Di mata dunia, mereka hanya keluarga kecil yang bahagia: Chiko si karyawan kantor yang penakut, Mila si ibu rumah tangga yang lembut, dan Lala si kecil berusia empat tahun yang konyol dan menggemaskan.
Namun, di balik pintu rumah mereka, kebenaran tersembunyi dengan rapat:
Chiko Leonhart: CEO miliarder yang sedang menyamar untuk menghancurkan musuh bisnisnya.
Mila Leonhart: Viper, ketua mafia legendaris yang menguasai dunia bawah tanah.
Lala Leonhart: Subjek eksperimen rahasia ber-IQ 210 yang menyembunyikan kejeniusannya di balik kecintaannya pada biskuit panda.
Disatukan oleh ketidaksengajaan dan takdir yang rumit, ketiganya saling menyembunyikan identitas asli demi menjaga misi masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dena Tan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misi Bunga Matahari dan Pelukan di Atas Rumput
Area piknik St. Starling Academy masih seramai tadi. Tidak ada satu pun wali murid maupun anak-anak yang menyadari bahwa di balik keheningan Hutan Pinus yang berjarak beberapa ratus meter dari sana, sesosok penjahat berbahaya baru saja dilumpuhkan secara dramatis.
Di atas tikar piknik bermotif kotak-kotak merah, Arka sedang sibuk menyusun istana dari kotak-kotak jus. Saat melihat Chiko berjalan kembali sambil menggendong Lala di pundaknya, Arka melambaikan tangannya tinggi-tinggi.
"Lala! Sini! Aku menyisakan biskuit pandanya!" seru Arka nyaring.
Chiko menurunkan Lala dengan sangat hati-hati ke atas rumput. "Nah, Lala main sama Arka dulu ya. Papa sama Bunda mau merapikan bekal sebentar."
"Siap, Papa!" Lala melompat riang, melangkah kecil menghampiri Arka dengan bando pandanya yang berayun-ayun. Puk-puk-puk.
Sementara itu, Chiko dan Mila duduk berdampingan di sudut tikar piknik. Di balik senyuman ramah dan aura "keluarga harmonis" yang mereka tampilkan untuk para wali murid di sekitar, jemari mereka bergerak cepat mengurus sisa-sisa masalah secara terpisah.
Chiko merogoh saku kemejanya, menyentuh jam tangan Pentagon secara tersembunyi di balik serbet kain.
[Kirim sinyal anonim ke pihak kepolisian lokal. Melaporkan adanya buronan internasional yang pingsan akibat kecelakaan di zona Hutan Pinus. Pastikan jejak peretasanku terhapus total.]
Di sebelah Chiko, Mila berpura-pura mengelap cangkir teh dengan sangat telaten. Namun, di bawah lipatan serbet, jemari lentiknya menekan tombol khusus pada ponsel terenkripsi di dalam tasnya.
[Bersihkan perimeter luar Hutan Kota. Jangan tinggalkan jejak pisau atau tanda keberadaan faksi Black Crimson.]
Setelah menuntaskan perintah rahasia masing-masing, keduanya mengembuskan napas panjang secara bersamaan, kembali memasang wajah polos dan lugu mereka.
"Papah..." panggil Mila lembut, menyisipkan jemarinya ke dalam jemari Chiko yang hangat. "Tadi pas Papa ke toilet... Bunda khawatir sekali. Untung Lala tidak apa-apa ya, cuma Bu Siska saja yang apes tersandung akar pohon."
Chiko menoleh, menyunggingkan senyum tulus dan hangat dari balik kacamata tebalnya. "Iya, Bunda. Papa juga kaget pas balik dari toilet tiba-tiba Bu Siska sudah pingsan. Tapi bersyukur sekali putri kita tidak terluka sedikit pun."
Mila tersenyum manis, meremas pelan jemari Chiko. Rasa hangat dan nyaman merambat ke dalam dadanya. Bagi Mila, meskipun ia harus berakting sebagai ibu rumah tangga biasa, momen kebersamaan seperti ini terasa begitu nyata dan indah.
Di depan mereka, Lala sedang berpura-pura sibuk mendengarkan cerita Arka tentang tank tempur. Namun, sensor Hello Panda di jam tangannya menangkap seluruh pesan terenkripsi yang dikirim oleh Chiko dan Mila secara bersamaan.
‘Wah... Papa minta polisi tangkap Bu Siska secara anonim, terus Bunda menyuruh anak buahnya membersihkan bekas pisau di pohon!’ batin Lala tertawa riang. ‘Papa dan Bunda kompak sekali, padahal sama-sama mengira pasangannya cuma orang biasa!’
Tiba-tiba, Lala berdiri dari rumput, memetik sekuntum bunga matahari kecil yang tumbuh liar di dekat tikar piknik, lalu berlari menghampiri kedua orang tuanya.
"Papa! Bunda!" panggil Lala manis.
Chiko dan Mila menoleh menatap putri kecil mereka dengan binar kasih sayang mutlak.
"Ada apa, Pahlawan Panda?" tanya Chiko hangat.
Lala menyelipkan bunga matahari kecil itu ke dalam kantong kemeja Chiko, lalu melompat memeluk leher Mila dan Chiko sekaligus. Tubuh mungilnya meringkuk hangat di tengah-tengah dada kedua orang tuanya.
"Terima kasih ya Papa, Bunda... sudah mengantarkan Lala piknik hari ini!" ucap Lala tulus, membenamkan fisiknya yang mungil ke dalam pelukan hangat mereka. "Lala sayang banget sama Papa dan Bunda!"
Mila melingkarkan kedua lengannya mengelilingi Chiko dan Lala, mengecup puncak kepala Lala penuh kehangatan. Chiko pun ikut memeluk mereka berdua erat-erat, membiarkan tawa dan kehangatan matahari siang itu membalut keluarga kecil mereka.
Bagi Chiko dan Mila, meskipun mereka harus terus menyembunyikan identitas asli sebagai Mastermind Pentagon dan Ratu Viper, satu hal yang pasti: kehangatan keluarga ini adalah satu-satunya hal nyata yang ingin mereka lindungi selamanya.
Piknik siang itu diakhiri dengan tawa dan lima boks biskuit panda yang ludes dilahap Lala dan Arka.
Namun, tepat saat mobil sedan hitam keluarga Leonhart mulai melaju meninggalkan kawasan Hutan Kota, di sebuah laboratorium bawah tanah yang letaknya ribuan kilometer dari sana...
Sebuah layar monitor raksasa yang tadinya gelap mendadak menyala merah.
[PERINGATAN: Sinyal Otak Subject 04 Terdeteksi Mengaktifkan Sensor Kuantum.]
[Pencarian Proyek 'Pandora' Dimulai.]
Di kegelapan ruangan laboratorium tersebut, sesosok pria berjas putih tersenyum dingin menatap grafik sinyal yang memancar dari bando panda milik Lala...
Bersambung..