Indonesia
NovelToon NovelToon
Tersesat Dalam Novel Psikopat Tampan

Tersesat Dalam Novel Psikopat Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Dark Romance / Psikopat
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: mejiku

Sena tidak pernah membayangkan bahwa kebiasaannya membaca novel thriller malam itu akan membawanya ke dalam pusaran teror nyata. Ia terbangun di dalam dunia novel favoritnya—sebuah cerita kelam yang berpusat pada sosok psikopat genius bernama Vex Noir. Di balik topeng topeng pembunuh dingin yang membantai korbannya dengan santai dan tanpa jejak, Vex Noir dikenal selalu berhasil meloloskan diri dari kejaran hukum tanpa cela. Aturan permainan menjadi jauh lebih mengerikan ketika Sena menyadari identitas barunya: ia tidak bertransformasi menjadi sang pahlawan, melainkan menjadi korban pertama dalam daftar pembunuhan Vex Noir—karakter figuran yang seharusnya tewas mengerikan di bab awal. Berbekal ingatan detail tentang setiap plot, kebiasaan, hingga jalan pikiran sang psikopat, Sena harus memutar otak untuk meretas takdirnya sendiSena tidak pernah membayangkan bahwa kebiasaannya membaca novel thriller malam itu akan membawanya ke dalam pusaran teror nyata. Ia terbangun di dalam dunia novel favoritnya sebuah cerita kelam yang berpusat pada sosok psikopat genius bernama Vex Noir. Di balik topeng topeng pembunuh dingin yang membantai korbannya dengan santai dan tanpa jejak, Vex Noir dikenal selalu berhasil meloloskan diri dari kejaran hukum tanpa cela. Aturan permainan menjadi jauh lebih mengerikan ketika Sena menyadari identitas barunya: ia tidak bertransformasi menjadi sang pahlawan, melainkan menjadi korban pertama dalam daftar pembunuhan Vex Noir karakter figuran yang seharusnya tewas mengerikan di bab awal. Berbekal ingatan detail tentang setiap plot, kebiasaan, hingga jalan pikiran sang psikopat, Sena harus memutar otak untuk meretas takdirnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21

Hawa dingin lorong rumah sakit swasta kelas atas itu terasa membekukan. Sudah lima jam lamanya lampu merah di atas pintu ruang operasi menyala tanpa henti. Di luar ruangan, Lucian duduk sendirian di atas kursi besi yang dingin. Pria itu menopang dagunya dengan kedua tangan yang saling bertaut, kemeja hitamnya masih berbercak noda darah yang mulai mengering.

Meskipun tampak duduk dengan sangat tenang dan tidak bergeming satu milimeter pun, aura maut yang keluar dari tubuhnya begitu pekat dan gelap. Para perawat serta dokter yang melintas di lorong itu bahkan tak berani bernapas terlalu keras, memilih berjalan memutar agar tidak melewati area di sekitar Lucian.

KLIK.

Lampu operasi akhirnya padam. Seorang dokter senior berpakaian hijau keluar seraya melepas maskernya dengan raut wajah yang amat letih dan tegang.

Lucian berdiri perlahan. "Bagaimana?" tanyanya dengan suara deep voice yang teramat datar namun sarat ancaman implisit.

Dokter itu menelan ludah sebelum memberanikan diri menatap mata gelap sang penguasa. "Kondisi Nona Estella sangat kritis, Tuan Muda. Luka cambukan di punggung dan paha beliau sangat dalam, menyebabkan pendarahan hebat serta infeksi tinggi. Kami sudah menjahit semua lukanya dan melakukan transfusi darah, namun... masa kritisnya belum lewat. Kita hanya bisa menunggu apakah tubuhnya mampu bertahan melewati dua hari ke depan."

Lucian tidak menjawab. Tanpa mengacuhkan dokter yang membungkuk hormat, ia memutar gagang pintu dan melangkah masuk ke dalam ruang perawatan intensif (ICU).

Di dalam ruangan yang hanya dihiasi bunyi monoton monitor detak jantung—bip... bip... bip...—Estella terbaring lemah. Wajahnya pucat bagaikan kertas, bibirnya kering tanpa warna, dan berbagai selang medis terpasang di tubuh ringkihnya.

Lucian melangkah mendekat, berdiri tepat di samping tempat tidur. Jemari tangannya yang kokoh merogoh saku dalam jasnya. Ia mengeluarkan sebuah benda kecil yang selama ini tak pernah lepas dari jangkauannya: sebuah kalung buatan tangan dari untaian manik-manik plastik berwarna keperakan dengan liontin bintang kecil yang sudah agak memudar.

Dua belas tahun.

Selama dua belas tahun, Lucian menyimpan kalung ini di tempat paling aman. Di balik identitasnya sebagai pembunuh berdarah dingin dan penguasa dunia bawah Vex Noir, ia selalu menyisakan satu ruang kecil di jiwanya untuk mencari sosok gadis kecil bergaun merah muda yang pernah memberinya kehangatan di sudut taman tua itu.

Namun, pencariannya selalu berujung buntu. Saat berusia enam tahun, ia sama sekali tidak memiliki petunjuk—ia tidak tahu nama gadis itu, tidak tahu silsilah kerabatnya, dan tidak memiliki akses informasi. Ketika ia tumbuh dewasa dan memiliki kekuasaan penuh untuk melacak apa pun, ingatan tentang nama sang gadis telah samar, terkubur di bawah tumpukan trauma kekerasan dari ayahnya. Siapa sangka, gadis kecil yang dicarinya selama ini adalah Estella Aurora—gadis yang hampir saja ia potong lehernya beberapa hari lalu.

Lucian mengepalkan tangannya rapat-rapt mengelilingi liontin bintang itu, menatap wajah lelap Estella dengan pandangan yang makin melembut namun pekat oleh penyesalan yang tak terucapkan.

Dua hari berlalu dalam keheningan yang mencekam.

Pada malam hari di hari kedua, kesadaran Estella perlahan-lahan kembali. Kelopak matanya yang terasa amat berat berkedip pelan, menyesuaikan diri dengan redupnya lampu kamar rumah sakit. Aroma antiseptik yang tajam menyengat indra penciumannya.

"Ugh..." rintih Estella amat pelan. Suaranya hampir tak terdengar, tenggorokannya terasa sangat kering bagaikan terakar pasir.

Begitu ia mencoba menggerakkan jemarinya sedikit saja, rasa sakit yang luar biasa dahsyat langsung meledak di sekujur tubuhnya! Punggung, paha, dan lengannya serasa dibakar hidup-hidup. Setiap helaan napas yang ditariknya mengirimkan sensasi nyeri menyengat yang membuat dadanya sesak.

Estella melirik ke sekeliling ruangan yang luas dan sunyi. Tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya ada dirinya, suara mesin medis, dan kegelapan malam di luar jendela.

Rasa sakit fisik yang membakar, ditambah rasa takut, kesepian, dan trauma penyiksaan di gudang tua itu mendadak meluap tak terbendung. Pertahanan dirinya runtuh sepenuhnya.

Air mata hangat mulai menetes dari sudut mata Estella, mengalir perlahan membasahi pipinya yang pucat. Ia menangis tanpa suara, terisak lemas di atas ranjang rumah sakit, meratapi betapa malangnya nasib yang harus ia tanggung di dunia yang asing ini.

1
putmelyana
bodoh banget ceweknya orang MH ngejauh dari kematian malah ngedeketin udah tau dia psikopat malah deketin. orang mh kabur nikmati karena transmigrasi jadi kaya malah jadi babu
putmelyana
apasih karakter ceweknya sikapnya berlebihan banget gajelas.
Alissia
up thor🤭🤭
Alia Chans
Hadir Thor, saling support💪/Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!