Indonesia
NovelToon NovelToon
KATA KATA YANG TAK SEMPAT KU SAMPAIKAN PADAMU

KATA KATA YANG TAK SEMPAT KU SAMPAIKAN PADAMU

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Teen / Tamat
Popularitas:212
Nilai: 5
Nama Author: AME author

Duniaku selalu sunyi, tetapi Kaito mengajarkanku cara mendengar melalui jemarinya. Kehadirannya adalah kepastian yang selalu kuanggap wajar—sampai sesosok warna baru bernama Haruto mengetuk duniaku dan menawarkan keindahan yang belum pernah kurasakan.
Di antara rasa penasaran dan ketulusan yang mulai terabaikan, sebuah jarak tak kasatmata perlahan membentang. Saat aku akhirnya menyadari arti kehadiran Kaito yang sebenarnya, akankah suara hatiku masih memiliki kesempatan untuk sampai padanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

NAPAS YANG TERSEKAT

Langkah kakiku terasa makin berat menyeret dinginnya malam. Di sampingku, Haruto berjalan dengan senyum merekah, jemarinya menggenggam erat jemariku yang mulai mendingin. Setelah makan malam di restoran mewah dan menghabiskan beberapa jam tertawa di bawah pendar lampu kota yang megah, malam kian larut. Kami menyusuri jalan setapak di area taman luar kampus menuju arah pemberhentian kendaraan, menikmati sisa-sisa waktu dari kencan pertama kami yang terbilang sempurna.

Haruto tak henti-hentinya bercerita. Suaranya bergema penuh antusiasme, menceritakan betapa bahagianya ia hari ini, betapa cantiknya aku dalam balutan gaun ini, dan rencana-rencana kencan menarik lainnya yang sudah ia susun untuk minggu depan. Aku mendengarkannya, berusaha menyunggingkan senyuman terbaik dari bibirku, dan mengangguk pelan setiap kali ia menoleh menatapku.

Namun, di balik binar kebahagiaan yang coba kubangun, ada sebuah rasa yang tak bisa kubohongi. Udara malam musim gugur bertiup makin kencang, membawa embusan angin dingin yang menusuk hingga ke tulang. Udara dingin yang lembap itu perlahan merayap masuk melalui tenggorokanku, memicu sensasi gatal dan kering yang sangat familiar di dada bagian dalam.

Jangan sekarang... tolong, jangan sekarang... batin batinku memohon desperate pada tubuhku sendiri.

Aku mencoba mengatur ritme napas, menghembuskannya perlahan lewat hidung. Namun, dinding-dinding saluranku mendadak menyempit secara drastis. Dadamu terasa seperti dihantam beban ratusan ton secara tiba-tiba.

Sret... sret...

Suara napas mencicit yang melengking tipis mulai keluar dari tenggorokanku setiap kali aku mencoba menarik udara. Tanganku refleks terlepas dari genggaman Haruto, bergerak cepat mencengkeram bagian depan gaunku, persis di atas ulu hati yang kini berdenyut nyeri luar biasa.

Langkah kakiku terhenti seketika. Tubuhku membungkuk ke depan, bertumpu pada kedua lutut yang gemetar hebat. Udara di sekitarku seolah mendadak lenyap, berganti menjadi zat kental yang mustahil untuk kuhirup masuk ke dalam paru-paru.

Haruto yang menyadari tanganku terlepas, langsung membalikkan badannya dengan cepat. "Hana? Kamu kenapa?"

Aku tidak bisa menjawab. Setiap kali aku mencoba membuka mulut untuk menyedot udara, yang keluar hanyalah hembusan napas patah-patah yang makin mencicit parah. Wajahku memanas, ujung jemariku mulai terasa dingin dan kebas tanda nyata bahwa oksigen di dalam darahku mulai merosot drastis. Serangan asma hebat melahap tubuhku tanpa ampun.

"Hana! Ya Tuhan, Hana!" Haruto panik luar biasa. Raut wajahnya yang tadinya tenang dan ceria mendadak pucat pasi. Ia memegang kedua bahuku dengan cengkeraman kencang, mengguncang tubuhku pelan. "Kamu kenapa? Dada kamu sakit? Kamu pusing atau mau muntah?"

Kepanikan Haruto yang membuncah justru membuat atmosfer di sekitarku terasa makin mencekik. Pertanyaan-pertanyaan yang terlempar bertubi-tubi dari mulutnya membuat kepalaku makin pening. Aku ingin mengetik di ponsel, ingin memberi tahu apa yang terjadi, tetapi jemariku sudah terlalu gemetar dan kaku untuk sekadar merogoh saku.

"Harus apa? Aku harus bagaimana, Hana?!" Haruto meracau panik. Ia berbalik, merogoh tasnya dengan gerakan grusa-grusu hingga beberapa barangnya berserakan di atas trotoar. "Air minum! Kamu butuh air minum, kan? Tunggu, aku cari toko yang buka—"

Haruto berteriak bingung, matanya liar memindai jalanan yang mulai sepi. Ia menyayangi aku, ia peduli padaku, tetapi di saat-saat kritis seperti ini, ketahuilah bahwa Haruto sama sekali tidak tahu apa yang sedang terjadi pada tubuhku. Ia tidak pernah melihatku dalam kondisi seperti ini sebelumnya.

Uhuk... uhuk!

Tubuhku hampir terkulai jatuh ke lantai trotoar yang dingin. Pandanganku mulai mengabur, dipenuhi titik-titik hitam yang menari-nari di udara. Aku memejamkan mata erat-erat, menahan rasa takut luar biasa yang merayap di dalam dada.

Saat aku merasa duniaku hampir mendingin dan gelap sepenuhnya, sebuah langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar mendekat dari arah lorong taman.

Suara langkah itu mantap dan sangat familiar.

Seseorang menerobos masuk ke dalam lingkar kepanikanku. Sebuah tangan yang kokoh merangkul tubuhku dengan sangat presisi, menahan ambruknya badanku sebelum menyentuh lantai beton. Bau harum sabun mandi yang lembut dan aroma samar cat minyak langsung menyapa indra penciumanku yang hampir padam.

Kaito.

Kaito yang kebetulan berjalan searah di jalur trotoar malam itu mendengar suara napas mencicitku dari kejauhan—sebuah suara khas yang sudah ia hapal luar kepala sejak kami masih duduk di bangku sekolah dasar.

"Kaito! Kamu—kamu mau apa?!" Haruto berteriak bingung, masih dengan kepanikan yang membumbung tinggi. "Hana tiba-tiba tidak bisa bernapas! Aku harus cari air—"

Kaito tidak menjawab. Ia bahkan tidak membuang waktu satu detik pun untuk menatap Haruto atau merespons kepanikan pria itu. Fokusnya seratus persen terkunci padaku.

Tanpa keraguan sedikit pun, Kaito langsung mengulurkan tangannya merogoh kantong paling depan dari tas ransel yang terlingkar di bahuku. Kaito tidak perlu membongkar isi tas, tidak perlu menggeledah dengan panik, karena ia tahu persis di saku mana aku selalu menyimpan obat asmaku selama belasan tahun terakhir.

Jemarinya dengan cepat mengeluarkan sebuah tabung inhaler kecil berwarna biru muda.

Kaito berlutut di depanku di atas trotoar yang dingin, menyamakan tinggi posisinya dengan posisiku yang sedang membungkuk kesakitan. Raut wajah Kaito sangat tenang—sebuah ketenangan absolut yang kontras dengan kepanikan di sekitar kami. Tidak ada raut takut di matanya, hanya ada ketelitian dan kepedulian yang teramat dalam.

"Sstt..." Kaito menghembuskan suara lembut dari celah bibirnya, suara penenang yang sudah puluhan kali kudengar sejak kami kecil.

Dengan gerakan yang sangat halus dan pelan, Kaito menepuk-nepuk punggungku dengan ritme yang teratur, membantuku melonggarkan ketegangan di otot-otot dada. Tangan kirinya yang hangat menopang daguku dengan lembut, menuntun wajahku agar mendongak sedikit.

Kaito mengocok inhaler di tangannya dua kali, lalu mendekatkannya ke depan bibirku.

Ia menatap mataku lekat-lekat dari balik kaca matanya. Jemarinya yang bebas terangkat ke udara, membentuk gerakan bahasa isyarat yang sangat lambat dan lembut di depan wajahku:

[Hana, lihat aku. Buka mulutmu pelan-pelan.]

Aku menatap mata Kaito yang jernih dan tenang. Seperti ada sihir tak kasatmata, rasa panik yang tadinya membakar dadaku perlahan-lahan mereda saat melihat sorot matanya. Aku membuka mulutku secara refleks.

Kaito memasukkan ujung inhaler ke dalam mulutku dengan sangat hati-hati, memastikan posisinya nyaman dan tidak menyakiti gigiku.

Tangannya menuntun jemariku untuk memegang tabung obat itu bersama-sama.

[Hitungan ketiga, hisap yang dalam, ya?] isyarat Kaito bergerak lambat di udara. [Satu... dua... tiga.]

Pfft!

Kaito menekan tabung obat itu bersamaan dengan tarikan napasku yang lemah. Semprotan obat asma itu meluncur masuk ke dalam tenggorokanku yang menyempit. Rasa pahit obat langsung melingkupi lidahku, namun diikuti oleh sensasi dingin yang seketika membuka kembali saluran pernapasan di dadaku.

[Tahan napasmu sebentar,] gerak tangan Kaito kembali memberi petunjuk. Ia menatapku dengan binar penuh dorongan. [Tahan... satu... dua... tiga... sekarang hembuskan pelan-pelan lewat mulut.]

Aku menghembuskan napas pelan-pelan sesuai komando isyarat Kaito.

Fuuuh...

Pasokan oksigen segar kembali mengalir masuk menembus paru-paruku. Beban berat yang tadinya menindih dadaku perlahan meluruh. Warna merah alami mulai kembali membasahi bibirku yang sempat pucat, dan rasa kaku di ujung jemariku perlahan menguap. Aku menyenderkan dahi yang bersimbah keringat dingin di atas bahu Kaito, menarik napas dalam-dalam berulang kali dengan tubuh yang masih lemas.

Kaito tidak bergerak sedikit pun. Ia membiarkan kepalaku bersandar di bahunya selama beberapa saat, sembari jemarinya terus membelakangi punggungku dengan usapan yang sangat pelan dan menenangkan.

Di samping kami, Haruto berdiri membeku. Pria itu menatap pemandangan di depannya dengan mulut sedikit terbuka dan mata yang dipenuhi rasa syok yang luar biasa.

Haruto melihat bagaimana Kaito bekerja tanpa perlu banyak bicara. Ia melihat bagaimana Kaito tahu letak obat di dalam tas tanpa perlu bertanya, bagaimana Kaito tahu persis hitungan detik untuk menyemprotkan obat, dan bagaimana aku gadis yang baru saja menjadi pacarnya bisa dengan begitu mudahnya ditenangkan hanya lewat tatapan mata dan bahasa isyarat sederhana dari pria lain.

Haruto merasa dirinya mendadak menjadi sosok asing yang tidak berguna di tempat itu. Ada rasa terasing dan kekalahan telak yang terpancar jelas dari raut wajahnya saat menatap keintiman sunyi antara aku dan Kaito.

Setelah dipastikan ritme napasku sudah benar-benar stabil dan teratur, Kaito menghentikan usapan di punggungku dengan pelan.

Ia menggeser bahunya sedikit, membantuku mengarahkan tubuh agar bisa berdiri tegak kembali. Kaito mengambil penutup inhaler, memasangnya kembali dengan rapi, lalu memasukkannya ke dalam saku depan tas ranselku mengembalikannya persis ke tempat semula.

Kaito bangkit berdiri, merapikan sweater abu-abunya yang agak kusut. Ia berbalik menatap Haruto yang masih berdiri mematung di trotoar.

Dengan gestur tubuh yang sangat sopan dan tenang, Kaito menganggukkan kepalanya pelan ke arah Haruto—sebuah gestur menyerahkan tanggung jawab kembali kepada pria yang kini berstatus sebagai kekasihku.

Kaito tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia juga tidak melirik kembali ke arahku untuk meminta ucapan terima kasih.

Jemarinya yang hangat terangkat ke udara untuk terakhir kalinya malam itu, membentuk isyarat singkat di depan dadanya: [Istirahatlah. Usahakan minum air hangat sampai di rumah.]

Setelah pesan sunyi itu tersampaikan, Kaito membalikkan badannya. Pria itu menyampirkan kembali tas ranselnya yang sempat merosot, lalu melangkah pergi menyusuri trotoar malam yang dingin. Punggungnya yang tegap berlalu perlahan menembus remang lampu jalanan, membiarkan bayangannya memanjang di atas tanah sebelum akhirnya menghilang di balik tikungan lorong.

Aku berdiri mematung di bawah pendar lampu jalan, menatap kosong ke arah tikungan tempat Kaito baru saja menghilang.

Haruto melangkah mendekat, mencoba meraih tanganku kembali. Suaranya terdengar bergetar dan penuh rasa bersalah yang teramat sangat. "Hana... maafkan aku...aku tidak tahu di mana letak obat mu..."

Aku menoleh menatap Haruto. Pria di depanku ini bersikap sangat tulus, merangkulku erat-erat mencoba memberikan kehangatan dari tubuhnya. Haruto menyayangiku dengan seluruh usahanya, dan aku tahu ia benar-benar merasa bersalah atas kepanikannya tadi.

Namun, di dalam lubuk hatiku yang paling dalam, sebuah keretakan dingin mulai terbentuk.

Bersama Haruto, aku dilindungi, dimanjakan, dan diperlakukan seperti putri. Namun aku harus terus menjelaskan, menerjemahkan, dan menanggung risiko bahwa ia belum mengenal duniaku yang sebenarnya. Sementara bersama Kaito, aku tidak pernah perlu mengucap sepatah kata pun. Dalam keheningan paling gelap sekalipun, Kaito akan selalu tahu bagaimana cara menyelamatkan pernafasanku tanpa pernah meminta balasan apa pun.

1
Prayy
JANGAN LUPA DI LIKE DAN KOMEN YA GUYS AGAR AKU SEMANGAT NULISNYA DAN NGEMBANGIN CERITA CERITA LAIN NYA🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!