Galang Kurniawan, seorang pedagang makanan kecil bernasib sial yang hidupnya selalu jalan di tempat. Di malam terburuk dalam hidupnya ketika gerobaknya dihancurkan dan ia hampir menyerah, Galang tiba-tiba membangkitkan Sistem Kuliner Acak yang memaksanya berjualan di lokasi-lokasi aneh dengan hadiah gacha yang fantastis. Dimulai dari berjualan di rumah sakit, Galang harus menghadapi berbagai macam pelanggan baru, persaingan bisnis yang kotor, koki arogan yang meremehkannya, hingga tantangan memasak bahan-bahan langka dari sistem.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Galang memacu motor gerobaknya mengikuti laju mobil sedan perak milik Nadia dari belakang.
Perjalanan mereka menuju ke arah kawasan Universitas Nusantara yang jalannya cukup padat oleh kendaraan mahasiswa.
Mobil Nadia akhirnya berbelok memasuki sebuah pelataran luas yang dipenuhi oleh ilalang tinggi di pinggir jalan utama.
Galang memarkirkan motornya dan melepas helm dengan dahi yang langsung berkerut.
Di depannya berdiri sebuah bangunan tua bergaya kolonial Belanda yang cat putihnya sudah mengelupas di sana-sini.
Kesan angker dan kusam sangat terasa dari jendela-jendela kayunya yang tertutup rapat oleh debu dan sarang laba-laba.
"Bagaimana Mas Galang, tempatnya lumayan luas kan untuk parkiran motor pelangganmu nanti?" sapa Nadia saat turun dari mobilnya.
"Luas sih Mbak, tapi ini lebih mirip rumah hantu daripada kedai makan," keluh Galang jujur sambil menatap atap bangunan yang kusam.
Nadia tertawa renyah mendengar komentar polos pemuda di sebelahnya itu.
"Jangan lihat luarnya saja Mas, ayo kita masuk dan lihat bagian dalamnya dulu," ajak Nadia sambil mengeluarkan kunci panjang berkarat dari tasnya.
Cklek.
Pintu utama berderit sangat keras saat Nadia mendorongnya terbuka perlahan.
Aroma debu dan kayu lapuk langsung menyambut penciuman mereka berdua begitu melangkah masuk.
Galang terbatuk pelan sambil mengibaskan tangan di depan hidungnya untuk mengusir debu yang berterbangan.
Namun saat matanya menyesuaikan diri dengan cahaya matahari yang masuk, Galang seketika tertegun.
Ruangan di dalam bangunan itu ternyata sangat luas tanpa sekat dinding yang mengganggu.
Langit-langitnya sangat tinggi membuat sirkulasi udara terasa sejuk meski ruangan itu tertutup rapat bertahun-tahun.
Di bagian paling belakang terdapat area memanjang yang sepertinya bekas dapur zaman dulu, lengkap dengan meja beton tebal.
"Wah ini sih potensi area dapurnya luar biasa bagus Mbak," puji Galang tanpa sadar berjalan melangkah ke arah belakang.
"Ruang depannya juga bisa muat sampai dua puluh meja makan kalau dibersihkan dan ditata rapi."
Nadia tersenyum puas melihat reaksi Galang yang langsung bisa membayangkan bentuk kedai impiannya.
"Mas Galang tidak takut hantu kan? Kata tetangga sekitar sini sering ada suara aneh kalau malam," goda Nadia menakut-nakuti.
Galang tertawa kecil sambil mengusap meja beton yang berdebu tebal itu.
"Selama hantunya tidak minta makan gratis pakai nasi goreng setiap malam sih saya berani-berani saja Mbak," canda Galang.
"Jadi bagaimana Mas Galang? Kamu berminat menyewa tempat angker peninggalan kakekku ini?" tanya Nadia sambil bersandar di kusen pintu dapur.
Galang menganggukkan kepalanya dengan sangat cepat dan antusias karena ia merasa klik dengan tempat ini.
"Berminat sekali Mbak, tapi harga sewanya berapa ya untuk bangunan sebesar dan seluas ini?" tanya Galang dengan nada hati-hati.
Ia sadar uang tabungannya yang tiga puluh juta mungkin tidak akan cukup menyewa rumah sebesar ini di pinggir jalan raya.
Nadia menatap langit-langit sejenak seolah sedang berhitung di dalam kepalanya.
"Karena kamu sudah banyak menyelamatkan karirku di kantor kemarin, aku kasih harga khusus teman spesial," ucap Nadia tersenyum manis.
"Lima belas juta saja per tahun, bagaimana?" tawar Nadia santai tanpa beban.
Mata Galang membulat sempurna seolah ingin melompat keluar mendengar angka yang disebutkan wanita itu.
"Mbak serius? Itu mah murah sekali untuk ukuran rumah strategis di tengah kota begini," protes Galang merasa sangat tidak enak hati.
"Serius Mas, daripada bangunan ini kosong membusuk dimakan rayap setiap tahun, lebih baik kamu yang pakai buat jualan," jawab Nadia mantap.
"Lagipula aku juga bisa makan gratis kan kalau mampir ke kedaimu sama teman-teman kantor nanti?"
Galang tertawa lepas mendengar syarat tambahan yang sangat menguntungkan tersebut.
"Siap Mbak, makan gratis seumur hidup pun saya kasih khusus untuk Mbak Nadia dan teman-teman," janji Galang dengan suara lantang.
Galang langsung mengeluarkan ponselnya dan meminta nomor rekening Nadia hari itu juga sebelum wanita itu berubah pikiran.
Transfer sebesar lima belas juta rupiah berhasil dikirimkan dari aplikasi perbankannya tanpa kendala apa pun.
"Selesai Mbak, uangnya sudah masuk ya, terima kasih banyak atas bantuan dan kebaikannya hari ini," ucap Galang menunjukkan bukti transfer di layar ponselnya.
"Sama-sama Mas Galang, semoga kedaimu sukses besar di sini dan bisa mengalahkan kelicikan si tua Wijaya itu," balas Nadia menyemangati.
Nadia kemudian pamit kembali ke kantornya karena jam istirahat makan siangnya sudah benar-benar hampir habis.
Galang berdiri sendirian di tengah ruangan kosong berdebu itu dengan perasaan campur aduk yang sulit dijelaskan.
Ia kini resmi memiliki sebuah tempat menetap permanen untuk membangun kerajaan kulinernya dari nol.