Anindya, wanita muda yang tulus dan sederhana, tanpa sengaja terjebak dalam cinta kepada Reynand — pria berwibawa yang sudah memiliki istri bernama Gisella. Di mata publik, rumah tangga mereka tampak sempurna. Namun saat kebenaran mulai terkuak satu per satu, tidak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi di balik pintu tertutup. Akankah Anindya pergi sebelum terlambat, atau ia akan tetap bertahan — terperangkap dalam cinta yang ternyata jauh lebih rumit dari yang ia kira?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 26
Ratna mengerutkan kening, berusaha mencari jejak kenalan di wajah itu, namun tak ditemukan. Ia mengangguk pelan, bingung sekaligus waspada.
"Benar... saya sendiri. Dan Anindya adalah putri saya. Maaf, Anda siapa ya?"
Wanita itu menarik napas panjang, menegakkan punggungnya lebih tegak. "Nama saya Marissa. Dan saya datang untuk membicarakan seseorang yang belakangan ini sedang dekat dengan putri Anda."
Ratna mengerutkan kening lebih dalam. "Dekat dengan putri saya? Saya tidak ingat Anindya pernah menceritakan jika dia sedang dekat dengan seseorang..."
Marissa melangkah selangkah lebih dekat, menatapnya lekat. "Reynand. Namanya adalah Reynand."
Ratna terdiam, berusaha mencari nama itu di ingatannya, "Reynand... saya belum pernah mendengar nama itu. Apakah dia teman Anindya?"
Marissa menghela napas panjang.
"Reynand adalah putra saya." ucapnya dengan tegas dan jelas. "Sekaligus atasan langsung putri Anda. Direktur Utama tempat Anindya bekerja."
Mata Ratna membelalak seketika. Tubuhnya yang lemah seakan kehilangan kekuatan.
"Atasan... Anindya?" suaranya bergetar pelan. "Pemimpin perusahaan tempat anak saya bekerja?"
"Benar." Marissa tidak menyembunyikan apa-apa lagi. "Dan bukan sekedar atasan. Reynand masih terikat pernikahan sah dengan wanita bernama Gisella. Keluarga kami telah menyatukan mereka sejak lama demi kepentingan bersama."
Ratna menelan ludah, dadanya terasa sesak mendadak. "Maksud Anda... anak saya menjalin hubungan dengan..."
"Ya," potong Marissa tegas, suaranya berat namun tenang. "Reynand belum bebas. Dan jika hubungan ini terus berlanjut, Anindya akan dianggap merusak rumah tangga orang. Rumah tangga putra dan menantu saya."
Ratna terdiam, air mata mulai menggenang di sudut matanya. "Saya... saya sama sekali tidak tahu, Nyonya. Anak saya tidak pernah menceritakan hal seperti ini kepada saya..."
"Itulah sebabnya saya beritahu," ucap Marissa. "Mungkin Anindya sendiri belum menyadari seberapa berat konsekuensinya. Maka saya mohon... bimbinglah putri Anda untuk menjauh, sebelum semuanya menjadi terlalu hancur."
Ratna menunduk, tangannya mencengkeram selimut erat.
"Reynand sedang bingung." lanjut Marissa. "Dia terbawa perasaan sesaat. Tapi jika Anindya yang pergi... dia akan sadar. Semuanya bisa kembali seperti sedia kala."
"Pikirkanlah permohonan saya itu, Bu Ratna," ucapnya penuh penekanan. "Demi kebaikan Anindya sendiri."
Tanpa menunggu tanggapan apa pun, Marissa berbalik dan keluar meninggalkan ruangan tersebut. Pintu tertutup pelan namun meninggalkan kesan berat yang menyesakkan seisi ruangan.
Ratna terdiam sendirian di atas tempat tidur. Tubuhnya terasa lemas seketika, seakan seluruh kekuatan yang ia miliki baru saja disedot pergi. Tatapannya kosong menatap pintu yang tertutup itu, napasnya tersendat, dan perlahan air mata mengalir membasahi pipinya yang pucat.
-
-
-
Di dalam taksi yang melaju tenang membelah jalanan kota, jendela sedikit terbuka membiarkan angin pagi menyapu masuk. Anindya menatap layar ponselnya, senyum tipis terukir di bibirnya saat membaca pesan yang baru saja masuk.
[Jangan lupa makan. Aku akan datang sore nanti, janji.]
Jemarinya mengusap layar pelan, seakan menyentuh kata-kata itu sendiri. Segala keresahan yang sempat menyelimuti hatinya perlahan mereda. Ia mengetik balasan pelan.
[Baik. Aku menunggumu.]
Pesan terkirim. Anindya menyandarkan punggungnya, menatap ke luar jendela dengan perasaan yang sedikit lebih ringan. Tak lama kemudian, kendaraan itu melambat dan berhenti tepat di halaman depan rumah sakit.
Ia turun, menarik napas panjang sebelum melangkah masuk. Baru saja melewati pintu utama, langkahnya terhenti. Di koridor depan, Dokter Rangga berjalan keluar dari ruang perawatan, melepas masker wajahnya, tampak baru saja selesai memeriksa pasien. Saat melihat Anindya, ia berhenti sejenak, lalu melangkah mendekat.
"Anindya," sapaannya ramah, namun matanya menyiratkan sesuatu yang lain. "Kamu datang."
"Dokter Rangga," jawab Anindya tersenyum. "Baru selesai bertugas?"
"Ya." Rangga tersenyum tipis, namun tak lama kemudian raut wajahnya berubah menjadi serius. Ia menatapnya lekat, lalu berkata pelan namun tegas.
"Anindya... ada hal yang ingin kusampaikan. Sebagai dokter Ibumu, sekaligus temanmu."
Anindya mengerutkan kening sedikit. "Ada apa, Dok?"
Rangga menghela napas panjang.
"Sebaiknya... kamu tidak terlalu dekat dengan Pak Reynand."
Wajah Anindya memucat perlahan. "Dokter... bagaimana Dokter bisa berpikir begitu?"
"Aku tidak perlu banyak tahu untuk melihatnya," jawab Rangga. "Dan aku tahu siapa dia. Dia adalah pria beristri, Anindya. Masih terikat pernikahan dengan wanita lain. Hubungan yang kamu jalani ini... tidak akan berakhir baik."
Anindya menunduk, tangannya meremas tali tas erat. "Sebenarnya... dia akan bercerai, Dok. Dia sudah memutuskan—"
"Keputusan itu belum menjadi kenyataan," potong Rangga. "Dan dampaknya padamu terlalu besar. Kamu bisa terluka, dicap buruk, dibenci banyak orang. Aku tidak ingin melihatmu hancur."
Ia melangkah sedikit lebih dekat.
"Maka aku sarankan kamu berhenti dari perusahaan itu. Keluar dari sana, jauh dari dia. Aku sudah menyiapkan sesuatu. Ada lowongan di tempat yang jauh lebih baik, lingkungan yang sehat, masa depan yang terjamin. Kamu tidak perlu bergantung pada tempat yang menyakitkan seperti itu."
Anindya terdiam, hatinya terasa terbelah. Ia tidak menjawab, hanya mengangguk pelan dengan tatapan yang kosong.
"Terima kasih atas perhatiannya, Dok," ucapnya lirih. "Aku... aku akan memikirkannya."
Rangga menatapnya, lalu mengangguk pelan.
"Pikirkanlah baik-baik. Demi kebaikanmu sendiri."
Mereka berpisah. Anindya melangkah gontai menuju ruang perawatan ibunya, pikirannya semakin kacau. Ia berharap kehadiran ibunya akan menenangkannya, namun saat pintu terbuka, Ratna berdiri di tepi tempat tidur, menunggunya. Matanya sembab, bengkak, dan tatapannya bukan kasih sayang seperti biasanya, melainkan kesedihan yang mendalam bercampur kekecewaan yang tak terlukiskan.
"Ibu..." panggil Anindya pelan, melangkah mendekat.
Belum sempat ia berkata apa-apa, Ratna mengangkat tangannya.
PLAAKK!
Suara tamparan itu menggema tajam di ruangan yang hening. Anindya terhuyung mundur, tangan kanannya spontan menutupi pipi kirinya yang seketika terasa panas menyengat. Matanya membelalak, tak percaya.
"Ibu..." suaranya tercekat.
Ratna berdiri gemetar, air mata kembali menetes di pipinya.
"Kau... kau menyembunyikan segalanya dariku..." suaranya bergetar penuh kepedihan. "Bagaimana bisa kamu melakukannya, Anindya? Bagaimana bisa kamu menjalin hubungan dengan pria beristri... dan itu atasanmu sendiri!"
-
-
-
Bersambung...