Indonesia
NovelToon NovelToon
Mantan Oh Mantan

Mantan Oh Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Penyelamat / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Eureka Irene

Valerie menyukai kakak sahabatnya Tiara sejak awal semester 1 semasa kuliah. membutuhkan 1 tahun usaha akhirnya meluluhkan hati Dean yang selalu bersikap kaku dan dingin. Akhirnya setahun sudah mereka berpacaran namun tidak ada dari sikap Dean yang berubah tetap dingin, kaku, tidak romantis, tidak inisiatif namun tidak pernah menolak perlakuan dan permintaan Valerie. masalah mulai muncul setelah setahun hubungan mereka. Dania adik sahabat Dean timoty hadir di tengah hubungan mereka. Bagaimana akhir kisah mereka? Apakah badai sanggup meruntuhkannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eureka Irene, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Akhir dari Kata Kita

Pintu jati tebal ruang kerja CEO tertutup rapat dengan suara dentuman halus yang memutus seluruh riuh koridor di luar. Di dalam ruangan yang luas, dingin, dan kedap suara itu, atmosfer mendadak terasa begitu menyesakkan. Valerie berdiri mematung di tengah ruangan, sementara Dean berjalan perlahan melewati meja kerjanya. Pria itu melepaskan kancing jas hitamnya dengan gerakan kaku, membelakangi Valerie sejenak untuk menatap hamparan gedung pencakar langit di luar jendela kaca besar.

"Kenapa diam, Dean? Kamu mau memarahiku menggunakan rumus matematika yang mana lagi sekarang?" suara Valerie memecah keheningan. Nada suaranya bergetar hebat, membawa seluruh rasa perih yang sudah mencapai ambang batasnya.

Dean membalikkan tubuhnya perlahan. Wajahnya yang tampan tampak mengeras, matanya menatap Valerie dengan binar kemarahan yang tertahan—sebuah luapan emosi yang sangat jarang dia tunjukkan karena dia selalu memuja ketenangan rasional.

"Saya tidak sedang ingin bermain kata-kata denganmu, Valerie," ucap Dean, suaranya rendah namun bergetar hebat menahan amarah yang pekat. "Kerugian perusahaan akibat sabotase draf final ini tidak hanya bisa dinilai dengan materi. Nama baik perusahaan saya, kepercayaan investor Singapura yang sudah saya bangun berbulan-bulan, dan stabilitas bisnis keluarga Timoty... semuanya hancur berantakan dalam hitungan menit. Dan dalang dari semua kekacauan ini ternyata adalah kekasih saya sendiri."

"Aku sudah bilang bukan aku, Dean! Kenapa kamu menolak untuk mendengarkanku sekali saja?!" jerit Valerie, air matanya kembali luruh membasahi pipinya yang pucat. Dia memukul dadanya sendiri dengan frustrasi. "Aku datang ke sini murni untuk membawakanmu makan siang! Aku ingin kita berbaikan setelah pertengkaran telepon malam itu! Apakah di dalam otak logismu itu, ketulusanku selama dua tahun ini sama sekali tidak punya bobot penilaian?!"

"Ketulusan tidak bisa menghapus bukti log sistem komputer, Valerie!" bentak Dean, untuk pertama kalinya dia kehilangan kendali atas suaranya hingga menggelegar di dalam ruangan. Pria itu melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka dan menatap Valerie dengan pandangan yang sarat akan kekecewaan mendalam. "Logika saya berulang kali mencoba menyangkal, tapi semua fakta mengarah kepadamu. Kamu merasa diabaikan sejak Dania masuk. Kamu cemburu buta, melabrak kantor ini, dan menangis histeris di telepon karena saya menghadiri makan malam bisnis. Kamu melakukan sabotase ini secara impulsif hanya untuk menghukum saya, bukan? Kamu ingin saya kehilangan proyek ini agar saya punya waktu untuk memperhatikanmu?!"

Mendengar tuduhan kejam yang keluar dari mulut Dean, Valerie tertegun. Dunia di sekitarnya seolah berhenti berputar. Seluruh otot di tubuhnya mendadak melemas, dan detak jantungnya terasa seperti hantaman godam yang menyakitkan.

Dean benar-benar menganggapnya sepicik itu. Pria yang dia cintai sejak awal semester satu, pria yang dia kejar selama satu tahun penuh tanpa memedulikan harga dirinya, ternyata memandangnya tak lebih dari seorang gadis egois yang tega menghancurkan masa depan bisnis orang lain demi sebuah validasi perhatian.

Rasa sakit yang teramat sangat itu perlahan-lahan menguap, digantikan oleh sebuah perasaan kosong yang hambar. Rasa lelah yang luar biasa pekat yang selama ini dia tumpuk di dasar hatinya, kini naik ke permukaan, mematikan seluruh percikan emosi dan pembelaan di dalam jiwanya. Valerie mendadak merasa sangat, sangat lelah. Lelah mengetuk pintu es yang tidak pernah benar-benar terbuka. Lelah memohon agar dianggap ada, baik di rumah orang tuanya maupun di samping kekasihnya sendiri.

Valerie menghapus air mata di pipinya dengan satu gerakan lambat menggunakan punggung tangannya. Dia tidak lagi menangis histeris, tidak lagi berteriak membela diri. Matanya yang biasa berbinar ekspresif kini menatap Dean dengan tatapan yang sepenuhnya redup dan dingin.

"Begitu rupanya..." bisik Valerie pelan, suaranya terdengar sangat datar dan tenang, membuat Dean sejenak mengernyitkan kening karena perubahan drastis sikap kekasihnya. "Jadi, itulah kesimpulan akhir yang dibuat oleh otak jeniusmu, Dean. Bagimu, aku ini hanyalah beban emosional yang tidak stabil dan merusak."

Dean menarik napas panjang, mencoba mengembalikan ketenangan kaku pada ekspresi wajahnya. "Tindakanmu kali ini sudah melewati batas komitmen yang bisa saya toleransi, Valerie. Hubungan yang didasarkan pada kehancuran profesionalitas dan rasa saling percaya yang hilang tidak akan pernah bisa berjalan dengan sehat. Maka dari itu... saya memutuskan hubungan kita sampai di sini. Kita selesai."

Kata putus itu terucap dengan begitu presisi, tanpa keraguan, layaknya seorang CEO yang sedang membatalkan kontrak kerja sama yang merugikan perusahaan.

Valerie menatap sepasang mata elang Dean untuk yang terakhir kalinya. Anehnya, dia tidak merasa ingin menjerit atau memohon seperti dulu lagi. Hatinya sudah terlalu hancur hingga mati rasa.

"Baik," jawab Valerie singkat, mengangguk pelan sekali. "Aku menerima keputusanmu, Dean."

Dean sedikit tertegun mendengar respons Valerie yang begitu cepat dan tanpa perlawanan. Logikanya memprediksi bahwa gadis itu akan kembali menangis histeris atau memeluknya untuk memohon ampun. Namun, ketenangan di wajah Valerie saat ini justru memicu riak tidak nyaman yang samar di sudut hati Dean, sebuah perasaan mengganjal yang tidak bisa dia jelaskan menggunakan rumus rasional mana pun.

"Aku membiarkanmu menang malam ini, Dean. Aku menerima vonis bersalahmu, bukan karena aku yang melakukan sabotase itu, tapi karena aku memang sudah sangat lelah dengan hubungan kita," lanjut Valerie dengan suara yang teramat tenang namun menusuk. "Satu tahun aku mengejarmu, satu tahun aku menjadi pacarmu... dan selama itu pula aku merasa seperti orang asing yang mengemis di duniaku sendiri. Kamu selalu memperlakukanku dengan baik karena 'kewajiban', bukan karena kamu mencintaiku. Hari ini, aku benar-benar menyerah. Aku melepaskanmu, dan aku melepaskan seluruh rasa sukaku yang melelahkan ini."

Valerie berbalik melangkah menuju meja kaca, memunguti buku diktat kuliah dan kertas-kertas laboratoriumnya yang berhamburan ke dalam tas dengan gerakan yang sangat rapi. Dia menyampirkan tas kuliahnya di pundak, lalu berjalan menuju pintu keluar tanpa menoleh lagi ke arah Dean yang masih berdiri mematung di dekat jendela.

Saat Valerie membuka pintu ruang kerja dan melangkah keluar, dia melihat Dania masih duduk di kursinya dengan wajah tertunduk, memegang tisu. Valerie menghentikan langkahnya sejenak di depan meja Dania, menatap wanita manipulator itu dengan pandangan dingin yang kosong.

"Selamat, Dania. Kamu menang," ucap Valerie pelan, cukup keras untuk didengar oleh Dania dan Timoty yang berdiri di dekatnya. "Ambil pria itu. Aku sudah tidak membutuhkannya lagi."

Tanpa menunggu balasan, Valerie melanjutkan langkah kakinya menuju lift dengan punggung yang tegak. Tiara yang baru saja tiba di lantai atas setelah dikabari oleh Doni, langsung berlari mengejar sahabatnya ke dalam lift yang mulai tertutup.

Di dalam kabin lift yang bergerak turun, Valerie bersandar pada dinding lift, memejamkan matanya rapat-rapat. Dia telah kehilangan kekasihnya, dia telah difitnah secara kejam, dan dia harus kembali ke apartemennya yang sepi dengan sekeping hati yang telah hancur berkeping-keping. Namun, di balik rasa sakit yang teramat sangat itu, ada seulas rasa lega yang samar: dia akhirnya terlepas dari belenggu dingin seorang robot es bernama Dean, meskipun dia tidak tahu bagaimana cara menyembuhkan luka batinnya yang teramat dalam ini sendirian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!