Indonesia
NovelToon NovelToon
Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:202.4k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

"Gak usah pura-pura amnesia. Dan ingat, meski kamu bunuh diri berkali-kali, aku bakal tetep ceraiin kamu."

"Hei, Pak Tentara! Saya benar-benar gak kenal Anda!"

Vivian, desainer ternama, mengalami kecelakaan mobil dan jatuh ke sungai. Namun, saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh Levia, istri gendut Kapten Arvandra Jayasena.

Semua orang tahu, Levia terobsesi pada Vandra. Demi menjadi istrinya, ia menjebak sang kapten hingga terpaksa menikahinya. Akibatnya, pernikahan mereka hanya dipenuhi kebencian, hingga Levia nekat mengakhiri hidupnya.

Kini, Vivian yang menempati tubuh Levia sama sekali tidak berniat mengejar cinta Vandra. Ia hanya ingin mengubah takdir pemilik tubuh dengan cara menurunkan berat badan dan mengejar kembali mimpinya sebagai desainer.

Namun, ketika Levia berhenti mengejar, perlahan Vandra malah enggan melepaskannya.

"Via... kita mulai dari awal."

"Mulai dari awal? Maaf, Kapten. Saya bukan aplikasi yang bisa di-reset ke pengaturan pabrik."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35. Satu Telepon Setelah Tujuh Bulan.

"Dulu kamu merasa Levia terlalu bergantung padamu. Sekarang dia sudah tidak seperti itu. Dia bahkan bisa membangun sesuatu dengan tangannya sendiri."

Vandra menatap kosong ke depan.

"Dan Ibu gak bermaksud merendahkan siapa pun, tapi kalau kalian benar-benar bercerai nanti..." Ratih berhenti sejenak. "Kamu harus sadar bahwa Levia mungkin akan menjadi perempuan yang banyak diinginkan pria lain."

Vandra langsung mengernyit.

"Pria mapan, pengusaha, atau siapa pun yang melihat kualitasnya sekarang," lanjut Ratih. "Dan belum tentu kamu bisa mendapatkan perempuan yang lebih baik daripada Levia setelah kalian berpisah."

Kalimat itu membuat Vandra terdiam cukup lama.

Suara Ratih kembali terdengar. "Ibu tahu dulu kamu sangat ingin bebas dari pernikahan ini. Dan Ibu juga tahu alasanmu."

Suaranya melunak sedikit. "Tapi sekarang keadaan sudah berubah. Jadi sebelum kamu benar-benar mengambil keputusan, coba lihat Levia yang sekarang. Jangan terus membandingkannya dengan perempuan yang dulu."

Vandra menelan ludah. Bayangan Levia muncul dalam pikirannya. Bukan Levia yang menangis dan memohon agar dirinya tidak pergi.

Melainkan Levia yang tersenyum tenang, sibuk dengan desainnya, berolahraga, membantu ayahnya, bahkan bisa menjalani hidup selama tujuh bulan tanpa sekali pun menghubunginya.

Anehnya, justru perempuan seperti itulah yang belakangan terus memenuhi pikirannya.

Ratih kembali berkata, "Ibu gak mau suatu hari nanti kamu datang ke rumah ini membawa kabar kalau kamu menyesal."

Vandra tak mengatakan apapun. Atau lebih tepatnya tak tahu harus berkata apa.

"Karena kalau saat itu Levia sudah menjadi mantan istrimu dan dia sudah menemukan kebahagiaannya sendiri..." Ratih menjeda sejenak. "Ibu gak yakin dia masih mau nerima kamu kembali."

Vandra mengangkat wajah. Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara.

Akhirnya ia bertanya pelan, "Menurut Ibu... Levia benar-benar bisa ngelupain aku?"

Ratih tersenyum tipis. "Kalau perempuan yang sekarang sudah sebesar itu kemauannya untuk berubah, Ibu rasa bisa."

Vandra menundukkan kepala.

Suara Ratih terdengar lebih rendah. "Van, Ibu cuma ingin kamu berpikir baik-baik."

"Iya, Bu."

"Kalau kamu memang masih ingin bercerai, lakukan dengan keputusan yang matang. Tapi kalau sebenarnya ada sesuatu yang mulai berubah dalam hatimu..." Ratih menarik napas. "...jangan gengsi mengakuinya."

Vandra tidak menjawab.

"Dan satu lagi," ucap Ratih. "Hubungi istrimu. Dia mungkin gak nungguin teleponmu lagi. Tapi kamu tetap bisa menghubunginya."

"Untuk apa?"

"Ya buat nanya kabar dia lah, Van." Ratih mulai terdengar kesal. "Levia 'kan istrimu, tanggung jawabmu."

"Aku tahu," jawab Vandra pelan.

Mendengar suara pelan putranya, kekesalan Ratih sedikit mereda. "Kadang-kadang, hubungan yang sudah hampir berakhir justru masih menyisakan kesempatan kalau salah satu pihak mau berhenti berlari."

Vandra memejamkan mata. "Iya, Bu."

Panggilan berakhir.

Namun kali ini Vandra tidak langsung meletakkan ponselnya. Matanya kembali tertuju pada satu nama di daftar kontak.

Levia.

Jarinya bergerak mendekati tombol panggil. Berhenti, kemudian bergerak lagi.

Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, Vandra benar-benar mempertimbangkan untuk menelepon istrinya bukan karena kewajiban, melainkan karena ia ingin mendengar suara wanita itu.

 

Di Indonesia...

Ponsel Levia yang tergeletak di atas meja tiba-tiba berdering. Ia yang sedang memeriksa beberapa desain langsung meraih ponselnya.

Namun begitu melihat nama penelepon di layar, gerakannya berhenti.

Kaptenku Sayang 💖

Levia membeku. Beberapa detik ia hanya menatap layar. "Serius?"

Sudut bibirnya mulai bergerak. Vivian benar-benar tidak tahu harus tertawa atau merasa malu melihat nama kontak yang ditinggalkan pemilik tubuh ini.

"Suamiku Sayang?" Ia menutup mulut dengan tangan. "Pakai emoji hati pula?"

Kalau bukan karena ponsel itu benar-benar miliknya sekarang, ia mungkin sudah mengira seseorang sedang mengerjainya.

Panggilan terus berdering. Levia akhirnya menarik napas panjang lalu mengangkatnya.

"Halo?"

Di seberang sana, Vandra yang sejak tadi memandangi layar ponselnya langsung duduk lebih tegak. Entah kenapa, setelah sambungan tersambung, ia justru kehilangan kalimat yang sudah disiapkannya.

"Via." Suara Vandra berat, terdengar jelas.

Levia mengernyit. "Iya?"

Vandra terdiam. Levia menunggu. Beberapa detik berlalu.

"..."

"Kapten?"

"Hm."

Levia semakin bingung. "Ada apa?"

Vandra mengusap tengkuknya. Ia bahkan tidak tahu kenapa dirinya mendadak merasa canggung. Padahal selama ini berbicara dengan Levia bukan sesuatu yang sulit.

Dulu perempuan itu bahkan bisa meneleponnya berkali-kali dalam sehari tanpa memedulikan apakah ia sedang sibuk atau tidak. Dan ia selalu menerima panggilan dengan kalimat, "Aku sibuk." dua kata dan tak lama kemudian langsung ia tutup. Sekarang, justru Vandra bingung harus bicara apa untuk membuka percakapan.

"Aku mengganggu?" tanya Vandra akhirnya.

Levia hampir tertawa. Dalam hati bergumam, "Dia menelepon, terus dia sendiri yang bertanya apakah mengganggu?"

"Tidak," jawab Levia akhirnya.

"Sedang sibuk?" tanya Vandra lagi.

"Sedikit," sahut Levia.

"Oh." Hanya dua huruf yang keluar dari mulut Vandra.

Ia kembali bingung. Biasanya setelah mengatakan bahwa dirinya sedang sibuk, Levia akan langsung bertanya kapan ia bisa menelepon lagi, kapan pulang, atau mengeluh karena Vandra tidak memberi cukup perhatian. Sekarang... tidak ada apa-apa.

Vandra akhirnya bertanya, "Kamu sedang apa?"

Levia melirik tumpukan desain di mejanya. "Sedang bekerja."

"Bekerja?" Vandra mengerutkan dahinya. Ia tahu, jika di Indonesia, sekarang mungkin sekitar pukul setengah tujuh malam.

"Iya," jawab Levia sambil merapikan tumpukan desainnya.

Vandra berpikir sebentar. "Perusahaanmu?"

"Iya." lagi dan lagi jawaban Levia singkat.

Vandra terdiam lagi, tak tahu harus bicara apa lagi.

Levia bisa membayangkan ekspresi pria itu hanya dari nada suaranya. "Ada apa?" tanyanya.

"Gak ada," jawab Vandra.

"Kalau gak ada, kenapa menelepon?"

Pertanyaan sederhana itu membuat Vandra terdiam cukup lama. Ia sendiri tidak punya jawaban yang benar-benar jelas.

Tadi ia memang dimarahi ibunya karena sejak di Lebanon tak sekalipun menghubungi istrinya. Tetapi sebenarnya ia sendiri ingin mendengar suara wanita itu. Entah mengapa ia juga tak tahu. Sekarang setelah tersambung, ia malah tidak tahu harus membicarakan apa.

"Aku cuma mau menanyakan kabarmu," kata Vandra akhirnya.

Levia langsung terdiam. Dalam hati ia benar-benar ingin tertawa. "Cuma mau menanyakan kabarku?"

Dari ingatan Levia yang tersisa, Vandra adalah pria yang hampir tidak pernah melakukan hal seperti ini. Bahkan ketika Levia dulu berkali-kali menghubunginya, pria itu sering tidak mengangkat telepon. Sekarang setelah tujuh bulan tidak mendengar kabarnya, justru dia yang menelepon.

"Aku baik," jawab Levia ringan.

"Benar?" Vandra terdengar seperti ingin memastikan.

Levia tersenyum kecil. "Benar. Kamu gak perlu khawatir."

Vandra terdiam sejenak sebelum akhirnya kembali bertanya, "Kamu sehat?"

"Sehat." Levia menyandarkan punggungnya pada kursi.

Ada jeda beberapa detik sebelum Vandra kembali membuka suara. "Berat badanmu?"

Alis Levia langsung terangkat. "Kenapa?"

Vandra baru menyadari pertanyaannya terdengar aneh. "Maksudku, bagaimana perkembangan kesehatanmu?"

Levia menggigit bibir, menahan tawa. Dari sekian banyak hal yang bisa ditanyakan setelah tujuh bulan tidak berbicara, pria ini malah menanyakan berat badannya.

"Kapten menelepon cuma mau menanyakan berat badan saya?"

"Tidak." Jawaban Vandra terdengar cepat.

"Lalu?" Levia benar-benar ingin tertawa.

 

...✨“Ketika seseorang mulai mencari alasan untuk mendengar suara yang dulu selalu ia abaikan, mungkin hatinya sedang menyadari sesuatu yang belum mampu diucapkan oleh bibirnya.”✨...

.

To be continued

1
kymlove...
cuma up. 1 part aja nih Thor?!!!!
Mundri Astuti
ga ngotak si klo punya obsesi .... kan papamu jadi terseret ...percuma punya gelar dokter ...
abimasta
ayo para hakim siapa yang akan kalian bela seorang jendralkah atau si kapten
No Nong
thorr dekdegan tau gak di bab ini, langsung bab selanjutnya yok thorr, semangat 💪😍
lin sya
baru muncul thor up lgi
Anitha
Bagus Van kamu punya bukti yang lebih kuat lagi di saat pertemuan dengan Pramono,bukti sudah jelas apa masih mau mencari celah untuk membela si Risa....

Pak Hakim pasti adilkaan jelas Levia dan Vandra itu korban mereka...
berharap si Risa dan Bapaknya juga ikut di Penjara termasuk si Ninis
Ma Em
Semoga Risa dan Ninis tdk bisa bebas dari hukum yg menjerat nya , walaupun bapak nya Risa seorang jenderal tapi yg bersalah tetap hrs dihukum .
Ass Yfa
ternyata Vandra merekam semua pembicaraannya dgn sang jendral
abimasta
hohoho sang jendral akan tau tidak semua bisa ditekan dengan jabatan
anonim
Ceritanya bagus dan menarik untuk diikut sampai tuntas membacanya
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Septi Wijaya
vandra berani membawa bukti krusial... ga espek bakaln rekam pembicaraan dengan Pramono... smart👍
Wega Luna
itu senjata yg pas buat keluarga pelakor ,nama jabatan di grepek sampai halus👍
Puji Hastuti
duh gimana kelanjutannya ya,gak sabar liat Risa dinyatakan bersalah
lin sya
smga dgn adanya bukti, ninis, risa dan promono dpt karma, klo dpt karma hukum sprti dimasukin penjara bsa bikin ninis dan risa tmbah sadar gk ya, sedangkan pramono mngkin ya, jabatannya terancam didpn publik, menyalahgunakan kekuasaan utk putri tersayang pdhl sbntar lgi end
Mundri Astuti
cakep vandra...biar kicep tu jendral ma anaknya...katanya dokter...tapi bisa berbuat kriminal cuma gara" suka sama laki org
anonim
Gultom senang putrinya sekarang mau mengenal dan bahkan membantu pekerjaannya.

Levia mengutarakan keinginannya menjadi desainer.

Gultom yang semula bingung dengan keinginan putrinya, begitu melihat beberapa desain yang dibuat Levia - rasa kagumnya tak bisa disembunyikan.

Gultom memuji desain yang dibuat Levia.

Ayahnya menawarin Levia buat perusahaan fasion kecil dulu.

Levia tentu terkejut mendengar itu.
anonim
Levia bisa bantu Ayahnya menghitung pemasukan dan pengeluaran. Barang masuk dan keluar juga.

Ayahnya heran Levia mau bantuin pekerjaannya.

Dulu Levia tidak pernah tertarik. Dia bilang juga heran. Sekarang ingin tahu.

Levia yang sekarang jelas pinter, Levia yang dulu pinternya mengejar orang yang tidak peduli padanya 😄.

Ayahnya semakin heran tapi juga kagum pada Levia. Semua dikoreksi sama Levia.

Sampai Ayahnya bertanya Levia belajar dari mana?
Kadek Sri
lanjut
Anitha
Vandra modus tidur minta peluk-pelukan biar Levia fesh besok padahal itu akal-akalannya Vandra biar bisa meluk Via🤣
Kadek Sri
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!