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

"Gak usah pura-pura amnesia. Dan ingat, meski kamu bunuh diri berkali-kali, aku bakal tetep ceraiin kamu."

"Hei, Pak Tentara! Saya benar-benar gak kenal Anda!"

Vivian, desainer ternama, mengalami kecelakaan mobil dan jatuh ke sungai. Namun, saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh Levia, istri gendut Kapten Arvandra Jayasena.

Semua orang tahu, Levia terobsesi pada Vandra. Demi menjadi istrinya, ia menjebak sang kapten hingga terpaksa menikahinya. Akibatnya, pernikahan mereka hanya dipenuhi kebencian, hingga Levia nekat mengakhiri hidupnya.

Kini, Vivian yang menempati tubuh Levia sama sekali tidak berniat mengejar cinta Vandra. Ia hanya ingin mengubah takdir pemilik tubuh dengan cara menurunkan berat badan dan mengejar kembali mimpinya sebagai desainer.

Namun, ketika Levia berhenti mengejar, perlahan Vandra malah enggan melepaskannya.

"Via... kita mulai dari awal."

"Mulai dari awal? Maaf, Kapten. Saya bukan aplikasi yang bisa di-reset ke pengaturan pabrik."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28. Dulu Mengejar, Kini Dicari

Enam bulan berlalu sejak Vandra berangkat menjalankan tugas sebagai petugas perdamaian di Lebanon. Selama itu pula, kehidupan Levia berubah hampir sepenuhnya.

Pagi-pagi ia habiskan untuk berolahraga. Setelah itu, ia mengurus perusahaan kecil yang baru dirintisnya, menyelesaikan desain pakaian, dan membantu Gultom mengurus beberapa urusan bisnis. Pola makannya juga jauh lebih teratur.

Berat badannya yang semula mencapai 12,5 kilogram kini sudah turun menjadi sekitar 88 kilogram.

Angka itu mungkin masih terdengar besar, tetapi perubahan pada tubuh Levia terlihat jauh lebih jelas daripada yang tercatat di timbangan. Tubuhnya sudah jauh lebih langsing dibanding enam bulan lalu. Wajahnya semakin tegas, lehernya mulai terlihat, pinggangnya perlahan terbentuk, dan pakaian yang dikenakannya pun kini tampak lebih pas di tubuh.

Rutin berolahraga juga membuat tubuhnya terlihat lebih padat dan proporsional. Ia memang masih bertubuh besar, tetapi tidak lagi tampak seperti Levia yang dulu.

Dan yang paling mencolok bukan hanya perubahan fisiknya. Sorot matanya kini terlihat jauh lebih hidup dan percaya diri. Ia tidak lagi terlihat seperti perempuan yang hidupnya hanya berputar pada satu nama.

Vandra.

Sore itu, sebuah mobil pengiriman berhenti di depan rumah. Dua orang petugas turun dan mulai menurunkan sebuah benda besar yang dibungkus plastik.

Gultom baru saja turun dari mobilnya setelah pulang dari pabrik. Langkahnya langsung terhenti ketika melihat benda tersebut.

Ia mengernyit. "Itu apa?"

Salah seorang petugas tersenyum. "Samsak tinju, Pak. Pesanan Nona Levia."

"Samsak?" Gultom menatap benda besar yang sedang diangkat itu.

"Taruh di ruangan latihan belakang," terdengar suara Levia dari dalam rumah. Wanita itu muncul sambil membawa tablet di tangannya. Begitu melihat ayahnya, sudut bibir Levia langsung terangkat.

"Ayah sudah pulang."

"Iya." Mata Gultom masih tertuju pada samsak tersebut. "Via..."

"Hm?"

"Kamu beli itu?"

Levia mengikuti arah pandangan ayahnya. "Oh, iya."

Gultom mengangkat alisnya. "Buat apa?"

Levia menjawab seolah pertanyaan itu sangat biasa. "Buat latihan."

"Latihan apa?" Gultom makin penasaran.

"Tinju."

Mata Gultom langsung membesar. "Tinju?"

Levia mengangguk mantap. "Dan bela diri."

Gultom benar-benar terdiam. Ia bahkan sempat melirik samsak itu lagi, kemudian kembali menatap putrinya. "Sejak kapan kamu latihan tinju?"

Levia tertawa kecil. "Belakangan ini."

"Belakangan ini?" ulang Gultom.

"Iya."

Gultom mengerutkan kening. "Ayah gak pernah lihat kamu belajar."

"Aku latihan sendiri."

"Sendiri?"

Levia mengangguk santai. "Lihat video di internet. Terus aku praktikkan."

Gultom masih terlihat tidak percaya. "Jadi kamu belajar tinju dari internet?"

"Kurang lebih begitu."

Gultom mengusap dagunya. Entah kenapa, penjelasan itu terasa terlalu sederhana. Namun ia tidak ingin mempermasalahkannya. "Memangnya kamu bisa?"

Levia menegakkan punggungnya percaya diri. "Lumayan. Ayah mau coba?"

Gultom tertawa kecil. "Baru turun dua puluh empat kilo sudah berani nantang Ayah?"

Levia langsung memasang wajah protes. "Aku gak nantang."

"Lalu?"

"Aku cuma mau belajar."

Levia tahu dari ingatan yang tersisa dalam tubuh ini bahwa Gultom menguasai bela diri. Bahkan sejak kecil, pemilik tubuh asli pernah beberapa kali melihat ayahnya berlatih silat.

Gultom terkekeh. "Baiklah. Kalau begitu nanti Ayah lihat."

Mata Levia langsung berbinar. "Serius?"

"Iya."

"Berarti Ayah bisa ngajarin aku?"

Gultom mengangguk. "Ayah dulu juga pernah belajar bela diri."

"Silat?"

"Iya."

Levia semakin bersemangat. "Kalau begitu ajarin aku."

Gultom tertawa melihat antusiasme putrinya. "Bukannya kamu sudah belajar dari internet?"

Levia nyengir. "Belajar sendiri sama belajar dari Ayah, 'kan beda."

Gultom menggeleng sambil tersenyum. "Baiklah. Nanti setelah Ayah istirahat."

"Janji?"

"Janji."

Levia tersenyum puas. "Kalau begitu aku tunggu."

Gultom hanya bisa tertawa kecil melihat putrinya yang mendadak begitu bersemangat.

 

Dari balik pintu, Ninis diam-diam memerhatikan keduanya dengan tangan terkepal.

"Kenapa sekarang jadi begini?"

Ia menatap Gultom yang tertawa bersama Levia. Dulu, perhatian pria itu mudah ia dapatkan. Sekarang bahkan untuk mendekatinya saja terasa semakin sulit.

Ninis mengembuskan napas pelan. "Aku gak bisa terus begini." Sorot matanya mengeras. "Kalau mereka terus semakin dekat..." Ia menggigit bibir. "...aku yang akan tersingkir."

***

Malam itu, Vandra berada di kamar. Ia membuka ponsel, jarinya berhenti di daftar kontak. Nama Levia masih tersimpan di sana.

Ia menatapnya beberapa detik. Tidak ada pesan baru. Tidak ada panggilan tak terjawab. Tidak ada apa pun.

Vandra mengunci layar. Beberapa detik kemudian, ia membukanya lagi. Ia hampir mengetik sesuatu.

Apa kabar?

Namun akhirnya ia menghapusnya sebelum sempat dikirim.

"Aku ngapain?"

Ia meletakkan ponsel di meja. Bukankah ini yang ia inginkan? Levia tidak lagi mengganggunya. Levia tidak lagi menuntut perhatiannya. Levia bahkan tidak berusaha menghalangi perceraian.

Seharusnya ia lega. Tetapi enam bulan berada ribuan kilometer dari rumah justru membuat satu hal semakin mengganggunya.

Ia tidak tahu lagi apa yang sedang dilakukan istrinya. Dan untuk pertama kalinya, ketidaktahuan itu membuatnya penasaran.

"Via... kamu benar-benar sudah berubah?"

Vandra memejamkan mata. Namun bayangan wanita yang dulu selalu mengejarnya justru kembali muncul. Bedanya, kali ini ia tidak membayangkan Levia yang menangis atau memohon.

Ia membayangkan Levia yang tersenyum tenang, sibuk dengan kehidupannya sendiri, dan sama sekali tidak menoleh kepadanya.

Entah kenapa... bayangan itu jauh lebih mengganggunya.

Malam kian larut, namun Vandra masih terjaga. Sudah hampir satu jam ia berbaring, tetapi matanya tak kunjung terpejam. Vandra akhirnya meraih ponsel. Jarinya berhenti pada satu nama.

Ibu.

Setelah beberapa detik ragu, ia menekan tombol panggil.

 

Di Indonesia, hari masih sore. Ratih yang sedang duduk di ruang keluarga langsung tersenyum ketika melihat nama putranya muncul di layar.

"Vandra." Ia segera mengangkatnya. "Halo, Van."

"Halo, Bu."

"Bagaimana kabarmu?"

"Baik."

"Di sana sehat?"

"Sehat."

Mereka berbicara beberapa menit tentang keadaan Vandra di Lebanon, tugas yang sedang dijalani, serta kondisi Ratih di rumah. Percakapan berjalan seperti biasa. Sampai tiba-tiba Vandra terdiam.

Ratih yang sudah mengenal putranya sejak kecil langsung menyadari perubahan itu.

"Kenapa?"

"Gak kenapa-kenapa."

"Kok diam?"

Vandra mengusap wajahnya. Ada sesuatu yang ingin ditanyakannya, namun lidahnya terasa berat. Ia ingin bertanya tentang Levia.

Tapi untuk apa?

Selama ini ia bahkan selalu mengabaikan wanita itu. Pesan-pesannya dulu sering tidak dibaca. Teleponnya kerap ia biarkan berdering. Bahkan surat perceraian sudah ia berikan.

Sekarang, kalau tiba-tiba bertanya tentang Levia, bukankah itu terdengar aneh?

Ratih menunggu.

Akhirnya Vandra bertanya dengan suara yang dibuat senormal mungkin.

"Ibu..."

"Hm?"

"Di rumah... semuanya baik?"

Ratih tersenyum kecil. "Baik."

Vandra kembali terdiam.

Ratih menahan senyum. "Pasti mau bertanya tentang Via."

Namun Ratih tidak membantunya. "Kenapa?"

"Gak ada."

"Kalau gak ada, kenapa kenapa kayak ada sesuatu gitu?"

Vandra menghela napas. "Cuma mau dengar suara Ibu."

Ratih tertawa kecil. "Begitu?"

"Iya."

"Padahal biasanya kalau menelepon, kamu langsung tanya keadaan Ibu lalu sibuk lagi."

Vandra tidak menjawab.

Ratih sengaja membiarkannya beberapa detik. Kemudian berkata santai,

"Via juga beberapa kali datang menjenguk Ibu."

Vandra sempat terdiam. "Oh."

Hanya itu jawabannya, seolah tak peduli. Padahal dalam hati...

Ratih tersenyum. "Dia cukup sering datang."

"Dia..." Vandra berhenti.

Ratih menunggu.

Akhirnya Vandra bertanya, "Dia baik-baik saja?"

Senyum Ratih semakin lebar. "Nah."

Vandra langsung mengerutkan kening. "Nah apa?"

"Baru saja Ibu tunggu."

"Apanya?"

"Sejak tadi kamu mau bertanya tentang Via, 'kan?"

 

...✨“Ada perubahan yang tidak perlu diumumkan, karena hasilnya akan terlihat dari cara seseorang menjalani hidup, mencintai dirinya sendiri, dan memilih apa yang benar-benar layak diperjuangkan.”✨...

.

To be continued

1
Lucyana H
risa harus tanggung dgn segala resikonya karna emang dia yg salah,harusnya ga gitu jendral,anak salah kok masih di bela
Lucyana H
rasain Risa kena batunya,nikma aja hotel prodeo bareng si Ninis
Lucyana H
Risa jd cewek jgn murahan atuh..kmu itu dokter,anak jendral ,kmu jg berpendidikan pasti tau etika dong,masa ngejar "suami orang ,emang ga malu kmu,udah putus kalo ya urat malunya,salah di vandranya sih..knp ngasih harapan dulunya
Lucyana H
vandra harusnya masalah rumah tangga kmu jgn sampe denger sm orang luar,apalagi si Risa katanya seorang dokter,bapanya jendral masa dtg ke rumah yg masih jd suami orang,pantes jg ga,
Lucyana H
ih..Ninis ga jelas bgt,....ngarep bgt jd si levia...mimpi aja Lo nis
Lucyana H
dih siapa Lo Ninis sadar.....Lo tuh cuma Pembokat...ga usah ngarep .....cih ngehalu
Siska Safitri
lanjut
Sulati Cus
👍🏻
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
anonim
Ninis ini masih saja ingin mencuri desain Levia. Otaknya perlu dicuci ini orang. Tak ada rasa bersyukur telah ditolong Gultom untuk bekerja dan tinggal di rumah Gultom.

Mimpi kali Ninis. Mau menjatuhkan Levia.

Ninis sendiri nanti yang nyungsep terjerembab karena ditendang keluar dari rumah Gultom.
anonim
Risa jangan berharap banyak pada Vandra yang masih belum mantap ingin menceraikan Levia.

Bagaimana caranya mau bikin Vandra mengurungkan niatnya untuk menceraikan Livia. Niat banget nih Risa.
anonim
Risa ini sudah disikapi dingin Vandra masih juga berharap.

Vandra tidak memberi peluang kepada Risa untuk membahas masa lalu.

Risa mau bikin Vandra cemburu atau marah ketika memberitahu tentang Levia yang menjalin kerjasama dengan Andri Mahesa.

Risa ngomongnya mbulet aja. Sudah Risa, kamu nggak ada peluang lagi untuk mendapatkan Vandra.
anonim
Vandra cemburu sama Andri makanya mengingatkan Levia masih istrinya.

Sekarang pusat dunia Vandra adalah Levia. Levia sendiri pusat dunianya Brenda, sudah bukan sang Kapten lagi.
anonim
Vandra menghubungi Levia, cemburu terselubung. Mengingatkan Levia masih istrinya.

Vandra belum bilang mau membatalkan perceraian. Belum punya nyali dia, belum tahu alasannya apa kalau Levia bertanya😁.

Salahnya sendiri kasih surat cerai untuk ditandatangani Levia. Kini menyesal.
anonim
Selama ini Vandra gigih untuk menceraikan Levia. Kini istrinya banyak mengalami perubahan terutama fisiknya dan tidak mengejar dirinya seperti dulu.

Sekarang Vandra tidak ingin kehilangan Levia. Mau membatalkan perceraian. Bingung sendiri jadinya.
anonim
Rekan-Rekan Vandra semakin gencar ngomong tentang Levia dengan segala perubahannya.

Mereka tertawa tanpa merasa dosa sedikitpun. Sedangkan Vandra tidak ikut tertawa. Ingatannya ada pada foto Levia yang tersenyum, berdiri di samping Andri Mahesa.

Vandra semakin diam, semakin nggak karuan rasanya ketika rekan-rekannya semakin gencar membicarakan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi nanti.

Rekan-rekan Vandra bicaranya semakin bikin Vandra benar-benar galau. Mereka dengan enaknya bicara seperti mengejek Vandra dengan kenyataan yang ada.
anonim
Rekan-rekan Vandra pada membicarakan Levia yang bekerja sama dengan Mahesa retail.

Yang punya Nahesa Retail masih muda, belum menikah pula.

Daun telinga Vandra panas ngga tuh mendengar obrolan rekan-rekannya.

Mereka juga membicarakan Levia di masa sebelum Vandra mendapat tugas tugas ke Libanon.

Vandra hanya diam.
anonim
Vandra membuka Akun Brenda.

Vandra melihat foto Levia sedang berjabat tangan dengan Andri yang dia tidak mengenalnya.

Perasaannya mulai tidak nyaman mengetahui Andri seorang pengusaha muda, belum menikah.

Vandra menyesal ngga setelah melihat foto-foto Levia dengan aktifitasnya dan segala perubahannya.

Belum bercerai namun sudah memberi surat perceraian untuk ditandatangani Levia.

Sepertinya Vandra masih punya harapan untuk bersama Levia yang belum menandatangani surat cerai.
anonim
Risa siap-siap saja menerima kenyataan kalau Vandra tidak jadi menceraikan istrinya yang sekarang jelas lebih menarik, lebih mandiri, punya perusahaan sendiri dan semua perubahan yang terjadi pada Levia.

Dari dulu Risa saja yang mengganggap remeh Levia.
A.R
knp ngk di ganti tuhh namanx calon mantan suami mu,,ntar dia liat teruss kepedeaan Krn km blum bisa move on
A.R
nihh Ninis jatuh cinta kh SM bpknx Levis atau gmna??
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!