Legenda Zhou

Legenda Zhou

Anjing yang Menelan Ludah

​Kapak di tangan Zhao Gou menghantam belahan kayu bakar untuk kesekian kalinya dengan bunyi dug yang berat. Serpihan kayu mahoni berhamburan ke tanah basah, membawa aroma getah segar bercampur sisa embun pagi yang belum sepenuhnya lenyap dari pekarangan rumah panggung.

​Di usianya yang menginjak delapan belas tahun, telapak tangan seorang pemuda semestinya mulus, terbiasa menggenggam gulungan teknik kultivasi tingkat tinggi atau memegang gagang pedang giok milik seorang pewaris sekte terpandang. Namun, realitas memiliki selera humor yang jauh lebih kelam dari jurang maut. Garis takdirnya tidak diukir di aula megah, melainkan di atas tungku tanah liat dapur sebuah desa terpencil yang nyaris tidak tersentuh oleh aliran energi spiritual dunia persilatan.

​Desa Hutan Kabut terletak di perbatasan barat Kekaisaran Langit, sebuah wilayah buangan di mana Qi alam begitu tipis hingga para kultivator angkuh memandangnya sebagai tanah mandul. Bagi orang biasa, tempat ini adalah suaka kedamaian—jauh dari perebutan kekuasaan, bebas dari intrik darah, dan aman dari tebasan pedang para pembunuh bayaran. Tapi bagi Zhao Gou, tempat ini adalah sangkar emas tempat harga diri keluarganya dikubur hidup-hidup tanpa batu nisan.

​"Gou-er, jangan terlalu memforsir tenagamu. Tumpukan kayu bakar untuk musim dingin sudah lebih dari cukup," sebuah suara serak memecah keheningan pagi.

​Zhao Gou menghentikan ayunannya dan menoleh. Di ambang pintu rumah panggung kayu yang sudah mulai reyot, ayahnya—Zhao Tianhe—duduk di atas kursi rotan usang. Wajah pria paruh baya itu pucat pasi, nyaris transparan seperti kertas tua. Sisa-sisa luka dalam dari pertempuran tiga tahun lalu masih menggerogoti meridian tubuhnya tanpa ampun. Meskipun Tianhe selalu berusaha menyembunyikan rasa sakit di balik senyuman lelah, Zhao Gou tahu betul bahwa setiap kali ayahnya menarik napas, paru-parunya terasa seperti disayat oleh ribuan jarum es yang tak kasat mata.

​Tiga tahun lalu, nama Zhao Tianhe adalah salah satu pilar yang paling disegani di cabang utama Klan Zhao di Kota Megah. Sebagai seorang tetua yang memegang kendali atas separuh aset dagang klan di wilayah selatan, ia adalah sosok yang dihormati kawan maupun lawan. Namun, dunia persilatan tidak pernah mengenal kata belas kasihan ketika kekuasaan menjadi taruhannya. Faksi cabang lain yang berkolusi dengan para tetua busuk melakukan kudeta berdarah di malam yang gelap, berniat membersihkan seluruh garis keturunan Tianhe sampai ke akar-akarnya agar kursi kekuasaan tidak jatuh ke tangan yang berhak.

​Alih-alih melawan dan menyeret keluarganya ke dalam pertumpahan darah total yang pasti berujung pada pemusnahan massal, Tianhe memilih jalan yang paling dihinakan oleh para pendekar dunia persilatan: ia memilih mengalah, menyerahkan seluruh aset kekayaan, dan secara sukarela melucuti kultivasi meridian utamanya di hadapan para pengkhianat demi menyelamatkan nyawa istri dan anak tunggalnya.

​"Aku tidak lelah, Ayah," jawab Zhao Gou singkat. Suaranya terdengar datar, namun menyembunyikan getaran emosi yang begitu pekat di dasarnya. Ia kembali mengangkat kapak di tangannya, mengayunkannya dengan presisi sempurna. Setiap hantaman bukan sekadar cara membelah kayu, melainkan satu-satunya cara menyalurkan rasa sesak yang hampir meremukkan dadanya setiap kali ia melihat kondisi sang ayah.

​Nama "Zhao Gou" bukanlah nama asli yang diberikan oleh kakeknya saat ia lahir. Itu adalah nama ejekan yang sengaja disematkan sang ayah ketika mereka tiba di desa buangan ini. Gou berarti anjing. Sebuah nama rendah, hina, dan tidak berharga, yang sengaja dipilih agar para musuh di pusat klan kehilangan minat untuk melacak keberadaan mereka. Buat apa memburu seorang pemuda bernama Anjing yang hidup membusuk di sudut desa terpencil? Begitulah cara mereka bersembunyi di balik bayang-bayang dunia persilatan.

​Namun, bagi Zhao Gou, nama itu adalah sebuah duri beracun yang terus menusuk harga dirinya setiap detik sepanjang hari.

​Di dalam tubuhnya, darah dari garis keturunan murni Klan Zhao masih mengalir deras. Bakat kultivasinya tidak pernah tumpul walau sedikit pun. Sejak usia dini, ia mampu menyerap energi Qi tiga kali lebih cepat dari anak-anak berbakat di kota besar. Pada umur lima belas tahun, tepat sebelum tragedi kelam itu merenggut segalanya, ia telah berhasil menembus puncak tingkat Qi Refining tahap kesembilan, berdiri selangkah lagi di ambang pintu Foundation Establishment. Masa depannya seharusnya bersinar terang di jajaran para jenius muda kekaisaran.

​Sekarang? Ia tidak lebih dari seorang pemuda desa yang menghabiskan hari-harinya membelah kayu bakar dan menimba air keruh dari sumur tua, terpaksa menyembunyikan kultivasinya yang terhenti di balik topeng kepatuhan yang memuakkan.

​"Ibu sedang merebus ubi di dapur. Masuklah sebentar, udara pagi ini terasa menusuk tulang," lanjut Tianhe, disusul oleh batuk kecil yang tertahan di tenggorokan.

​Zhao Gou meletakkan kapak berat itu ke atas tanah, mengangguk pelan kepada ayahnya, lalu melangkah mendekati teras kayu. Di sana, ia melihat ibunya, Lin Su, keluar dari dapur kecil sambil membawa kendi air dari tanah liat. Wanita paruh baya itu mengenakan pakaian kain kasar yang sudah ditambal di beberapa sudut. Tangannya yang di masa lalu terbiasa mengenakan gelang giok mahal kini tampak kasar, dipenuhi lepuh merah akibat pekerjaan kasar yang tidak pernah ia sentuh seumur hidupnya sebelum mereka diusir dari kota.

​Melihat pemandangan itu, ada sesuatu yang meremukkan hati Zhao Gou dari dalam rongga dadanya. Orang tuanya telah merelakan segalanya—martabat, kedudukan, kekayaan, dan kekuatan—hanya agar ia bisa terus bernapas di tempat terpencil ini. Mereka memilih menelan ludah dan darah, rela diinjak-injak oleh siapa saja, semata-mata demi melihat putra tunggal mereka tetap hidup di dunia yang kejam ini.

​Apakah hidup seperti ini yang kalian sebut keselamatan, Ayah? batin Zhao Gou menjerit pilu, menatap punggung ayahnya yang kini semakin membungkuk. Mereka merampas segalanya dari kita, memaksa kita merangkak di dalam lumpur, dan memperlakukan kita tidak lebih dari seekor anjing kurap yang tidak layak diberi ampun.

​Ketundukan tidak pernah mendatangkan perdamaian. Ketundukan hanya membuat para serigala semakin haus darah dan semakin bernafsu untuk menginjak kepala yang sudah bersujud. Zhao Gou memahami kebenaran pahit itu dengan sangat baik. Di dunia kultivasi, kelemahan adalah kejahatan terbesar, dan belas kasihan hanyalah dongeng pengantar tidur bagi orang-orang lemah.

​Saat Zhao Gou hendak melangkah masuk untuk membantu ibunya, sebuah suara gemuruh yang tidak wajar tiba-tiba mengguncang tanah di bawah kaki mereka dengan keras.

​Bum Bum Bum

​Suara itu bukan berasal dari guntur di langit mendung, melainkan hantaman tapak kaki bertonase besar yang menghentak tanah berlumpur di ujung jalan desa, disusul oleh derit roda kayu yang bergesekan kencang dan dengusan berat dari makhluk buas bersisik. Hutan di sekeliling desa mendadak sunyi seketika, burung-burung liar beterbangan meninggalkan sarang mereka karena dilanda teror naluriah.

​Zhao Tianhe yang tadinya duduk dengan tenang di kursi rotan mendadak menegakkan tubuhnya kaku. Wajahnya yang sudah pucat pasi berubah semakin kelabu dalam sekejap mata. Matanya melebar, menatap tajam ke arah jalan setapak utama yang langsung mengarah ke halaman rumah mereka.

​"Ayah?" Zhao Gou mengerutkan keningnya dalam-dalam, merasakan hawa membunuh yang begitu dingin menusuk pori-porinya terbawa oleh angin pagi.

​"Masuk ke dalam rumah sekarang juga, Gou-er. Cepat!" suara Tianhe bergetar hebat, untuk pertama kalinya memperlihatkan kepanikan mendalam yang selama ini disembunyikannya rapat-rapat di balik ketenangannya.

​Lin Su yang membawa kendi air di tangannya terkejut bukan kepalang hingga barang bawaannya terlepas dan pecah berkeping-keping di atas tanah. Air tumpah membasahi debu halaman. Wanita paruh baya itu kehilangan seluruh warna di wajahnya, tangannya langsung menutup mulutnya yang ternganga saat dua ekor makhluk raksasa muncul dari balik tikungan jalan.

​Dua ekor Kuda Darah Spiritual tingkat dua, dengan bulu hitam legam mengkilap dan mata yang menyala merah darah, menerobos masuk ke pekarangan sempit mereka tanpa ragu. Kuku-kuku mereka yang besar mengibaskan debu dan kotoran ke arah teras rumah Zhao.

​Di belakang kedua kuda itu, sebuah kereta kencana mewah berlapis emas murni dan ukiran giok putih salju berhenti tepat di depan pagar bambu yang reyot. Ukiran lambang bergambar burung phoenix yang sedang membentangkan sayap terpampang jelas di sisi badan kereta, membuat darah di tubuh Zhao Gou mendadak mendidih seketika hingga telinganya berdenging keras.

​Lambang kebesaran dari Klan Xie dari Kota Awan Biru.

​Pintu kereta perlahan bergeser terbuka dari dalam. Seorang pria paruh baya berjubah sutra ungu dengan bordiran benang perak melangkah turun lebih dulu, memegang kipas lipat dari batu giok dengan dagu terangkat tinggi, memancarkan kesombongan yang tidak berniat ia sembunyikan. Di belakang pria itu, seorang wanita muda melangkah turun dengan anggun, mengenakan gaun panjang berwarna putih bersih tanpa noda debu sedikit pun, seolah-olah jalanan desa yang kotor ini tidak pantas untuk diinjak oleh kakinya.

​Wajah wanita itu sangat memukau, bagaikan karya seni terindah dari para dewa. Alisnya berbentuk bagai sayap burung phoenix, tatapan matanya jernih, dingin, dan acuh tak acuh seperti es abadi di puncak gunung tertinggi. Kecantikan yang luar biasa itu memancarkan aura kebangsawanan yang membuat siapa pun yang melihatnya merasa kecil dan tidak berdaya.

​Xie Yanfeng.

​Mantan tunangan Zhao Gou.

​Gadis yang tiga tahun lalu diikat sumpah pertunangannya dengan Zhao Gou ketika kedua klan masih berdiri di tingkat yang setara. Dan sekarang, ia berdiri di hadapan mereka, menatap rumah panggung yang reot itu dengan sorot mata penuh penghinaan dingin yang setajam belati.

​Zhao Gou mengepalkan kedua tangannya erat-erat hingga kuku-kukunya menancap begitu dalam ke telapak tangan, merobek kulit dan membiarkan darah segar menetes ke tanah. Namun, rasa sakit fisik itu sama sekali tidak berarti jika dibandingkan dengan api kebencian yang kini membakar habis seluruh sisa kewarasannya.

​Utusan keluarga Xie telah datang. Dan mereka datang bukan untuk membawa kedamaian.

Terpopuler

Comments

Deutsch

Deutsch

lanjut 🙏

2026-08-09

0

Raju

Raju

awal yg menyedihkan....

2026-08-08

1

lihat semua
Episodes
1 Anjing yang Menelan Ludah
2 Kertas yang Merobek Harga Diri
3 Langkah ke Dalam Jurang Maut
4 Jiwa Naga dan Tulang Pembakar
5 Serigala Bertopeng di Kota Awan Biru
6 Permainan Bayangan di Aula Lelang
7 Darah Naga yang Mengguncang Kota
8 Pembantaian di Gang Sempit
9 Benih Segel di Dalam Darah
10 Pulang di Bawah Bintang
11 Retakan di atas Batu Kuno
12 Berlutut di Atas Panggung
13 Gempa Politik di Kota Awan Biru
14 Puncak Awan Hitam
15 Utusan yang Kembali Tanpa Hasil
16 Pertemuan Dua Mata di Puncak Awan Hitam
17 Perburuan di Hutan Magma
18 Ratapan Pengkhianat di Tanah Magma
19 Sang Dewi di Ujung Maut
20 Puncak Hasil Perburuan
21 Perebutan Mata Air Qi Murni
22 Perangkap di Balik Tirai Sekte
23 Bayangan di Dalam Cermin Jiwa
24 Utusan dari Kota Megah Tiba
25 Malam Pembukaan Pesta Hari Jadi
26 Jebakan di Atas Panggung Kehormatan
27 Topeng yang Terlepas & Eksekusi Pertama
28 Berdiri di Sisi Naga
29 Benturan Dua Generasi
30 Jatuhnya Sang Pembunuh
31 Akhir dari Klan Xie
32 Langkah Menuju Kota Megah
33 Cahaya di Tengah Kehancuran
34 Kota Megah dan Penyamaran Baru
35 Senandung di Balik Dinding Bunga
36 Gesekan di Antara Kelopak Bunga
37 Jejak Perak di Pasar Gelap
38 Bayang-Bayang di Balik Pualam
39 Rahasia Benua Pusat dan Pertapaan Sunyi
40 Senandung Perdamaian di Hutan Kabut
41 Manisan di Bawah Lampu Kota
42 Senda Gurau di Rumah Kecil
43 Langkah Sunyi Sebelum Badai
44 Bisikan Ajal di Lorong Hitam
45 Bantai Murni di Bawah Altar
46 Pisau Dingin di Atas Darah
47 Pembayaran Utang Darah
48 Bentrokan Dua Ranah
49 Keputusasaan dan Ledakan Inti Kematian
50 Fajar Baru di Atas Reruntuhan
51 Panggilan Pertama
52 Jejak Langkah dan Rengekan Manis
53 Asap Dapur di Hutan Kabut
54 Riak Masa Lalu dan Arah Angin
55 Bayangan Bintang
56 Gemuruh Lautan dan Benua yang Jauh
57 Taruhan di Tengah Lautan
58 Gelak Tawa dan Pandangan Sang Raja Naga
59 Cahaya Esensi
60 Pelabuhan Benua Biru
61 Patung Agung dan Warisan Klan Lin
62 Bunga Berduri
63 Identitas Sang Bunga Berduri
64 Gejolak di Bawah Panggung Seleksi
65 Badai di Atas Panggung dan Kabar Sang Tuan Putri
66 Bayangan Malam
67 Jebakan di Panggung Final
68 Kabar Klan Kuno
69 Reuni dan Tuangan Pil Esensi Naga
70 Pelelangan Bintang Laut
71 Tamparan di Panggung Utama
72 Warisan Dewa Perang
73 Pembagian Hasil Lelang dan Arah Daratan Tengah
Episodes

Updated 73 Episodes

1
Anjing yang Menelan Ludah
2
Kertas yang Merobek Harga Diri
3
Langkah ke Dalam Jurang Maut
4
Jiwa Naga dan Tulang Pembakar
5
Serigala Bertopeng di Kota Awan Biru
6
Permainan Bayangan di Aula Lelang
7
Darah Naga yang Mengguncang Kota
8
Pembantaian di Gang Sempit
9
Benih Segel di Dalam Darah
10
Pulang di Bawah Bintang
11
Retakan di atas Batu Kuno
12
Berlutut di Atas Panggung
13
Gempa Politik di Kota Awan Biru
14
Puncak Awan Hitam
15
Utusan yang Kembali Tanpa Hasil
16
Pertemuan Dua Mata di Puncak Awan Hitam
17
Perburuan di Hutan Magma
18
Ratapan Pengkhianat di Tanah Magma
19
Sang Dewi di Ujung Maut
20
Puncak Hasil Perburuan
21
Perebutan Mata Air Qi Murni
22
Perangkap di Balik Tirai Sekte
23
Bayangan di Dalam Cermin Jiwa
24
Utusan dari Kota Megah Tiba
25
Malam Pembukaan Pesta Hari Jadi
26
Jebakan di Atas Panggung Kehormatan
27
Topeng yang Terlepas & Eksekusi Pertama
28
Berdiri di Sisi Naga
29
Benturan Dua Generasi
30
Jatuhnya Sang Pembunuh
31
Akhir dari Klan Xie
32
Langkah Menuju Kota Megah
33
Cahaya di Tengah Kehancuran
34
Kota Megah dan Penyamaran Baru
35
Senandung di Balik Dinding Bunga
36
Gesekan di Antara Kelopak Bunga
37
Jejak Perak di Pasar Gelap
38
Bayang-Bayang di Balik Pualam
39
Rahasia Benua Pusat dan Pertapaan Sunyi
40
Senandung Perdamaian di Hutan Kabut
41
Manisan di Bawah Lampu Kota
42
Senda Gurau di Rumah Kecil
43
Langkah Sunyi Sebelum Badai
44
Bisikan Ajal di Lorong Hitam
45
Bantai Murni di Bawah Altar
46
Pisau Dingin di Atas Darah
47
Pembayaran Utang Darah
48
Bentrokan Dua Ranah
49
Keputusasaan dan Ledakan Inti Kematian
50
Fajar Baru di Atas Reruntuhan
51
Panggilan Pertama
52
Jejak Langkah dan Rengekan Manis
53
Asap Dapur di Hutan Kabut
54
Riak Masa Lalu dan Arah Angin
55
Bayangan Bintang
56
Gemuruh Lautan dan Benua yang Jauh
57
Taruhan di Tengah Lautan
58
Gelak Tawa dan Pandangan Sang Raja Naga
59
Cahaya Esensi
60
Pelabuhan Benua Biru
61
Patung Agung dan Warisan Klan Lin
62
Bunga Berduri
63
Identitas Sang Bunga Berduri
64
Gejolak di Bawah Panggung Seleksi
65
Badai di Atas Panggung dan Kabar Sang Tuan Putri
66
Bayangan Malam
67
Jebakan di Panggung Final
68
Kabar Klan Kuno
69
Reuni dan Tuangan Pil Esensi Naga
70
Pelelangan Bintang Laut
71
Tamparan di Panggung Utama
72
Warisan Dewa Perang
73
Pembagian Hasil Lelang dan Arah Daratan Tengah

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!