[SEASON 3]
"Aku sudah menandai lehernya. Dia milikku!" — Jonah (Vampir Dingin)
"Jangan membual! Dia adalah Mate sejatiku!" — Josiah (Vampir Playboy)
"Mustahil kami bertiga memiliki satu Mate yang sama!" — Jonas (Demon Sulung)
"Lepaskan dia, atau klanmu akan kuhancurkan." — Cedric (Bangsawan Elf)
Elisa mengira dia hanya gadis panti miskin dengan kekuatan aneh memanipulasi ingatan. Namun dalam semalam, dunianya runtuh saat ia dikepung oleh tiga pangeran kegelapan Salvatore yang tampan namun mematikan. Mereka semua mengklaim Elisa sebagai belahan jiwa (Blood Mate) yang tertulis di takdir kuno.
Saat berusaha kabur, Elisa justru tak sengaja membuka gerbang menuju Alfheim—dunia Elf Hutan—di rumah Cedric, bos restorannya yang misterius.
Siapa sebenarnya Elisa? Mengapa para makhluk abadi ini begitu terobsesi pada darahnya? Di tengah ingatan masa lalunya yang perlahan terhapus, permainan berburu di antara mereka baru saja d
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35. Perhatian Cedric
"Bagaimana bisa kau bertindak seteledor itu melupakan sepatu kerjamu sendiri? Dan bukankah sejak awal aku sudah menegaskan kepadamu bahwa hari ini kau tidak usah memikirkan urusan pekerjaan di tempat ini?! Istirahat saja menenangkan diri di panti barumu. Kenapa kau selalu saja memaksakan batas kapasitas fisik manusiamu? Aku tahu dengan pasti bahwa kondisimu saat ini sedang tidak baik-baik saja! Cara berjalan pincangmu itu sudah menjadi bukti absolut bahwa kau tidak akan pernah sanggup berdiri tegap berjam-jam di depan wastafel dapur dengan kondisi kaki terluka seperti itu."
Tanpa memedulikan sisa kalimat protes dari belahan bibir Elisa, Cedric memapah tubuh mungil gadis itu dengan seulas pergerakan yang teramat lembut namun dipenuhi ketegasan mutlak, menuntun langkahnya menuju ke arah sebuah kursi kosong yang terletak di pojok sudut area restoran.
Pria pirang itu memilih abai total, membiarkan tatapan mata heran dan bisik-bisik gunjingan dari beberapa pengunjung restoran yang menatap takjub ke arah aksi sang pemilik restoran mewah yang merangkul mesra seorang gadis pelayan bergaun navy indah namun berjalan pincang.
Bagi batin seorang Cedric Valerius, tidak peduli apa pun status pelapisan sosial fana di antara dirinya sebagai pemilik modal dengan Elisa yang hanya seorang pelayan cuci piring; melihat sosok gadis yang selama tiga tahun ini diam-diam ia kagumi dan cintai terluka fisik adalah sebuah siksaan supranatural tersendiri bagi inti jiwanya.
Elisa yang kini sudah berhasil didudukkan di atas kursi beludru hanya bisa menggaruk tengkuk kepalanya yang tidak gatal sambil menyunggingkan seulas senyuman kikuk yang canggung.
"Iya, mohon maaf, Tuan Cedric. Lain kali aku berjanji akan bersikap jauh lebih hati-hati lagi dalam melangkah. Lagi pula, posisi keberadaanku di dalam tempat ini hanyalah seorang pegawai rendahan biasa. Sangat tidak sepantasnya jika Anda bersikap terlalu berlebihan dan memberikan perhatian protektif seperti ini di depan publik."
Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, sebenarnya ada sebaris hawa kehangatan magis yang mendesir indah saat menerima perlakuan protektif dari Cedric.
Namun, Elisa buru-buru menampar keras logika manusianya sendiri. Ia sadar betul bahwa dirinya hanyalah seorang gadis panti asuhan miskin yang tidak memiliki apa-apa di dunia ini, sangat tidak pantas bersanding atau membiarkan pegawai restoran lainnya menaruh rasa iri dan dengki atas kebaikan berlebih sang bos restoran.
"Aku tidak mau mendengar alasan atau untaian bantahan apa pun lagi dari mulutmu, Elisa," potong Cedric mutlak tanpa bisa diganggu gugat, sepasang manik mata hijau zamrudnya menatap tajam mengunci kornea mata cokelat Elisa.
"Ayo bangkit, aku sendiri yang akan mengantarmu pulang kembali ke kompleks panti asuhan barumu menggunakan mobilku sekarang juga."
"Tidak, Tuan Cedric! Aku memohon dengan sangat, biarkan aku tetap tinggal bekerja di dapur saja hari ini. Sungguh, aku bersumpah sepasang kakiku masih bisa diajak berkompromi untuk berjalan," tolak Elisa keras kepala, jemari manusianya bergerak menahan pergelangan tangan Cedric yang hendak membantunya bangkit berdiri dari kursi.
"Lagi pula, seluruh beban tanggung jawab tugas harian saya di tempat ini hanyalah mencuci tumpukan piring kotor di area belakang. Yang mengalami luka lecet saat ini hanyalah sepasang kakiku, sementara kedua belah tanganku masih berada dalam kondisi yang sangat sehat walafiat. Aku sudah menghabiskan energi berjalan kaki datang ke tempat ini dari jarak yang jauh, Tuan. Tolonglah... aku hanya memiliki keinginan sederhana untuk bisa bekerja mencari uang seperti hari-hari biasanya."
Elisa menyatukan kedua belah telapak tangannya di depan dada, memasang posisi memohon. Sepasang mata cokelat gelapnya mendadak meredup, memancarkan sebaris binar tatapan memohon yang begitu tulus, layaknya wujud seekor anak kucing malang yang sedang meminta perlindungan penuh dari pemiliknya.
Melihat binar ketulusan tersebut, seluruh dinding pertahanan emosi di dalam dada Cedric Valerius seketika runtuh total tanpa sisa. Ia mengembuskan sebaris napas panjang yang sarat akan rasa pasrah yang mendalam, menyadari secara absolut bahwa ia tidak akan pernah mungkin bisa menang melawan keteguhan ego keras kepala milik gadis di hadapannya saat ini.
Cedric tahu betul bagaimana watak kepribadian Elisa; di balik postur tubuh mungil manusianya, gadis itu menyimpan harga diri yang teramat tinggi dan dedikasi luar biasa terhadap tanggung jawab hidup.
Bahkan di hari-hari kelam saat tubuh Elisa terserang demam tinggi di masa lalu, ia tercatat tidak pernah sekalipun nekat bolos dari sif kerjanya. Kegigihan watak itulah yang lambat laun menumbuhkan rasa kagum yang mendalam dan benih-benih cinta sejati di dalam lubuk hati sang ksatria Elf Hutan.
"Baiklah, aku mengalah padamu kali ini," putus Cedric akhirnya.
"Tetapi aku memberikan satu syarat mutlak; jika di tengah-tengah pekerjaan nanti sepasang kakimu mulai merasakan rasa perih yang menyengat, jangan pernah berani memaksakan dirimu kembali, oke? Segera beristirahat duduk di kursi pojok dapur. Dan nanti, tepat saat jam operasional restoran selesai dan waktu pulang kerja tiba, aku sendiri yang memiliki hak absolut untuk mengantarmu pulang kembali menuju ke panti asuhan barumu. Khusus untuk urusan kepulangan malam nanti, kau tidak akan pernah boleh lagi melayangkan penolakan. Aku... aku hanya merasa teramat takut jika fisik manusiamu kembali tidak sengaja berpapasan dengan ketiga pemuda kembar Salvatore itu di sepanjang jalanan distrik sepi kota."
Elisa sempat tertegun diam selama beberapa detik mendengar untaian peringatan serius perihal eksistensi si kembar tiga Salvatore keluar dari mulut bosnya, namun ia segera menganggukkan kepalanya pelan demi menenangkan gejolak kecemasan di wajah tampan Cedric.
"Ayo, kuantarkan langkah kakimu menuju ke area dapur belakang."
Cedric kembali memapah tubuh mungil Elisa dengan segenap rasa hati-hati yang masif, menuntun langkahnya melewati sekat pintu menuju ke arah area dapur belakang restoran.
Begitu tubuhnya tiba di depan meja posisinya, Elisa langsung mengabaikan total rasa perih yang menyengat di sepanjang luka lecet perbannya.
Ia menenggelamkan seluruh fokus jiwanya ke dalam tumpukan pekerjaan harian. Jemari tangannya bergerak memutar tuas keran, membiarkan aliran air dingin membasahi kulit tangannya saat ia mulai menggosok tumpukan piring keramik kotor di dalam wastafel stainless steel, lalu mengelap permukaannya hingga mengkilap bersih tanpa menyisakan sepotong noda satu pun.
"Ada apa yang terjadi dengan kondisi sepasang kakimu itu, El?" sebuah suara bariton yang teramat familier di telinganya mendadak bergaung memecah konsentrasi fokus Elisa.
Jake, seorang pemuda pelayan restoran yang saat itu sedang mengenakan setel seragam apron hitam yang sama persis dengannya, tampak sedang berdiri menatap lekat ke arah lilitan perban putih di kaki Elisa dengan sepasang dahi yang berkerut dalam penuh keheranan.
Pemuda itu kebetulan merupakan teman satu kelas Elisa di sekolah manusia kota, sehingga hubungan komunikasi di antara keduanya selama ini terjalin dengan cukup akrab dan santai.
"Kakiku... ini hanya luka tergores biasa akibat tidak sengaja tersangkut ranting tajam saat aku berjalan kaki melintasi area jalanan tadi, Jake,"