Indonesia
NovelToon NovelToon
Istri Butaku Direbut Sahabatku

Istri Butaku Direbut Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam / Obsesi
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Sibewok

Rania Almira, gadis buta yang membawa rahasia keluarga Aristama, mengira telah berhasil meninggalkan suaminya, Brian Aristama.

Namun, ia tidak tahu bahwa pria yang ditinggalkannya sedang datang untuk merebutnya kembali dari tangan Daffa.

Saat obsesi, cinta, dan dendam saling bertabrakan, mampukah Brian merajut kembali rumah tangganya dan memberikan Daffa pelajaran yang membuat pria itu menyesal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sibewok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 - Posesif

Rania menatap layar ponselnya.

Nama Brian masih terpampang di sana. Ia menarik napas pelan, kemudian mengangkat ponsel tersebut.

Namun baru saja jarinya menyentuh tombol untuk menerima panggilan.

Daffa merebut ponsel itu dari tangannya.

"Daffa!" Rania terkejut.

Daffa menekan tombol pada layar.

Tut! Panggilan Brian terputus.

Kemudian ponsel tersebut langsung dimatikan.

Rania menatapnya tidak percaya. "Kenapa kau melakukan itu?"

Daffa tidak menjawab, ia justru menatap ponsel di tangannya dengan rahang mengeras.

"Jangan angkat teleponnya." Nada suaranya terdengar rendah.

Rania mengerutkan kening. "Itu urusanku."

Daffa menatap Rania. "Rania..." ia melangkah mendekat. "Aku ingin kau memilih."

Rania terdiam. "Memilih apa?"

"Aku." Daffa menunjuk dirinya sendiri. "Atau dia."

Rania menghela napas panjang. "Daffa, jangan seperti ini."

"Aku serius." Tatapan Daffa semakin tajam. "Aku tidak suka melihatmu terus berada di dekat Brian."

Rania mundur selangkah. "Daffa, Brian hanya rekan bisnis."

"Rekan bisnis katamu?" Daffa terkekeh hambar. "Seorang pria tidak akan menatap mantan istrinya seperti itu jika hanya menganggapnya sebagai rekan bisnis."

Rania terdiam.

Daffa kembali mendekat. "Aku tahu bagaimana Brian memandangmu."

"Cukup Daffa..." ucap Rania.

"Aku juga tahu bagaimana kau memandangnya," ucap lagi Daffa.

Rania menggeleng. "Kau salah," ucap Rania.

Rania menelan ludahnya, ia harus mencari cara agar bisa menenangkan pria di hadapannya.

Daffa mengepalkan tangannya. Ada sesuatu yang membuat dadanya terasa sesak sejak tadi.

Sudah dua kali. Dua kali rencananya gagal. Dan waktu terus berjalan.

Namun Rania sama sekali tidak mengetahui apa yang sedang berkecamuk di dalam pikiran pria itu.

Daffa memejamkan mata, ia mencoba mengendalikan napasnya.

Rania memperhatikan perubahan wajahnya. "Daffa..." Tangannya perlahan menyentuh lengan pria itu. "Kau baik-baik saja?"

Daffa membuka mata. "Aku takut kehilanganmu."

Kalimat itu membuat Rania terdiam.

Daffa menatapnya lekat. "Aku tidak ingin kau pergi lagi."

Rania menelan ludah. Ada sesuatu dalam sorot mata Daffa yang membuatnya merasa tidak nyaman.

Bahkan, jujur... Rania sedikit takut. Namun Rania berusaha menyembunyikannya.

"Aku tidak akan pergi ke mana-mana," ucap Rania akhirnya, ia harus mempertahankan situasi ini.

Daffa menatapnya. "Benarkah?"

Rania mengangguk pelan. "Ya."

Daffa tiba-tiba menarik Rania ke dalam pelukannya.

Rania membeku. "Daffa..."

Pria itu mendekapnya erat. Terlalu erat. "Aku hanya ingin kau tetap di sisiku."

Rania menelan ludah. Tangannya perlahan terangkat dan menepuk punggung Daffa.

Daffa memejamkan mata.

Rania terus mengusap punggungnya. "Tenanglah."

Beberapa saat kemudian, napas Daffa mulai lebih teratur.

Rania akhirnya menarik tubuhnya perlahan. "Duduklah."

Daffa menurut, ia duduk di kursi.

Rania kemudian mengambil sebuah cangkir teh hangat yang sebelumnya telah ia siapkan. "Minumlah."

Daffa menatap cangkir tersebut, tanpa menjawab.

"Ini teh herbal." Rania menyodorkannya. "Untuk membuatmu lebih tenang."

Daffa akhirnya menerima cangkir tersebut. Ia menyesapnya perlahan. Rasa hangat langsung memenuhi tenggorokannya.

Tatapannya masih tertuju kepada Rania.

Rania tersenyum tipis, ia kemudian menuangkan lagi teh di cangkir lain, lalu suara Daffa memecahkan keheningan.

"Aku akan menemanimu bekerja malam ini," ucap Daffa.

Rania terdiam beberapa detik lalu ia mengisi gelas di atas meja kembali dengan gerakan tenang.

"Benarkah?" tanya Rania. "Tapi janji, jangan menggangguku," ucap Rania.

Daffa menatapnya, dan akhirnya tersenyum tipis. "Emh," jawabnya singkat.

Rania mengambil beberapa berkas di atas meja sudut, "ini, bantu aku meletakkan berkas ini di ruangan kerjaku," ucap Rania.

Daffa berdiri dan menerima berkas itu.

"Pergilah, aku akan menyusul, aku akan membuat teh herbal lagi untuk mu," ucap Rania.

Daffa pun menurut ia meninggalkan dapur, namun bukannya menuju ruangan kerja, pria itu berkeliling melihat-lihat rumah tersebut tanpa Rania tahu.

Sementara di kamar lantai satu...

Brian masih duduk di sisi tempat tidur. Ponselnya berada di tangannya.

Layar ponsel tersebut masih menampilkan panggilan yang baru saja berakhir.

Tut!

Panggilannya diputus. Bukan karena jaringan. Bukan karena Rania tidak mendengar.

Seseorang sengaja memutusnya.

Brian menatap layar beberapa detik, pandangannya turun kepada pergelangan kaki kirinya.

Pembengkakannya memang sudah sedikit mereda. Namun rasa nyerinya masih terasa.

Brian mengembuskan napas panjang. "Kenapa tidak diangkat?"

Tatapannya kembali tertuju kepada pintu. Sesuatu terasa tidak beres.

Rania tidak mungkin sengaja memutus panggilannya.

Lalu...

Siapa yang melakukannya?

Brian menggenggam ponselnya lebih erat. Sorot matanya berubah dingin.

"Daffa..." Nama itu keluar dari bibirnya.

Brian menyandarkan tubuhnya pada kepala tempat tidur.

Klik! Pintu kamar terbuka.

Brian yang semula memejamkan mata perlahan membukanya.

Rania muncul di ambang pintu sambil membawa sebuah nampan kecil.

"Kau belum tidur?" tanyanya.

Brian tidak menjawab.

Rania masuk dengan langkah tenang, kemudian meletakkan secangkir teh herbal yang masih mengepulkan uap di atas meja kecil di samping ranjang.

"Bagaimana kakimu?" Tanyanya lagi, tatapannya langsung tertuju pada kaki kiri Brian. "Masih sakit?"

Brian tetap diam.

Rania menghela napas. "Aku harus memeriksanya lagi." Ia kemudian mendekat dan duduk di sisi ranjang.

Dengan hati-hati, Rania mengangkat kaki kiri Brian yang telah mengenakan celana piyama.

Brian akhirnya bersuara. "Kau sangat suka menyentuh tubuhku, Rania."

Gerakan tangan Rania berhenti. Ia menatap Brian datar. "Kau salah paham."

Brian menyeringai tipis. "Atau kau memang suka menggoda mantan suamimu?"

Rania mengembuskan napas panjang. "Terserah apa katamu." Ia kembali fokus pada kaki Brian.

Namun beberapa detik kemudian, suara Brian terdengar lagi. "Kau yang memutus teleponku?"

Rania terdiam.

"Ya." Jawabannya singkat, ia memilih menyembunyikan kejadian tadi di dapur.

Brian menatapnya lekat. "Kau cukup berani."

Rania mengangkat alis. "Karena kau mengganggu sekali."

Jemarinya kembali memberikan tekanan ringan pada beberapa bagian kaki Brian. Brian meringis tipis.

"Kau harus menjauh dari Daffa," ucap Brian.

Rania tidak menjawab.

"Dia bukan pria yang baik untukmu," ucap Brian.

"Aku bisa mengurus diriku sendiri," jawab Rania dingin.

Brian menatap wajahnya. "Aku lebih mengkhawatirkan anak kita dari pada ibunya."

Rania langsung terdiam.

Entah mengapa, kalimat itu membuat emosinya kembali tersulut.

Tanpa sadar, tekanannya menjadi lebih kuat.

"Argh!" Brian spontan menarik kakinya, tatapan tajamnya langsung tertuju kepada Rania.

Rania tersadar, ia memalingkan wajah. "Maaf."

Tangannya perlahan turun menyentuh perutnya sendiri. "Aku tidak sengaja."

Rania kemudian berdiri. "Aku pergi dulu." Ia berbalik dan berjalan menuju pintu.

Namun baru beberapa langkah...

"Rania," panggil Brian.

Langkahnya terhenti.

Suara Brian terdengar lebih rendah dari sebelumnya. "Jika kau tidak bisa menjaga anak kita..."

Rania perlahan menoleh.

Tatapan Brian begitu serius. "Aku akan memastikan kau tidak perlu pergi ke mana pun lagi."

Rania mengerutkan kening.

Brian menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang. "Aku akan mengurungmu di dalam sangkar emasku."

Rania mendengus. "Dasar gila." Ia berbalik kembali.

Klik! Pintu kamar tertutup.

Brian menatap pintu tersebut beberapa saat.

Senyum tipis muncul di sudut bibirnya. "Kalau kau masih peduli padaku, Rania..." Ia mengusap bibirnya sendiri, "jangan berharap aku akan menyerah begitu saja."

Sementara itu...

Di ruang kerja Rania. Daffa berdiri di sisi meja kerja, ia baru saja meletakkan segelas air putih di atas meja.

Tatapannya jatuh pada gelas tersebut.

Senyum tipis muncul di wajahnya, ia memasukkan botol kecil ke dalam sakunya, tubuhnya kemudian mundur beberapa langkah dan duduk di sofa.

Beberapa saat kemudian...

Klik! Pintu terbuka.

Rania masuk sambil membawa nampan berisi teh herbal.

"Maaf membuatmu menunggu." Ia meletakkan nampan tersebut di atas meja kecil di hadapan Daffa.

Daffa tidak menjawab, tatapannya justru berpindah dari Rania, Kepada teh herbal, kemudian kepada segelas air putih yang berada di atas meja kerja.

Rania tidak menyadari perubahan tatapannya, ia menarik kursi dan bersiap membuka laptop.

Namun Daffa tiba-tiba bersuara. "Jam kerjamu sampai pukul sepuluh malam."

Rania menoleh.

Daffa menunjuk jam di dinding, jarumnya baru menunjukkan pukul setengah delapan malam.

Rania menghela napas. "Lama-lama kau semakin suka mengaturku," gumam Rania.

Daffa tersenyum tipis. "Aku hanya mengingatkan."

Rania memilih tidak memperpanjang perdebatan.

Ia membuka laptop. "Baiklah." Kemudian ia menatap Daffa, "tapi berjanjilah untuk tidak menggangguku."

Daffa mengangguk. "Oke." Ia kemudian merebahkan tubuhnya di sofa dan meluruskan kedua kakinya.

Ponsel berada di tangannya, seolah benar-benar tidak peduli dengan pekerjaan Rania.

Namun beberapa detik sekali...

Tatapannya diam-diam beralih kepada wanita itu.

Rania mulai bekerja, jarinya bergerak di atas keyboard.

Sementara Daffa tetap berbaring di sofa.

Tidak ada percakapan, tidak ada suara selain ketukan jemari Rania pada keyboard.

Daffa melirik gelas air putih di meja kerja, sudut bibirnya kembali terangkat.

Malam itu...

Rania hanya berpikir bagaimana menyelesaikan pekerjaannya.

Tanpa mengetahui bahwa pria yang duduk beberapa meter darinya sedang menunggu satu kesempatan.

Kesempatan yang bisa mengubah segalanya.

Bersambung...

1
Nisa Nisa
cerita nya seru, baru awal aja udah buat penasaran
Michelle Azahrah
응 anooo ini serius judulnya itu? sarkas bet, tapi aku suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!