"Mas... apakah kamu tidak mencintaiku, walaupun hanya sedikit?" tanya Indah dengan suara bergetar.
Namun jawaban yang ia terima menghancurkan hatinya.
"Lupakan saja, Indah. Aku tidak mencintaimu. Hatiku hanya untuk dia."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Marisa putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 2- pertemuan pertama
(Dua Tahun Lalu)
Aku adalah seorang dokter spesialis bedah. Meski usiaku masih tergolong muda di antara rekan sejawat, aku selalu memegang teguh tanggung jawab. Mengabdi pada kewajiban pelayanan dan berusaha sekuat tenaga membantu menyembuhkan pasien di rumah sakit adalah panggilan jiwaku. Satu-satunya tugasku adalah menolong dan merawat mereka hingga pulih sepenuhnya. Hingga suatu hari, takdir mempertemukanku dengan seseorang saat aku sedang menjenguk keluarga salah satu pasienku.
"Ibu pasien... hasil operasinya berjalan lancar. Tinggal tinggal tahap pemulihan pasca-operasi saja," ucapku dengan lembut namun tegas.
"Baik, terima kasih banyak, Dokter."
Di sanalah, untuk pertama kalinya mataku bertemu dengan tatapannya. Sosok pria yang tampak begitu tulus perhatiannya terhadap ibunya. Terlihat jelas betapa paniknya ia sebelumnya saat ibunya berada di meja operasi.
Kini, setelah menghabiskan waktu lima jam berdiri di dalam ruang operasi, tubuhku terasa kaku, pegal, dan sangat lelah. Hari ini benar-benar menjadi hari yang sibuk; jumlah pasien yang masuk luar biasa banyaknya.
Aku sedang beristirahat sejenak di ruang kerjaku, ketika tiba-tiba seseorang melangkah mendekat sambil membawakan segelas susu cokelat. Itu Daffa—sahabatku sejak masa SMA hingga kuliah kedokteran. Ia selalu begitu baik dan penuh perhatian padaku.
"Ayo, Indah, minum yang manis-manis dulu nih," ucapnya sambil menyodorkan kotak susu cokelat kesukaanku.
"Tahu saja kamu, Daf. Aku lagi butuh asupan gula banget buat naikin suasana hati yang capek ini," jawabku sambil tersenyum lega.
Ia adalah Daffa Aditama. Kami satu jurusan, dan kini bekerja di rumah sakit yang sama. Kebetulan, rumah sakit ini milik keluarganya, dan berkat rekomendasinya pula aku bisa berkarier di sini.
"Kelihatannya wajahmu lelah sekali... Pasien lagi ramai ya hari ini?" tanyanya prihatin.
"Iya nih, Daf. Rumah sakit lagi penuh banget. Hampir setiap hari bolak-balik masuk ruang operasi rasanya bikin encok," keluhku jujur.
"Yaudah, istirahat dulu saja. Jangan terlalu dipaksakan tubuhmu," saran Daffa dengan nada perhatian.
"Iya, aku lagi kehabisan tenaga banget hari ini."
"Memang begitulah keadaan sekarang. Cuaca lagi tidak menentu, banyak virus berseliweran, jadi orang gampang sakit dan masuk rumah sakit."
"Benar sekali, kondisinya sedang tidak menentu."
"Kamu juga jaga kesehatan ya, jangan sampai kamu ikut sakit," tambahnya.
"Aku ini manusia biasa juga, Daf. Bisa lho kalau aku ikut tumbang," candaku sambil terkekeh pelan.
"Masak sih? Dokter yang memeriksa dokter... kedengaran lucu ya," ujar Daffa sambil tertawa renyah.
"Ehh, ogah banget kalau diperiksa sama kamu. Pasti ada saja niat jahatmu," sahutku sambil menyeringai meledek.
"Emang tampangku ini kelihatan punya niat yang tidak baik ya?" tanyanya pura-pura tersinggung namun tetap ramah.
"Ada sih... sedikit saja," jawabku sambil tertawa kecil.
Tiba-tiba, senior kami melintas di depan pintu. "Sini kau," panggilnya singkat dan tegas.
Jelas sekali ia tidak senang melihat kami bercanda di ruang kerja. Tatapannya tajam dan penuh ketidaksukaan—terbaca gamblang dari raut wajahnya.
Ia adalah Dokter Intan, dokter senior yang sangat disegani di rumah sakit ini. Sebagai dokter yang masih baru, aku selalu berusaha menghormatinya, meski terkadang kata-katanya terasa menyakitkan dan menusuk. Namun, aku sadar itu hal biasa dalam dunia kerja; di mana selalu ada yang menonjol unggul, pasti ada pula yang memandang dengan iri atau tidak suka.
"Hei kamu, ngapain masih bercanda di sini?" tegurnya tajam. "Ruangan 5 sampai 7 butuh pertolongan medis segera. Aku tidak butuh orang yang tidak kompeten yang cuma bisa bersantai. Semuanya begini kelakuan ya kalau tidak diawasi."
"Maaf, Kak Intan," jawabku tenang namun sopan. "Tadi aku baru saja benar-benar istirahat sejenak, dan rencananya setelah ini aku langsung ke sana."
"Ya sudah, jangan bersenang-senang di sini terus," ucapnya ketus lalu beranjak pergi.
"Baik, Kak," jawabku singkat.
Dokter Intan memang dikenal tegas dan galak, sering kali suka membanding-bandingkan kemampuan antar dokter. Aku hanya diam menahan diri, tidak membalas. Bukan karena aku takut, melainkan karena aku tidak ingin menciptakan masalah atau pertengkaran saat sedang bertugas.
Daffa menatap punggung Dokter Intan yang menjauh, lalu berbisik pada Indah.
"Galak banget sih... Padahal masih muda, tapi serem banget tatapannya."
Indah segera menyenggol lengannya pelan. "Ssttt... Jangan bicara keras-keras, nanti kedengaran lho."
Daffa hanya mengangkat bahu santai.
"Ya sudah, aku mau kembali memeriksa pasien lagi ya," pamit Indah.
"Oke, siap," jawab Daffa singkat.
Aku berjalan menyusuri lorong rumah sakit, tak jauh dari ruangan tempat ibunya baru saja kujalani operasi. Di sana, terlihat pria itu sedang asyik menelepon.
Saat melintas, tanpa sengaja bahu kami bersenggolan.
"Maaf, aku tidak sengaja..." ucapnya terburu-buru.
Berkas laporan hasil tes yang kugenggam berantakan berjatuhan karena benturan itu. Aku segera berusaha merapikannya kembali.
"Tidak apa-apa, Mas," sahutku tenang.
Pria itu ikut berjongkok, membantu membereskan lembaran-lembaran yang berserakan di hadapanku.
Saat kami sama-sama berdiri, aku tak bisa menahan diri untuk sekilas menatapnya lebih lekat. Dia ternyata terlihat sangat tampan—sangat gagah—dan senyumnya itu... sungguh meninggalkan kesan mendalam.
Setelah berkas-berkas rapi kembali, aku pun melangkah pergi, meneruskan tugas dan pekerjaanku yang masih menanti
Pria itu masih terlihat berbicara lewat telepon, suaranya terdengar lembut namun penuh penekanan.
"Halo, sayang...?"
"Iya, sebentar. Ada apa? Aku sekarang sedang di rumah sakit, Sayang. Ibu kambuh lagi penyakit jantungnya dan baru saja dioperasi," ucapnya menjelaskan.
Aku mendengarnya berkata lagi, nadanya sedikit berat seolah sedang menahan tekanan. "Aku mohon, jangan bahas soal pernikahan dulu ya, Sayang. Kamu bersabarlah sebentar... Kita pasti akan tetap menikah. Mas akan berusaha mengurus segalanya."
Namun, suara dari seberang sana terdengar cemas, hingga ia kembali menjawab dengan sabar, "Tapi kan Ibu Mas belum menyetujui hubungan kita..."
"Nanti Mas akan membujuknya. Yang penting kamu sabar dulu. Setelah Ibu pulih, kita bahas lagi soal pernikahan ini," janjinya tegas.
"Baiklah kalau begitu. Tapi janji ya?"
"Iya, Mas berjanji," jawabnya meyakinkan.
Pria itu tampak tertekan setelah menutup teleponnya. Ia merasa bingung dan terjepit di tengah desakan kekasihnya yang ingin segera dinikahi, serta realitas yang tak berjalan mulus.
Hubungan mereka memang sudah terjalin cukup lama, namun satu hal yang menjadi penghalang besar: ibunya—yang baru saja dioperasi—tidak menyukai calon menantunya itu. Bukan karena hal lain, melainkan karena sifat dan watak wanita itu sendiri yang membuat sang ibu merasa tak cocok dan sulit untuk disayangi.
Pria itu berdiri terpaku di tengah lorong, kebingungan melanda hatinya. Ia terjepit di antara dua pilihan terberat dalam hidupnya: harus memilih ibunya sendiri, atau kekasih yang telah setia menemaninya selama lima tahun lamanya.
"Ya Tuhan... Inilah pilihan paling sulit yang pernah kuhadapi," batinnya merintih pilu. "Aku harus memilih antara Ibu dan kekasihku. Keduanya sama-sama orang yang sangat kucintai..."
Rasa bersalah menyergapnya saat teringat kondisi ibunya yang kini terbaring lemah akibat sakit jantung—penyakit yang kambuh justru karena perdebatan sengit mereka mengenai hal ini.
"Semuanya bermula dari perselisihan ini... Bahkan Ibu sampai harus masuk rumah sakit dan menjalani operasi karena menahan beban emosi yang berat," pikirnya dengan dada sesak. Ia merasa tak berdaya, terjebak dalam situasi yang tak mungkin dimenangkan salah satu pihak tanpa menyakiti yang lain. 🥀❤️🩹🏥
Pria itu meremas rambutnya dengan frustrasi, batinnya penuh tanda tanya yang tak kunjung temukan jawabannya.
"Kenapa Ibu begitu membencinya? Padahal dia wanita yang tulus kucintai..." batinnya mengerang perih. "Kenapa rasanya begitu sulit mendapatkan restu itu? Apa lagi yang harus kulakukan?"
Desakan untuk segera menikah dari satu sisi, serta penolakan tegas dari sisi lainnya, berputar kacau di kepalanya. Tekanan itu terasa semakin berat, membuat kepalanya terasa berdenyut sakit menahan beban kebingungan yang tiada akhir
Dari balik kaca jendela lorong, ia menatap lemas ke dalam ruang rawat intensif itu. Melihat ibunya yang masih terbaring lemah, wajahnya pucat dan belum pulih sepenuhnya dari guncangan operasi, membuat hatinya teriris perih.
Sebaiknya aku menunggu sampai Ibu benar-benar membaik dulu. Biarkan ia pulih tenang, baru aku akan menyelesaikan segala masalah ini dengan kepala dingin, tekadnya dalam hati.
Akhirnya, pria itu melangkah pergi dari sana, berjalan menuju area parkir rumah sakit untuk menenangkan diri sejenak sebelum kembali menghadapi kenyataan yang menanti. 🚗💨🥀