Indonesia
NovelToon NovelToon
Aku Mengira Itu Kamu

Aku Mengira Itu Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:121
Nilai: 5
Nama Author: Ri7

"Ternyata selama ini aku salah mengira. Perempuan yang kutemui di pondok baru itu bukanlah perempuan yang mengajakku ta'aruf. Aku terlalu cepat menyimpulkan hanya karena namanya sama. Ah, betapa cerobohnya aku... Seandainya sejak awal aku tidak terburu-buru membuat penilaian, mungkin kebingungan ini takkan pernah terjadi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ri7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari Terakhir Daurah

Hari ini adalah hari terakhir daurah.

Tidak terasa beberapa hari berlalu begitu cepat. Hari-hari yang dipenuhi dengan hafalan, halaqah, evaluasi, nasihat, dan berbagai kegiatan bersama para santri akhirnya sampai di penghujung.

Pagi ini kami mengadakan acara jalan-jalan bersama ke alun-alun. Setelah beberapa hari para santri disibukkan dengan kegiatan daurah, aku ingin mereka menikmati hari terakhir ini dengan suasana yang lebih santai.

Sejak pagi, wajah-wajah mereka sudah terlihat begitu ceria. Ada yang sibuk mempersiapkan barang bawaan, ada yang bercanda dengan teman-temannya, dan ada pula yang tidak berhenti membicarakan rencana mereka nanti di alun-alun.

Aku hanya tersenyum melihat tingkah mereka.

Sesampainya di alun-alun, suasana semakin ramai. Para santri menikmati waktu bersama. Ada yang berjalan-jalan, berbincang, mengambil foto, dan menikmati suasana pagi.

Aku sendiri lebih banyak memperhatikan mereka dari kejauhan.

Melihat mereka tertawa seperti itu membuatku ikut bahagia.

Setelah cukup puas berjalan-jalan, kami kembali ke pondok untuk makan bersama.

Di perjalanan pulang, tiba-tiba pandanganku menangkap sosok laki-laki yang kukenal.

Aku terdiam sejenak.

Dia.

Laki-laki yang tadi malam mengirimkan pesan WhatsApp kepadaku, menyampaikan niatnya untuk berta'aruf denganku.

Aku baru merespons pesannya tadi pagi.

Sebenarnya, aku sangat senang membaca pesannya. Bahkan mungkin terlalu senang sampai-sampai aku sendiri bingung dengan perasaan yang muncul di dalam hati.

Namun entah sesuatu apa yang menahanku untuk tidak langsung memberikan jawaban.

Aku masih ingin berpikir.

Masih ingin memastikan apakah perasaan tenang yang kurasakan setiap kali membaca pesannya adalah sebuah tanda, atau hanya karena aku sedang terbawa suasana.

Dan sekarang, tanpa kuduga, dia justru muncul di hadapanku.

Aku buru-buru mengalihkan pandangan.

Jantungku berdetak sedikit lebih cepat.

“Kenapa dia ada di sini?”

Pertanyaan itu hanya berputar di kepalaku.

Aku tidak tahu apakah dia sengaja datang atau kebetulan berada di tempat yang sama.

Yang jelas, kehadirannya membuat pikiranku kembali dipenuhi berbagai pertanyaan yang sejak tadi berusaha kulupakan.

Aku segera kembali memperhatikan para santri.

Tidak ingin ada yang menyadari kegugupanku.

Sesampainya di pondok, makan bersama menjadi salah satu momen yang paling ramai. Para santri duduk berkelompok, saling berbagi makanan, bercanda, dan sesekali terdengar suara tawa dari berbagai penjuru.

Aku ikut makan bersama mereka sambil sesekali mengingatkan agar tidak terlalu banyak bercanda.

“Pelan-pelan makannya,” kataku ketika melihat beberapa santri begitu lahap.

Mereka hanya tertawa.

Setelah makan, para santri diberi waktu untuk beristirahat. Sore nanti masih ada acara penutupan daurah.

Aku pun kembali ke kamar sebentar untuk beristirahat.

Namun sebelum benar-benar masuk kamar, aku menyusuri lorong-lorong asrama untuk memastikan para santri sudah beristirahat. Aku ingin mereka tidak kelelahan saat menghadiri acara penutupan nanti sore.

Beberapa kamar sudah terdengar sunyi. Sebagian santri memang sudah tertidur karena lelah setelah jalan-jalan pagi tadi.

Namun tidak semuanya tidur.

Beberapa santri masih sibuk mempersiapkan panggung untuk acara penutupan. Ada yang menata kursi, menghias panggung, menyiapkan perlengkapan, dan memastikan semuanya sudah siap digunakan.

Aku menghampiri salah satu santri yang masih sibuk.

“Masih kurang banyak, Mbak?” tanyaku.

Santri tadi hanya menoleh kepadaku, lalu membalas dengan senyuman.

“Tidak, Ustadzah.”

“Oh, begitu.” Aku mengangguk. “Kalau sudah selesai, langsung istirahat, ya. Jangan sampai nanti sore malah capek.”

“Iya, Ustadzah.”

Aku tersenyum lalu melanjutkan langkah.

Hari terakhir ini terasa begitu cepat.

Pagi kami habiskan dengan jalan-jalan, kemudian makan bersama, dan sekarang para santri bersiap untuk acara terakhir.

Penutupan daurah.

---

Setelah cukup beristirahat, aku bersiap menghadiri acara penutupan.

Aku berganti pakaian dan merapikan diri. Dari kejauhan, sudah kudengar sayup-sayup suara pembawa acara.

Sepertinya acara sudah dimulai.

Aku segera menuju tempat acara.

Ketika sampai, pembacaan Al-Qur'an sedang berlangsung. Seorang santri sedang membacakan ayat-ayat suci dengan suara yang merdu. Para santri dan ustadzaat duduk dengan tenang menyimak bacaannya.

Aku mengambil tempat di meja paling depan yang sudah disiapkan untuk para ustadzaat.

Aku duduk dan memperhatikan suasana di sekeliling.

Panggung yang sejak siang dipersiapkan para santri kini sudah tertata rapi. Para santri duduk dengan wajah ceria. Namun di balik keceriaan itu, aku bisa melihat sedikit rasa haru.

Bagaimanapun, hari ini adalah hari terakhir mereka bersama dalam rangkaian daurah.

Tidak terasa acara terus berjalan hingga akhirnya sampai di penghujung.

Sebelum acara penutupan, dibacakan prestasi para santri selama mengikuti daurah.

Satu per satu nama santri disebutkan beserta pencapaian hafalan mereka.

Beberapa santri terlihat tersenyum malu ketika namanya disebut. Sebagian lainnya mendapat tepuk tangan meriah dari teman-temannya.

Aku ikut tersenyum.

Mereka mungkin hanya mengikuti daurah selama beberapa hari, tetapi aku tahu ada perjuangan besar di balik setiap hafalan yang mereka capai.

Ada rasa lelah.

Ada kantuk.

Ada ayat-ayat yang mungkin berkali-kali harus diulang sebelum akhirnya melekat dalam ingatan.

Dan hari ini, semua perjuangan itu mendapatkan penghargaan.

Setelah pembacaan prestasi selesai, tibalah saat pembagian hadiah bagi santri yang berhasil mencapai hafalan terbanyak.

Aku mendapat bagian untuk menyerahkan hadiah kepada para santri.

Satu per satu mereka maju ke depan.

“Selamat, Nak,” ucapku sambil menyerahkan hadiah kepada salah seorang santri.

“Terima kasih, Ustadzah,” jawabnya dengan senyum lebar.

Aku mengangguk.

“Pertahankan hafalannya. Jangan berhenti sampai di sini.”

“Iya, Ustadzah.”

Ia kemudian kembali ke tempat duduknya.

Santri berikutnya maju.

Aku kembali menyerahkan hadiah.

Begitu seterusnya sampai semua penerima hadiah selesai.

Aku memperhatikan wajah-wajah mereka.

Ada kebahagiaan sederhana yang terpancar dari mata mereka.

Hadiah yang mereka terima mungkin tidak seberapa. Tetapi semoga penghargaan kecil itu bisa menjadi penyemangat agar mereka semakin mencintai Al-Qur'an.

Aku kembali duduk setelah pembagian hadiah selesai.

Suasana mulai terasa haru.

Aku menatap para santri satu per satu.

Dalam hati aku berdoa,

“Ya Allah, jadikan Al-Qur'an bukan hanya sesuatu yang mereka hafalkan, tetapi juga sesuatu yang mereka cintai, pahami, dan amalkan sepanjang hidup mereka.”

Aku menarik napas pelan.

Daurah ini memang akan berakhir.

Tetapi perjalanan mereka bersama Al-Qur'an masih sangat panjang.

Dan entah mengapa, di tengah suasana haru itu, aku merasa bahwa hari terakhir ini bukan hanya tentang berakhirnya sebuah kegiatan.

Namun sebelum acara benar-benar ditutup, pandanganku tanpa sengaja tertuju ke arah pintu masuk.

Aku terdiam.

Sosok yang sejak perjalanan pulang tadi berusaha kulupakan, kini berdiri di sana.

Dia benar-benar muncul.

Untuk beberapa detik, pandangan kami bertemu.

Aku buru-buru menundukkan wajah.

Jantungku kembali berdebar, bahkan lebih keras daripada sebelumnya.

Dan yang paling membuatku gelisah...

Apakah kedatangannya ada hubungannya dengan pesan yang tadi pagi sudah kubalas?

Aku mencoba menenangkan diri.

Namun semakin aku berusaha bersikap biasa, semakin jelas kusadari bahwa kehadirannya benar-benar mengusik ketenangan hatiku.

Aku tidak pernah menyangka akan bertemu dengannya secepat ini.

Apalagi di hari terakhir daurah.

Hari yang seharusnya hanya menjadi penutup sebuah kegiatan.

1
MF015
menarik novelnya 👍
R
Nama yang sama orang yang berbeda😄
Dini
Agak mendayu, bagai riak kecil yang akhirnya menjadi akhir perpisahan bersama teman-temannya.

jangan lupa masukkan untuk karya ku.
#Tanah_Luka_dan_Persahabatan
😄🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!