Indonesia
NovelToon NovelToon
Tersesat Ke Dalam Novel Psikopat

Tersesat Ke Dalam Novel Psikopat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Sistem
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Luxw

Evelyn Noire terbangun di dalam novel thriller psikologis yang pernah ia baca. Bukan sebagai tokoh utama.

Bukan juga pemeran penting. Melainkan anggota keluarga yang ditakdirkan dibantai dengan sadis oleh seorang psikopat tak tersentuh.

Altair Varellion.

Mahasiswa sempurna di mata dunia. Tampan, cerdas, tenang.

Namun di balik senyumnya, tersembunyi monster yang mengendalikan pembunuhan berantai, perdagangan manusia, dan dendam berdarah yang diwariskan turun-temurun.

Dalam novel asli, Evelyn mati mengenaskan. Dan lebih buruknya lagi, Altair tidak pernah gagal memburu targetnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luxw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

...

Di lantai paling atas sebuah gedung pencakar langit yang menjulang di pusat kota, suasana malam terasa jauh lebih tenang dibanding hiruk-pikuk jalanan di bawah sana.

Dinding kaca setinggi langit-langit memperlihatkan pemandangan kota yang dipenuhi lautan cahaya.

Di balik ruangan kerja yang luas dan elegan itu, seorang pria duduk santai di kursi kerjanya. Jari-jarinya bergerak pelan di

atas keyboard laptop. Sesekali terdengar suara ketukan tombol yang memecah keheningan.

Pria itu adalah Loren Vance.

Pendiri sekaligus pemimpin Loren Holdings, salah satu konglomerasi terbesar di negeri ini. Meski usianya baru memasuki awal tiga puluhan, namanya sudah cukup membuat banyak perusahaan berpikir dua kali sebelum mencoba bersaing dengannya.

Di hadapannya berdiri seorang pria berjas rapi. Hans.

Asisten sekaligus sekretaris kepercayaannya selama bertahun-tahun.

"Tuan."

Loren tidak langsung mengalihkan pandangannya dari layar.

"Hm?"

"Proposal kerja sama dengan Danesha Group sudah kami kirim pagi tadi."

Barulah jemari Loren berhenti mengetik. Pria itu menutup laptopnya perlahan.

Senyum tipis muncul di wajahnya.

"Bagus."

Hans mengangguk. Namun ia tahu. Atasannya tidak pernah melakukan sesuatu tanpa alasan.

Terlebih untuk urusan bisnis. Loren menyandarkan tubuhnya ke kursi. Tatapannya beralih ke pemandangan kota di luar jendela.

Lampu-lampu gedung tampak seperti bintang yang jatuh ke bumi.

"Cukup menarik."

Hans menunggu. "Tuan?"

Loren menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

"Perusahaan yang baru saja berganti pemimpin."

"Ya."

"Pemimpinnya masih sangat muda."

"Benar."

"Dan tiba-tiba berhasil mendapatkan kerja sama dari Aurelius Consortium."

Untuk pertama kalinya nada suaranya terdengar sedikit penasaran. Bukan kagum.

Bukan juga iri. Lebih tepatnya...

tertarik.

Karena selama bertahun-tahun berbisnis, Loren tahu satu hal. Aurelius Consortium bukan tipe perusahaan yang mudah menerima mitra.

Terlebih untuk perusahaan yang baru mengalami pergantian kepemimpinan.

Bahkan banyak perusahaan besar harus menunggu bertahun-tahun hanya untuk mendapatkan kesempatan duduk di meja negosiasi.

Namun Danesha Group? Mereka berhasil. Dan itu membuatnya bertanya-tanya.

"Apa yang sebenarnya Karena selama bertahun-tahun berbisnis, Loren tahu satu hal. Aurelius Consortium bukan tipe perusahaan yang mudah menerima mitra.

Terlebih untuk perusahaan yang baru mengalami pergantian kepemimpinan.

Bahkan banyak perusahaan besar harus menunggu bertahun-tahun hanya untuk mendapatkan kesempatan duduk di meja negosiasi.

Namun Danesha Group? Mereka berhasil. Dan itu membuatnya bertanya-tanya.

"Apa yang sebenarnya mereka lihat?" gumam Loren pelan.

Hans segera menjawab.

Klaim

"Berdasarkan informasi yang kami dapatkan, pemimpin baru Danesha Group adalah seorang perempuan bernama Evelyn Danesha."

Loren mengangkat sebelah alisnya. "Perempuan?"

"Ya, Tuan."

"Usianya?"

"Sekitar tujuh belas tahun."

"Hm."

Hans melanjutkan. "Dan saat ini masih berstatus mahasiswa."

Klaim

Loren terdiam cukup lama.

Lalu... Ia tertawa kecil. Bukan karena mengejek. Melainkan karena merasa situasi itu terlalu unik.

"Mahasiswi."

"Ya."

"Dan Aurelius menerima kerja sama dengannya."

Hans mengangguk. "Itulah sebabnya banyak pihak juga mempertanyakan keputusan tersebut."

Loren memutar pulpen di antara jemarinya. Tatapannya perlahan berubah lebih tajam. Ia mengenal banyak orang di dunia bisnis. Orang jenius. Orang licik. Orang ambisius.

Bahkan orang yang rela melakukan apa saja demi keuntungan. Namun seorang mahasiswi yang baru memegang perusahaan lalu langsung mendapatkan akses ke Aurelius Consortium?

Itu jelas tidak biasa. Sangat tidak biasa. "Kau sudah menyelidikinya?"

"Tentu."

"Dan?"

Hans membuka tablet yang dibawanya. "Catatan akademiknya cukup baik."

"Hm."

"Tidak memiliki pengalaman bisnis yang signifikan."

"Hm."

"Riwayat hidupnya relatif normal."

"Hm."

Hans berhenti sejenak. Lalu menghela napas.

"Justru itu yang membuatnya aneh."

Senyum Loren semakin dalam. "Tepat."

Karena jika seseorang mampu melakukan hal luar biasa, biasanya akan ada jejak yang menunjukkan alasannya.

Namun pada Evelyn... Jejak itu hampir tidak ada. Seolah gadis itu tiba-tiba muncul dan mengubah banyak hal dalam waktu singkat.

Loren mengetuk meja perlahan. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Kebiasaan yang selalu muncul saat ia seda

"Cukup menarik

Hans hanya diam. Ia tahu atasannya sedang mulai tertarik pada sesuatu. Dan biasanya... Itu bukan pertanda baik bagi siapa pun yang menjadi objek perhatian Loren.

"Menurut Anda bagaimana?" tanya Hans akhirnya.

Loren tersenyum kecil.

Tatapannya kembali mengarah ke jendela. Ke arah lautan cahaya kota yang tak pernah tidur.

muncul saat ia sedang berpikir.

"Cukup menarik."

Hans hanya diam. Ia tahu atasannya sedang mulai tertarik pada sesuatu. Dan biasanya... Itu bukan pertanda baik bagi siapa pun yang menjadi objek perhatian Loren.

"Menurut Anda bagaimana?" tanya Hans akhirnya.

Loren tersenyum kecil. Tatapannya kembali mengarah ke jendela. Ke arah lautan cahaya kota yang tak pernah tidur.

"Aku tidak tahu."

"Namun satu hal yang pasti."

"Apa itu, Tuan?"

Loren menyandarkan dagunya pada punggung tangan. Matanya menyipit sedikit. "Kalau seseorang bisa menarik perhatian Aurelius..." Nada suaranya terdengar santai.

Namun ada ketajaman tersembunyi di baliknya.

"...maka orang itu layak untuk diperhatikan juga." Ruangan kembali sunyi.

Hanya suara pendingin ruangan yang terdengar samar.

Beberapa detik kemudian Loren berdiri dari kursinya.

Mengambil jas yang tergantung di sandaran. "Lanjutkan pemantauan."

"Baik, Tuan."

"Dan jika Danesha menerima proposal kita..."

Loren berhenti sejenak.

Senyum tipis muncul di sudut bibirnya.

"Atur pertemuan secepat mungkin."

Hans mengangguk hormat. "Sesuai perintah Anda."

_______________

*

*

Tiga hari.

Tiga hari penuh Evelyn tidak menginjakkan kaki ke kampus. Secara resmi dia memang izin. Alasannya? Pemulihan pasca kecelakaan.

Namun kenyataannya...

"Anjir..."

Evelyn menjatuhkan wajahnya ke tumpukan dokumen.

"Apa bedanya hidup gue yang dulu sama sekarang?"

Kasurnya sudah tidak terlihat seperti kasur. Lebih mirip meja kantor yang meledak. Dokumen berserakan di mana-mana. Laporan keuangan. Proposal kerja sama. Jadwal rapat. Analisis pasar.

Sampai catatan kecil yang bahkan dia sendiri lupa kapan menulisnya. Evelyn mengangkat kepala pelan. Rambutnya berantakan. Matanya panda.

Ekspresinya seperti orang yang baru kehilangan semangat hidup.

"Dulu kerja jadi karyawan."

"Sekarang kerja jadi bos."

"Kesimpulannya sama."

"Kerja."

Dia menjatuhkan diri lagi ke kasur. "Kenapa gue nggak lahir jadi putri kerajaan aja sih?"

Tok.

Tok.

Tok.

Suara ketukan pintu terdengar. Namun sebelum Evelyn sempat menjawab, pintunya sudah terbuka.

"Masih hidup?" Suara yang sangat dikenalnya membuat Evelyn menoleh.

"Celine..."

Celine berdiri di ambang pintu membawa dua kantong besar makanan. Begitu melihat kondisi kamar itu, bibirnya langsung bergetar. Lalu...

"Hahahahahaha!" Dia gagal menahan tawa. "Evelyn! Lo kenapa jadi kayak korban bencana alam gini?"

"Diam."

"Serius gue nggak kuat lihat muka lo"

"Diam!"

Evelyn mengambil bantal dan melemparkannya. Namun Celine berhasil menangkapnya.

"Tiga hari doang nggak ketemu, lo berubah jadi zombie."

"Gue capek."

"Kelihatan."

"Gue pengen pensiun."

"Umur lo baru tujuh belas tahun."

"Justru itu!"

Celine kembali tertawa. Setelah puas mengejektemannya, ia masuk dan duduk di sofa dekat jendela. Kemudian meletakkan kantong makanan di meja.

"Nih."

"Makan."

Evelyn melirik malas.

"Apa?"

"Burger."

Mata Evelyn langsung hidup.

"Ayam juga ada."

Evelyn langsung bangkit dari kasur. "Kenapa lo nggak bilang dari tadi?"

Celine menatapnya datar. "Ternyata obatnya gampang."

Lima menit kemudian.

Evelyn sudah duduk di sofa sambil menggigit burger dengan ekspresi setengah hidup.

"Ah... Nikmat." Evelyn.

"Baru sekarang gue percaya lo masih manusia." Celine.

Evelyn mengacungkan jari tengah. Celine tertawa lagi.

Mereka mengobrol santai sambil makan.

Untuk beberapa saat, suasana terasa jauh lebih ringan dibanding beberapa hari terakhir. Sampai akhirnya pandangan Celine jatuh pada salah satu dokumen di meja.

"Loren Holdings?"

Evelyn mengangguk. "Iya.

Kerja sama baru."

Celine bersiul pelan. "Itu perusahaan gede."

"Gue tahu."

"Nggak, maksud gue gede banget, ya walaupun masih gedean Aurelius sih."

Evelyn menghela napas.

"Makanya gue bingung."

"Kenapa?"

"Perusahaan gue nggak sekeren itu."

Celine mengangguk setuju. "Jujur aja, gue juga mikir gitu."

"WOI!" entah kenapa evelyn sedikit tidak Terima.

"Apa? Gue jujur."

Evelyn memukul lengan temannya. Namun Celine tetap tertawa. Kemudian ekspresinya sedikit berubah serius.

"Lo yakin mau ambil kerja sama ini?"

Evelyn terdiam sejenak.

Matanya melirik dokumen-dokumen yang memenuhi kamar. Jujur saja. Dia lelah. Sangat lelah.

Klaim

Bahkan beberapa kali dia sempat berpikir untuk menyerahkan semuanya pada orang lain. Namun...

Ini tanggung jawab yang diberikan orang tuanya.

Danesha bukan perusahaan kecil. Ada ratusan bahkan ribuan orang yang menggantungkan hidup mereka di sana.

Kalau dia lari sekarang...

Semua kepercayaan itu akan sia-sia. Evelyn menghela napas panjang.

Kemudian menyandarkan tubuh ke sofa. "Ya."

Celine menatapnya.

"Yakin?"

Evelyn tersenyum tipis.

"Takut sih."

"Jelas." Celine.

"Gue bahkan masih nggak ngerti setengah isi dokumen ini."

Evelyn.

"Itu normal." Celine.

"Tapi gue bakal coba."

Tatapan Evelyn perlahan berubah lebih tegas. "Kalau gue terus lari, gue nggak bakal berkembang. Dan gue nggak mau terus bergantung sama orang lain."

Celine terdiam beberapa detik. Lalu tersenyum. Senyuman yang tulus.

"Nah. Itu baru Evelyn yang gue kenal."

Evelyn mendengus. "Gue kira lo bakal bilang gue keren."

"Ogah."

"Pelit pujian."

"Banget."

Mereka tertawa bersamaan.

Untuk pertama kalinya selama tiga hari terakhir, kepala Evelyn terasa sedikit lebih ringan.

Masalahnya memang belum selesai. Dokumennya juga masih setinggi gunung. Kerja sama dengan Loren Holdings masih menunggu keputusan.

Namun setidaknya... Hari ini dia tidak menghadapinya sendirian. Dan terkadang, itu sudah lebih dari cukup.

1
Shela Pereira
😍😍😭😍😭😭👍💪
Luxw: trimakasih kabsudah menyempatkan waktu untuk mendukung karya kami🙏😄
total 1 replies
Shela Pereira
selalu ada bagian yang terulan teruuuus kadang sampai tiga kali sama 2 kakiiii
Luxw: Terima kasih banyak sudah membaca novel ini. Kami minta maaf karena cerita dalam novel ini banyak pengulangan cerita, Hal itu terjadi karena ada masalah teknis pada perangkat atau laptop yang kami pakai saat menulis.
total 1 replies
Shela Pereira
kaaak tolong cerita nya jangan di ulangggg terrrrus


curang tauuu😒😒
Luxw: Hai ka! Terima kasih banyak atas masukannya yang luar biasa. Komentar kamu tentang cerita yang berulang sangat membantu kami melihat kekurangan yang ada untuk segera diperbaiki. Kami sangat berterima kasih atas pembaca seperti kamu yang peduli pada perkembangan cerita kami."
total 1 replies
Shela Pereira
kenapa kata² nya ulang²😒
Luxw: maaf ka, kami akan segera memperbaiki kesalahan kami agar kaka bisa lanjut menikmati karya kami dengan nyaman🙏
total 1 replies
Nana Nana
cerita baru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!