Di balik gemerlap kariernya sebagai aktor papan atas, Ethan Voss menyimpan rahasia besar: pernikahan tanpa cinta bersama Mia Taylor. Pernikahan yang lahir dari utang budi itu terikat perjanjian ketat—dirahasiakan dari publik, tanpa keterikatan emosional, dan wajib berakhir dalam empat tahun.
Selama empat tahun, Mia bertahan hidup bagai bayangan. Ia menelan dinginnya sikap Ethan dan rasa sakit saat melihat pria itu memamerkan kemesraan bersama kekasihnya di media. Saat masa perjanjian usai, Mia pergi dengan tenang, meninggalkan Ethan yang mengira dirinya telah bebas.
Namun, kepergian Mia justru menyisakan kehampaan mendalam. Setelah menemukan rahasia pengorbanan tulus sang mantan istri, Ethan sadar ia telah membuang cinta sejatinya.
Situasi makin rumit dengan hadirnya Liam, investor besar yang selalu ada untuk Mia setelah perceraian. Dengan ketulusannya, Liam siap melindungi Mia dan menjadi saingan berat Ethan yang ingin merebut kembali hati sang mantan istri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fhatt Trah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Dibawah Kendali Sang Penguasa
Sinar matahari pagi menembus tirai kaca setinggi langit-langit, membiaskan cahaya keemasan di atas lantai marmer penthouse.
Mia terbangun dengan rasa lelah yang masih membekas di sekujur tubuhnya. Suara bel pintu yang berdentang halus beberapa kali akhirnya memaksa wanita itu beranjak dari posisinya dan melangkah pelan menuju pintu utama.
Begitu pintu terbuka, dua orang wanita berpenampilan rapi dengan seragam formal berdiri di hadapannya, menyunggingkan senyum profesional. Di belakang mereka, beberapa staf sibuk mendorong rak-rak gantung yang dipenuhi pakaian desainer ternama, kotak-kotak perhiasan, serta puluhan tas dan sepatu eksklusif.
“Selamat pagi, Nona Mia. Kami diutus langsung oleh Tuan Liam untuk menyiapkan seluruh keperluan pribadi Anda,” ucap salah satu wanita tersebut dengan nada sangat sopan.
Mia terpaku di ambang pintu. Tatapannya menatap nanar barisan barang mewah yang kini perlahan dimasukkan ke dalam penthouse.
Ucapan Liam kemarin bukan sekadar gertakan atau pemanis kata semata. Pria itu benar-benar mengeksekusi ucapannya tanpa cela, menghujani Mia dengan segala kemewahan yang bahkan tak pernah ia impikan.
“Tolong hentikan... aku tidak membutuhkan semua ini,” ujar Mia, mencoba menghentikan langkah para staf.
Wanita berseragam itu tersenyum tipis, lalu menyodorkan sebuah gawai tablet dengan layar yang sudah menampilkan nama Liam.
“Maafkan kami, Nona Mia. Tuan Liam berpesan, jika Anda menolak, kami dilarang kembali dan harus menanggung konsekuensinya. Tuan Liam juga menyuruh Anda membaca pesan ini.”
Mia menerima tablet tersebut dengan jemari gemetar. Di layarnya, tertera satu pesan singkat dari Liam:
‘Tolong terima semuanya, Mia. Jangan membuatku harus datang ke sana hanya untuk memasangkan pakaian itu sendiri di tubuhmu.’
Ancaman terselubung itu membuat tenggorokan Mia terasa kering. Ia paham betul Liam tidak pernah main-main dengan kata-katanya. Pria itu tidak memberinya ruang untuk melawan.
Dengan napas berat, terpaksa ia membiarkan para staf menata barang-barang tersebut di dalam ruang ganti raksasa penthouse, meratapi kenyataan bahwa dirinya kini benar-benar terperangkap dalam sangkar emas yang tak kasatmata.
Sementara itu, di sebuah gedung pencakar langit yang menjadi markas besar korporasi milik Liam, suasana rapat direksi terasa bagai medan perang yang membeku.
Liam duduk di kursi utamanya, mengenakan setelan jas hitam elegan. Tatapan matanya yang tajam bak elang menyapu seluruh jajaran direksi yang menunduk kaku, tak berani menatap langsung sang manajer puncak.
Asisten pribadinya, Raymond, mendekat dan membisikkan sesuatu di telinga Liam.
“Tuan, semua barang sudah diantarkan ke penthouse. Nona Mia menerima semuanya tanpa perlawanan.”
Kedua sudut bibir Liam terangkat tipis membentuk sebuah senyum tipis yang sangat langka dan hampir tak pernah disaksikan oleh para bawahannya. Ketegangan di dalam dirinya sedikit mengendur mendengar kabar itu.
“Bagus,” sahut Liam singkat dengan suara beratnya yang dingin.
****
Sementara sebuah rumah megah berarsitektur minimalis hangat, Ethan sedang berdiri di dekat jendela besar ruang kerjanya sambil memegang cangkir kopi yang masih berasap tipis. Suasana tenang di kediamannya seketika terpecah saat suara langkah kaki tergesa menaiki tangga.
Marcus, manajernya, melangkah masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Wajah pria itu tampak serius sambil menatap layar gawai di tangannya.
“Ethan, ada perubahan besar dalam jadwalmu,” ujar Marcus langsung pada intinya, menghentikan ketukan jarinya di layar tablet.
Ethan memutar badan, menatap manajernya dengan satu alis terangkat.
“Perubahan apa? Bukannya besok jadwal penuh untuk syuting adegan utama?”
“Jadwal syuting besok resmi dikosongkan,” potong Marcus cepat. Ia berjalan mendekat dan menyodorkan tabletnya ke arah Ethan.
“Semua agenda ditarik keluar. Manajemen sudah mengonfirmasi bahwa besok kamu dan Sarah Parker harus menghadiri pameran perhiasan mewah.”
Ethan mengerutkan dahi, membaca deretan poin acara yang tertera di layar. Nama Sarah Parker terpampang jelas di sana.
“Pameran perhiasan?” gumam Ethan dengan nada enggan.
“Bukan sekadar hadir,” tegas Marcus.
“Kalian berdua dijadwalkan menjadi figur utama untuk mempromosikan koleksi eksklusif terbaru mereka di pameran itu. Pihak penyelenggara dan sponsor besar sudah mewajibkan kehadiran kalian berdua sebagai brand ambassador. Besok seharian penuh fokusmu hanya untuk acara pameran perhiasan tersebut.”
Ethan menghela napas berat, menyeruput kopinya sedikit sebelum melemparkan tatapan tajam ke arah manajernya.
“Siapa yang bisa seenaknya mengosongkan jadwal syuting utama hanya untuk pameran perhiasan?” tanya Ethan dengan nada dingin dan penuh selidik.
Marcus menatap Ethan lurus, lalu menurunkan tabletnya perlahan.
“Vance Group,” jawab Marcus tegas.
“Mereka sponsor utama proyek film ini sekaligus pemilik lini perhiasan eksklusif itu. Liam Vance sendiri yang menandatangani pengalihan jadwal kalian.”
Mendengar nama itu, rahang Ethan mengeras. Kenangan tentang tatapan penuh dominasi Liam saat terakhir kali mereka bertemu kembali terbayang di kepalanya.
Ia tahu betul ini bukan sekadar urusan promosi atau bisnis belaka. Ada permainan kekuasaan yang sedang dilancarkan Liam di balik layar, dan Ethan tak punya pilihan selain masuk ke dalam lingkaran permainan tersebut.
“Persiapkan semuanya untuk besok,” ujar Ethan akhirnya, meletakkan cangkir kopinya dengan dentingan halus di atas meja kerja. “Aku ingin tahu seberapa jauh dia mau bermain.”
Marcus menarik napas panjang, menatap Ethan dengan riak kecemasan yang jelas terpancar di matanya. Ia melangkah mendekati meja kerja, menumpukan kedua tangannya di atas permukaan kayu jati tersebut sambil memiringkan tubuhnya ke depan.
“Ethan, dengarkan aku baik-baik..” ujar Marcus dengan suara direndahkan, memberikan penekanan di setiap kata.
“Liam Vance bukan sekadar pengusaha kaya yang bisa kamu sepelekan. Dia menguasai hampir setengah saham industri hiburan di negara ini. Sekali dia menghentakkan kaki, jaringan bioskop, sponsor, hingga agensi media bisa meruntuhkan kariermu hanya dalam hitungan jam.”
Ethan hanya terkekeh dingin, meski rahangnya masih terkunci rapat. “Kamu pikir aku takut dengan kekuasaannya, Marcus?”
“Ini bukan soal takut atau berani, Ethan. Tapi ini soal bertahan hidup di industri ini!” potong Marcus tegas, menatap lurus ke dalam manik mata Ethan.
“Aku tahu kamu punya ego dan idealisme, tapi kamu harus bisa menahannya. Kalau kamu bertindak gegabah di pameran perhiasan besok, sekecil apa pun tindakan spontan yang kamu buat, maka reputasi dan karier yang kita bangun berdarah-darah selama sepuluh tahun ini bisa hancur berantakan.”
Marcus menegakkan tubuhnya kembali, merapikan jasnya lalu menunjuk dada Ethan dengan ujung jarinya.
“Jaga sikapmu besok. Pasang senyum profesionalmu di depan kamera, jalankan tugasmu bersama Sarah Parker, dan jangan biarkan siapa pun memancing emosimu. Ingat, di papan catur ini, Liam Vance yang memegang kendali penuh. Satu langkah salah darimu maka kariermu selesai.”
****
Keesokan malam.
Pintu penthouse terbuka. Langkah kaki Liam menggema di lantai marmer, lalu terhenti seketika saat melihat Mia di ambang ruang ganti.
Mia berdiri mematung mengenakan gaun malam midnight blue pilihan Liam, lengkap dengan kilau perhiasan mewah yang menyempurnakan penampilannya. Untuk sejenak, Liam terkesima. Aura dingin sang penguasa seketika lenyap, tergantikan oleh tatapan kagum dan posesif yang mendalam.
“Kamu sangat luar biasa, Mia,”!bisik Liam mendekat, lalu menyentuh lembut rahang Mia. “Gaun itu seperti diciptakan khusus untukmu.”
Liam kemudian merengkuh pinggang wanita itu erat. “Malam ini, kita menghadiri pameran perhiasan. Semua mata harus tahu, siapa wanita yang berada di sampingku. Wanita yang begitu istimewa bagiku.”
–tbc–