Indonesia
NovelToon NovelToon
KSATRIA BAJA : Bangkitnya Bayu Anggara

KSATRIA BAJA : Bangkitnya Bayu Anggara

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sci-Fi / Sistem
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Bercerita tentang mahasiswa IT yang membuat AI secara mandiri di dalam sebuah Android kentangnya, dan merubah hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24. Percikan Cemburu di Gedung Laboratorium

Suasana laboratorium komputasi di lantai tiga Fakultas Ilmu Komputer sore itu relatif lengang. Suara dengung kipas pendingin dari puluhan unit komputer berpadu harmonis dengan gemericik hujan gerimis di luar jendela. Di sudut ruangan dekat jendela kaca, Bayu Anggara duduk bersama Dimas, membuka dua dokumen riset pada layar laptopnya. Bayu mengenakan kemeja katun abu-abu gelap yang rapi dan kacamata titanium barunya, memancarkan pembawaan yang semakin tenang dan dewasa.

Pintu laboratorium terbuka pelan. Melisa melangkah masuk sambil membawa laptop dan satu bundel berkas analisis sistem. Matanya langsung memindai seluruh ruangan sebelum akhirnya berbinar cerah begitu menemukan keberadaan Bayu.

"Bayu! Dimas!" sapa Melisa dengan suara jernih seraya melangkah cepat mendekati meja mereka.

"Eh, Melisa. Sini duduk, Mel," sahut Dimas ramah seraya menggeser kursi kosong di sebelah meja Bayu. "Tumben ke lab utama sore-sore begini?"

Melisa menarik kursi tersebut dan duduk di samping Bayu, meletakkan laptop serta modul praktikumnya di atas meja kayu. "Aku sudah tiga jam pusing memikirkan tugas algoritma penjadwalan komputasi cloud dari Pak Bambang, Dim. Latensi kodenya selalu naik saat mengolah transaksi bersamaan."

Bayu menoleh, membetulkan letak kacamatanya dengan senyum ramah. "Bagian mana yang membuatmu bingung, Melisa? Coba tunjukkan struktur kodenya."

"Ini, Bayu," urai Melisa mendetail, menunjuk baris-baris perintah pada layar laptopnya. "Aku memakai algoritma penguncian memori konvensional, tapi hasilnya malah memicu bottleneck saat beban simulasi mencapai sepuluh ribu pengguna."

Bayu mengamati baris kode tersebut sejenak, lalu jemarinya bergerak lincah menunjuk satu fungsi di layar. "Masalah utamanya ada di baris empat puluh dua, Melisa. Penguncian memori ini bersifat sinkron. Jika kamu mengubahnya menjadi antrean asinkron berbasis non-blocking I/O, waktu responsnya akan turun dari seratus lima puluh milidetik menjadi kurang dari delapan milidetik."

Melisa menatap layar laptopnya dengan mata membelalak takjub, lalu menatap Bayu dengan rasa kagum yang meluap. "Astaga, Bayu! Kamu cuma butuh waktu sepuluh detik untuk menemukan masalah yang membuatku pusing seharian! Logikamu luar biasa presisi!"

Dimas terkekeh bangga seraya menyilangkan tangan. "Bener kan apa kata gue tadi di kantin, Mel? Sahabat gue ini otaknya sudah setara superkomputer."

Melisa tertawa hangat, matanya tidak lepas memandangi Bayu. "Kamu benar-benar jenius, Bayu. Cara kamu menjelaskan masalah yang rumit jadi terasa sangat sederhana dan gampang dipahami."

"Aku hanya membagikan logika dasar yang sering dipakai dalam arsitektur sistem modern, Melisa," sahut Bayu rendah hati dengan nada suara yang sangat tenang.

Namun, kehangatan diskusi di sudut ruangan itu mendadak terganggu oleh suara dentuman keras tas kulit yang dihempaskan ke atas meja sebelah. Nadeo berdiri di sana bersama Rian, menatap ke arah Bayu dan Melisa dengan raut wajah yang membiru menahan amarah. Wajah Nadeo tampak sangat kesal melihat betapa dekatnya posisi duduk Melisa dengan Bayu, ditambah tawa renyah Melisa yang baru saja terdengar.

"Wah, wah... ada yang lagi sibuk akrab-akraban nih," celetuk Nadeo dengan nada sindiran yang sangat tajam, melangkah dua tindak mendekati meja mereka. "Melisa, lu yakin nanya tugas algoritma rumit begitu sama orang seperti Bayu?"

Melisa menoleh, raut wajahnya seketika berubah dingin dan formal. "Maksudmu apa, Nadeo? Bayu menjelaskan konsep arsitektur sistem ini jauh lebih jelas dan efisien daripada penjelasan dosen di kelas."

Nadeo terkekeh sinis, melipat kedua tangannya di dada sambil menatap Bayu dari atas ke bawah dengan pandangan merendahkan. "Halah, paling dia cuma sok tahu! Atau jangan-jangan Bayu cuma nyalin kode dari forum internet luar negeri demi cari perhatian lu, Mel. Jangan mau dipbohongi sama mahasiswa miskin yang mendadak bergaya ini."

Dimas langsung berdiri dari kursinya, matanya berkilat marah. "Jaga mulut lu ya, Deo! Bayu menganalisis dan menulis logika kode itu murni dari pemikirannya sendiri di depan mata gue!"

"Lu nggak usah ikut campur, Dimas!" bentak Nadeo keras.

Ponsel di saku Bayu bergetar sangat halus. Suara sintesis Jarvis mengalun jernih melalui earphone mikro di telinga kiri Bayu.

"Analisis indikator emosional subjek Nadeo," lapor Jarvis mendetail. "Tingkat kecemburuan interpersonal terdeteksi pada angka sembilan puluh tiga persen, dipicu oleh ketakutan akan dominasi intelektual dan perhatian Melisa terhadap Anda."

Bayu tetap duduk dengan tenang, membetulkan letak kacamata titaniumnya tanpa menunjukkan sedikit pun kecemasan atau emosi. Ia memegang lengan Dimas pelan untuk memintanya duduk kembali.

"Nadeo," panggil Bayu dengan suara yang sangat stabil, jernih, dan berwibawa. "Jika kamu merasa algoritma penjadwalan milikmu lebih unggul dan efisien untuk tugas Pak Bambang ini, kenapa kita tidak menguji kodenya secara langsung di server simulasi laboratorium sekarang juga?"

Nadeo tertegun sejenak, terkejut oleh ketenangan dan keberanian tantangan terbuka dari Bayu. "Lu... lu nantangin gue, Bay?!"

"Bukan menantang, ini diskusi akademis terbuka," sahut Bayu santai namun menohok. "Kita masukkan matriks data satu juta baris ke dalam sistem milikmu dan sistem rancanganku. Jika kodenya mampu berjalan di bawah sepuluh milidetik tanpa mengalami kecacatan memori, maka metodemu yang benar."

Nadeo membisu. Pelipisnya mulai meneteskan keringat dingin karena ia tahu betul kodenya sendiri masih sering mengalami tenggat waktu timeout saat diuji pada skenario besar.

"Gue... gue nggak perlu membuktikan apa-apa sama mahasiswa rendahan seperti lu!" tampik Nadeo gagap, mencoba menutupi rasa gengsinya.

Melisa berdiri dari kursinya, menatap Nadeo dengan tatapan tegas dan penuh kekecewaan. "Sudahlah, Nadeo! Kamu tidak perlu membuat keributan di laboratorium ini. Bayu membantu saya secara profesional, sopan, dan sangat cerdas. Tolong jangan ganggu diskusi kami lagi."

Nadeo menatap Melisa dengan mata terbelalak, hatinya serasa tertusuk melihat wanita yang selama ini ia kejar justru membela Bayu secara terang-terangan di depan banyak orang.

"Mel! Lu lebih milih belajar sama dia dibanding gue yang punya akses server industri dari perusahaan bokap gue?!" seru Nadeo penuh nada cemburu yang tak terkontrol.

"Aku memilih siapa pun yang menghargai ilmu pengetahuan dengan cara yang rendah hati, jujur, dan cerdas, Nadeo," tegas Melisa tanpa ragu sedikit pun. "Dan Bayu memiliki seluruh kualitas itu."

Nadeo mengepalkan tangannya erat-erat, wajahnya memerah padam karena malu dan cemburu yang membakar dada. Tanpa mampu berkata-kata lagi, ia menyambar tas kulitnya dari atas meja.

"Awas lu ya, Bayu! Jangan pikir lu sudah hebat di kampus ini!" ancam Nadeo kasar sebelum berbalik dan menyapu langkah pergi meninggalkan laboratorium bersama Rian yang mengekor di belakangnya.

Pintu laboratorium tertutup kembali. Suasana kelas perlahan kembali tenang.

Melisa menghembuskan napas panjang, lalu menatap Bayu dengan raut wajah yang penuh rasa sesal. "Maafkan sikap Nadeo ya, Bayu. Dia benar-benar tidak sopan dan kekanak-kanakan."

Bayu tersenyum hangat, menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak perlu minta maaf, Melisa. Sikap seseorang adalah cerminan dari dirinya sendiri. Yang terpenting sekarang adalah kodenya sudah berfungsi dengan baik."

Dimas tertawa lepas sambil menepuk meja. "Sumpah, Bay! Lu keren banget tadi! Cuma dengan dua kalimat tenang, lu bikin si Nadeo kuncup dan kabur karena cemburu!"

Melisa kembali duduk di kursinya, menatap Bayu dengan binar mata kekaguman yang semakin mendalam. "Kamu benar-benar luar biasa tenang, Bayu. Terima kasih banyak ya sudah membantuku hari ini."

"Sama-sama, Melisa. Mari kita selesaikan pengujian kodenya sampai tuntas," sahut Bayu lembut.

Di balik riak cemburu dan ancaman kosong dari Nadeo, Bayu Anggara tetap berdiri di pijakan ketenangan mutlak. Pengakuan dan kekaguman tulus dari Melisa mengalir semakin kuat, menegaskan bahwa kebenaran, kecerdasan, dan kerendahan hati akan selalu menang tanpa perlu bersuara keras.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!