Indonesia
NovelToon NovelToon
Damian: Jerat Sang Iblis

Damian: Jerat Sang Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Iblis / Romansa Fantasi / Hantu
Popularitas:180
Nilai: 5
Nama Author: cinnamon girl

Jatuh cinta pada Hantu adalah sebuah kutukan. Kutukan takdir yang akan terus berputar pada keluarganya.

Ketika logika manusianya tertutupi oleh manipulasi gaib yang Damian lakukan. Membuat Cindy yang awalnya murni jatuh hati pada sikap dan ketampanan pria itu menjadi buta pada segala hal keanehan yang terjadi pada tubuhnya serta pada Damian. Namun setelah melahirkan anak pria itu perlahan ia sadar bahwa ia terlanjur jatuh pada jeratnya. Demi cinta ia mau jiwanya terjerat mati bersamanya selamanya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cinnamon girl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 6

Malam harinya Cindy melihat motor Mahen menjauh. Setelah benar-benar menghilang ia berbalik dan di kagetkan dengan kehadiran Damian yang duduk di kursi teras.

“Damian! Kok gak bilang-bilang sih kalau dateng? Kaget tau…” gerutu Cindy sambil menghentak-hentakkan kakinya ke lantai sambil perlahan mendekat ke arah Damian.

Sseeettt….

Tiba-tiba saat berjalan ke arah Damian kaki gadis itu tersandung kakinya sendiri lalu sebelum benar-benar terjatuh tangan besar Damian berhasil menangkap pinggang Cindy hingga gadis itu duduk di pangkuan Damian membelakangi pria itu.

“Aaakhh!“ greb…

Cindy terdiam, jantungnya mendadak bertalu-talu. Antara takut jatuh dan terkejut karena Damian berhasil menangkapnya tapi posisi dia sekarang sangat dekat dengan Damian.

“Da….Damian!“ cicit Cindy dengan suara yang nyaris tertelan tenggorokan.

Jantungnya bertalu-talu begitu hebat, hingga ia yakin Damian bisa mendengarnya melalui punggungnya yang menempel rapat di dada bidang pria itu. Namun, keheningan yang menyusul setelahnya justru membuat Cindy semakin merinding. Dari jarak sedekat ini, ia sama sekali tidak mendengar detak jantung dari dada Damian. Begitu kosong bahkan deru napas yang seharusnya menerpa ceruk lehernya pun tidak ada. Yang ada hanyalah rasa dingin yang luar biasa pekat, seolah-olah ia sedang bersandar pada sebongkah es berbentuk manusia.

Kedua tangan besar Damian masih melingkar kokoh di pinggang Cindy. Jemarinya yang panjang dan sedingin salju terasa menembus kain dress biru muda yang dikenakannya, mengirimkan sensasi menggelitik sekaligus membekukan hingga ke tulang belakang.

“Hati-hati, Cindy,” bisik Damian tepat di samping telinganya. Suara berat dan serak itu mengalun begitu halus, seperti desiran angin malam yang membawa hawa mistis. “Jika saya tidak ada di sini, tubuhmu yang ringkih ini pasti sudah terluka karena membentur lantai.”

Cindy menelan ludah dengan susah payah. Ia berusaha menggerakkan tubuhnya untuk berdiri, namun rengkuhan Damian di pinggangnya justru semakin mengencang, menahannya untuk tetap berada di posisinya.

“D-Damian… lepaskan dulu. Malu kalau dilihat orang lewat,” bisik Cindy, wajahnya memerah padam antara salah tingkah dan perasaan aneh yang mulai menggerogoti logikanya.

Damian terkekeh rendah. Suara tawa itu tidak terdengar hangat, melainkan bergema dingin seperti suara dari dalam sumur tua. “Siapa yang akan melihat kita? Jalanan di depan sudah sepi, dan… sahabatmu yang bising itu sudah pulang, bukan?”

Mendengar Damian menyebut Mahen, Cindy teringat sesuatu. “Ah, iya. Mahen baru saja pulang setelah menyelesaikan semua editan video. Kamu… kamu sudah dari tadi berdiri di sini menungguku?”

“Saya selalu mengawasimu, Cindy. Sejak matahari terbenam,” jawab Damian jujur, sebuah kejujuran yang terdengar terlalu obsesif di telinga Cindy. Damian perlahan melonggarkan pelukannya, membiarkan Cindy berdiri dengan kaki yang sedikit lemas.

Begitu berhasil menapakkan kakinya di lantai teras, Cindy segera berbalik menghadap Damian, merapatkan selimut wolnya yang hampir merosot. Di bawah temaram lampu teras yang kekuningan, wajah Damian terlihat luar biasa tampan, namun juga tampak semakin pucat bahkan hampir seperti porselen tanpa darah. Mata birunya yang sedalam samudra menatap Cindy tanpa berkedip.

“Kamu ini… kebiasaan deh, muncul tiba-tiba seperti hantu saja,” gerutu Cindy, berusaha mencairkan suasana yang mendadak terasa mencekam. Ia duduk di kursi rotan kosong di sebelah Damian, menyilangkan kakinya untuk menyembunyikan getaran kecil di lututnya.

Damian tersenyum tipis, tatapannya beralih ke jalanan depan rumah yang gelap gulita. “Hantu? Apakah menurutmu hantu sewangi ini, Cindy?”

Cindy tertegun. Detik itu juga, angin malam berembus kencang, membawa wangi bunga kenanga yang sangat pekat, begitu kuat hingga memenuhi rongga hidungnya. Bau itu persis seperti yang Mahen keluhkan siang tadi.

“Damian, aroma ini…” Cindy menatap sekeliling halaman rumahnya yang gelap. “Kamu mencium bau bunga kenanga tidak? Wanginya kuat sekali malam ini. Padahal aku tidak menanam pohon kenanga di halaman depan.”

“Itu wangi dari halaman belakang rumah saya, Cindy,” jawab Damian tenang, beralih menatap tangan Cindy yang saling bertautan di atas pangkuannya. “Di sana ada beberapa tanaman liar yang tumbuh di dekat pagar pembatas. Baunya memang sering terbawa angin jika malam mulai larut. Apakah kamu terganggu?”

“N-nggak juga, sih. Cuma… agak mistis saja rasanya,” sahut Cindy sambil tertawa canggung. Ia melirik ke arah rumah Damian di sebelah kiri. Rumah kolonial yang megah itu kini tampak gelap gulita, tidak ada satu pun lampu yang menyala di dalamnya, padahal para pekerja bangunan sudah pulang sejak sore. “Ngomong-ngomong, rumahmu kok gelap sekali? Kamu belum pasang lampu di dalam?”

“Saya lebih menyukai kegelapan, Cindy. Cahaya yang terlalu terang terkadang membuat mata saya sakit,” jawab Damian pendek. Ia kemudian memajukan tubuhnya, menopang dagunya dengan satu tangan sambil menatap langsung ke manik mata rubah milik Cindy. “Daripada membahas rumah saya, bagaimana dengan sarapanmu tadi pagi? Apakah menyenangkan… bersama sahabatmu itu?”

Ada nada selidik dan ketidaksukaan yang kental dalam pertanyaan Damian. Cindy bisa merasakan aura posesif pria itu kembali menguar.

“Menyenangkan kok. Sup ayamnya habis,” jawab Cindy sambil tersenyum kecil, sengaja ingin melihat reaksi Damian. “Mahen itu kalau makan lahap banget, mirip denganku. Sayang sekali tadi pagi kamu tidak mau bergabung. Padahal perkedel dan sup ayam buatanku enak tahu!”

Rahang Damian tampak mengeras sesaat di bawah bayangan temaram lampu. “Saya sudah katakan, saya tidak suka kebisingan. Dan pria itu… dia terlalu banyak bicara. Manusia yang terlalu banyak bicara biasanya menyembunyikan ketakutan mereka.”

Cindy mengernyitkan dahi, merasa kalimat Damian agak berlebihan. “Mahen memang ramai, Damian. Tapi dia orang baik. Dia bahkan mengkhawatirkanku yang tinggal sendirian di sini. Oh ya, dia juga bilang… aura pohon beringin di belakang rumahmu itu agak beda. Katanya bikin merinding.”

Damian terdiam. Matanya perlahan menggelap, kehilangan binar birunya selama beberapa detik sebelum kembali normal. Ia menegakkan tubuhnya, menatap ke arah halaman belakang di mana kegelapan pekat seolah siap menelan apa saja. Di balik tembok pembatas rawa, ia bisa merasakan makhluk-makhluk gaib merayap, tertahan oleh pasak mistis milik Ki Renggo.

“Pohon beringin hanya sebuah pohon, Cindy. Dia hanya menyimpan apa yang dititipkan padanya,” ucap Damian dengan suara yang mendadak berubah menjadi sangat dalam dan berwibawa, membuat bulu kuduk Cindy kembali meremang. Pria itu kemudian bangkit berdiri, tubuh tingginya menjulang, menghalangi cahaya lampu teras dari wajah Cindy. “Malam sudah terlalu larut dan angin Muson timur malam ini sangat beracun untuk tubuh manusiamu. Masuklah ke dalam, kunci pintumu rapat-rapat.”

Cindy ikut berdiri, merasa ada keanehan yang semakin menumpuk pada diri tetangganya ini. “Kamu sendiri… tidak pulang ke rumahmu?”

Damian berjalan mundur selangkah menuju kegelapan halaman samping, menyatu dengan bayang-bayang pohon tanpa menimbulkan suara langkah kaki sama sekali.

“Saya akan menjagamu dari sini, Cindy. Tidurlah dengan nyenyak,” bisik suara Damian, yang entah bagaimana terdengar seperti menggema langsung di dalam kepala Cindy, bersamaan dengan embusan angin malam yang menyebarkan wangi kenanga paling pekat yang pernah Cindy rasakan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!