“Bu, mimpi-mimpi itu seperti nyata. Ada yang menunggu kedatangan kita disana, tapi bukan manusia.”
Hamima memberi pengertian kepada putranya, dengan mengatakan jika tidak semua mimpi akan menjadi nyata, bisa jadi bunga tidur semata.
Namun, kepindahannya ke sebuah desa demi mengikuti sang suami yang dipindahtugaskan, membuat ketenangan hidup hilang seketika, tergantikan hal-hal tak pernah terbayangkan, dan belum pernah dialami sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perubahan sikap : 21
‘Anakmu kah yang sering mengajak putriku bermain?’ kembali Mima mendengar suara merdu wanita yang sama menyanyikan lagu Lingsir wengi.
Kali ini dia tidak seperti sebelumnya yang mencari sumber suara, tetap duduk di atas lantai berdebu.
Hehh!
Napas Mima tertahan, tubuhnya menegang, layaknya disentak dari lamunan.
Sesaat dia kebingungan, lalu ketakutan, takut ketahuan suaminya kalau memasuki kamar terkunci.
‘Aku harus keluar tanpa ketahuan Dia,’ Hamima enggan menyebut Mas teruntuk pria yang sudah membersamainya belasan tahun lamanya.
Hatinya kecewa, rasanya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata biasa.
Potret tadi dimasukkan kedalam plastik sudah koyak, lalu diselipkan pada celana dalam.
Karpet diturunkan sampai tergeletak seperti semula.
Sebelum meninggalkan kamar bayi, Hamima sempatkan sebentar melihat sekali lagi.
Buku-buku jarinya memutih dikarenakan terlalu kuat mencengkram kusen pintu.
Di sana, di samping box bayi — siluet wanita berpakaian daster motif bunga, rambut digelung, membelakangi Mima. Dia bersenandung sambil badannya bergerak anggun ke kiri-kanan, seperti ibu-ibu yang sedang menimang anaknya agar lebih cepat tertidur.
Mata Hamima sampai pedih karena terlalu lama tidak berkedip, ia terpaku dengan badan kaku.
“Mungkin Ibu ke sungai mencari Pujiara, Yah,” terka Guntur.
Galih berdiri di depan pintu kamar yang tidak boleh dimasuki oleh orang lain.
“Tolong cari Ibu, Yah!” remaja sedang menggendong adiknya, mengiba. Guntur menangis, rasa takut kian besar.
“Menyusahkan saja!” Galih mendengus, tidak jadi memeriksa kamar paling luas di hunian ini. Sambil menggerutu, dia berjalan keluar rumah.
“Sabar ya, Dek. Ibu lagi dicari sama Ayah.” Pipi Ara dikecup lembut.
Pujiara merengek, bayi berkeringat mulai tak nyaman dikarenakan rasa gatal pada badan. Sesekali suara sentakan terdengar dikarenakan sedu sedan akibat menangis terlalu lama.
Kriieet ….
“Ibu!” panggilnya cepat, memandang tak percaya pada wanita berpenampilan berantakan.
Jari telunjuk Hamima menempel di bibir. “Jangan berisik, Nak!”
Mima mengunci lagi pintu yang anak kuncinya tadi dilepaskan dan terjatuh di lantai dekat ranjang mewah.
Dalam pengawasan tatapan lekat sang putra dan suara rengekan putrinya, Hamima mengembalikan kunci ke dalam tas. Gerakannya seperti seseorang melakukan hal biasa saja, tenang. Tidak terlihat gugup.
“Sini sama Ibu, Nak.” Diambilnya Ara, didekap sayang, dan sebelah tangannya lagi menarik sang putra masuk ke dalam pelukan.
‘Aku harus bergegas mencari tahu, gak boleh ceroboh, apalagi gegabah. Pasti ada cara yang menunjukkan jalan menyingkap tabir rumah ini.’ Mima menunduk, mengecup rambut putranya yang bau keringat khas terpapar sinar matahari.
“Ayo kita makan, Nak. Abis itu kamu mandi.” Tangan Guntur digandeng, dituntun ke meja makan.
Remaja yang seragamnya lembab, tidak lagi meneteskan air, terheran-heran. Ia dapat merasakan perubahan sikap ibunya, tetapi bingung mengungkapkan.
Pujiara didudukkan di atas meja makan, diberi sendok teh yang langsung diraih dan dipukulkan ke meja. Bajunya sudah dilepaskan, tersisa celana dalam dan singlet.
Hamima mengambilkan nasi hangat di dalam alat penanak dengan porsi lebih banyak dari biasanya, dua potong ayam goreng, dan menyendok tumis sayur, lalu memberikan piring ke putranya.
“Terima kasih, Bu,” ucap Guntur pelan, masih belum terbiasa perubahan sikap ibunya. Ibunya masih sama — ramah, perhatian, tetapi disaat bersamaan terasa berbeda.
'Ibu kenapa? Seperti bukan Ibu, tapi ya Ibu ….' gumam hatinya bingung.
Kemudian Hamima mengambil makanan untuk dirinya sendiri.
“Kenapa gak makan, Nak? Ayo makan!” ujarnya tegas namun sorot mata melembut.
“Apa gak nunggu ayah dulu, Bu?” biasanya seperti itu. Ayahnya didahulukan, dilayani bak raja.
“Sesekali gapapa makan duluan. Ini keadaan genting, soalnya pakaian kita basah, membuat badan kedinginan dan perut terasa perih. Jadi, lambung harus cepat diisi makanan,” terangnya memberi penjelasan logis.
Guntur menurut, dan mulai menyantap cepat. Dia lapar, dan sedari tadi perutnya terasa perih.
“Pelan-pelan makannya, Nak. Dikunyah dulu baru ditelan, nanti kamu tersedak kalau terburu-buru.” Mima menuang air putih ke dalam gelas, dan ditaruh di dekat Guntur.
“Iya, Bu.” Angguknya, melambatkan gerakan mengunyah baru menelan.
“Adek juga maem ya, Ibu suapi, mau?” tanyanya seraya menarik bokong padat putrinya sampai duduk dekat dengannya.
“Au,” jawab suara lucu, mulai pintar berbicara dan paham maksud ibunya.
Disaat ibu dan anak menikmati makan siang menjelang sore, mereka mendengar derap langkah kaki menginjak lantai.
“Dimana adab mu, Hamima?!” Galih meradang, wajah berkeringat bertambah memerah karena menahan amarah lewat suara menggeram.
“Aku dan Guntur lapar, Mas. Coba kamu bayangkan! Gimana rasanya menahan lapar sedari pakaian basah sampai mau kering sendiri tanpa perlu dijemur,” jawabnya santai.
“Tapi Mas ini kepala keluarga, wajib didahulukan dan dihormati!” ia tidak peduli pada penjelasan, tetap mempermasalahkan hal mutlak tidak boleh dilanggar. Menurut peraturannya.
“Mas, famali berdebat di meja makan dan saat lagi makan. Tolonglah, sesekali kamu mencoba memposisikan diri sebagai aku, atau setidaknya kasihani putramu yang tadi badannya menggigil,” tegur Mima masih menjaga lisan dan intonasi.
Galih meredam emosinya, dia menarik kuat kepala kursi sampai bunyinya mengejutkan sang putri.
Hanima mengambilkan menu makan siang untuk suaminya, dan sikapnya masih seperti biasa — melayani.
Guntur sudah kenyang, nasi dan lauk di piringnya habis tak bersisa.
“Sehabis mencuci piringmu langsung mandi ya, Nak,” ucap Mima, dia juga sudah selesai makan.
Pujiara bersendawa, dia kenyang, dan sudah diturunkan ke lantai.
“Iya, Bu.” Guntur berdiri, mengambil piring kotor ibunya biar sekalian dicuci.
“Mas, sambil makan tolong awasi Pujiara, aku mau mandi sebentar,” pintanya sambil lalu.
“Cuma memperhatikan bukan menggendong atau mengajaknya main. Setiap hari kegiatanku juga begitu. Entah itu sambil beres-beres rumah, masak, mencuci pakaian,” sambungnya cepet ketika dapat membaca mimik kesal wajah suaminya.
Hamima berjalan ke dalam kamar, saat sudah di ruang pribadinya — lemari pakaian dibuka, dan dia berjongkok lalu mengeluarkan selembar foto diselipkan di celana dalam tadi.
Potret itu disimpan di tumpukan pakaian dalam, tempat yang nyaris tidak pernah disentuh oleh suaminya.
Kemudian dia mengambil pakaian ganti, baru sesudahnya ke kamar mandi.
***
Bunyi lonceng jam klasik menandakan pukul delapan malam, waktunya anak-anak tidur.
Guntur yang tadi duduk bersama ayahnya, ikut menonton berita malam di televisi hitam putih, beranjak masuk ke dalam kamar.
Hamima tidak benar-benar tidur, dia sedang menimang Pujiara yang sudah terlelap di atas pembaringan.
Selang beberapa menit kemudian, Hamima mendengar langkah kaki, lalu suara berisik plastik. Ia seperti bisa melihat melalui mata batin apa yang sedang dilakukan oleh suaminya.
Galih berjalan ke dapur, ketika melewati kamarnya, berhenti sebentar demi memastikan istrinya sudah tertidur.
Tampah di bawah lemari penyimpanan makanan ditarik, dibawa ke ruang depan dan diletakkan di atas meja.
Bunga tujuh rupa ditaruh diatas daun pisang yang sudah dibentuk menyerupai wadah. Telur ayam kampung diletakkan di sebelahnya, terakhir lintingan tembakau.
Nampan bulat tersebut diangkat, dibawa masuk ke dalam kamar tersorot sinar rembulan yang masuk melalui lubang ventilasi.
Galih mengunci pintu dari dalam, lalu dia membuka laci paling bawah lemari kecil samping tempat tidur. Tangannya masuk meraba, mencari sesuatu.
.
.
Bersambung.
👻👻👻👻👻
🏃♀️🏃♀️🏃♀️🏃♀️🏃♀️
aku yakin Ara mau dijdikan tumbal tu
Krang ajar skli bapak nya
itu pasti tu kumpulan juragan sarkam yg mengamuk karna gagal
nth apa yg ada di otak Sigalih itu