Reyhan Mahardika adalah seorang aktor figuran gagal yang nasibnya berubah drastis setelah ia diikat oleh Sistem Pemeran Penjahat Profesional yang menjanjikan karier legendaris. Namun keberuntungan itu berubah menjadi mimpi buruk ketika setiap adegan pembunuhan yang ia perankan di depan kamera tiba-tiba terjadi di dunia nyata dengan pola yang sama persis. Publik dan polisi, termasuk Detektif Alena Prameswari yang cerdas dan dingin, mulai mencurigainya setelah sebuah video aktingnya yang terlalu realistis tersebar ke internet. Kini Reyhan harus membuktikan dirinya tidak bersalah sambil terus menjalankan misi dari sistem misterius itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Malam harinya, Reyhan sudah mengenakan seragam pelayan katering yang rapi.
Ia bertemu dengan Alena di gang kecil belakang hotel.
Alena juga mengenakan seragam yang sama, rambutnya diikat rapi dan wajahnya hanya dipoles riasan tipis.
"Kau terlihat cocok dengan seragam itu, Detektif," goda Reyhan sedikit untuk mencairkan suasana yang tegang.
Alena memutar bola matanya malas.
"Fokus, Reyhan. Jangan sampai ketahuan oleh kepala staf katering."
Mereka berdua masuk melalui pintu belakang bersama rombongan pelayan lainnya.
Suasana di ballroom hotel itu sangat mewah dan megah.
Lampu gantung kristal besar menerangi ruangan yang dipenuhi oleh tamu-tamu VIP berjas rapi dan gaun malam yang mahal.
Reyhan dan Alena bertugas membagikan minuman sampanye kepada para tamu.
"Itu Hakim Sudarsono," bisik Alena melalui earpiece kecil yang tersembunyi di telinganya.
Reyhan menoleh dan melihat seorang pria tua berambut putih yang sedang tertawa lebar sambil memegang gelas sampanye.
Pria itu dikelilingi oleh beberapa pengusaha yang terlihat sedang menjilatnya.
"Dia terlihat sangat menikmati hidupnya," gumam Reyhan pelan ke mikrofon di kerah bajunya.
"Tetap awasi dia. Perhatikan siapa saja yang mendekatinya," perintah Alena.
Reyhan mengangguk dan berjalan berkeliling.
Ia mencoba fokus, matanya menyapu setiap sudut ruangan, mencari wajah-wajah yang mencurigakan.
Sistem memberikan syarat bahwa ia harus memerankan 'Pelayan yang Ceroboh'.
Ini adalah kesempatan yang bagus untuk melihat reaksi orang-orang di sekitar hakim.
Reyhan sengaja berjalan agak limbung ke arah kelompok Hakim Sudarsono.
Brak!
Reyhan menabrak salah satu pengusaha yang sedang mengobrol dengan sang hakim.
Gelas-gelas sampanye di nampannya bergoyang hebat, beberapa isinya tumpah mengenai jas mahal pengusaha itu.
"Hei! Apa yang kau lakukan, pelayan bodoh?!" bentak pengusaha itu dengan wajah merah padam.
"Ma... maafkan saya, Tuan! Saya tersandung karpet," ucap Reyhan dengan nada sangat panik dan ketakutan, akting yang sempurna.
Hakim Sudarsono menatap Reyhan dengan pandangan jijik.
"Panggil manajermu sekarang. Pelayan ceroboh sepertimu merusak suasana acara ini."
Reyhan terus menunduk meminta maaf sambil diam-diam mengamati reaksi semua orang.
Sebagian besar tamu menatapnya dengan kasihan atau kesal.
Namun, mata Reyhan menangkap sesuatu.
Seorang pria berjas rapi yang berdiri agak jauh dari kerumunan tidak menatap Reyhan.
Pria itu justru terus menatap lekat ke arah Hakim Sudarsono, dan tangannya berada di dalam saku jasnya.
Tatapan pria itu sangat dingin dan mematikan.
Insting Reyhan berteriak.
Itu dia pembunuhnya, atau setidaknya salah satu anak buahnya.
"Detektif, pria berjas abu-abu di arah jam tiga dari hakim," bisik Reyhan cepat.
"Dia mencurigakan."
Alena yang berada di sisi lain ruangan segera mengarahkan pandangannya ke arah yang ditunjuk Reyhan.
"Aku melihatnya. Aku akan mendekatinya perlahan," jawab Alena.
Reyhan segera pergi dari kerumunan itu, berpura-pura mengambil lap untuk membersihkan tumpahan.
Ia terus mengawasi pria berjas abu-abu itu dari kejauhan.
Pria itu mulai bergerak mendekati Hakim Sudarsono yang baru saja ditinggalkan oleh pengusaha yang bajunya kotor tadi.
Tangan pria itu perlahan keluar dari saku jasnya.
Reyhan bisa melihat kilatan logam kecil di tangan pria itu.
Itu jarum suntik!
Pembunuhan ini tidak akan menggunakan pisau, melainkan racun.
Sangat rapi, sangat mematikan, dan sangat cocok untuk acara ramai seperti ini.
Hakim Sudarsono mungkin akan terlihat seperti terkena serangan jantung tiba-tiba.
Pria itu sudah berada tepat di belakang sang hakim.
"Detektif, dia punya suntikan racun! Hentikan dia!" teriak Reyhan melalui earpiece.
Alena langsung mempercepat langkahnya, menerobos kerumunan tamu.
"Permisi! Beri jalan!"
Namun, jarak Alena masih terlalu jauh.
Pria berjas abu-abu itu sudah mengangkat jarum suntiknya ke arah leher Hakim Sudarsono.
Reyhan tidak punya pilihan lain.
Ia meraih sebuah botol sampanye besar dari meja terdekat dan melemparkannya dengan sekuat tenaga ke arah pria itu.
Prang!
Botol sampanye itu menghantam bahu pria berjas abu-abu dengan keras, membuatnya terhuyung ke samping.
Jarum suntiknya meleset dan mengenai lengan kursi sang hakim.
"Ada penyerang!" teriak Reyhan dengan suara lantang agar semua tamu mendengarnya.
Ballroom seketika berubah menjadi kacau.
Para tamu berteriak panik dan berlarian ke segala arah.
Pria berjas abu-abu itu menatap Reyhan dengan marah, matanya memancarkan niat membunuh yang pekat.
Ia sadar rencananya gagal, dan ia segera berbalik untuk melarikan diri ke arah pintu darurat.
"Berhenti!" teriak Alena sambil mencabut pistol dari balik rok seragamnya.
Namun pria itu bergerak sangat cepat, menghilang di balik kerumunan tamu yang panik.
Hakim Sudarsono jatuh terduduk di kursinya, wajahnya pucat pasi melihat jarum suntik yang menancap di lengan kursinya.
Reyhan segera berlari mendekati sang hakim.
"Anda aman sekarang, Pak," kata Reyhan sambil menarik napas panjang.
[Ding! Misi Utama selesai.]
[Evaluasi: Penyelamatan yang dramatis dan efektif.]
[Hadiah didistribusikan: Peningkatan Skill Observasi (Tingkat Menengah), Petunjuk: 'Pembunuh asli menyukai musik klasik'.]
Reyhan mengerutkan kening. Musik klasik?
Tiba-tiba, suara tepuk tangan pelan terdengar dari atas balkon lantai dua ballroom.
Prok. Prok. Prok.
Di tengah kekacauan itu, suara tepuk tangan itu terdengar sangat jelas dan menggema.
Reyhan mendongak ke atas.
Di sana, berdiri seorang pria bertopeng hitam polos yang persis sama dengan barang bukti yang ditemukan di lokasi pembunuhan pertama.
Pria bertopeng itu mengenakan setelan jas putih yang sangat elegan.
Ia menatap ke bawah, langsung bertatapan dengan Reyhan.
Pria bertopeng itu kemudian mengangkat sebuah biola dari balik punggungnya.
Ia meletakkan biola itu di pundaknya dan mulai menggeseknya perlahan.
Sebuah alunan musik klasik yang sangat menyayat hati dan mengerikan mulai bergema di seluruh ballroom, mengalahkan suara teriakan panik para tamu.
Itu adalah lagu 'Danse Macabre', Tarian Kematian.
Reyhan menelan ludahnya.
Itu dia.
Pembunuh asli akhirnya menampakkan dirinya di atas panggung.
Dan pertunjukan gila ini baru saja mencapai puncak babak pertamanya.