Setelah dua kali mengalami keguguran membuat Vivienne Laurent rela mempertaruhkan segalanya demi satu harapan terakhir. Atas permintaan suaminya, Dominic Ashcroft, ia menjalani program bayi tabung.
Namun, kebahagiaan itu runtuh seketika ketika sebuah pesan datang dari Killian Prescott, pria yang selama ini menjadi musuh abadinya.
"Bayi yang kau kandung bukan berasal dari sel telurmu. Dominic telah menukarnya dengan sel telur Giselle Moreau—selingkuhannya."
Vivienne menolak mempercayainya. Hingga satu demi satu bukti mengungkap kenyataan yang jauh lebih kejam: rahimnya telah dijadikan alat untuk mengandung anak hasil pengkhianatan suaminya.
Akankah Vivienne mempertahankan bayi yang tumbuh di dalam rahimnya atau menggugurkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Di sela-sela kesibukannya, Killian terus diam-diam memantau kondisi Vivienne, termasuk masalah yang sedang dihadapinya. Alex mengambil sebuah tablet dari atas meja, kemudian menyerahkannya kepada Killian.
“Menurut hasil laporan penyelidikan Baron, Dokter Malcom sedang cuti,” ujar Alex sambil menunjuk layar tablet. “Dia baru akan kembali bekerja sekitar lima hari lagi.”
Killian menerima tablet tersebut. Matanya menyipit ketika membaca nama dokter yang tertera di layar.
“Dokter Malcom,” gumam Killian. Ia mengetukkan jarinya ke meja. “Jadi, dia orangnya.”
Alex mengangguk. “Semua informasi yang berhasil dikumpulkan Baron mengarah kepadanya. Termasuk catatan perjalanan dan beberapa transaksi yang terlihat mencurigakan.”
Killian tidak langsung menjawab. Ia menatap layar beberapa saat, kemudian meletakkan tablet tersebut di atas meja.
“Kejahatan Dominic sudah jelas,” ujar Alex dengan nada penasaran. “Kalau begitu, kenapa Vivienne belum melaporkannya kepada polisi?”
Killian menyandarkan tubuhnya sambil melipat kedua tangan di depan dada. Sudut bibirnya terangkat.
“Sepertinya dia ingin bermain-main dulu dengan si brengsek itu,” jawab Killian santai.
Alex mengerutkan kening. “Bermain-main?”
Killian terkekeh kecil. “Kamu belum mengenal Vivienne dan Estelle kalau mereka sudah marah sampai tingkat tertinggi.”
Pria bermata gelap itu mengambil gelas air di atas meja, lalu meneguknya perlahan. “Kalau mereka langsung membawa masalah ini ke polisi, semuanya selesai terlalu cepat,” ujar Killian sambil meletakkan kembali gelasnya. “Aku yakin mereka sedang menyiapkan sesuatu.”
Alex menghela napas. “Berarti kita hanya menunggu?”
Killian menggeleng. “Tidak.” Tatapannya berubah serius. “Kita cari tahu lebih banyak.”
Killian kembali mengambil laporan tersebut. "Semakin banyak bukti valid yang kita temukan, maka mereka tidak akan bisa mengelak dan lepas dari jeratan hukum."
Alex mengangguk. “Baik.”
“Dan jangan sampai Vivienne tahu kita sedang menyelidikinya,” ujar Killian sambil menatap Alex.
Alex mengangkat sebelah alis. “Kenapa?”
Killian tersenyum tipis. “Karena kalau dia tahu, dia pasti akan marah. Dan balik menyerang aku. Satu wanita saja sudah buat aku sakit kepala, apalagi kalau mereka berdua.”
Alex tertawa kecil. “Bukankah Anda memang suka membuat Vivienne marah?”
Killian langsung melotot. “Jangan mulai, Alex.”
Alex buru-buru mengangkat kedua tangan. “Baik, Bos.”
"Aku tak akan membiarkan mereka melukai kamu lagi, Vivi," batin Killian.
Killian kembali menatap berkas. Namun, dalam hati, ia sudah mengambil keputusan. Apa pun yang sedang direncanakan Vivienne, ia akan memastikan satu hal. Tidak ada satu pun orang yang boleh lolos begitu saja. Jika, memang telah merusak hidup sahabatnya.
Malam hari setelah pulang kerja, Killian tidak langsung pulang ke rumah, melainkan pergi ke apartemen Estelle. Bagi pria itu, kembarannya adalah informan terpercaya untuk semua informasi tentang Vivienne.
"Jika kamu datang malam-malam begini untuk menanyakan keadaan Vivi, maka jawabnya dia baik-baik saja. Kehamilannya juga dalam keadaan baik," ucap Estelle begitu melihat siapa yang datang ke tempatnya.
Wajah Killian memberengut kesal. "Terus?"
Estelle mendengus. "Vivi akan kembali mengambil alih pimpinan di perusahaan. Dan sedang menyiapkan kejatuhan Dominic."
Mendengar itu Killian tersenyum tipis. Dia senang Vivienne sudah membuka mata hatinya. Kalau Dominic tidak pantas untuk memegang perusahaan Laurent Group.
"Jika Vivi bercerai dengan Dominic, apa kamu akan mengatakan hal yang sebenarnya?" tanya Estelle hati-hati.
Mulut Killian terkatup, tetapi pikirannya berisik. Banyak hal yang dia pikirkan jika menyangkut Vivienne.
Keesokan harinya, di sebuah studio foto, suasana jauh berbeda. Lampu-lampu besar menyinari panggung pemotretan. Beberapa kru sibuk membawa peralatan, sementara fotografer sedang memeriksa hasil jepretan sebelumnya.
Giselle berdiri di depan cermin besar. Seorang penata rias sedang merapikan bagian wajahnya, sementara penata rambut menyentuh beberapa helai rambut yang jatuh di bahunya.
Giselle memandangi pantulan dirinya sendiri. Semuanya harus sempurna.
“Nona Giselle, lima menit lagi kita mulai,” ujar salah seorang kru dari belakang.
“Baik,” jawab Giselle sambil tersenyum kepada pantulan dirinya di cermin.
Namun, baru saja ia berdiri dari kursi rias, langkahnya terhenti. Dari pantulan cermin, ia melihat dua sosok yang baru saja memasuki studio, Victoria dan Grace.
Giselle langsung berbalik. “Aunty ... Grace?”
Kedua wanita itu tersenyum lebar.
Giselle terlihat keheranan. Kedatangan mereka bukan sesuatu yang biasa. Biasanya Victoria dan Grace akan menghubunginya terlebih dahulu jika ingin bertemu. Mereka juga jarang datang ke studio kecuali menjemput untuk mengajaknya jalan-jalan atau makan bersama.
Giselle berjalan mendekat.
“Tumben kalian datang tanpa membuat janji terlebih dahulu,” ujar Giselle sambil mengerutkan kening. “Ada apa?”
Grace langsung menggandeng lengan Giselle. “Tidak boleh datang menemui calon kakak ipar sendiri?” tanya Grace sambil tersenyum manis.
Giselle tertawa kecil. “Bukan begitu.”
Victoria ikut mendekat. “Hari ini kami memang sengaja datang untuk menjemputmu,” ujar Victoria sambil tersenyum lebar.
Giselle mengangkat alis. “Menjemputku?”
"Iya!" Grace mengangguk cepat. Ia bahkan terlihat jauh lebih bersemangat daripada biasanya.
“Hari ini kita pergi ke butik La Mode,” ujar Grace sambil menggoyangkan tangan Giselle. “Butik baru milik Hillary Waston.”
Mata Giselle langsung berbinar. “Hillary Waston?” ulang Giselle.
Victoria mengangguk. “Benar. Perancang busana terkenal itu baru saja membuka butik di pusat kota,” ujar Victoria sambil merapikan tas tangannya. “Kami ingin melihat koleksi terbarunya.”
Giselle tersenyum. “Aku juga ingin melihatnya.”
Grace langsung semakin bersemangat. “Nah, kalau begitu, kamu ikut kami, kan?”
Giselle melirik jam tangannya. “Tapi aku masih bekerja,” jawabnya sambil menunjuk ke arah studio. “Pemotretanku baru akan dimulai. Pastinya masih lama.”
Victoria dan Grace saling berpandangan. Keduanya kemudian tersenyum hampir bersamaan.
“Tenang saja,” ujar Victoria sambil menepuk lengan Giselle. “Kami akan menunggumu.”
Grace mengangguk cepat. “Iya. Kami tidak terburu-buru,” ujar Grace sambil tersenyum lebar.
Giselle sedikit terkejut melihat kesabaran mereka. Namun, ia sama sekali tidak merasa curiga. Selama ini Victoria dan Grace memang selalu memperlakukannya dengan sangat baik. Bahkan terlalu royal.
Jika Giselle menyukai sebuah pakaian atau aksesoris, mereka tidak keberatan membelikannya. Jika Giselle ingin makan di restoran mahal, mereka juga tidak pernah mempermasalahkan harga.
Karena itu, ketika Grace mengajaknya ke butik baru, Giselle hanya mengira mereka ingin menghabiskan waktu bersama seperti biasanya.
“Kalau begitu, tunggu aku,” ujar Giselle akhirnya sambil tersenyum.
Grace langsung mengangguk puas. “Tentu saja!”
Victoria juga tersenyum. “Pergilah bekerja. Kami akan menunggumu di sini.”
Giselle kembali menuju ruang pemotretan tanpa sedikit pun menyadari sesuatu.
Sementara di belakangnya, senyum Victoria dan Grace perlahan berubah. Bukan lagi senyum penuh keramahan. Ada sesuatu yang mereka harapkan dari pertemuan itu.
Giselle sama sekali belum tahu. Hari itu, untuk pertama kalinya, ia akan menjadi orang yang membayar sesuatu yang selama ini selalu ia dapatkan dengan cuma-cuma.
Ara pasti sangat menggemaskan pakai baju princess