Arif Wicaksono, pewaris ilmu medis kuno dan ketua organisasi rahasia Biro Akasa, turun gunung hanya untuk dihina dan ditolak mentah-mentah saat menagih janji perjodohan dari Keluarga Baskoro. Namun, nasib justru membawanya bertunangan dengan Shinta Liem, gadis bawel berenergi Yin murni penawar racun di tubuhnya, sekaligus memulai perjalanannya membuat orang-orang sombong yang meremehkannya berlutut menangis darah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Brak!
Kayu jati yang keras itu sampai retak akibat benturan keras tubuh mereka.
Ketiga preman itu kini terkapar merintih kesakitan di lantai, tidak ada satu pun yang sanggup berdiri lagi.
Seluruh orang di dalam apotek melongo tidak percaya melihat kejadian barusan.
Seorang pemuda yang terlihat biasa saja baru saja menghajar tiga preman berbadan besar tanpa mengeluarkan keringat sedikit pun.
Arif membersihkan ujung kemejanya yang sedikit kotor karena debu lalu menatap preman botak yang merintih memegangi tangannya yang patah.
"Kembalilah pada majikanmu, si Rizki itu," perintah Arif dengan suara sangat dingin.
"Katakan padanya, Dokter Dewa yang dia cari tidak akan pernah sudi mengobati Keluarga Baskoro."
"Sekalipun mereka merangkak dan bersujud di hadapanku."
Mata preman botak itu melebar ketakutan menyadari siapa pemuda di depannya ini.
"K-kau... kau Dokter Dewa itu?!" gagap si preman botak.
"Bukan urusanmu. Sekarang enyah dari sini sebelum aku mematahkan leher kalian!" bentak Arif.
Tanpa perlu disuruh dua kali, ketiga preman itu langsung merangkak bangun dan lari terbirit-birit keluar apotek.
Suasana apotek kembali hening, kali ini karena rasa takjub dan segan terhadap Arif.
Pemilik toko yang tadi terjatuh segera dibantu berdiri oleh pelayannya.
Pria tua itu berjalan gemetar mendekati Arif dan langsung membungkuk dalam-dalam.
"T-terima kasih Tuan Muda! Terima kasih banyak sudah menyelamatkan toko saya," ucap pria tua itu penuh rasa syukur.
"Sama-sama, aku hanya tidak suka keributan saat sedang berbelanja," jawab Arif datar.
Arif menoleh ke arah pelayan kurus yang tadi meremehkannya.
Pelayan itu langsung pucat pasi dan buru-buru membungkus pesanan Arif dengan tangan bergetar.
"I-ini pesanan Anda Tuan, h-harganya lima puluh juta lebih sedikit," ucap pelayan itu menyodorkan bungkusan plastik.
Arif mengeluarkan kartu hitam milik Surya Liem dan menyerahkannya ke kasir.
Mata pemilik toko langsung membesar melihat kartu sakti tanpa limit tersebut.
Hanya keluarga konglomerat papan atas Jakarta yang memiliki kartu seperti itu.
"T-tidak usah Tuan Muda! Anggap saja obat ini sebagai ucapan terima kasih saya!" tolak pemilik toko dengan cepat.
"Menyelamatkan toko ini jauh lebih berharga dari harga obat-obatan ini."
Arif menatap pria tua itu sejenak, lalu mengangguk pelan menerima bungkusan itu tanpa membayar.
"Baiklah kalau begitu, terima kasih," ucap Arif lalu berbalik meninggalkan apotek.
Baru beberapa langkah keluar dari pintu apotek, ponsel di saku celana Arif tiba-tiba berdering.
Ponsel itu adalah ponsel baru yang dibelikan Nana tadi pagi.
Arif melihat nama penelepon di layar dan mengangkatnya santai.
"Halo, ada apa Nana?" sapa Arif.
"Tuan Arif! Anda ada di mana sekarang?" suara Nana terdengar sedikit panik dari seberang telepon.
"Aku sedang di Glodok membeli beberapa obat, ada apa? Adikmu mengamuk lagi mencari-cari aku?" tebak Arif santai.
"Bukan Tuan, ini soal Keluarga Baskoro!" balas Nana cepat.
"Rizki baru saja menyebarkan sayembara medis gila-gilaan ke seluruh rumah sakit di Jakarta!"
Arif tersenyum sinis sambil berjalan mencari taksi.
"Oh ya? Berapa harga yang mereka tawarkan untuk menyelamatkan nyawa anjing tua itu?" tanya Arif penasaran.
"Siapa pun dokter yang bisa menyembuhkan Baskoro, mereka akan memberinya uang tunai seratus miliar dan lima persen saham Grup Mahakarya!" Arif mendengus pelan mendengar nominal yang fantastis itu.
Bagi dokter biasa, tawaran itu mungkin akan membuat mereka gila kekayaan.
Tapi bagi Arif, uang seratus miliar tidak ada artinya dibanding nyawa gurunya yang ditukar murah.
"Biarkan saja mereka membuang uang, tidak akan ada dokter di dunia ini yang bisa menyembuhkan penyakitnya," jawab Arif sangat yakin.
"Kecuali mereka punya Dokter Malaikat yang turun dari langit."
"T-tapi Tuan, kudengar Asosiasi Medis Pusat juga sudah bergerak karena tawaran saham itu," ucap Nana khawatir.
"Dokter Satria bahkan ditelepon langsung oleh keluarga pusat untuk turun tangan lagi."
"Biarkan saja si tua Satria itu mencoba, paling ujung-ujungnya dia cuma mempermalukan dirinya sendiri lagi," ejek Arif mengingat kemampuan dokter itu semalam.
"Ada hal lain yang mau kau sampaikan?"
Nana terdiam sejenak, sepertinya ragu-ragu untuk bicara.
"A-ada satu hal lagi Tuan... Shinta dari tadi mencari Anda sambil membawa sapu lantai."
Arif langsung tertawa lepas mendengar laporan itu.
Harimau betina itu ternyata masih menyimpan dendam kesumat gara-gara pelukan paksa di sofa tadi pagi.
"Katakan padanya, kalau dia berani memukulku pakai sapu, aku akan memeluknya di depan semua pelayan rumah," ancam Arif dengan nada bercanda.
"Aku akan pulang setengah jam lagi, siapkan makan siang."
Klik.
Arif memutuskan panggilan telepon dan masuk ke dalam taksi yang baru saja berhenti.
Di dalam rumah mewah Keluarga Liem, Nana menatap layar ponselnya sambil menggelengkan kepala pasrah.
Dia melihat Shinta sedang mondar-mandir di ruang keluarga sambil memegang gagang sapu seperti orang mau perang.
"Awas saja kau udik mesum! Berani-beraninya mengambil kesempatan dalam kesempitan!" gerutu Shinta terus-menerus.
"Kak Nana, di mana dia sekarang?! Biar kupukul kepalanya sampai benjol!"
Nana hanya tersenyum tipis dan meletakkan ponselnya di atas meja.
"Tuan Arif bilang... kalau kau berani memukulnya, dia akan memelukmu lagi di depan semua pelayan rumah."
Wajah Shinta langsung berubah merah padam seperti kepiting rebus.
Sapunya jatuh ke lantai dengan suara keras.
"Gila! Dia benar-benar cowok mesum kelas kakap!" teriak Shinta berlari naik ke kamarnya sambil menahan rasa malu yang luar biasa.
Nana terkekeh pelan melihat tingkah laku adiknya.
Entah kenapa, sejak kedatangan Arif, rumah besar yang tadinya sepi ini menjadi jauh lebih hidup dan berwarna.
Namun Nana juga tidak bisa menepis rasa khawatirnya terhadap ancaman Keluarga Baskoro.
Dengan tawaran hadiah sebesar itu, orang-orang serakah pasti akan menghalalkan segala cara untuk mencari tahu siapa Dokter Dewa itu.
Dan jika identitas Arif terbongkar, Keluarga Baskoro pasti akan menggunakan cara licik untuk memaksanya.
"Aku harus menyuruh pengawal keluarga untuk memperketat keamanan Tuan Arif di luar," batin Nana merencanakan tindakan pengamanan.
Dia tidak akan membiarkan dewa penolong ayahnya itu disakiti oleh keluarga arogan seperti Baskoro.