Pernikahan yang didasari cinta belum tentu selamanya akan abadi. Akan ada badai yang akan menghampiri, apakah sang nahkoda bisa mengatasinya atau tidak tergantung kesiapan diri.
Begitu juga dengan rumah tangga Ima, kebahagian yang ia nikmati hancur lebur saat suaminya punya Wanita lain dan lebih menyakitkan mertuanya ikut andil atas pengkhianatan putranya.
Ima yang sakit hati bertekad dalam hati akan membalas semua pengkhianatan suami dan mertuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ima susanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Semu berkumpul di ruang tengah, ada papa dan mama Aldi disana. Ima memperhatikan kedua pasangan hina didepanya dengan tatapan jijik.
Papa Aldi menatap sinis Aldi dan Tina. Aldi tengah mengobati lebam di wajah Tina dan Tina dengan suara manja mengeram kesakitan.
"Pelan - pelan napa, mas." protes Tina sambil meringis menahan sakit. Pukulan Ima nampak lemah tapi ternyata lumayan menyakitkan.
"Tahan bentar, yang." jawab Aldi membuat Ima makin muak berada di antara mereka. Ima memperhatikan bagaimana sikap Aldi yang sangat peduli pada selingkuhnya.
"Pa, ma. Liat sendiri tih kelakuan mas Aldi." Ima membuka suara setelah sekian lama terdiam.
"Iya, mama udah tau." jawab mama Aldi santai.
"Apa? Jadi hanya aku yang tidak tau. Tega kalian semunya telah membohongi aku." kembali air mata Ima tumpah karna rasa perih yang ia rasakan terllau sakit.
"Mereka sudah menikah, jadi ga dosa dong melakukan itu." tambah mama Aldi santai.
"Apa menikah? Sejak kapan? Kok aku ga tau." tanya Ima beruntun dengan suara bergeta.
"Dua bulan yang lalu." jawab mama lagi. Hanya mereka berdua yang saling melempar pertanyaan demi pertanyaan.
Mama Aldi sedari awal memang tak menyukai Ima. Ia terpaksa memberi restu karna desakan suami dan putranya.
Hati istri yang mana yang tak hancur saat tau jika ai telah di bohongi oleh suami dan keluarganya. Pengabdiannya selama tiga tahun belakangan ini hanya sia - sia.
Aldi berpindah mendekati Ima tapi Ima bergeser menjauh, baginya haram di sentuh oleh Aldi yang sudah kotor dan ternoda.
"Ima, mas bisa jelaskan."
"Jelaskan apa? Tega kamu, mas." bentak Ima.
"Maafin mas, Ima. Mas memang salah, tolong jangan kaya gini."
"Apa? Maaf? Ga segampang itu mas. Apa kamu pikir aku tidak punya perasaan dan hati. Kamu itu lelaki yang aku harapkan jadi sandaran aku tapi kenyataannya kamu orang yang malah menghancurkan hati ini." isak Ima terdengar pilu. Beberapa kali Aldi mencoba mendekat, Ima terus menghindar.
"Mas, melakukan ini terpaksa Ima. Mama mau seorang cucu tapi kamu tidak bisa berikan. Makanya aku menikahi Tina" Aldi mencoba memberi penjelasan meski ia sadar tidak akan bisa di maafkan oleh istrinya.
"Gimana mau hamil, kerjanya tiap hari ngurusin ayahnya yang peyakitan itu." Celetuk mama pedes.
"Ooh jadi alasan kalian membohongi aku cuma gara - gara ga punya anak aja. Hebat. Aku ngerti sekarang ternyata kalian cuma menyalahkan satu pihak saja, bagus. Jadi gini cara kalian untuk menghakimi aku." ujar Ima sambil menghapus sisa air matanya. Ia tak boleh lemah di depan para pengkhianat.
"Sudahlah, Ima. Untung suamimu tidak menceraikan kamu. Lagian Tina juga ga masalah jadi yang kedua." mama Aldi membelai lembut kepala menantu kesayangnya.
"Tentu saja ia rela, kalau mas Aldi kere mana mau dia. Dasar perempuan matre." sindir Ima.
"Dasar mandul." balas Tina tak terima di bilang kere.
"Cukup, Ima. Kita harus menyelesaikan ini dengan kepala dingin. " kata - kata yang Aldi lontarkan membuat Ima tertawa kencang.
"Udah belum ributnya, dari awal udah papa bilangkan. Jadi ginikan kejadianya. Mending kamu pilih aja salah satu diantara mereka." ujar papa enteng.
"Betul itu Aldi, ceraikan saja wanita mandul itu." sahut mama setuju.
"Iya, mas." celetuk Tina tak sabaran karna ia yakin Aldi pasti akan memilih diirnya.
"Buruan Aldi, lelet amat kamu." bentak sang mam.
"Aku....." ucapan Aldi tertahan saat mendegar dering ponsel Ima. Ima merogoh kantong celananya dan langsung menjawab panggilan itu saat melihat nama yang tertera di layar.
"Ya, ada apa Rat?" tanya Ima saat menjawab panggilan Ratna.
"Cepat ke rumah sakit sekarang, papamu kritis." Bagai di sambar petir di siang bolong saat mendapat kabar tentang kondisi ayahnya. Ima berlari keluar rumah tanpa peduli panggilan Aldi. Pikiranya hanya satu yaitu bagaimana caranya ia harus sampai rumah sakit secepatnya.
Aldi yang hendak mengejar Ima ditahan oleh Tina dan mamanya.
Apakah ayah Ima akan tertolong? Lalu bagaimana nasib biduk rumah tangganya.
$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$