"Ternyata selama ini aku salah mengira. Perempuan yang kutemui di pondok baru itu bukanlah perempuan yang mengajakku ta'aruf. Aku terlalu cepat menyimpulkan hanya karena namanya sama. Ah, betapa cerobohnya aku... Seandainya sejak awal aku tidak terburu-buru membuat penilaian, mungkin kebingungan ini takkan pernah terjadi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ri7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Halaqah Malam
Halaqah malam kali ini sengaja aku gunakan untuk evaluasi. Namun, bukan hanya sekadar mengevaluasi hafalan mereka. Kesempatan ini ingin aku gunakan untuk lebih mengenal kemampuan anak-anak yang selama ini mungkin belum terlalu aku perhatikan.
Ya... selama halaqah tadi, aku baru benar-benar memperhatikan satu per satu kemampuan mereka.
Aku masuk ke dalam halaqah dan membukanya dengan shalawat. Setelah suasana cukup tenang, aku memandang mereka satu per satu.
“Ada yang mau setoran?” tanyaku.
Salah satu anak mengangkat tangannya.
“Silakan.”
Aku pun menyimak hafalannya sampai selesai. Setelah dia menutup setoran, aku kembali memandang anak-anak yang lain.
“Ada lagi?”
Mereka saling berpandangan. Beberapa tampak ragu untuk mengangkat tangan.
Aku tersenyum kecil.
“Baiklah. Mulai malam ini, setiap malam akan ada evaluasi dari saya.”
Aku berhenti sejenak, memastikan perhatian mereka tertuju kepadaku.
“Tapi untuk malam ini, Ustadzah mau cerita.”
Beberapa anak langsung terlihat penasaran.
Aku menarik napas pelan.
“Ada seorang pemuda yang sedang berkunjung untuk silaturahmi ke rumah kerabatnya. Ternyata, adzan Ashar sudah berkumandang. Maka, dia mampir ke masjid untuk menunaikan shalat.”
Aku mulai bercerita. Perlahan, wajah para santriwati terlihat semakin antusias. Beberapa bahkan mulai mendekatkan tubuhnya, seolah tidak ingin melewatkan satu kata pun.
“Selesai shalat, datanglah seorang kakek. Usianya sekitar delapan puluh tahun. Kakek itu kemudian meminta tolong kepada pemuda tadi untuk membacakan satu ayat dari Juz 8.”
Aku berhenti sejenak.
“Dia meminta ayat itu dibacakan berkali-kali. Sampai akhirnya, kakek tadi bisa melafalkannya sendiri.”
Aku menarik napas pelan sebelum melanjutkan.
“Pemuda tadi penasaran. Kenapa kakek itu hanya meminta dibacakan satu ayat? Apa yang sebenarnya ingin dia lakukan?”
Aku memandang wajah-wajah di hadapanku.
“Jawaban kakek tadi justru membuat pemuda itu terharu.”
Aku menurunkan suara.
“Kakek itu berkata bahwa dia ingin menghafal Al-Qur'an sebelum meninggal. Sayangnya, dia tidak bisa membaca Al-Qur'an. Jadi, setiap selesai shalat, dia selalu meminta tolong kepada seseorang untuk membacakan ayat-ayat Al-Qur'an untuknya.”
Aku berhenti sebentar.
“Alhamdulillah, dari lima waktu shalat, selalu ada seseorang yang bersedia membantunya. Kecuali setelah shalat Ashar.”
Wajah beberapa santriwati mulai berubah. Ada yang tampak tertegun.
“Kakek itu mengatakan hal tersebut dengan wajah agak sedih. Kemudian dia bertanya kepada pemuda tadi, ‘Di mana rumahmu, Nak?’”
“Pemuda itu menjawab bahwa rumahnya tidak terlalu jauh. Kalau naik motor, mungkin sekitar satu jam perjalanan.”
Aku tersenyum tipis.
“Lalu kakek itu bertanya, ‘Maukah kamu membacakan Al-Qur'an untukku setiap selesai shalat Ashar?’”
Aku mengangguk perlahan.
“Pemuda itu bersedia.”
Suasana halaqah semakin hening.
“Hingga akhirnya, selama lima tahun, pemuda tadi selalu datang ke masjid tersebut. Setiap selesai shalat Ashar, dia membacakan Al-Qur'an untuk kakek itu. Hari demi hari. Bulan demi bulan. Tahun demi tahun.”
Aku sengaja memperlambat ceritaku.
“Sampai suatu hari, pemuda itu tidak datang ke masjid tersebut selama dua hari.”
Beberapa santriwati mulai saling memandang.
“Hari ketiga, dia kembali datang ke masjid. Dia berniat menjelaskan mengapa selama dua hari tidak hadir.”
Aku menarik napas.
“Tapi ternyata, di dekat masjid sedang ada orang yang meninggal.”
Aku menatap mereka satu per satu.
“Pemuda itu kemudian bertanya kepada warga, ‘Siapa yang meninggal?’”
Aku berhenti cukup lama.
“Ternyata... kakek itu.”
Halaqah mendadak sunyi.
“Dan yang lebih mengharukan, kakek itu meninggal dengan membawa hafalan Al-Qur'an sebanyak dua puluh juz.”
Aku tersenyum kecil.
“Memang, beliau belum menyelesaikan seluruh Al-Qur'an. Tapi coba bayangkan... seorang kakek berusia sekitar delapan puluh tahun, yang bahkan tidak bisa membaca Al-Qur'an, mampu menghafal dua puluh juz sebelum meninggal.”
Aku membiarkan kalimat itu mengendap sejenak.
“Menurut kalian, apa yang bisa kita ambil sebagai pelajaran dari cerita tadi?”
Aku bertanya.
Tidak ada yang langsung menjawab.
Semua santriwati terdiam. Mungkin mereka sedang mencerna cerita yang baru saja mereka dengar.
Aku tersenyum.
“Baiklah. Satu hal yang ingin Ustadzah sampaikan kepada kalian malam ini... seberapapun usia kalian, tidak pernah ada kata terlambat untuk memulai menghafal Al-Qur'an.”
Aku menatap mereka dengan sungguh-sungguh.
“Jangan menunggu sampai punya banyak waktu. Jangan menunggu sampai merasa sudah pintar membaca. Jangan menunggu sampai merasa mampu.”
“Mulailah dari sekarang.”
Aku tersenyum.
“Sedikit demi sedikit. Satu ayat, satu halaman, satu surat. Yang penting istiqamah.”
Aku kemudian mengangkat suara sedikit.
“Kalian siap?”
“Na'am, Ustadzah!” jawab mereka serempak.
Aku tersenyum lebar.
Entah kenapa, malam itu hatiku terasa hangat.
Melihat semangat mereka kembali menyala, rasanya lelah setelah seharian beraktivitas menjadi terbayar.
Semoga semangat itu bukan hanya bertahan malam ini.
“Ustadzah ingin kalian tahu, menghafal Al-Qur'an itu bukan hanya tentang seberapa banyak ayat yang bisa kita hafal. Yang lebih penting adalah bagaimana kita menjaganya, membacanya dengan benar, dan terus berusaha meskipun kadang terasa sulit.”
Suasana halaqah menjadi lebih hening.
“Dan mulai malam ini, Ustadzah ingin lebih mengenal kemampuan kalian satu per satu. Jadi kalau nanti ada yang hafalannya belum lancar, jangan takut. Kalau ada yang merasa tertinggal, jangan malu. Kita perbaiki bersama-sama.”
Aku tersenyum kepada mereka.
“Karena di halaqah ini, kita bukan sedang berlomba untuk terlihat paling hebat. Kita sedang belajar menjadi orang yang dekat dengan Al-Qur'an.”
Beberapa anak mengangguk pelan.
Aku melanjutkan dengan suara yang lebih lembut.
“Jadi, jangan pernah merasa malu kalau hafalan kalian sedikit. Yang perlu kalian takutkan adalah ketika kalian berhenti berusaha.”
Malam itu, untuk pertama kalinya aku merasa bahwa halaqah bukan sekadar tempat mereka menyetorkan hafalan.
Ini adalah tempat untuk menemani mereka tumbuh.
Semoga dari halaqah sederhana ini, lahir para pecinta Al-Qur'an yang tidak mudah menyerah.
jangan lupa masukkan untuk karya ku.
#Tanah_Luka_dan_Persahabatan
😄🙏🙏🙏