Yamada adalah seorang jenius.
Ia mampu memahami hampir segala sesuatu dengan cepat—akademik, olahraga, teknologi, strategi, bahkan berbagai keterampilan yang dianggap sulit oleh orang lain.
Masalahnya hanya satu.
Dia terlalu malas untuk menggunakannya.
Bagi Yamada, hidup yang ideal hanyalah hidup tenang tanpa masalah.
Tidak perlu menjadi nomor satu.
Tidak perlu mendapat perhatian.
Tidak perlu berusaha lebih keras dari yang diperlukan.
Sampai suatu hari, kehidupannya berakhir.
Ketika membuka mata kembali, Yamada mendapati dirinya berada di dunia yang tidak pernah ia kenal.
Lebih aneh lagi, ia tidak terlahir sebagai bayi.
Ia terbangun dalam tubuh seorang anak laki-laki berusia lima belas tahun.
Tubuh itu memiliki kehidupan, keluarga, kenangan, dan sebuah rahasia yang tidak diketahui Yamada.
Kemudian sebuah suara terdengar di kepalanya.
[System Initialization.]
[Host detected.]
[Synchronization rate: 17%.]
[Warning.]
[This body already possesses an owner.]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardyan1, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: Reinkarnasi Menjadi Usia 15 Tahun — Part 6
Geraman terdengar dari luar rumah.
Rendah. Berat. Bukan geraman anjing lapar yang biasa menggonggong di pinggir desa. Ini adalah geraman yang bergetar, yang terasa di tanah, yang membuat kaca jendela berderak pelan.
Dan semakin dekat. Setiap detik, setiap helaan napas Yamada, suara itu semakin dekat.
Yamada berdiri di depan jendela kamarnya yang setengah terbuka, tirai putih tipis berkibar tertiup angin malam yang dingin dan membawa bau tanah basah serta bau anyir yang tidak dikenalnya. Tangannya memegang kusen jendela kayu dengan erat, buku-buku jarinya memutih.
Di luar, kegelapan di antara pepohonan di perbatasan desa tidak lagi kosong. Kegelapan itu bergerak.
Puluhan mata merah bergerak pelan di antara pepohonan, seperti lentera-lentera merah yang melayang rendah di atas tanah. Mereka tidak bergerak acak, mereka bergerak dalam formasi, mengepung.
"Berapa banyak?" Tanya Yamada, dengan suara pelan, hampir berbisik, seolah-olah takut suaranya akan terdengar oleh mata-mata merah itu.
Tidak tahu. Suara Yamada yang asli menjawab dari dalam kepala, suaranya gemetar, penuh ketakutan yang murni, ketakutan anak desa yang pernah melihat kengerian. Aku tidak bisa menghitungnya, terlalu banyak dan terlalu gelap. Tapi aku bisa merasakan mereka. Hawa mereka sama seperti di hutan waktu itu.
"Perkiraan. Kira-kira saja. Kita butuh angka untuk membuat rencana. Malas itu bukan berarti tanpa rencana." Desak Yamada.
Lebih dari dua puluh. Mungkin dua puluh lima, mungkin tiga puluh. Mereka bergerak dalam kawanan besar. Ini bukan serigala biasa, Yamada. Ini adalah kawanan pemburu.
Yamada menghela napas panjang, napas yang terlihat menjadi uap putih kecil di udara malam yang dingin.
"Dan level mereka? Kalau kau melihatnya di hutan, sekuat apa mereka?"
Kalau sama seperti yang kulihat di hutan... Suara itu terdiam, mencoba mengingat rasa takut yang luar biasa itu. Setidaknya sepuluh kali lebih kuat dariku. Aku bahkan tidak bisa mengangkat pedang kayu di depan mereka. Kaki ku langsung lemas. Mereka... mereka bukan monster yang seharusnya ada di pinggir desa. Mereka monster dari bagian dalam hutan.
Yamada melirik statusnya sendiri yang masih melayang redup di sudut penglihatannya, yang dia panggil dengan pikiran.
Level: 1.
HP: 100/100.
MP: 78/100.
Dengan pedang kayu latihan.
"Hebat." Gumamnya, dengan nada sarkas yang sangat Yamada. "Skenario yang sangat klasik. Protagonis baru hidup lagi tiga hari, level satu, langsung dapat serangan bos besar. Penulis cerita ini pasti sangat malas bikin tutorial yang pelan-pelan."
Dia mengusap wajahnya dengan kedua tangan, mencoba mengusir rasa panik dan memanggil kembali otak malasnya yang jenius.
"Aku baru hidup lagi dan langsung mendapat masalah yang levelnya 10 kali lipat di atasku. Bahkan di kehidupan pertama, masalah terbesarku cuma tugas yang belum dikerjakan."
[Enemy approaching.]
Suara sistem yang tadinya alarm merah, kini berubah menjadi penghitung jarak yang dingin dan mekanis.
[Distance: 73 meters from host location.]
[72 meters.]
[71 meters.]
Angka itu terus turun, satu meter per detik. Mereka berjalan, tidak berlari. Mereka tahu mangsanya tidak bisa kemana-mana.
Yamada menatap jendela sistem yang berkedip merah itu.
"Kalau kau memang sistemku, kalau kau memang ada untuk membantuku, bukan hanya untuk memberi quest yang tidak masuk akal dan warning yang bikin kami saling curiga, berikan solusi sekarang. Yang tidak merepotkan."
[Recommendation: Escape. Immediate evacuation recommended. Survival rate if fight: 3%. Survival rate if escape: 34%.]
Yamada mengerutkan kening, tapi mengangguk.
"Bagaimana? Ke mana? Tunjukkan jalannya."
[Escape route calculated. Analyzing terrain...]
Sebuah garis merah terang muncul di hadapan Yamada, melayang di udara, seperti GPS di dalam game. Garis itu tidak hanya ada di dalam kepala, tapi seolah-olah terproyeksi ke dunia nyata. Garis itu melewati pintu belakang rumahnya, melewati gudang kayu, kemudian menuju sebuah jalan kecil setapak yang mengarah langsung ke pusat desa, ke arah balai desa dan rumah-rumah penduduk yang lebih ramai.
Rute yang paling logis. Lari ke tempat ramai, minta bantuan penjaga desa, ayahnya, dan penduduk lain.
Yamada melihatnya dan mengangguk. "Masuk akal. Rute paling aman, paling banyak orang."
Tidak. Suara Yamada yang asli tiba-tiba memotong dengan keras, sangat keras hingga Yamada sedikit terhuyung.
Yamada berhenti, tangannya yang sudah memegang gagang pintu belakang berhenti.
"Apa? Kenapa tidak?"
Jangan ke desa. Jangan bawa mereka ke desa.
"Kenapa? Di desa ada banyak orang, ada ayah, ada penjaga. Kita bisa minta tolong."
Kalau mereka menyerang rumah kita, dan kita lari ke desa, desa adalah tempat pertama yang akan mereka datangi. Mereka akan mengikuti jejak kita, bau kita. Dan kalau mereka masuk ke desa... semua orang akan dalam bahaya. Ibu... Elena... semua orang. Mereka tidak sekuat Ayah. Mereka akan mati.
Kalimat itu menghantam Yamada yang pendatang seperti palu. Logika yang sangat sederhana, logika seorang anak desa yang peduli pada desanya, yang tidak pernah terpikirkan oleh Yamada yang individualis dan pemalas dari dunia modern.
Yamada terdiam, melihat kembali jalur merah yang diberikan sistem yang mengarah ke desa. Jalur itu terlihat aman untuknya, tapi tidak aman untuk orang lain.
Kemudian dia tersenyum kecil, senyum yang aneh dalam situasi seperti ini.
"Benar juga. Kau benar. Rute itu egois." Dia menghapus garis merah itu dengan kibasan tangan. "Kalau begitu kita tidak ke sana."
Dia menunjuk jalan lain, jalan yang berlawanan arah. Jalan setapak kecil yang mengarah kembali ke kegelapan, ke arah pepohonan, ke arah Hutan Elaria itu sendiri, tempat asal monster-monster itu.
"Kalau begitu kita ke hutan."
Apa?! Suara Yamada yang asli terkejut setengah mati, suaranya melengking. Kau gila?! Monster datang dari hutan! Kau mau lari ke sarang mereka?! Itu bunuh diri!
"Monster datang dari hutan." Yamada menjelaskan dengan cepat, sambil mengambil pedang kayu latihan yang tadi dia pakai sore hari, yang masih bersandar di dinding kamarnya. Kayu itu masih terasa hangat. "Justru karena mereka datang dari sana, kemungkinan besar mereka tidak mengharapkan mangsanya kembali ke sana. Semua mangsa pasti lari menjauh dari hutan, menuju desa. Kita lakukan yang sebaliknya. Itu namanya berpikir di luar kotak. Atau dalam kasus kita, berpikir paling malas: lari ke tempat yang paling tidak mereka duga, jadi mereka tidak perlu mengejar terlalu jauh."
Itu terlalu berbahaya! Di hutan lebih banyak monster! Lebih gelap!
"Benar." Yamada mengangguk, mengakui. "Makanya kita tidak akan masuk terlalu jauh. Kita hanya masuk ke bagian luar, pinggiran hutan, tempat kau dan teman-temanmu mencari jamur. Kita bersembunyi di sana, tunggu mereka lewat, lalu kembali."
Dan kalau monster mengejar kita ke dalam hutan? Kalau mereka memang datang untuk kita?
Yamada tersenyum, senyum tipis yang dipaksakan tapi penuh tekad malas. Dia membuka pintu belakang kamarnya dengan pelan, engselnya berderit.
"Kita lihat nanti. Satu masalah dalam satu waktu. Untuk sekarang, masalah pertama adalah keluar dari rumah sebelum rumah ini dikepung sepenuhnya."
Yamada membuka pintu belakang. Udara malam yang dingin dan lembab langsung menerpa wajahnya, membawa bau dedaunan busuk dan bau anyir monster yang semakin kuat.
Dia berlari. Tidak cepat seperti atlet lari, tidak lambat seperti orang yang sedang jalan-jalan. Cukup untuk menjaga jarak, cukup untuk menghemat stamina. Lari hemat energi, lari khas pemalas yang tahu dia harus berlari maraton, bukan sprint.
Kakinya yang baru berusia 15 tahun terasa ringan, tapi napasnya cepat memburu karena ketakutan.
Namun beberapa detik kemudian, sebelum dia sempat mencapai gudang kayu—
GRAAAHH!
Suara raungan yang memekakkan telinga terdengar dari samping rumah.
Monster pertama menerobos pagar kayu belakang rumahnya. Pagar kayu yang tingginya hampir dua meter itu hancur seperti kerupuk, serpihan kayunya beterbangan.
Seekor serigala besar dengan tanduk hitam melengkung di kepalanya, seperti tanduk kambing gunung tapi lebih tajam dan lebih besar. Tubuhnya sebesar anak sapi, bulunya hitam pekat dengan bercak-bercak merah gelap seperti darah kering. Matanya merah menyala, air liurnya menetes-netes, berasap saat menyentuh tanah. Cakarnya sepanjang pisau dapur.
Yamada menoleh sepersekian detik sambil terus berlari.
"Jadi itu bentuknya. Anjing besar dengan aksesoris tanduk. Lumayan modis."
[Monster identified.]
[Species: Horned Direwolf - Scout Class]
[Level: 12.]
[Attribute: Darkness, Physical]
[Weakness: Light, Throat.]
Yamada langsung berlari lebih cepat, melupakan gaya lari hemat energinya.
"Level dua belas. Dua belas kali lipat levelku. Oke, oke, oke."
Kenapa kau masih sempat memperhatikan levelnya?! Suara Yamada yang asli panik, hampir menangis di dalam kepala. Itu mau membunuh kita! Lari saja! Jangan dilihat!
"Informasi penting." Jawab Yamada sambil terengah-engah, melompati akar pohon besar. "Kalau kita tidak tahu levelnya, kita tidak tahu seberapa besar perbedaan kekuatannya. Kalau bedanya terlalu besar, jangan dilawan, harus diakali. Itu dasar bertahan hidup dengan malas: jangan bertarung kalau bisa ditipu."
Itu mau membunuh kita!
"Aku tahu! Makanya aku lari!"
Yamada melompat melewati pagar rendah pembatas kebun belakang, mendarat dengan sedikit terhuyung.
Di belakangnya—
BAM!
Serigala bertanduk itu tidak melompat, dia menghancurkan pagar itu dengan sundulan kepalanya. Kayu-kayu berterbangan.
Yamada terus berlari menuju garis pepohonan yang menandai pinggiran Hutan Elaria. Jaraknya sekitar 50 meter lagi.
Namun tiba-tiba, tepat saat dia akan mencapai 30 meter—
[Danger. Immediate threat from front.]
[Two entities approaching at high speed.]
Yamada berhenti mendadak, kakinya mengerem di tanah yang lembab, hampir terpeleset.
"Di depan? Ada lagi di depan?"
[Affirmative. Flanking maneuver detected. Pack hunting tactic.]
Yamada memicingkan mata, mencoba melihat menembus kegelapan di depan. Bulan tertutup awan, jadi hutan di depan terlihat seperti dinding hitam pekat.
Dari kegelapan di depan, dari balik dua pohon besar, muncul dua monster lainnya, dengan bentuk yang sama, tapi sedikit lebih kecil. Satu dari kiri, satu dari kanan. Mata merah mereka mengunci Yamada.
Dia berhenti total. Kiri dan kanan tertutup oleh pepohonan lebat dan semak berduri yang tidak mungkin diterobos dengan cepat. Depan tertutup oleh dua serigala. Belakang dikejar oleh satu serigala besar.
"Bagus." Yamada menghela napas, napas yang berat, uap putih keluar dari mulutnya. "Benar-benar bagus. Skenario pengepungan yang sempurna. Nilai 100 untuk kerja sama tim mereka."
Kedua monster di depan itu maju selangkah, dengan geraman rendah, air liur menetes. Mereka tidak langsung menerkam, mereka menikmati ketakutan mangsanya.
Yamada.
Suara di dalam kepalanya memanggil, dengan nada yang sudah pasrah.
"Aku tahu. Aku lihat." Jawab Yamada pelan.
Gunakan pedang. Lawan.
Yamada melihat pedang kayu di tangannya. Pedang latihan yang tadi sore hanya mampu menggeser boneka jerami. Kayu biasa melawan cakar dan taring monster Level 12.
"Ini? Melawan mereka dengan ini? Ini bahkan tidak cukup tajam untuk memotong roti."
Ada sesuatu di depan. Lihat baik-baik.
"Apa?" Yamada mengerutkan kening, menatap kegelapan di depannya sambil tetap waspada pada monster di depan dan belakang.
Tiang pohon. Pohon besar yang tumbang setengah.
Yamada menoleh cepat. Sekitar lima meter di belakang salah satu monster yang di depan, ada sebuah pohon besar yang sudah mati, batangnya besar, miring, hampir tumbang, ditopang oleh pohon lain di sebelahnya. Pohon itu terlihat lapuk, akarnya sudah tidak kuat.
Dia langsung memahami maksudnya. Otak Lazy Genius-nya yang baru aktif langsung menghitung.
"Baik. Mengerti. Ide bagus untuk orang yang mengaku tidak pernah bertarung."
Yamada maju selangkah, bukan mundur. Gerakan yang tidak diduga oleh monster.
Monster di sebelah kanan yang lebih dekat menerkam.
GRAAAH!
Raungan itu begitu dekat hingga Yamada bisa mencium bau busuk dari mulutnya.
Yamada menunduk dengan cepat, secepat yang dia bisa, lututnya hampir menyentuh tanah.
Cakar monster yang besar, dengan kuku hitam berkilat, melewati tepat di atas kepalanya, hanya selisih beberapa sentimeter dari rambutnya. Angin dari ayunan cakar itu terasa di kulit kepalanya.
Dia berputar, menggunakan momentum tundukan itu, dan dengan pedang kayu di tangannya, dia menghantam bukan tubuh monster, tapi kaki belakang monster yang sedang berada di udara karena menerkam.
Duk!
Suara kayu beradu dengan otot dan tulang. Tidak keras, tapi cukup untuk membuat monster itu kehilangan keseimbangan di udara.
Monster itu jatuh menyamping, menggeram kesakitan dan kaget.
Yamada tidak menyia-nyiakan kesempatan, dia berlari, bukan menjauh, tapi menuju pohon miring itu.
Namun monster kedua yang di depan, yang lebih besar, datang dari samping kiri, menerkam dengan mulut terbuka lebar, mengarah ke leher Yamada.
Yamada melompat ke samping kanan dengan sekuat tenaga, berguling di tanah yang penuh daun kering.
Cakar monster itu melewati tubuhnya, hanya merobek sedikit ujung mantelnya yang kebesaran.
Dia mendarat dengan posisi berlutut, terengah-engah.
Kemudian— sesuatu terjadi di dalam kepalanya.
[Skill activated: Basic Swordsmanship Lv.1 - Special Action: Feint]