Kaisar Iyan: Kebangkitan Raja Iblis Abadi
Kaisar Iyan hanyalah seorang pemuda pemalas yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk tidur dan menghindari masalah.
Namun suatu hari, ia terbangun di dunia yang sama sekali berbeda.
Tanpa mengetahui bagaimana dirinya bisa sampai di sana, Iyan menemukan bahwa tubuhnya memiliki kemampuan yang tidak pernah dimiliki manusia biasa.
Ia dapat menciptakan clone dirinya sendiri.
Ia dapat memanggil pahlawan dan monster dari dunia lain.
Ia bahkan mampu membangkitkan mayat dan tulang menjadi pasukan undead yang tidak mengenal kematian.
Namun kemampuan paling mengerikan yang dimilikinya adalah sebuah kekuatan yang memungkinkan pasukannya bangkit kembali setiap kali terbunuh—selama mana miliknya masih tersisa.
Awalnya, Iyan hanya ingin hidup tenang.
Sayangnya, dunia baru ini tidak memberinya kesempatan.
Perang, kerajaan, bangsawan, monster, pahlawan, dan pengkhianatan perlahan menyeretnya ke dalam konflik yang jauh lebih besar.
Sampai akhir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BAGERAAA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RAJA TIKUS
Malam itu, aku segera memanggil Doroti.
“Doroti, kemarilah. Ikut aku.”
Doroti langsung berdiri dan menundukkan kepala.
“Baik, Tuan.”
Aku kemudian berjalan menuju gerbang depan bersama Doroti.
Di sana, lima prajurit summon dan beberapa prajurit lainnya sedang berjaga.
Aku memanggil komandan regu yang ditugaskan Serof untuk menjaga gerbang.
“Komandan.”
“Ya, Tuan?”
“Berapa jumlah pasukan yang saat ini berjaga di benteng kedua?”
Komandan regu menjawab,
“Saat ini ada sekitar 20 prajurit Kekaisaran, 15 petualang, dan 80 tentara bayaran. Jadi, total ada 115 orang yang berjaga di benteng.”
Aku mengangguk.
Berarti jika ditambah lima prajurit summon yang tetap berjaga di sini, total ada 120 pasukan.
Aku kemudian bertanya,
“Di mana para petualang? Aku tidak melihat mereka di gerbang depan.”
Komandan regu menjawab,
“Mereka berada di gerbang belakang, Tuan. Jenderal Serof yang memerintahkan para petualang untuk berjaga di sana.”
Aku terdiam sejenak.
Kenapa Serof menempatkan para petualang di gerbang belakang?
Namun, aku tidak terlalu mempermasalahkannya.
Aku kemudian berkata,
“Aku akan pergi menuju terowongan yang berada di dekat kaki bukit.”
Komandan regu langsung menundukkan kepala.
“Baik, Tuan.”
Sebelum meninggalkan benteng, aku merapalkan sebuah mantra.
Asap hitam mulai muncul di tanah.
Fuuush...
Tiba-tiba, beberapa tangan tulang muncul dari dalam tanah.
Para prajurit yang melihatnya secara tidak sengaja langsung membeku.
Aku kemudian membangkitkan sepuluh Skeleton baru untuk membantu menjaga benteng kedua.
Para prajurit saling memandang dengan wajah tegang.
“Apakah itu... sihir Necromancer?”
“Dia bisa memanggil Skeleton semudah itu?”
“Bukankah sihir seperti ini membutuhkan kemampuan yang sangat tinggi?”
“Bahkan Mage dengan Magic Circle tingkat tinggi belum tentu bisa melakukan hal seperti itu...”
Aku hanya menatap mereka dengan wajah datar.
Tidak ada waktu untuk memperhatikan reaksi mereka.
Aku kemudian memanggil Doroti.
“Doroti, ikut denganku.”
“Baik, Tuan.”
Aku berjalan keluar dari benteng kedua.
Sebelum pergi, aku sempat menoleh ke belakang.
Aku melihat para prajurit mulai berbicara dengan Skeleton-Skeleton yang baru saja kupanggil.
Anehnya, mereka terlihat cukup santai.
Aku tersenyum kecil.
Hahaha... dasar mereka. Mudah sekali akrab dengan Skeleton.
Aku kemudian kembali berjalan menuju hutan.
Menuju Terowongan
Beberapa menit kemudian, aku menemukan tumpukan mayat Goblin yang sangat banyak.
Aku langsung menyadari bahwa mayat-mayat tersebut kemungkinan merupakan sisa pertempuran yang dilakukan pasukan summon dan Skeleton sebelumnya.
Aku membuka sistem.
[Mayat Goblin terdeteksi.]
Aku mengaktifkan Ruang Dimensi dan menyimpan seluruh mayat Goblin tersebut.
Doroti hanya memperhatikanku dengan tenang.
Seolah-olah melihat seseorang menyimpan ratusan mayat ke dalam ruang dimensi adalah sesuatu yang biasa.
Setelah semuanya selesai, aku kembali melanjutkan perjalanan.
Aku dan Doroti berjalan santai menuju terowongan di kaki bukit.
Hingga akhirnya...
Tengah malam tiba.
Kami sampai di lokasi.
Di depan terowongan besar itu, lima prajurit summon, beberapa Skeleton, dan para pengintai sedang berjaga.
Aku menghampiri mereka.
“Apa ada sesuatu yang aneh selama kalian melakukan pengintaian?”
Salah satu pengintai langsung memberikan laporan.
“Selama pengintaian, tidak ada Goblin yang keluar dari terowongan ini, Tuan.”
Ia kemudian menunjuk ke arah tanah.
“Namun, kami menemukan jejak kaki Goblin dalam jumlah yang sangat banyak.”
Aku memperhatikan jejak tersebut.
Pengintai itu kemudian melanjutkan.
“Selain itu, kami juga menemukan beberapa jejak kaki berukuran besar.”
“Menurut kami, kemungkinan ada monster lain yang datang bersama para Goblin.”
Aku mengangguk.
Monster lain...?
Aku mulai berpikir.
Jika benar ada makhluk lain di dalam terowongan, aku membutuhkan seseorang yang mampu memahami struktur terowongan dan menjelajahi tempat sempit seperti ini.
Aku kemudian teringat sesuatu.
Hari ini aku masih memiliki kesempatan untuk melakukan satu summon lagi.
Kalau begitu, sekalian saja.
Aku mulai membayangkan seorang Pahlawan yang memiliki pengetahuan luas mengenai terowongan, mampu menjelajahi tempat sempit, serta memiliki kemampuan untuk menemukan sesuatu yang tersembunyi di bawah tanah.
Aku kemudian melakukan ritual pemanggilan.
Asap hitam pekat mulai keluar dari tubuhku.
Kabut hitam memenuhi area di sekitarku.
Sebuah gerbang hitam besar perlahan muncul di hadapanku.
Fuuuuush...
Para pengintai yang berada di sekitar langsung terkejut.
Mereka saling berbisik.
“Sihir macam apa yang digunakan Tuan Muda?”
“Apakah beliau seorang Archmage?”
“Gerbang sebesar itu...”
Mereka hanya bisa memperhatikan dengan kagum.
Namun, sesuatu yang muncul dari gerbang tersebut justru membuat mereka semakin bingung.
Dari dalam asap hitam...
Muncul sebuah kaki kecil.
Kemudian tubuh kecil berbulu.
Aku mengerutkan kening.
Apa...?
Sosok tersebut akhirnya keluar sepenuhnya dari gerbang.
Seekor tikus besar berdiri di hadapanku.
Tingginya bahkan hampir mencapai pinggang manusia dewasa.
Ia mengenakan jas dan celana berwarna cokelat, lengkap dengan kemeja rapi.
Di wajahnya terdapat kacamata yang hanya memiliki satu lensa.
Di tangannya ia membawa sebuah tongkat kecil.
Para pengintai langsung terdiam.
Seekor tikus...?
Bahkan tikus itu bisa berdiri seperti manusia.
Gerbang hitam kemudian perlahan menghilang.
Tikus tersebut berjalan menghampiriku.
Kemudian ia berlutut dan memberikan hormat.
“Selamat malam, Yang Mulia.”
“Perkenalkan, nama saya Cikipi.”
“Saya adalah Raja Tikus.”
Aku terdiam.
Aku menatapnya beberapa detik.
Raja Tikus...?
Aku masih belum terbiasa dengan makhluk-makhluk aneh yang terus muncul dari sistemku.
Tiba-tiba hologram sistem muncul.
[Informasi Pahlawan]
[Raja Tikus merupakan salah satu spesies legendaris yang sangat langka.]
[Spesies ini memiliki kemampuan untuk mengendalikan ribuan hingga jutaan tikus melalui satu komando.]
[Ras Raja Tikus telah dinyatakan punah selama ratusan tahun.]
Aku mengangguk perlahan.
Jadi dia bukan tikus biasa.
Dia adalah ras legendaris.
Namun, sebelum aku sempat berbicara lebih jauh...
Doroti tiba-tiba maju.
Tatapannya berubah tajam.
“Beraninya kau menyebut dirimu Raja di hadapan Raja Iblis Agung.”
Fuuush!
Aura mengerikan langsung menyelimuti area tersebut.
Hawa dingin merambat ke seluruh tubuhku.
Aku bahkan ikut merinding.
Astaga... Doroti ternyata bisa seseram ini.
Aku menoleh ke samping.
Para pengintai terlihat menggigil ketakutan.
Bahkan Cikipi yang tadi terlihat tenang langsung membeku.
Doroti kemudian menatap Cikipi dengan tajam.
“Kau harus tahu siapa yang berada di hadapanmu.”
Cikipi langsung panik.
“Maaf! Maaf! Saya tidak bermaksud lancang!”
Doroti tetap mengejarnya.
Cikipi berusaha mundur sambil mengangkat kedua tangannya.
“Tolong! Saya minta maaf! Saya tidak akan menyebut diri saya Raja lagi di hadapan Yang Mulia!”
Para prajurit summon dan Skeleton justru hanya berdiri santai.
Seolah-olah kejadian seperti ini sudah menjadi hal biasa bagi mereka.
Bagi mereka, hanya ada satu Raja yang pantas dihormati.
Iyan.
Sementara itu, para pengintai benar-benar kebingungan.
Mereka saling memandang dengan wajah pucat.
“Tikus bisa berbicara...”
“Dia menyebut dirinya Raja Tikus...”
“Dan dia memanggil Tuan Muda sebagai Raja Iblis...”
“Selain itu, Tuan Muda bisa memanggil makhluk seperti itu...”
Semakin mereka memikirkan semuanya, semakin mereka ketakutan.
Akhirnya, beberapa pengintai berlutut di hadapanku.
“Hormat kepada Tuan Iyan!”
“Kami bersumpah akan setia kepada Anda!”
“Kami rela mempertaruhkan nyawa kami untuk melayani Anda!”
Aku hanya terdiam.
Aku sama sekali tidak menyangka mereka akan bereaksi seperti itu.
Aku mengelus keningku sendiri.
Astaga... orang-orang aneh lagi.
Aku menatap mereka satu per satu.
Sepertinya mereka benar-benar menganggapku Raja Iblis sungguhan.
Aku menghela napas panjang.
Padahal aku cuma ingin masuk ke terowongan dan mencari tahu apa yang ada di dalamnya.
Di belakangku, Cikipi masih berusaha menjauh dari Doroti.
Dan malam itu...
Aku semakin yakin bahwa perjalanan menuju terowongan ini tidak akan sesederhana yang kubayangkan.