Indonesia
NovelToon NovelToon
Istri & Anak Kembar Bar-Bar Sang Mafia Es

Istri & Anak Kembar Bar-Bar Sang Mafia Es

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Mafia / Penyesalan Suami
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: Phopo Nira

Diceraikan karena alasan mandul, padahal 3 tahun pernikahan ia menjadi istri yang diabaikan oleh suaminya sendiri. Malam sebelum ia meninggalkan Mansion kediaman Maximillian, Raina diam-diam menjebak suaminya, Cassion Zayn Maximillian untuk menghabiskan malam bersama. Lalu setelahnya ia menghilang begitu saja tanpa jejak sedikitpun.

Namun, 8 tahun kemudian… tepat di acara pernikahan Cassion dengan teman masa kecilnya, Laura Fernandez. Raina kembali membawa sepasang anak kembar, Sean dan Shia untuk mendapatkan hak kedua anak itu sebagai pewaris keluarga Maximillian.

Dan sejak saat itu, kediaman Maximillian tidak pernah bisa tenang lagi. Raina yang tidak lagi penurut, ditambah dengan kedua anak kembarnya yang tak kenal takut. Ibu dan anak kembar itu menuntut banyak hal yang sudah 8 tahun sudah mereka lewatkan begitu saja. Dendam dan hutang mereka perhitungkan dengan baik.

Akankah Raina dan kedua anak kembarnya berhasil membalaskan dendam serta mendapatkan hak mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27. Ungkapan Hati

Dulu Sion pikir apa yang Raina lakukan adalah bentuk baktinya sebagai seorang menantu. Namun, hari ini ia menyadari bahwa Raina tidak melakukannya secara suka rela tetapi karena berada dibawah tekanan Calista dan anak-anaknya.

Dan Raina yang duduk di hadapannya sekarang tidak seperti dulu lagi. Tatapannya kali ini terlihat lebih tenang dan berwibawa. Suaranya tegas dan yang paling membuat Sion merasa asing adalah Raina tidak takut pada siapa pun di meja itu, termasuk pada dirinya dan Kakek Edwin.

Kakek Edwin pun sejak tadi tidak mengatakan apa-apa. Namun, semakin lama ia mendengarkan percakapan mereka, semakin dalam kerutan di dahinya. Hingga akhirnya mulai buka suara, "Raina."

Kali ini suara Kakek Edwin membuat Raina menoleh. "Ya, Kek?"

"Dulu, selama aku dan Sion tidak ada di rumah..." Kakek Edwin berhenti sejenak, dimana tatapannya beralih kepada Calista. "...apa mereka selalu memperlakukanmu seperti ini?"

Raina tidak langsung menjawab. Itulah yang membuat dada Sion terasa sesak. Karena jika jawabannya tidak, Raina pasti akan langsung menyangkal, tetapi Raina hanya diam. Diraut wajahnya terlihat sedikit terkejut mungkin tidak menyangka akan mendapat pertanyaan seperti itu setelah sekian lama.

Calista buru-buru tertawa. "Ayah, jangan salah paham. Aku dan anak-anak hanya bercanda, tapi siapa sangka dulu Raina bersedia melakukannya."

"Delapan tahun lalu." Suara Raina akhirnya terdengar pelan. "Selama tiga tahun, bukankah kalian selalu mendengar kalimat yang sama darinya."

Sion menegang seketika. Ya, ia masih mengingatnya dengan jelas saat ia menanyakan kepada Raina kenapa wanita itu mau saja diperintahkan oleh Calista seperti pelayan. Namun, sebelum menjawab Calista sudah memberikan jawaban yang sama persis. Itulah mengapa Sion berpikir bahwa Raina memang melakukannya dengan suka rela dan tidak menanyakan kembali kepada Raina tentang kebenarannya.

Raina menatap cangkir di depannya. "Katanya bercanda." Jarinya perlahan mengencang di sekitar cangkir. "Katanya aku harus mengerti karena aku bagian dari keluarga."

Ia menarik napas. "Katanya kalau aku tidak mau menurut, aku tidak tahu diri namanya."

Kakek Edwin tidak berkedip. Ia sungguh tidak menyangka bahwa cucu menantunya akan mengalami hal seperti itu di Mansionnya sendiri. Sayangnya, saat itu ia sedang menjalani perawatan intensif. Lain halnya dengan Sion, ia adalah suaminya bagaimana mungkin bocah itu tidak mengetahuinya sama sekali. Kakek Edwin pun melontarkan tatapan tajam yang menuntut penjelasan kepada Sion.

Raina melanjutkan. "Awalnya aku mengira itu hanya karena aku menantu yang tidak disukai." Senyumnya getir. "Lama-lama aku sadar, mereka memang sengaja membuatku merasa tidak berharga."

Sion menundukkan pandangan, bukan hanya untuk menghindari tatapan tajam Kakeknya. Akan tetapi, ia ingatan tentang delapan tahun lalu tiba-tiba muncul satu per satu. Raina yang selalu meminta izin. Raina yang jarang ikut makan bersama. Raina yang pernah mengatakan bahwa ia sudah makan, padahal ternyata belum.

Saat itu Sion mengira Raina hanya tidak berselera. Ia tidak pernah bertanya lebih jauh. Karena ia percaya keluarganya tidak mungkin memperlakukan Raina seburuk itu. Ternyata ia salah… sangat salah. Wanita itu sangat menderita sebagai istrinya, sudah diabaikan oleh suaminya sendiri ditambah perlakuan buruk keluarganya.

"Kau tahu apa yang paling lucu?" Raina bertanya dengan senyum kecil dan tidak ada satu pun yang berani menjawab.

"Setiap kali aku mencoba mengadu, mereka bilang aku terlalu sensitif." Matanya kemudian beralih kepada Sion."Dan kau Sion… kau selalu tidak ada disaat aku paling membutuhkanmu."

Sion membeku. Raina tidak mengatakannya dengan nada menuduh. Justru itulah yang membuat kalimat itu terasa jauh lebih menyakitkan. Ditambah tatapan Sean dan Shia juga kini tertuju padanya, seolah menanyakan alasannya. Mengapa dulu Papah tidak ada untuk melindungi dan membela Mamah?

"Kau selali sibuk bekerja." Tatapan Raina kemudian kembali lurus. "Aku ditinggal di rumah dan diperlakukan bak pelayan oleh mereka. Apakah tahu itu?"

“Tidak pernah, bukan?” ucapnya menekankan, "Dan setiap kali kau pulang, semuanya kembali terlihat normal. Seolah mereka tidak melakukan apapun padaku, seakan aku hidup dengan nyaman dipenuhi kemewahan sebagai Nyonya muda Maximillian."

Sion mengepalkan tangannya di bawah meja. "Raina..."

"Jadi jangan heran kalau sekarang aku ragu untuk kembali seperti dulu denganmu."

Kakek Edwin tiba-tiba meletakkan sendoknya. Bunyi kecil itu membuat semua orang menoleh. "Calista."

Nada suaranya tidak keras. Namun cukup membuat Calista langsung menegakkan tubuh. "Ya, Ayah?"

"Mulai sekarang, perlakukan Raina sebagaimana mestinya… sebagai Nyonya muda Maximillian. Begitu juga dengan kedua anaknya, Sean dan Shia sebagai Tuan dan Nona muda kecil."

Calista terdiam, ia ingin sekali memprotesnya namun jelas tidak sanggup. Leon dan Lea pun tidak berani bicara sedikitpun. Sedangkan Arlan memilih diam, tidak menanggapi ataupun ikut campur dalam masalah itu. Bagaimana pun juga Ibunya salah memilih waktu dalam bertinda. Ia tidak boleh ikut terlibat dalam masalah itu dan menjadi diwaspadai.

"Dia bukan pelayan, baik dulu maupun sekarang." Kakek Edwin menatap Leon dan Lea bergantian.

"Dan kalian berdua juga dengarkan. Jangan pernah lagi menyuruh Raina mengambilkan sesuatu hanya karena kalian merasa lebih berhak dilayani. Harusnya kalian berdua yang melayaninya, karena Raina adalah Kakak ipar kalian."

Lea menunduk, sedangkan Leon membuka mulut untuk protes. "Tapi, Kakek—"

"Kakek belum belum selesai dan kau berani menyelanya." Leon langsung diam.

Kakek Edwin kemudian menatap Calista lagi. "Selama ini aku tidak tahu apa yang terjadi di rumah ini." Wajahnya mengeras. "Itu kesalahanku."

Kemudian ia menunjuk meja makan. "Tapi sekarang aku tahu." Tatapan Kakek Edwin menjadi sangat tajam. "Dan selama Raina dan kedua anaknya berada di rumah ini, tidak ada seorang pun yang boleh memperlakukannya seperti pelayan."

Calista menelan ludah, kali ini ia tidak memiliki pilihan lain. "Tentu, Ayah."

"Bagus." Kakek Edwin kembali mengambil cangkirnya.

Sion masih diam, dimana tatapannya tertuju hanya pada Raina. Ada banyak hal yang ingin ia katakan. Meminta maaf sudah jelas, lalu bertanya kenapa Raina baru memberitahu dan mengungkapkannya sekarang. Menanyakan seberapa banyak hal yang sudah ia lewatkan selama tiga tahun pernikahan mereka dan delapan tahun sesudahnya.

Namun, untuk pertama kalinya Sion sadar bahwa pertanyaan itu mungkin justru terlalu terlambat. Karena bisa dikatakan sudah selama sebelas tahun Raina telah menanggung semuanya seorang diri. Dan sekarang, perempuan itu akhirnya berhenti diam.

Raina mengambil sepotong roti terakhirnya. Dengan tenang, ia berkata, "Kalau begitu, aku dan anak-anakku bisa melanjutkan sarapan tanpa gangguan, bukan?"

Kakek Edwin tersenyum tipis. "Tentu, makanlah dengan tenang. Karena mulai sekarang tidak akan ada lagi yang bisa mengganggu kalian."

“Kakek Buyut memang yang terbaik dan selalu bisa diandalkan,” ucap Sean dan Shia bersamaan.

Bersambung….

1
Budhe Satryo
rayna jngan terkena jebakan kamu harus bisa nglawan Calista ma anak"nya
Sri Yatun
kalo tau rencana mau menyingkirkan dan membunuhnya bakal kamu yg d usir kemungkinan besar kamu yg mati duluan ibu tiri dan saudara tiri
Budhe Satryo
makin seruuu crtanya
Budhe Satryo
misi perang dimulai rayna
Budhe Satryo
keluarga bahagia❤️❤️❤️
Budhe Satryo
adiknya yg selama ini menjadi pendukung setia rayna
Budhe Satryo
gpp salah paham dulu biar makin cinta
Budhe Satryo
misi Lum dimulai lho ...dah panas az Calista ni
Budhe Satryo
good rayna biar papah si kembar ush Dewe 😄😄😄
Budhe Satryo
moga rayna TDK mudah dijebak
Budhe Satryo
waspada rayna musuh dpn mata
Budhe Satryo
wah bisa jadi kerja sama dngn Calista tu sih laura
Budhe Satryo
akhirnya Sion bisa takluk dngn si kembar 😍😍😍
Budhe Satryo
y ampun pemilik dianggap gelandangan 🤣🤣🤣
Budhe Satryo
misi dimulai si kembar 😄😄😄
Budhe Satryo
mungkin Calista dan lea yg JD musuh dlm selimut
Budhe Satryo
bibit mafia emang g ad obat 🤣
Budhe Satryo
duo s JD pembela mamanya donk
Budhe Satryo
mulai seruuu ni 😊😊😊😍😍😍
Budhe Satryo
moga tidak JD menikah dngn laura
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!