Bagi Kinanti, Arka hanyalah suami sederhana yang berprofesi sebagai tukang cilok. Pria lembut yang rajin mendorong gerobak demi mencukupi kebutuhan mereka.
Namun, Kinanti tidak tahu bahwa di balik kaus lusuh itu, Arka adalah mantan bos mafia paling ditakuti yang rela pensiun demi dirinya. Ketika musuh masa lalu Arka mulai mengincar Kinanti, sang raja kegelapan terpaksa bangkit kembali tanpa membuat istrinya sadar bahwa suami manisnya adalah seorang pembunuh berdarah dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Van pen., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Siang harinya, Arka sudah sibuk menyiapkan gerobak kayu barunya di halaman rumah yang beralaskan rumput hijau. Gerobak kali ini dirancang sedikit berbeda agar mudah didorong di jalanan desa yang bergelombang, namun tetap menyimpan kompartemen rahasia ganda di bawah tempat kukusan cilok. Arka berencana mangkal di depan balai desa dan sekolah dasar setempat.
Saat Kinanti sedang menyusun pakaian di kamar atas, Arka menyelinap ke gubuk penyimpanan kayu di samping sungai. Ia merogoh ponsel khususnya, menelepon nomor terenkripsi dengan kode negara Eropa.
"Siapkan analisis intelijen lengkap soal The Black Dragon" perintah Arka dengan suara dingin dan berat yang bertolak belakang dengan kedamaian desa di sekitarnya. "Siapa eksekutor yang mereka kirim?"
Dari seberang telepon, suara anak buahnya terdengar cemas. "Nama kodenya , Naga Hitam. Dia ahli penyamaran dan pembunuh jarak jauh. Laporan terakhir mencatat dia udah masuk wilayah Jawa Barat dan sedang menyisir daerah pedesaan di luar Bandung."
Arka memicingkan mata, menatap bentangan hutan pinus di seberang sungai. "Dia pikir bisa berburu di hutan desa ini? Dia salah besar. Tanah ini akan jadi kuburannya."
"Perlu kita kirimkan pasukan tambahan untuk menjaga Tuan dan Ibu Kinanti,?"
"Tidak usah," jawab Arka tegas. "Kehadiran orang asing di desa kecil seperti ini justru bikin warga curiga dan buat Kinanti cemas. Biarkan aku yang membereskannya sendiri."
Arka mematikan sambungan telepon, mematahkan kartu SIM rahasia itu menjadi dua bagian, lalu melemparnya ke aliran sungai yang deras.
Saat kembali ke halaman rumah, Arka melihat Kinanti melangkah mendekat membawa nampan kayu berisi cangkir seng berukir antik. Asap teh tubruk gula batu mengepul hangat, menyebarkan aroma melati yang wangi.
"Mas Arka! Ini teh hangatnya diminum dulu, cocok banget sama udara desa yang dingin begini!" panggil Kinanti dengan senyum paling manis yang ia miliki.
Aura pembunuh dingin di mata Arka mendadak luntur. Raut wajahnya kembali diliputi kelembutan seorang suami. Ia melangkah menghampiri Kinanti, menerima cangkir teh tersebut, lalu mengecup dahi istrinya mesra.
"Makasih ya, Istriku," ujar Arka lembut.
~Kesokan harinya~
Pagi hari di desa mengalir lambat dan tenang. Suara gemercik air sungai kecil beradu dengan cericit burung liar dari arah hutan pinus. Kabut tipis masih menggantung di atas hamparan sawah berundak ketika Arka selesai menata gerobak cilok kayunya di samping balai desa.
Kinanti berdiri di sampingnya, mengenakan sweter rajut berwarna cokelat muda dengan celemek kain melingkar di pinggangnya. Matanya berbinar gembira melihat anak-anak SD yang mulai berdatangan mengelilingi gerobak mereka.
"Mas Arka, bumbu kacangnya aku yang tuang ya?" pinta Kinanti penuh semangat.
"Boleh dong, Sayang. Tapi pelan-pelan ya, mangkuknya licin," sahut Arka lembut seraya menyerahkan sendok sayur kayu pada istrinya.
Melihat Kinanti tersenyum lepas melayani anak-anak sekolah membuat dada Arka terasa hangat. Ini adalah kehidupan yang selalu ia impikan sejak dulu sederhana, tenang, dan jauh dari bau darah serta amisnya dendam masa lalu.
Namun, kedamaian di pedesaan tidak pernah membuat indra tajam Arka tumpul.
Dari sudut matanya, Arka memperhatikan seorang pria bertopi caping dengan pakaian petani kusam yang sedang memperbaiki pagar di seberang balai desa. Pria itu tampak seperti warga lokal biasa yang sedang bekerja. Namun, gerakan tangannya saat memegang palu terlalu kaku, dan cara matanya melirik ke arah gerobak terutama ke arah Kinanti dilakukan dengan perhitungan refleks seorang terlatih.
gerakannya terlalu ringan buat ukuran petani biasa, batin Arka dingin. Dia nggga lagi gincar jantungku, dia lagi ngukur posisi Kinanti.
Arka sengaja tidak menunjukkan reaksi apa pun. Ia tetap menyunggingkan senyum ramah pada seorang bapak kepala desa yang melintas, menyapa khas pedagang yang rendah hati.
"Mari Pak, cilok hangatnya manis gurih," sapa Arka santai.
"Wah, Mas Arka. Enak pisan keliatannya ini ciloknya, laris manis ya," puji Pak Kades dengan suara khas pedesaan. "Istrinya juga rajin pisan nemenin jualan."
"Alhamdulillah, Pak. Ada asisten cantik gini bikin semangat," balas Arka seraya melirik Kinanti yang langsung merona pipinya.
Saat Pak Kades berlalu, Arka melangkah mendekati Kinanti yang sedang menyapu bekas bungkus plastik di sekitar gerobak. Arka mengambil alih sapu itu dengan lembut, lalu merapatkan posisinya membelakangi sudut pandang pria bertopi caping di seberang jalan.
"Kin, nanti jam satu siang waktu jualan selesai, kamu langsung pulang duluan ke rumah ya," bisik Arka sangat pelan, nada suaranya tetap hangat agar tak memicu rasa curiga.
Kinanti menengadah, mengernyitkan dahi. "Lho, kenapa Mas? Nggak barengan aja dorong gerobaknya? "
"Mas mau mampir ke rumah Pak RT sebentar di ujung RT 02, mau bayar iuran kebersihan sama titip pesanan bahan bumbu," alasan Arka mengalir sangat mulus. "Nanti kamu kunci pintu rumah dari dalam ya, Mas udah bawa kunci cadangan kok."
Kinanti menatap mata Arka sejenak. Setelah semua hal yang mereka lalui, ia belajar untuk percaya sepenuhnya pada suaminya. Ia mengangguk pelan. "Iya deh, Mas. Nanti aku siapin teh hangat di rumah ya."
Arka mengusap lembut pipi Kinanti yang dingin terkena angin pegunungan. Di balik senyum mewahnya sebagai suami penuh kasih, otak Arka sudah memetakan rute eksekusi untuk pria bertopi caping itu.
naga hitam sudah menginjakkan kaki di tanah desanya, dan Arka tidak akan membiarkan pembunuh itu menyentuh selembar benang pun dari pakaian Kinanti.