Indonesia
NovelToon NovelToon
Menikahi Mafia Berkedok Tukang Cilok

Menikahi Mafia Berkedok Tukang Cilok

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Misteri / Penyelamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Van pen.

Bagi Kinanti, Arka hanyalah suami sederhana yang berprofesi sebagai tukang cilok. Pria lembut yang rajin mendorong gerobak demi mencukupi kebutuhan mereka.

Namun, Kinanti tidak tahu bahwa di balik kaus lusuh itu, Arka adalah mantan bos mafia paling ditakuti yang rela pensiun demi dirinya. Ketika musuh masa lalu Arka mulai mengincar Kinanti, sang raja kegelapan terpaksa bangkit kembali tanpa membuat istrinya sadar bahwa suami manisnya adalah seorang pembunuh berdarah dingin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Van pen., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Pftt! Pftt!

​Dua tembakan beruntun berperedam suara menembus kaca jendela gubuk kayu. Dua anggota tim taktis yang sedang mengawasi layar monitor langsung ambruk ke lantai dengan peluru tepat di pelipis mereka.

​Pintu gubuk mendadak hancur dihantam tendangan keras. Arka menyerbu masuk bagaikan badai membunuh. Pria ketiga yang mencoba menarik pistol langsung dihantam dengan popor senapan Arka hingga rahangnya hancur, lalu dilumpuhkan dengan satu tembakan di dada.

​Dalam waktu kurang dari sepuluh detik, ruangan sempit itu berantakan. Hanya tersisa satu orang yang masih berdiri: 'Dragon Utama', pria berotot tegap dengan tato naga hitam melingkar di lehernya.

​Dragon Utama menggeram murka, merogoh sepasang belati taktis dari pinggangnya dan menerjang Arka secara membabi buta. Tebasan demi tebasan dilancarkannya dengan kecepatan tinggi, mengincar arteri leher dan jantung Arka.

​Namun, Arka bergerak jauh lebih superior. Ia menjatuhkan senapannya, membiarkan tali taktis menahan senjatanya di dada, lalu menyambut serangan musuh dengan tangan kosong. Dengan gerakan pencak silat yang terukur dan mematikan, Arka menangkis pergelangan tangan musuh, mematahkan kedua tangannya dalam satu hentakan keras.

​Krek! Krek!

​Dragon Utama meraung kesakitan, jatuh berlutut di atas ubin kayu yang berdarah.

​Arka mencengkeram rambut pria itu, menengadahkan kepalanya hingga menatap langsung ke matanya yang tanpa ampun.

​"Siapa yang memberimu izin mengarahkan lensa teropong ke arah istriku?" bisik Arka dengan suara yang begitu dingin, sanggup membekukan napas siapa pun yang mendengarnya.

​"Bos Arka... Aliansi... tidak akan pernah... berhenti..." jerit Dragon Utama dengan napas tercekat.

​"Maka aku juga tidak akan pernah berhenti membantai kalian," balas Arka datar.

​Pftt!

​Satu tembakan jarak dekat mengakhiri perlawanan Dragon Utama. Tubuhnya terkulai lemas di atas lantai.

​Arka berdiri tegak, merapikan baju taktisnya yang bernoda darah. Ia merogoh korek api zippo perak buka korek abi berwarna merah yang sering ia pakai saat kompor nya mati saat berdagang dan perlu pancingan,ia merogoh korek itu dari sakunya, menyalurkannya, lalu melemparnya ke arah tumpukan bahan bakar cadangan di sudut ruangan. Dalam hitungan detik, api berkobar melahap gubuk rahasia tersebut, memusnahkan seluruh jejak pertempuran beserta dokumen intelijen musuh di tengah gulita dan tebalnya kabut bukit pinus.

​𝙋𝙪𝙠𝙪𝙡 𝙚𝙣𝙖𝙢 𝙥𝙖𝙜𝙞.

​Garis fajar merah keemasan mulai menyingsing tipis di ufuk timur pedesaan Bandung. Arka telah membersihkan seluruh tubuhnya di sungai belakang rumah dan berganti pakaian dengan sarung serta baju koko bersih.

​Ia melangkah masuk ke dalam kamar yang hangat, bergerak sangat lembut agar tidak menimbulkan suara.

​Kinanti mengeliat pelan di atas ranjang, membalikkan badannya. Matanya yang masih berat perlahan terbuka, menangkap sosok suaminya yang sedang duduk di tepi ranjang seraya tersenyum manis padanya.

​"Mas Arka...?" panggil Kinanti dengan suara serak yang menggemaskan. "Mas sudah bangun dari tadi?"

​Arka mengusap lembut dahi istrinya, merapikan helai rambut yang menutupi wajah Kinanti. "Baru aja, Sayang. Mas abis ambil air wudu di belakang."

​Kinanti tersenyum manja, memeluk pinggang Arka dari samping dan menyandarkan kepalanya di paha suaminya. "Dingin banget ya desanya kalau subuh gini..."

​"Iya, ya dingin," bisik Arka lembut, mengecup puncak kepala istrinya penuh kehangatan dan rasa syukur yang luar biasa.

Sinar matahari pagi menembus celah-celah jendela kayu, membiaskan cahaya keemasan di atas meja makan rumah panggung mereka. Udara pedesaan Bandung yang segar bercampur dengan aroma harum sangrai kopi tubruk dan ketan bakar gurih buatan Kinanti.

​Kinanti meletakkan piring berisi ketan bakar hangat di hadapan Arka. Pipinya bersemu merah terkena hawa hangat dari dapur.

​"Cobain deh, Mas," ujar Kinanti penuh harap, menatap suaminya dengan mata berbinar. "Tadi aku diajarin Mbok Yati tetangga sebelah cara bikin bumbu kelapa sangrainya. Katanya biar rasanya makin legit."

​Arka mengambil sepotong ketan bakar tersebut, menggigitnya perlahan, lalu menyunggingkan senyum lebar yang sangat menawan.

​"Enak banget, Sayang," puji Arka tulus. Ia mengambil sejumput bumbu kelapa yang tersisa di sudut bibir Kinanti dengan ibu jarinya, lalu mengecup pipi istrinya lembut. "Makin hari masakan istri Mas ini makin juara. Bisa-bisa nanti gerobak kita nggak cuma jual cilok, tapi tambah menu ketan bakar."

​Kinanti tertawa renyah, suara tawanya membalas gemericik air sungai di belakang rumah. "Ih, Mas Arka ada-ada aja! Tapi kalau laris, mau-mau aja sih!"

​Arka terkekeh pelan, memeluk pinggang Kinanti dari samping seraya menikmati hangatnya suasana pagi itu. Di balik wajah bahagianya, Arka merasakan kelegaan yang luar biasa. Kebakaran hebat di puncak bukit pinus semalam dianggap warga desa sebagai musibah tersambar petir pada gubuk tua yang tak terpakai. Tidak ada kecurigaan, tidak ada kepanikan. Surga kecil mereka tetap utuh tanpa cela.

​Namun, di tengah kedamaian itu, ponsel pribadi Arka bukan ponsel rahasianya, melainkan ponsel biasa yang ia gunakan sehari-hari tiba-tiba bergetar di atas meja.

​Sebuah pesan singkat masuk dari nomor yang tak dikenal:

​bos Arka, 'The Black Dragon' udah menyadari pasukan taktis mereka ilang di Bandung. Mereka berhenti menggunakan kekuatan fisik dan mulai menyasar jalur legal. Seseorang telah membeli seluruh lahan tapak rumah dan tanah desa tempat Anda tinggal.

​Mata Arka memicing tajam selama satu milidetik sebelum kembali dinetralkan dengan sempurna.

​Mengubah taktik dari pertumpahan darah menjadi tekanan finansial? batin Arka dingin. Mereka pikir bisa mengusirku dengan kertas sertifikat?

​"Siapa yang kirim pesan pagi-pagi gini, Mas?" tanya Kinanti polos seraya menyeduh teh melati.

​Arka memasukkan ponselnya ke dalam saku celana dengan santai. "Oh, ini pesan dari operator seluler, Kin. Promosi paket internet biasa."

​Kinanti mengangguk-angguk percaya tanpa rasa curiga sedikit pun. "Oalah, kirain siapa. Yuk sarapan dulu, Mas. Nanti bumbu kacang ciloknya keburu dingin."

​Arka tersenyum hangat, menggandeng tangan Kinanti menuju meja makan. Namun di dalam benaknya, Arka sudah menyusun strategi tandingan. Jika Aliansi itu ingin bertarung menggunakan uang dan hukum di tanah Indonesia, Arka akan menunjukkan pada mereka siapa pemilik kekuasaan yang sesungguhnya.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!