Indonesia
NovelToon NovelToon
Ternyata Aku Yang Kedua

Ternyata Aku Yang Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Poligami / Balas Dendam
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Dunia Sasi runtuh dalam semalam. Keputusannya memutuskan Hendrik karena menolak diajak berhubungan badan justru berujung petaka—Hendrik yang gelap mata melecehkannga dan mencapnya sebagai wanita munafik. Belum sembuh rasa traumatik itu, Sasi yang tiba di rumah langsung dihadapkan pada lamaran Adrian Maheswara, putra sahabat ayahnya. Demi menghormati permohonan sang ayah, Sasi yang masih syok hanya mampu mengangguk pasrah.
Pernikahan kilat pun digelar keesokan harinya. Namun, neraka baru menyambut Sasi saat Adrian membawanya pulang. Di sana, berdiri Fitria—istri pertama Adrian. Merasa ditipu dan dijadikan alat semata demi mendapatkan keturunan bagi pasangan tersebut, Sasi harus menelan kenyataan pahit: tersiksa oleh trauma yang belum usai, kini ia terperangkap dalam ikatan poligami tanpa persetujuannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Awan mendung menggantung rendah di langit sore, menahan hujan yang sewaktu-waktu siap tumpah.

Angin dingin berembus cukup kencang, menyapu deretan daun kering di trotoar tepat saat Sasi melangkah keluar dari kafe tempatnya bekerja.

Rasa lelah setelah berdiri berjam-jam melayani pelanggan seketika menyergap bahunya.

Ia merapatkan jaket, memicingkan mata menerobos remang sore, dan mendapati sosok yang tak asing sedang berdiri di samping sepeda motor yang terparkir di seberang jalan.

Hendrik, kekasih Sasi. Pria itu bersandar di kendaraannya, melambaikan tangan begitu melihat Sasi berjalan mendekat.

"Sudah selesai shift-nya, Sas?" tanya Hendrik halus, menyerahkan sebuah helm ke tangan Sasi.

Sasi tersenyum tipis sembari menerima helm tersebut dan memasangnya.

"Sudah. Hari ini lumayan ramai, bikin pegal."

Hendrik menaiki motornya, memutar kunci kontak hingga mesin menderu pelan.

Namun, sebelum Sasi naik ke boncengan, Hendrik menoleh ke belakang dengan raut wajah yang mendadak cemas.

"Sas, sebelum aku antarkan kamu pulang, kita miring sebentar ke kosanku dulu, ya?"

"Ke kosan mu? Mau ngapain? Ini sudah mau hujan, Hendrik. Nanti, aku kemalaman."

"Sebentar saja, kok. Ibuku tadi telepon, katanya beliau ada titip dokumen penting dan obat harian yang ketinggalan waktu main ke kosan minggu lalu," ucap Hendrik sambil menatap mata Sasi dengan raut memohon yang meyakinkan.

"Ibuku minta tolong difotokan dan dikirim lewat kurir instan sore ini juga sebelum tokonya tutup. Kalau aku sendirian, agak repot nyarinya di lemari. Kamu bantu aku cari sebentar ya, habis itu langsung aku antar kamu pulang. Janji."

Melihat raut cemas dan mendengar alasan yang membawa-bawa nama ibunya, benteng kewaspadaan Sasi luluh seketika.

Ia tidak berpikiran buruk sedikit pun pada pria yang selama ini dianggapnya sebagai kekasih yang penuh kasih.

Sasi menganggukkan kepalanya pelan. "Ya sudah, tapi sebentar saja ya."

"Iya, makasih ya, Sas."

Hendrik tersenyum—sebuah senyuman yang terbias bias redup lampu jalanan—lalu melajukan sepeda motornya membelah keramaian kota, membonceng Sasi menuju kosannya tanpa menyadari gemuruh pertama mulai terdengar dari kejauhan.

Sesampainya di tempat tujuan, Hendrik menghentikan motornya tepat di depan deretan kamar kos yang tampak sepi.

Suasana di sekitar bangunan itu begitu lengang, tertutup oleh gemuruh angin yang semakin kencang.

Hendrik turun, lalu berbalik menatap Sasi yang masih berdiri mematung di samping motor.

"Yuk, masuk dulu, Sas," ajak Hendrik seraya melangkah menuju pintu kamarnya.

Sasi menyapu pandangan ke sekeliling. Perasaan tak nyaman mendadak menyusup ke dadanya.

"Aku di sini saja, Hen. Nggak enak sama yang lainnya."

Tanpa menjawab, Hendrik melangkah mendekat. Secara tiba-tiba, ia menggandeng erat tangan kekasihnya dan memaksanya untuk ikut melangkah masuk.

Cengkeraman itu terasa jauh lebih kuat dari biasanya.

"Hen, aku di luar saja!" seru Sasi, berusaha menahan langkahnya dan menarik tangannya kembali.

Bukannya melepaskan, Hendrik justru mendorong tubuh Sasi ke dalam kamar, lalu mengunci pintu dari dalam dengan gerakan cepat.

"Duduk!" perintah Hendrik dengan suara menajam, matanya menatap Sasi tanpa rasa hangat yang biasa ada di sana.

Jantung Sasi berdegup kencang. Ia mundur beberapa langkah, menatap pria di hadapannya dengan rasa asing yang membendung.

"Hen, kamu kenapa? Bukankah kamu mencari dokumen sama obat?"

Hendrik tertawa kecil—sebuah tawa dingin yang membuat bulu kuduk Sasi berdiri. Pria itu menyandarkan punggungnya di pintu yang terkunci rapat.

"Kamu itu sangat polos, Sasi," ucapnya penuh sarkasme.

Sasi menelan ludah, suaranya gemetar. "M-maksud kamu?"

"Ini maksud aku." Hendrik menatap Sasi lekat-lekat, lalu tanpa ragu mulai melepaskan pakaiannya satu per satu.

"Ayo kita melakukannya seperti sepasang kekasih lain."

Mata Sasi membelalak lebar. Rasa takut dan jijik menjalar hebat di sekujur tubuhnya.

"Jangan gila kamu, Hendrik!! Lebih baik kita putus sekarang juga!"

Dengan sisa keberanian yang ada, Sasi berbalik dan berlari menuju pintu untuk membukanya. Namun, Hendrik lebih cepat.

Pria itu mencengkeram bahu Sasi dan membanting tubuhnya menjauh dari jalan keluar.

Seketika, Hendrik menutup mulut Sasi dengan telapak tangannya yang kasar, mengunci pergerakan wanita itu.

Sasi menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Air mata meledak dari pelupuk matanya, mengalir deras membasahi tangan Hendrik.

Dalam batinnya, ia menangis dan memohon agar pria yang selama ini dicintainya itu menghentikan kegilaan ini dan melepaskannya.

Namun, empati Hendrik telah menguap sepenuhnya. Tatapannya liar dan gelap.

"Jangan munafik, Sasi," bisik Hendrik tepat di telinga Sasi dengan nada dingin.

"Sekarang aku akan memberikanmu kenikmatan."

Hendrik yang telah gelap mata tak lagi mendengarkan jeritan membisu sang kekasih.

Dalam sekejap, ia merenggut secara paksa apa yang bukan haknya, menginjak-injak martabat Sasi tanpa belas kasihan.

Di luar, kilat menyambar membelah kegelapan. Hujan deras mulai turun membilas bumi dengan sangat lebat.

Suara gemuruh angin dan hempasan air yang menghantam atap seng membungkam segalanya—menyembunyikan jerit kesakitan dan tangis pilu seorang wanita yang tengah diperkosa di dalam sana, tanpa ada satu orang pun yang menyadarinya.

Satu jam berlalu dalam siksaan yang terasa seperti keabadian.

Suasana kamar kembali hening, hanya tersisa suara napas Hendrik yang memburu dan derasnya hujan di luar.

Dengan raut wajah tanpa penyesalan, Hendrik merogoh dompetnya, menarik beberapa lembar uang kertas, lalu melemparkannya begitu saja ke arah Sasi yang terbaring lemah di atas kasur.

"Itu, untuk hubungan tiga bulan kita," ujar Hendrik dingin, seolah sedang menyelesaikan sebuah transaksi bisnis.

Sasi tidak menjawab. Tubuhnya gemetar hebat, dadanya sesak oleh rasa hampa dan kehancuran yang tak tertahankan.

Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, ia merangkak mengumpulkan pakaiannya yang berserakan di lantai, mengenakannya kembali dengan jemari yang terus menggigil.

Lembaran uang yang diberikan Hendrik dibiarkannya tergeletak di lantai—ia tidak sedikit pun menyentuh atau mengambil uang itu.

Tanpa memandang Hendrik lagi, Sasi membuka pintu dan melangkah keluar meninggalkan tempat terkutuk itu.

Di bawah guyuran hujan sore yang membilas jalanan, Sasi berdiri di tepi jalan dengan tubuh basah kuyup dan pakaian yang berantakan.

Mengabaikan tatapan asing dari orang-orang di sekitar, ia melambaikan tangan menghentikan sebuah taksi yang lewat.

Begitu berhasil masuk ke dalam kabin mobil yang hangat dan tertutup, benteng pertahanannya runtuh sepenuhnya.

Di dalam taksi, di balik rintik air hujan yang membasahi kaca jendela, Sasi menangkupkan kedua tangan ke wajahnya dan kembali menangis sesenggukan.

Suara isakannya pecah, meratapi harga dirinya yang dihancurkan secara keji oleh pria yang paling ia percayai.

Sesampainya di rumah, Sasi melangkah keluar dari taksi dengan tubuh yang masih gemetar.

Langkah kakinya terhenti sejenak ketika matanya menangkap keberadaan sebuah mobil mewah yang terparkir anggun di halaman rumahnya yang sederhana.

Setelah membayar ongkos taksi, Sasi menyapu air mata yang masih tersisa di pipinya dengan ujung lengan baju.

Ia memaksakan diri untuk bernapas panjang, berusaha merapikan rambut dan pakaiannya, berpura-pura seolah tidak ada peristiwa mengerikan yang baru saja merenggut dunianya.

Dengan langkah berat, ia berjalan masuk ke dalam rumah.

"Assalamualaikum," ucap Sasi pelan, mencoba menetralkan suaranya.

"Waalaikumsalam," sahut Pak Broto.

Ayah Sasi, yang sedang duduk di ruang tamu bersama seorang pria asing bertubuh tegap dan berpakaian rapi.

Melihat kedatangan putrinya, Pak Broto mengisyaratkan tangan ke arah kursi kosong di dekatnya.

"Nduk, sini duduk sebentar."

Sasi berjalan mendekat dan mengambil tempat duduk dengan gerakan kaku.

"Nduk, ini Adrian, putra dari almarhum sahabat Bapak," lanjut Pak Broto memperkenalkan pria muda yang duduk di seberang mereka.

Sasi menundukkan kepala dan mengangguk kecil.

"Sasi," ucapnya sangat pelan.

Pria bernama Adrian itu hanya menatapnya dengan raut wajah tenang dan datar, sulit diartikan.

Pak Broto kemudian menarik napas dalam-dalam sebelum kembali bersuara dengan nada serius.

"Adrian datang ke sini untuk mengajakmu menikah, Nduk."

Bagai disambar petir untuk kedua kalinya dalam sehari, mata Sasi membelalak.

"M-menikah? T-tapi Ayah, ini sangat mendadak sekali," bisik Sasi dengan suara gemetar, menatap ayahnya tak percaya.

Adrian membetulkan posisi duduknya, lalu berbicara dengan suara berat dan tenang.

"Maaf jika kedatangan saya mengejutkanmu, Sasi. Ini adalah amanah terakhir dari almarhum ayah saya sebelum beliau wafat. Beliau dan Pak Broto sudah mengikat janji sejak lama untuk menyatukan keluarga kami. Ayah saya berpesan agar saya menjaga dan meminangmu. Saya ke sini hari ini untuk menunaikan janji almarhum."

Mendengar penjelasan itu, kepala Sasi semakin berdenyut hebat.

Sebelum ia sempat mencerna semua informasi tersebut, Pak Broto berdiri dan menyentuh bahu putrinya pelan.

"Nduk, ikut Ayah ke dapur sebentar," bisik Pak Broto.

Sasi bangkit dan mengekor di belakang ayahnya menuju dapur yang tersekat dinding kayu.

Begitu tiba di dalam, Pak Broto berbalik dan menggenggam kedua tangan Sasi yang terasa dingin.

"Nduk, Ayah mohon sama kamu, terimalah pinangan Adrian," ucap Pak Broto dengan mata berkaca-kaca dan suara bergetar menahan haru.

"Ayah sudah tua dan sakit-sakitan. Wasiat almarhum sahabat Ayah adalah satu-satunya kehormatan yang ingin Ayah tuntaskan sebelum Ayah tidak ada lagi. Adrian pria yang bertanggung jawab dari keluarga baik-baik. Tolong bantu Ayah menjaga amanah ini, Nduk."

Sasi membeku. Tenggorokannya terasa tersumbat.

Melihat wajah rentan sang ayah yang begitu penuh harap, rasa tidak tega menjalar hebat di dadanya.

Namun di sisi lain, jiwa dan raga Sasi saat ini runtuh tak berbekas.

Baru satu jam yang lalu ia diperkosa secara keji oleh Hendrik, tubuhnya masih memar dan menyisakan rasa sakit yang teramat sangat, dan kini ia dituntut untuk menyerahkan seluruh hidupnya kepada pria asing di ruang depan.

Melihat ayahnya yang memohon dengan mata berkaca-kaca seperti itu, pertahanan Sasi runtuh.

Ia tidak sanggup melihat kekecewaan atau rasa bersalah menggores wajah tua sang ayah.

Dengan dada yang semakin sesak dan air mata yang ditahan sekuat tenaga, akhirnya Sasi menganggukkan kepalanya pelan.

"Iya, Ayah. Aku mau," bisik Sasi pasrah, merelakan takdirnya berbelok arah di hari yang sama saat dunianya dihancurkan.

Senyum lega dan penuh rasa syukur seketika mengembang di wajah Pak Broto.

Ia menepuk-nepuk bahu putrinya lembut, lalu kembali mengajak Sasi melangkah menuju ruang tamu.

"Adrian, putriku setuju," ucap Pak Broto dengan nada suara yang mantap dan lega begitu mereka kembali berdiri di hadapan pria itu.

Adrian berdiri dari tempat duduknya. Raut wajahnya tetap tenang, tanpa euforia berlebihan, seolah keputusannya memang didasari atas kewajiban yang harus dituntaskan.

"Terima kasih atas keputusannya, Pak Broto, Sasi," jawab Adrian dengan suara mantap dan wibawa yang tenang.

"Kalau begitu, tidak perlu menunda waktu lagi. Besok pagi saya akan ke sini membawa penghulu dan dua orang saksi agar pernikahan bisa dilaksanakan secara sah."

Ayah Sasi menganggukkan kepalanya cepat, setuju tanpa keraguan.

"Iya, Nak Adrian. Lebih cepat tentu lebih baik."

Sebelum berpamitan untuk pulang, Adrian meraih sebuah paper bag berukuran besar dan elegan yang sejak tadi diletakkannya di samping kursi. Ia mengulurkannya ke arah Sasi.

"Ini gaun pengantin untuk kamu kenakan besok pagi," ucap Adrian seraya menyerahkannya.

Sasi menerima pemberian itu dengan jemari yang terasa dingin dan kaku.

Ia hanya menunduk kecil tanpa sanggup menatap mata pria yang besok pagi akan resmi menjadi suaminya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!