Livia Prameswari, gadis lembut berusia delapan belas tahun, tanpa sengaja menyaksikan pembuangan mayat. Orang yang memergokinya adalah Keenan Adiprana—pewaris keluarga konglomerat nomor satu di Asia Tenggara sekaligus komandan tertinggi pasukan khusus yang ditakuti semua orang.
Keenan berusia dua puluh tiga tahun, tampan, berkuasa, arogan, dan berbahaya. Malam itu, pistolnya mengarah tepat ke kepala Livia. Seharusnya ia membunuh satu-satunya saksi tersebut, tetapi pelarian Livia justru membangkitkan obsesi yang tak pernah bisa ia kendalikan.
Livia takut, melawan, berbohong, mengkhianati, dan berkali-kali mencoba kabur. Namun semakin jauh ia melarikan diri, semakin kuat Keenan menariknya kembali ke dalam dekapan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Husni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Bab 19
Via Sayang
Pesta ulang tahun diadakan di kediaman besar keluarga Halim.
Karpet merah membentang dari gerbang sampai aula utama. Semak-semak yang dipangkas rapi di kedua sisi masih basah oleh gerimis dan tertutup butiran es tipis.
Begitu Livia dan Nathan turun dari mobil, Jolene yang sudah lama menunggu langsung menghampiri dengan senyum manis.
Ia mengaitkan tangan pada lengan Nathan.
"Mas Nathan."
Dari sudut mata, Jolene melihat gadis di belakang Nathan yang sedang memegang ujung jas pria itu sambil mengintip ke sekeliling.
Wajah tersebut terasa asing. Sikapnya terlihat pemalu, tetapi kecantikannya luar biasa.
Alis Jolene berkerut.
"Siapa dia?"
Setelah memperhatikan selama beberapa detik, ia mengenali gadis itu bahkan sebelum Nathan sempat memperkenalkan.
"Via?"
"Ya."
Livia mengangguk. Mengikuti isyarat mata Nathan, ia menyapa dengan suara manis, "Tante Jolene."
Sudut bibir Jolene bergerak membentuk senyum yang tidak sampai ke mata.
"Kosmetik bermutu memang berbeda. Lihatlah Via kita. Kalau dirias dengan benar, ternyata cantik sekali."
"Terima kasih, Tante."
"Kita keluarga. Tidak perlu berterima kasih."
Jolene menggenggam tangan Livia yang sedang memegang jas Nathan, kemudian mendorong gadis itu sedikit ke samping. Ia sendiri mengambil posisi di antara keduanya.
"Kelak bukan hanya kosmetik. Kalau kau menyukai pakaian atau tas, katakan kepadaku. Aku yang memilih, Om Nathan yang membayar."
Nathan mencubit pinggang Jolene pelan.
"Kau pandai sekali mengatur uangku."
"Mas bersedia atau tidak?"
Jolene mengerucutkan bibir dan pura-pura marah.
"Tentu."
Nathan menatap melewati kepala Jolene ke arah mata Livia yang mulai meredup, lalu sengaja menambahkan, "Aku selalu bersedia membelikan apa pun untuk Via."
Tatapan panas dan terus terang itu membuat Livia tidak nyaman.
Tiba-tiba ia merasa seolah dirinya dan Nathan sedang menyembunyikan hubungan memalukan di belakang Jolene.
Livia tidak menyukai perasaan tersebut. Ia mencoba menarik tangannya dari genggaman Jolene dan berniat menjaga jarak sepanjang hari.
Pada saat itulah kilau perak masuk ke mata Jolene.
Tatapannya jatuh pada gelang di pergelangan Livia. Senyum cerah di wajah wanita itu langsung membeku.
Gelang tersebut dibeli Nathan ketika mereka sedang memilih hadiah ulang tahun untuk Pak Hadi. Saat itu, Nathan mencari alasan untuk pergi sendiri ke gerai sebelah.
Jolene diam-diam mengikutinya. Ia mendengar pegawai toko menjelaskan bahwa kristal berbentuk tetesan air pada gelang itu melambangkan kemurnian dan cinta abadi.
Nathan membelinya tanpa ragu.
Selama beberapa hari berikutnya, pria itu tidak pernah membahasnya. Jolene mengira Nathan sedang menunggu kesempatan istimewa untuk memberi kejutan kepadanya.
Ternyata gelang itu berada di tangan Livia.
Jolene mengatupkan gigi.
Sejak pertemuan pertama, ketika Livia melempar kalung pemberiannya, ia sudah tahu gadis ini bukan orang yang mudah dihadapi.
Kalau tidak, mengapa Livia yang berjanji meninggalkan Vila Pir sekarang masih menempel pada Nathan?
Jolene pernah menyelidiki kehidupan pribadi Nathan. Selain Livia yang dibesarkan di Vila Pir, pria itu hampir tidak pernah berhubungan dengan perempuan mana pun.
Karena itu, Jolene tidak pernah meragukan kesungguhannya. Jika Nathan menginginkan Livia, ia tentu tidak perlu bersusah payah mengejar Jolene.
Hanya ada satu kemungkinan.
Livia sendiri yang meminta gelang itu, dan Nathan memang tidak pernah pandai menolak permintaannya.
Jolene menarik kembali pandangannya tanpa menunjukkan apa pun. Ia kembali menggandeng Nathan dan berjalan menuju bagian dalam kediaman.
"Mas, Kakek menunggumu di gazebo belakang. Dulu kau pernah meminta pengelolaan kasino di simpang jalan baru, tetapi dia belum memberi jawaban. Hari ini dia ingin membicarakannya."
Nathan sempat melihat gelang Livia, lalu menangkap kemarahan yang melintas di mata Jolene. Sudut bibirnya terangkat samar.
Ia merangkul pinggang Jolene dan berbisik, "Aku akan bicara sendiri dengan Kakek. Via pemalu dan tidak terbiasa dengan orang asing. Tolong temani dia dan jangan biarkan siapa pun mengganggunya."
Jolene tidak menjawab. Ia jelas tidak terlalu bersedia.
Nathan menepuk pinggangnya dengan lembut, membawa wanita itu maju beberapa langkah sampai Livia tak dapat mendengar.
"Dia masih kecil dan terlalu kumandi. Berbeda denganmu yang tenang dan dewasa. Bersabarlah sedikit. Setelah kita bertunangan, kita tidak akan tinggal di Vila Pir."
Jolene menoleh kepada Livia.
Gadis itu berada kurang dari lima meter di belakang, berjuang mengikuti mereka dengan sepatu hak tinggi. Cara berjalannya kaku seperti anak kecil yang diam-diam memakai sepatu orang dewasa.
Jolene akhirnya mengangguk. Ia melepaskan Nathan, lalu menghampiri Livia.
"Via, luruskan kakimu ketika berjalan. Jangan menekuk ujung telapak. Kemarilah, aku bantu."
Jolene mengajar dengan teliti dan Livia belajar dengan sungguh-sungguh.
Saat mereka tiba di vila utama, langkah Livia sudah jauh lebih baik. Bahkan mulai terlihat anggun.
Memang penggoda sejak lahir.
Jolene mencibir dalam hati, lalu membawanya melewati koridor menuju aula yang luas dan terang.
Hampir semua tokoh penting Kota Kayan hadir untuk merayakan ulang tahun Pak Hadi.
Lantai satu dipenuhi para tamu yang membawa gelas dan bercakap-cakap. Kebanyakan merupakan pengusaha serta orang kaya.
Tamu dengan identitas yang tidak boleh terlalu terlihat dibawa staf khusus menuju ruang-ruang pribadi di lantai dua.
Livia tidak pandai bergaul. Kakinya pun terasa sangat sakit. Ia hanya ingin menemukan tempat sepi untuk beristirahat dan tidak berniat tinggal di aula terlalu lama.
Untungnya, Jolene tampaknya memiliki pikiran sama.
Wanita itu membawa Livia melintasi aula sampai ke kolam renang dalam ruangan di bagian belakang vila.
Tempat tersebut bagaikan surga bagi para anak muda kaya.
Begitu masuk, Livia melihat Jordan bertelanjang dada, mengenakan kacamata hitam, dan berbaring di kursi santai dekat kolam. Beberapa perempuan berpakaian renang mengelilinginya. Ada yang memijat bahu, menyuapi buah, dan mengusap punggungnya.
Sejumlah pemuda kaya yang memiliki kesenangan serupa juga berada di sana bersama pasangan masing-masing. Suasana di sekitar kolam penuh kemewahan dan perilaku tanpa batas.
Livia mengerutkan kening dan langsung berbalik hendak pergi.
Suara Jordan terdengar dari tengah kerumunan.
"Kak!"
Jordan melambaikan tangan kepada Jolene, kemudian melihat Livia. Matanya langsung berbinar.
Ia mendorong perempuan di sebelahnya, bangkit, lalu menarik celana renang birunya yang longgar. Dalam beberapa langkah, ia sudah menghalangi jalan Livia.
"Wah, cantik sekali. Kak, dari mana kau menemukan gadis ini?"
"Kau tidak mengenalnya?" Jolene tersenyum penuh rahasia.
Jordan menyipitkan mata.
Ia mengenal terlalu banyak perempuan dan bahkan tak mengingat semua nama. Namun wajah secantik ini seharusnya meninggalkan kesan jika pernah ditemuinya.
Jolene berbaik hati mengingatkan, "Beberapa hari lalu kau menyebut Via si buruk rupa. Aku tidak setuju, jadi sengaja membawanya untuk membuktikan bahwa penilaianmu salah."
"Ah..."
Jordan mengusap dagu dan mengamati Livia dengan sungguh-sungguh. Akhirnya ia teringat gadis berwajah kacau yang menyanyikan lagu menggoda di ruang VIP.
Tatapannya turun pada gaun malam Livia. Sebuah syal hangat menutup sebagian tubuhnya, tetapi tidak dapat menyembunyikan siluet anggun di baliknya.
Bukan hanya wajah. Seluruh penampilannya sangat menarik.
Jordan tertawa sambil menepuk pipinya sendiri.
"Aku benar-benar tertampar! Via sayang ternyata bukan si buruk rupa. Mataku saja yang bermasalah."
Sapaan mesra itu membuat bulu kuduk Livia berdiri.
Ia membungkuk sedikit dan tersenyum sopan, lalu mencoba melewati Jordan secepat mungkin.
Namun pria tersebut langsung menangkap pergelangan tangannya dan menoleh kepada Jolene dengan tatapan yang sangat mudah dipahami.
Gadis ini sudah ada pemiliknya?
Jolene menggeleng tipis, kemudian berkata kepada Livia, "Aku harus menyambut tamu di aula. Kau bermainlah sebentar dengan adikku. Setelah urusan Om Nathan selesai, kami akan menjemputmu."
"Aku tidak mau—"
Livia langsung menolak dan mendorong Jordan, lalu berlari ke pintu.
Jolene memberi isyarat mata. Jordan segera memahami.
Tepat ketika Livia menginjak anak tangga, pria itu menyusul, membungkuk, dan mengangkat tubuhnya ke atas bahu dengan satu tangan melingkari kedua lutut.
Jordan bersiul dan berjalan kembali ke kolam.
"Bang Jordan! Jangan begini! Turunkan aku, aku takut!"
Livia mengepalkan tangan dan terus memukul punggungnya, tetapi pukulan kecil itu hampir tak memiliki kekuatan.
Jordan malah berhenti, menopang kakinya, lalu sengaja menggoyangkan tubuh Livia di bahu.
"Jangan banyak bergerak. Kau bisa jatuh."
Tubuh Livia gemetar. Ia menoleh dan meminta pertolongan dengan mata kepada Jolene.
Wanita itu hanya tersenyum.
"Jangan takut. Adikku tahu batas. Santailah sedikit. Kalian anak muda pasti bisa bermain bersama."