Hanya karena jatuh miskin, pertunangannya dibatalkan dan nama baik orang tuanya dihina di depan mata. Zhao Gou tidak lagi sudi menunduk. Di malam yang gelap, ia lenyap meninggalkan desa pengasingan, melangkah masuk ke Lembah Kematian yang ditakuti para kultivator. Tempat di mana warisan kuno dan ilmu terlarang menunggunya.
Ketika ia kembali dengan topeng misterius dan pedang berdarah, dunia persilatan terperanjat—siapakah sosok mengerikan yang siap meratakan klan-klan besar ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senandung di Balik Dinding Bunga
Langkah kaki Zhao Gou menyusuri lorong-lorong batu di distrik barat Kota Megah. Riuh rendah para penjual bahan spiritual dan gema kereta kencana melintasi jalan-jalan pualam perlahan memudar, berganti menjadi heheningan tenang di kawasan pemukiman tua.
Setelah melepaskan identitas Xiao Long dan berganti menjadi kultivator pengembara kelabu bernama Mo Chen, Zhao Gou sengaja menghindari kawasan pasar gelap maupun kediaman faksi-faksi besar. Ia membutuhkan waktu sejenak untuk mengamati iklim politik kota dari sudut yang paling sepi, membiarkan gejolak amarahnya mengendap rapat di dasar Dantian.
Ia membimbing langkahnya menuju sebuah taman bunga publik tua di sudut kota—sebuah kawasan sepi yang jarang dilalui oleh para pengawal berzirah besi Faksi Utama. Tempat itu dikelilingi oleh pepohonan Ronghua berusia ratusan tahun yang meneteskan kelopak-kelopak bunga berwarna merah muda di atas pualam retak.
Zhao Gou menyandarkan tubuhnya di bawah naungan pohon tua, memejamkan mata secara perlahan. Indera penglihatannya yang tajam dari Mata Naga Ilahi dialihkan untuk merasakan aliran Qi alam di sekitarnya.
Namun, saat ia menikmati keheningan itu, sebuah dentingan tembang petikan kecapi kayu yang amat lembut mengalun menembus kelopak bunga yang berguguran.
Petikan itu tidak mengandung aliran Qi yang ofensif maupun niat pamer kekuatan. Tembang itu meluncur jernih, tenang, dan sedikit sarat akan rasa kesepian yang terasing—sebuah nada yang asing bagi kota sekeras Kota Megah.
Zhao Gou membuka matanya perlahan.
Di atas sebuah bangku batu lima belas langkah di hadapannya, duduk seorang gadis bergaun sutra biru pudar. Gadis itu memangku sebuah kecapi kayu tua tanpa hiasan batu giok. Lembaran rambut hitamnya terurai bebas tanpa perhiasan mewah, hanya diikat oleh seutas pita kain sederhana.
Wajahnya sangat bersih dan anggun, namun sorot matanya memancarkan kedalaman yang dingin—tipe sosok yang sengaja menarik diri dari keriuhan dunia luar dan tidak suka menonjolkan keberadaannya.
Di dada kiri jubah dalam gadis itu, terukir sebuah sulaman benang perak berbentuk bunga plum kecil bercabang tiga—lambang garis keturunan cabang terasing dari Klan Zhao.
Namun, Zhao Gou yang belum pernah menginjakkan kaki di kediaman pusat Klan Zhao tidak mengenali arti khusus dari sulaman tersebut. Bagi Zhao Gou, gadis di hadapannya hanyalah seorang kultivator muda biasa di tingkat Foundation Establishment awal yang sedang mencari ketenangan.
Begitu pula sebaliknya. Gadis bergaun biru itu mendongak sejenak saat petikan jarinya berhenti. Sepasang matanya yang jernih menatap sosok pemuda berjubah kelabu usang dengan pedang besi tanpa sarung di pinggangnya. Binar Qi di tubuh Zhao Gou yang disembunyikan rapat sebagai Mo Chen membuat gadis itu menganggapnya tak lebih dari seorang pengembara miskin yang kebetulan menumpang berteduh.
"Apakah petikan kecapiku mengganggu meditasimu, Tuan Pengembara?" suara gadis itu meluncur lembut, jernih bagaikan gemericik air mata air di tengah hutan batu.
Zhao Gou tetap bersandar di batang pohon, menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak. Nada musikmu cukup bersih dari gejolak pemikiran kotor kota ini."
Gadis bergaun biru itu mengukir senyuman tipis—sebuah senyuman yang samar namun tulus. Jarinya kembali memetik dawai kecapi, membiarkan alunan nada pendek mengalir kembali di antara guguran kelopak bunga.
"Kota Megah jarang memberikan ruang bagi kebersihan semacam itu," bisik gadis itu pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Zhao Gou. "Semua orang di kota ini berlomba-lomba menumpuk kekuatan, menginjak yang lemah, dan memamerkan kemewahan klan mereka."
Zhao Gou melirik gadis itu dari sudut matanya. "Termasuk klanmu sendiri?"
Gadis itu terdiam sejenak. Petikan jarinya melambat. "Terutama klan besar. Semakin besar sebuah klan di kota ini, semakin banyak ulat busuk yang menggerogoti akarnya dari dalam."
Zhao Gou terkekeh pelan—sebuah tawa pendek yang sarat akan makna tersembunyi di balik penyamarannya. "Jika kau membenci kebusukan itu, mengapa kau tidak pergi?"
"Pergi?" Gadis itu menatap langit sore yang memerah di balik tembok kota. Binar matanya meredup oleh beban yang tak terlihat. "Ada ikatan darah dan tanggung jawab yang tidak bisa diputus hanya dengan melangkah keluar dari gerbang kota. Lagipula... aku hanyalah seseorang yang tidak suka terlibat dalam persekongkolan mereka."
Gadis itu tidak pernah menyebutkan bahwa ia adalah Zhao Qing'er—putri tunggal dari mantan Tetua Ketiga Klan Zhao yang telah lama mengundurkan diri dari tampuk kekuasaan Faksi Utama karena menolak taktik kotor Zhao Zhentian dan Zhao Zun. Qing'er memilih mengisolasi diri di sudut kota, dibenci oleh sepupu-sepupunya yang haus kekuasaan karena menolak ikut campur dalam urusan Faksi Utama.
Zhao Gou pun tidak merasa perlu menanyakan namanya. Dalam dunia kultivasi yang penuh tipu daya, saling menyimpan nama adalah bentuk rasa hormat paling aman bagi dua orang asing.
"Masing-masing orang memiliki rantai yang mengikatnya," ujar Zhao Gou santai, merogoh kantong kelabunya dan mengeluarkan sebuah buah aprikot liar yang ia beli di pasar, lalu mengunyahnya pelan. "Tapi rantai itu hanya ada selama kau membiarkan orang lain memegangnya."
Zhao Qing'er tersentak pelan mendengar kalimat sederhana dari pemuda berjubah kelabu itu. Jarinya terhenti di atas dawai kecapi. Ia menatap Zhao Gou dengan rasa penasaran yang halus—melihat ketenangan yang teramat ganjil dari seorang pengembara yang tampak tak berharga ini.
"Kata-katamu terdengar seperti seseorang yang telah memutus banyak rantai," bisik Zhao Qing'er.
"Aku hanya seseorang yang sedang memastikan bahwa rantai itu tidak akan pernah dipasang kembali," balas Zhao Gou datar.
Angin sore bertiup agak kencang, menerbangkan ratusan kelopak bunga Ronghua di antara mereka berdua.
Keheningan yang nyaman kembali menyelimuti taman tua itu. Zhao Qing'er tidak lagi bertanya, melainkan kembali memetik dawai kecapinya dengan nada yang kini terasa jauh lebih ringan dan lepas dari sebelumnya. Zhao Gou tetap duduk bersandar, menikmati keheningan langka sebelum badai besar yang akan diciptakannya meledak di Kota Megah.
Mereka berdua duduk di taman sepi itu hingga matahari terbenam sempurna di balik benteng barat, tanpa ada satu pun yang tahu bahwa takdir di antara garis darah mereka akan segera berbenturan di dalam panggung pembantaian yang sedang disiapkan oleh Zhao Gou.
akan dsusul dg core core selanjutnya...
🤣🤣🤣
hadeeeeh..... dasar org kebon... g abis pikir gua...🤣🤣🤣
saatnya pembantaian massal dimulai ..💪💪💪
semoga akan yerjawab dichaftrr² berikutnya...
JOZZZZZZ buat Author.👍👍💪