Indonesia
NovelToon NovelToon
Lahir Nya Penyihir Terkuat

Lahir Nya Penyihir Terkuat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Anisa Ammoera(_)

Seorang penyihir terkuat nomor satu Lucien yang tidak tertandingi, memasuki raga seorang pria lemah yang ternyata adalah pelayan setia dari Putri Aurelia. Aurelia adalah anak haram dari pimpinan klan Es yang selalu diremehkan oleh Ayahnya.

Apa lagi Aurel terlahir tanpa memiliki inti roh murni.

Namun segalanya berubah saat Lucien memasuki raga Arthur. Rahasia nya terungkap saat nyawa Aurel dalam bahaya. Aurel memohon padanya. Dan sejak saat itu--- Lucien sang penyihir terkuat menjadi guru dari Aurel.

Tujuan Aurel satu--- membalaskan setiap hinaan yang dia Terima dan merampas kepemimpinan klan Es dari Ayah dan Kakak tiri nya. Tentu saja, itu semua hanya bisa terjadi jika Lucien berdiri di sampingnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Ammoera(_), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebenaran Yang Terucap

Mata Tetua Frost dan Adrian melotot sempurna, napas mereka tertahan di tenggorokan mendengar kelancangan Arthur yang begitu berani ingin membawa Aurelia pergi.

Rahang Adrian mengetat, emosinya yang menyala-nyala karena merasa tidak dianggap.

Dengan hentakan kaki yang menggema di atas lantai, Adrian maju satu langkah, membusungkan dada seraya menunjuk Arthur dengan tatapan menghunus.

"Dia tunanganku... dan dia akan tetap di sini bersamaku!" teriaknya dengan nada suara yang bergetar menahan amarah, menolak keras kenyataan bahwa posisinya sedang diancam.

Namun, provokasi itu sama sekali tidak menggoyahkan Arthur. Pria itu tetap berdiri tegak, tenang bagai karang di tengah badai.

Tanpa memedulikan tatapan membunuh dari Adrian, ia tetap mengulurkan tangannya ke depan Aurelia, menanti dengan telapak tangan terbuka yang sarat akan tawaran kebebasan.

"Kau ingin balas dendam, bukan? Kau ingin menjadi kuat dan mengambil hakmu di sini... maka kau harus berani melangkah," kata Arthur, suaranya berat dan penuh penekanan, mengabaikan bisik-bisik di sekitar mereka.

Mata elangnya menatap lurus ke dalam manik mata Aurelia. "Kau harus bisa mengambil keputusan... tetap di sini dan membiarkan dirimu layu... atau ikut bersamaku mencari kekuatan sejati yang selama ini kau inginkan."

Aurelia terpaku, menatap wajah Arthur yang begitu tegas.

Entah kenapa—ada sesuatu yang bergejolak hebat di dalam lubuk hatinya yang terdalam. Sebuah percikan kepercayaan yang telah lama padam kini menyala kembali.

Ada bisikan gaib yang meyakinkannya; percaya jika bersama pria di hadapannya ini, segala hal yang mustahil di dunia ini bisa menjadi mungkin.

Melihat tatapan putrinya, Kamelia tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh kegetiran sekaligus kebebasan.

Ia melangkah mendekat, lalu dengan lembut namun mantap menggenggam tangan Aurelia, seolah menyalurkan seluruh sisa keberanian yang ia miliki.

"Pergilah, Aurelia," kata Kamelia, lirih namun terdengar kuat di seisi ruangan.

Aurelia menatap sang ibu dengan tatapan tak percaya, matanya seketika berkaca-kaca, digenangi air mata yang siap tumpah. "Ibu..." Bisiknya parau.

"Tentukan takdirmu sendiri, Putriku... tidak ada seorang pun di dunia ini yang berhak atas hidupmu selain dirimu sendiri. Pergilah... dan kembalilah saat kau sudah cukup kuat, saat kau sudah siap untuk melawan mereka semua yang telah menindas kita," kata Kamelia, matanya menyiratkan keteguhan seorang ibu yang rela melepas anaknya demi masa depan yang lebih baik.

Melihat adegan pembangkangan di depan matanya, rahang Tetua Frost mengeras hingga urat-urat di lehernya menegang.

"APA YANG KAU BICARAKAN, KAMELIA! AURELIA TIDAK AKAN PERGI DARI SINI!" teriaknya menggelegar, menghentakkan kakinya ke lantai hingga menimbulkan dentuman keras.

Ia tidak bisa melepaskan gadis itu begitu saja, tidak setelah semua rencana yang telah ia susun untuk memanfaatkan darah Aurelia.

Namun, ancaman itu tak lagi mempan. Kamelia hanya menatap datar ke arah Tetua Frost, tanpa ada lagi rasa takut yang biasanya melumpuhkannya.

Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun hidup dalam bayang-bayang, ia maju selangkah. Ia mengangkat kepalanya tinggi-tinggi, menantang tatapan pria itu. Selama ini dia diam demi Aurelia--- karena dia tidak ingin Aurelia semakin disakiti.

Namun sekarang---- sudah saatnya untuk melawan---bukan hanya demi Aurelia. Tapi juga demi dirinya.

"Dia putriku... dan aku tahu apa yang terbaik untuknya... dia bukan tahanan yang bisa kau kurung seumur hidupnya di tempat ini!" katanya tajam, tidak ada keraguan.

Madam Liliana mendengus remeh, mengibas tangannya dengan gestur penuh kemuakan. "Kau pikir nasib sialnya akan berubah hanya karena dia pergi dari sini? Seharusnya kau bersyukur karena putraku yang terhormat bersedia menerima putrimu dengan tangan terbuka—meskipun dia hanya anak haram yang mengotori nama baik keluarga Isward," kata Madam Liliana dengan nada menghina yang teramat ketus.

Mendengar kata 'anak haram' dilemparkan seperti belati, Kamelia memejamkan matanya rapat-rapat. Udara di sekeliling mereka mendadak terasa berat dan mendingin.

Detik berikutnya, kalimat yang keluar dari mulut Kamelia membuat seluruh suasana di aula itu hening seketika, bahkan detak jantung pun seolah berhenti.

"Dia bukan anak haram," katanya pelan, namun getaran dalam suaranya begitu jelas merayap di indra pendengaran semua orang.

Kamelia perlahan membuka matanya. Manik matanya kini berkilat, memancarkan amarah murni yang membakar.

"ANAKKU BUKAN ANAK HARAM!" teriaknya histeris. Emosi, rintihan, dan rahasia kelam yang ia pendam dan kunci rapat-rapat selama bertahun-tahun di dalam dadanya akhirnya pecah.

Mendengar jeritan histeris Kamelia yang sarat akan kebenaran terlarang itu, Tetua Frost langsung melotot panik. Wajahnya yang semula merah padam karena marah kini memucat pasi.

Tangannya gemetar mencengkeram sisi tubuhnya, menyadari bahwa satu kata lagi keluar dari mulut wanita itu, maka rahasia paling kotor dan mengerikan yang ia sembunyikan dari semua orang akan terungkap malam ini juga.

"Kamelia—tutup mulutmu!" bentaknya, melangkah maju dengan kaki yang bergetar.

"Kenapa?" Kamelia justru tertawa kencang. Suara tawanya terdengar getir sekaligus mengerikan, bergema di antara pilar-pilar aula.

"Kau takut jika rahasiamu terbongkar, Frost?" tanyanya terkekeh perih. Tatapannya yang tajam bak belati beralih dari Tetua Frost ke Madam Elena yang berdiri di sampingnya.

Madam Elena mencoba mempertahankan ekspresi angkuhnya, namun cengkeraman jemarinya pada gaunnya begitu erat.

Suasana di aula itu seketika berubah tegang. Semua tamu saling pandang dengan kebingungan nyata.

Sementara itu, Aurelia menatap punggung Kamelia dengan tatapan bingung dan jemari yang bergetar.

Selama ini, julukan 'anak haram yang cacat tanpa sihir' telah menjadi makanan sehari-harinya.

"Selama bertahun-tahun ini, aku diam saat kalian melemparkan kata-kata 'anak haram' untuk putriku. Aku membiarkan kalian menghinanya," kata Kamelia, suaranya bergetar namun penuh penekanan.

Ia menghapus air matanya dengan kasar menggunakan punggung tangan, menyisakan tatapan penuh dendam. "Aku diam bukan karena aku takut, bukan karena aku lemah. Tapi aku hanya menunggu... menunggu sampai waktu yang tepat!"

"Cukup! Penjaga, seret wanita gila ini ke ruang bawah tanah!" titah Madam Elena dengan suara melengking, mencoba menghentikan kalimat Kamelia.

"Dengar semuanya!" potong Kamelia cepat, suaranya menggelegar mengalahkan titah sang Nyonya.

Ia berbalik menghadap ke arah kerumunan bangsawan yang mulai berbisik-bisik. "Kalian menganggap putriku sebagai anak haram yang kotor dan pembawa sial, bukan? Kalian menghinanya, meludahinya, bahkan menjadikannya bahan tertawaan hanya karena dia lahir tanpa adanya sihir!"

Semua orang di aula menjadi tegang. Atmosfer di dalam ruangan terasa menekan, seolah oksigen mendadak menipis.

"Tapi asal kalian tahu... ANAK HARAM YANG KALIAN HINA, YANG KALIAN SEBUT CACAT INI, ADALAH SATU-SATUNYA PEWARIS SAH YANG PANTAS MENDUDUKI POSISI TERTINGGI DI KLAN INI!" Kamelia mencengkram tangannya seolah meyakinkan hatinya bahwa sudah saatnya, kebenaran itu terungkap. "Dia adalah pewaris murni dari Klan Es yang sebenarnya... darah murni yang mengalir di tubuhnya tidak bisa dibohongi oleh apapun!"

Ketakutan kini tercetak jelas di wajah Tetua Frost. "Hentikan dia!" teriaknya putus asa.

Namun Kamelia tersenyum penuh kemenangan. "Karena Aurelia... Aurelia adalah putri kandung dari pemimpin terdahulu Klan Es yang kalian khianati! Dia adalah putri dari Damian!"

DUAR!

Tepat setelah nama itu terucap. Semua orang terbelalak, menyadari bahwa takhta klan baru saja menemukan pemilik aslinya.

1
utina lee
Jatuhnya aurelia sama emaknya sama² beban ga sih, saling membebani dan memberatkan.... semangat othor 💪
BAITI SYAIRUROH
ceritanya menarik thor..semangat💪
utina lee
semangat thor💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!