**Tiga belas tahun lalu, dia membantai seluruh keluargaku.**
**Sepuluh tahun lalu, tanpa tahu siapa aku sebenarnya, dia mengangkatku menjadi anak angkatnya.**
**Dua tahun lalu, pria yang seharusnya kupanggil "Ayah" itu... jatuh cinta padaku.**
**Lalu, saat aku paling hancur, dia mencampakkanku begitu saja.**
**Dan malam ini—dua tahun berlalu—kami bertemu lagi.**
Larasati sudah bukan gadis yang dulu. Dengan nama panggung **Nirmala**, dia menjelma menjadi pianis misterius yang namanya menggema tanpa pernah menunjukkan wajahnya. Malam itu, di pesta megah pewaris Mahendra, sebuah cek bernilai fantastis diantarkan ke hadapannya—dari **Arkana Wardhana**. Sang bos mafia yang ditakuti seantero kota itu hendak "membeli" satu malam bersamanya, hanya untuk memastikan satu hal: *dia tak akan pernah lagi memberikan hatinya.*
Larasati tersenyum. Lalu membalasnya dengan selembar uang receh.
Karena tak ada seorang pun yang lebih tahu daripada dirinya—pria itu adalah musuh yang membantai keluarganya, ayah angkat yang membesarkannya dengan tangannya sendiri, sekaligus satu-satunya lelaki yang pernah ia cintai sampai tak bisa lepas. Di antara dendam yang membeku di tulang dan cinta yang menolak padam, Larasati pernah mengangkat pisau ke arah jantungnya... dan tak sanggup menurunkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Salma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Bab 11
Menghadang Maut
Tiga hari setelah Arkana mengatakan dia bisa menunggu, seseorang menutup mulutku di parkiran kampus.
Aku sempat menekan tombol darurat pada kunci mobil. Alarm meraung. Seorang pria memelintir lenganku, pria lain menarik kain hitam ke atas kepalaku.
"Cepat! Pengawalnya datang!"
Tubuhku dilempar ke lantai kendaraan. Pintu ditutup. Ban berdecit meninggalkan parkiran tepat ketika suara tembakan pertama terdengar di belakang.
Aku menendang, menggigit tangan yang menahan bahu, dan mencoba menghitung belokan. Kanan. Kiri. Jalan rusak. Lalu suara kendaraan besar dan bau solar.
Seseorang menghantam sisi kepalaku.
Dunia padam.
***
Ketika sadar, kedua tanganku terikat di belakang kursi.
Gudang itu berbau karat, solar, dan air hujan yang merembes dari atap seng. Lampu putih bergoyang di atas kepalaku. Seorang pria berwajah penuh bekas luka berjalan mendekat sambil memainkan pistol.
Aku mengenalnya dari bisik-bisik orang Club Aurora.
Codet.
"Akhirnya bangun juga," katanya.
"Kalau ingin uang, hubungi Arkana."
"Kami sudah menghubungi dia."
Codet menunjukkan ponsel. Di layar ada fotoku terikat di kursi dan pesan yang dikirim kepada nomor tak bernama.
`Ojan bilang utang lama harus dibayar. Datang sendiri atau gadis ini kami kirim pulang sedikit demi sedikit.`
Perutku berputar, tetapi aku memaksa wajah tetap tenang.
"Apa yang kalian minta?"
"Akses gudang pelabuhan, jalur distribusi timur, dan uang tunai. Ojan sudah menunggu terlalu lama untuk mengambil kembali wilayahnya."
"Ojan tidak akan mendapatkan apa pun."
"Dia akan mendapatkan video kematianmu kalau Arkana keras kepala."
Codet berjalan menjauh untuk menerima panggilan. Aku menggerakkan pergelangan tangan, menggesek tali plastik ke sudut besi kursi. Sekali. Dua kali. Kulitku perih, tetapi ikatan itu tidak melonggar.
Aku mengulang pola empat hitungan di kepala seperti saat latihan piano. Tarik napas empat ketuk. Tahan empat. Buang empat. Kepanikan membuat pandangan menyempit, dan aku membutuhkan mata jernih untuk menemukan jalan keluar.
Pintu utama dijaga tiga orang. Dua lainnya berada di catwalk. Ada jendela kecil di sisi timur, terlalu tinggi untuk dicapai. Sebuah forklift terparkir di dekat pintu samping. Jika lampu mati, ruang di balik peti kayu dapat menjadi perlindungan.
Aku tidak bisa melawan sepuluh pria. Namun aku tidak lagi menjadi anak tujuh tahun yang hanya bisa bersembunyi di loteng.
Ketika penjaga di belakangku membungkuk lagi, aku menghentakkan tumit ke kakinya. Dia mengumpat dan mencengkeram bahuku.
"Kalau kau tahu siapa Arkana, kau juga tahu ancaman itu akan membuatmu mati."
Codet tertawa. "Kau terdengar seperti dia."
Salah satu anak buahnya berdiri di belakangku. Jemarinya menarik kerah blusku.
"Jangan sentuh aku."
"Atau apa?"
Aku menghantamkan kepala ke dagunya. Pria itu mengumpat dan menamparku. Kursi hampir terbalik.
Codet mengangkat tangan. "Jangan rusak wajahnya dulu. Bos besar perlu lihat apa yang akan hilang kalau menolak syarat kami."
Aku mengatur napas. Di bawah rasa takut, sebuah pengakuan memalukan muncul.
Aku ingin Arkana datang.
Pria yang selama bertahun-tahun ingin kubunuh adalah satu-satunya nama yang muncul ketika kematian mendekat.
Kana.
Tolong temukan aku.
Ponsel Codet berdering. Dia menjawab dengan pengeras suara.
"Bawa dia ke telepon," suara Arkana terdengar.
Codet mendekatkan ponsel ke wajahku. "Bicara."
Aku menelan sakit di tenggorokan. "Aku baik-baik saja. Jangan datang sendiri."
Hening sesaat.
"Ara, dengarkan aku," kata Arkana. Suaranya sangat tenang. "Tundukkan kepala saat lampu mati."
Sambungan terputus.
Codet mengerutkan kening. "Apa maksudnya?"
Lampu di atas kami pecah.
Aku menunduk.
Ruangan langsung gelap. Tembakan menghantam lantai di depan Codet. Anak buah yang berdiri di belakangku menjerit sambil memegangi lengan.
"Sentuh dia lagi," suara Arkana datang dari pintu, "dan peluru berikutnya tidak akan kubuang ke lantai."
Cahaya dari luar membingkai tubuhnya. Kemeja hitamnya basah oleh hujan. Pistol berada di satu tangan. Bayu dan Jagal berdiri beberapa langkah di belakang, sementara orang-orang mereka mengepung pintu samping.
"Aku sudah bilang jangan menyentuh perempuan itu," Bayu menghela napas. "Kalian memang susah diberi kesempatan hidup."
Codet mencengkeram rambutku dan menempelkan laras pistol ke pelipis. "Suruh mereka mundur!"
Arkana berhenti.
Wajahnya tidak menunjukkan apa-apa. Hanya telunjuknya yang perlahan meninggalkan pelatuk.
"Lepaskan dia."
"Berlutut."
"Codet," Jagal memperingatkan.
"Diam! Berlutut atau kepala perempuan ini pecah."
Arkana meletakkan pistol di lantai.
Lutut kanannya turun.
Dadaku seperti diremas. Pria yang membuat seluruh kota menyingkir kini berlutut di lantai gudang yang kotor karena aku.
Codet tertawa. Cengkeramannya sedikit longgar.
Itu kesalahannya.
Arkana menyapu pistol dengan ujung sepatu. Senjata itu meluncur ke arah Bayu. Pada saat yang sama aku menjatuhkan tubuh ke samping, membawa kursi ikut rebah.
Letusan terdengar hampir bersamaan.
Peluru Codet menghantam tiang besi.
Peluru Bayu merobek bahunya.
Arkana sudah berdiri sebelum Codet sempat mengumpat. Dia menerjang, memelintir tangan yang masih memegang pistol sampai senjata itu jatuh. Satu pukulan menghantam rusuk, satu lagi tepat di rahang. Codet terpelanting ke lantai.
Anak buahnya menyerbu.
Gudang meledak dalam suara tembakan, sepatu menghantam beton, dan peti kayu pecah. Bayu berlindung di balik forklift. Jagal mencapai kursiku, memotong tali, lalu menarikku ke belakang tumpukan peti.
"Bos, jalur belakang aman!"
Seseorang mengayunkan batang besi ke kepala Arkana. Dia menunduk, menangkap pergelangan penyerang, lalu menghantamkan siku ke perutnya. Ketika pria itu terlipat, Arkana merampas batang besi dan menjatuhkannya dengan satu ayunan ke lutut.
Pria tersebut ambruk. Arkana menendang senjatanya menjauh.
Tidak ada kemarahan di wajahnya.
Itulah yang paling menakutkan.
Dia bertarung seperti sedang menyelesaikan daftar pekerjaan, cepat, dingin, tanpa satu gerakan yang terbuang.
Codet merangkak mencari pistol. Arkana menginjak tangannya sebelum jemarinya menyentuh gagang.
"Tangan mana yang menyentuhnya?"
Codet meludah ke lantai. "Pergi ke neraka."
Tekanan sepatu Arkana bertambah. Codet menggeram.
"Aku tidak akan bertanya tiga kali."
"Kana!" teriak Bayu.
Bayangan bergerak di atas catwalk.
Seorang pria membidik ke arahku.
Arkana berbalik dan berlari. Aku hanya melihat kemeja hitamnya memenuhi pandangan sebelum tubuhnya menghantamku, melindungiku dari atas.
Tembakan itu terdengar sangat dekat.
Peluru menghantam peti di samping kami. Bayu membalas dua kali. Sosok di catwalk jatuh di balik pagar besi.
"Keluar sekarang!" perintahnya.
Jagal menarikku berdiri. Arkana memegang pinggangku, setengah mengangkat tubuhku menuju pintu belakang. Hujan menyambut kami dengan deras.
Di luar gudang, dua mobil menunggu dengan mesin menyala.
"Masuk ke mobil Bayu," kata Arkana.
"Kau ikut."
"Aku menyusul."
"Tidak."
Arkana memegang wajahku. Air hujan mengalir di bulu matanya. "Ara, masuk."
Aku belum pernah mendengar suaranya selembut itu di tengah kekacauan.
Aku masuk bersama Bayu. Arkana dan Jagal menaiki mobil belakang. Rombongan bergerak menembus jalan kawasan industri yang gelap.
Baru dua menit berlalu ketika lampu kendaraan muncul dari persimpangan. Sebuah mobil bak terbuka memotong jalan kami. Tembakan menghantam kaca belakang.
"Mereka punya kelompok kedua!" Bayu memutar kemudi.
Mobil kami tergelincir di aspal basah. Kendaraan Arkana menabrak sisi mobil pengejar, memaksanya menjauh. Jagal membalas tembakan dari jendela.
"Tunduk!" teriak Bayu.
Aku merunduk. Ban depan meledak. Mobil berputar, lalu berhenti miring di dekat pembatas jalan.
Pintu di sisiku macet.
Bayu menembak melalui kaca yang retak. "Jagal, bawa mobil ke sini!"
Seorang penyerang berlari dari belakang pembatas. Senjatanya terarah kepadaku.
Arkana muncul lebih dulu.
Dia membuka pintu yang macet dengan paksa dan menarik tubuhku keluar. Sebuah letusan memecah hujan.
Tubuhnya tersentak.
Dia masih sempat menembak balik sebelum jatuh berlutut.
"Kana!"
Aku menangkap bahunya. Warna gelap menyebar cepat di sisi kemeja. Tanganku menekan luka, tetapi kehangatan terus mengalir di antara jari.
Bayu dan Jagal menyeret kami ke mobil. "Rumah sakit terdekat dua belas menit," kata Bayu kepada sopir. "Telepon IGD. Siapkan operasi."
Arkana berbaring dengan kepala di pangkuanku. Wajahnya semakin pucat. Kelopak matanya turun.
"Lihat aku," pintaku. "Kana, buka mata."
"Kau aman?"
"Aku aman. Jangan bicara."
Sudut bibirnya bergerak. "Bagus."
Matanya tertutup.
"Kana?"
Tidak ada jawaban.
Sirene rumah sakit terdengar mendekat. Bayu terus memberi tekanan pada luka sementara Jagal meneriakkan rute kepada sopir. Aku memeluk kepala Arkana dan menempelkan pipi ke rambutnya.
Pintu IGD rumah sakit swasta sudah terbuka ketika mobil berhenti. Dua dokter dan tiga perawat berlari membawa brankar. Mereka memotong kemeja Arkana, memasang masker oksigen, lalu meminta kami menjauh.
Aku tidak mau melepaskan tangannya.
"Nona, kami harus membawanya ke ruang operasi."
"Nadinya bagaimana?"
"Masih ada. Tolong beri ruang."
Bayu menarik bahuku. Untuk pertama kalinya sejak gudang, wajahnya tidak menyisakan sedikit pun lelucon.
"Biarkan mereka bekerja, Larasati."
Brankar bergerak melewati lorong. Tanganku terlepas dari tangan Arkana ketika pintu ruang tindakan tertutup. Darahnya tertinggal di gaunku, di telapak tangan, bahkan di bawah kuku.
Jagal berdiri beberapa langkah dariku dengan kepala tertunduk. "Ini salah saya. Saya tidak melihat penembak kedua."
"Bukan waktunya," Bayu berkata. "Pastikan Codet hidup cukup lama untuk menyebut semua nama yang terlibat. Ojan juga."
Nada suaranya dingin dan final.
Jagal pergi untuk menjalankan perintah.
Aku berdiri di bawah lampu merah ruang operasi tanpa mampu menggerakkan kaki. Bayu meletakkan jaket di bahuku dan meminta perawat memeriksa memar di wajah serta pergelangan tanganku. Aku menolak.
"Kalau Kana bangun dan melihatmu belum ditangani, orang pertama yang dia tembak mungkin aku," katanya.
Aku akhirnya duduk, tetapi mataku tidak pernah meninggalkan pintu operasi.
Selama bertahun-tahun aku membayangkan kematiannya akan membebaskanku.
Kini darahnya memenuhi kedua tanganku, dan satu-satunya hal yang bisa kupikirkan adalah aku tidak ingin hidup di dunia yang tidak lagi memiliki dia.