Kertas yang Merobek Harga Diri

​Kedatangan kereta kencana berlapis emas dan giok itu bagaikan sebongkah batu raksasa yang dilemparkan ke dalam kolam tenang Desa Hutan Kabut. Debu jalanan melayang-layang di udara, menempel pada dinding kayu rumah panggung Zhao yang sudah kusam. Pria paruh baya berjubah sutra ungu—Tetua Xie Ba, wakil dari klan utama keluarga Xie—melangkah maju dua tindak, mengibaskan kipas gioknya seolah udara di pekarangan itu dipenuhi kuman penyakit yang memuakkan.

​Di sampingnya, Xie Yanfeng berdiri tegak. Gaun putih saljunya berkibar lembut tertiup angin pagi. Matanya yang bening seperti kristal menatap sekeliling dengan pandangan asing—bukan kebencian yang berkobar, melainkan jenis pandangan acuh tak acuh dari seorang bangsawan yang terpaksa melangkah ke dalam kandang ternak.

​Zhao Tianhe berusaha berdiri dari kursi rotannya, tubuhnya bergetar hebat saat menyatukan kedua telapak tangan untuk memberi hormat. "Tetua Xie... Kepindahan kami ke perbatasan ini sangat terburu-buru. Maafkan kami jika sambutan keluarga Zhao begitu buruk."

​Suara Tianhe terdengar begitu rendah hati, penuh usaha untuk menjaga situasi tetap terkendali. Namun, Tetua Xie bahkan tidak membalas penghormatan itu. Ia hanya tertawa kecil, suara kekehan yang sarat dengan nada celaan.

​"Tianhe, tidak perlu berpura-pura bersikap sopan," ujar Tetua Xie dingin. Tangannya yang dipenuhi cincin batu permata merogoh balik jubahnya, menarik keluar sebuah gulungan kain sutra merah berlapis benang emas. "Aku datang bukan untuk bertamu atau minum teh di tempat kumuh ini. Ketua Klan Xie telah mengutusku untuk menyelesaikan urusan masa lalu yang belum usai."

​Lin Su yang berada di dekat tangga teras gemetar ketakutan, menggenggam erat gaun kain kasarnya. Sementara itu, Zhao Gou tetap berdiri kaku di samping tumpukan kayu bakar. Matanya yang tajam terkunci pada wajah Xie Yanfeng.

​Gadis itu sempat meliriknya sekilas. Ada kilatan ingatan di mata Yanfeng—ingatan tentang seorang pemuda jenius yang dulu bertarung anggun di panggung turnamen Kota Megah, pemuda yang pernah membuatnya sedikit kagum saat perjanjian pertunangan itu diikat tiga tahun lalu. Namun, kerutan tipis di dahi Yanfeng saat melihat pakaian tambalan dan kapak berkarat di tangan Zhao Gou menghancurkan sisa-sisa kenangan itu. Bagi Yanfeng, pemuda di depannya kini hanyalah kenangan masa lalu yang cacat dan berdebu.

​"Maksud Tetua Xie..." suara Tianhe tercekat di tenggorokan.

​"Perjanjian pertunangan antara keponakanku, Yanfeng, dan putramu," potong Tetua Xie tanpa ragu. Ia membuka gulungan sutra merah itu di udara, lalu tanpa belas kasihan mencabiknya menjadi dua bagian di hadapan mata seluruh keluarga Zhao.

​Srettt

​Suara robekan kain itu menggema bagaikan tebasan pedang di telinga Zhao Gou.

​"Dulu, saat klan kalian masih menguasai jalur perdagangan selatan, pertunangan ini adalah hal yang setara," kata Tetua Xie, melangkah maju hingga ujung sepatunya yang terbuat dari kulit monster tingkat tinggi menyenggol kendi air yang pecah di tanah. "Namun sekarang? Klan Zhao cabang kalian sudah sirna, kekuatanmu hancur, dan kalian hidup seperti tikus tanah di tempat terpencil ini. Yanfeng adalah feniks yang akan terbang ke sekte utama, sedangkan putramu... tidak lebih dari seekor anjing yang sibuk mencari sisa makanan."

​"Tetua Xie!" Lin Su akhirnya tidak sanggup menahan tangisnya. Tangannya yang bergetar terangkat . "Kami sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Kenapa kalian masih harus datang jauh-jauh ke sini hanya untuk mempermalukan kami?"

​"Mempermalukan?" Tetua Xie terkekeh sinis. Ia melemparkan potongan kain sutra yang telah robek itu tepat ke kaki Zhao Tianhe. Kain merah itu jatuh berdebu di atas tanah basah. "Kami hanya merapikan takdir. Garis keturunan Xie tidak boleh tercemar oleh sampah."

​Ia kemudian merogoh kantong spasial di pinggangnya dan melemparkan sebuah kantong kulit kecil yang mendarat dengan bunyi klunting tumpul di atas meja kayu usang teras.

​"Di dalamnya ada lima puluh batu spirit kualitas rendah. Anggap saja ini sebagai ganti rugi dan sedikit sedekah agar kalian tidak mati kelaparan di musim dingin mendatang," tambah Tetua Xie dengan wajah penuh kepuasan sadis.

​Zhao Tianhe menundukkan kepalanya sangat dalam. Bahunya berguncang. Di masa lalu, lima puluh batu spirit kualitas rendah bahkan tidak cukup untuk membeli sepiring hidangan di restoran klan mereka. Namun kini, benda itu dilemparkan ke wajahnya sebagai ganti rugi atas harga diri putranya. Demi keselamatan istri dan anaknya, demi menjaga agar Klan Xie tidak mengirim pembunuh untuk menghabisi mereka jika mereka menolak, Tianhe perlahan menekuk lututnya, berniat menerima hinaan itu.

​"Ayah, jangan!"

​Sebuah suara dingin, tajam, dan sarat akan niat membunuh memotong pergerakan Tianhe.

​Zhao Gou melangkah maju. Setiap pijakan kakinya di atas tanah pekarangan menimbulkan getaran halus yang tak disadari orang lain. Kapak kayu di tangannya dilemparkan ke tanah, menancap dalam. Matanya merah membara, memancarkan aura buas yang membuat dua ekor Kuda Darah Spiritual di belakang kereta mendadak meringkik gelisah dan mundur beberapa langkah.

​Tetua Xie mengerutkan kening, sedikit terkejut oleh tekanan tak kasat mata yang terpancar dari tubuh pemuda yang ia anggap sampah itu. Namun, ia dengan cepat menguasai diri dan tersenyum ejek. "Oh? Sampah kecil ini punya emosi rupanya?"

​Zhao Gou mengabaikan Tetua Xie. Pandangannya lurus mengarah pada Xie Yanfeng, yang sejak tadi hanya diam membisu seperti patung giok.

​"Xie Yanfeng," suara Zhao Gou begitu rendah, namun bergetar oleh kemarahan yang ditahan setinggi gunung. "Apakah ini keinginanmu sendiri? Atau kau hanya mengekor di belakang orang tuamu bagaikan boneka tanpa jiwa?"

​Xie Yanfeng menatap Zhao Gou. Tatapannya tetap dingin, tidak tersentuh oleh amarah atau rasa bersalah. Baginya, dunia kultivasi adalah dunia di mana yang kuat memangsa yang lemah. Hukum alam tidak pernah memiliki ruang untuk rasa kasihan.

​"Zhao Gou, berpikirlah secara realistis," ucap Yanfeng, suaranya merdu namun terasa seperti es yang membekukan darah. "Dunia persilatan itu luas dan kejam. Aku telah diterima di Sekte Awan Langit sebagai murid inti, sementara kau... kau terikat di tanah ini, membelah kayu bakar sepanjang hidupmu. Kita hidup di dua dunia yang berbeda sekarang. Menerima pembatalan ini dan mengambil batu spirit itu adalah keputusan terbaik untuk keluargamu."

​"Keputusan terbaik?" Zhao Gou tertawa. Suara tawa yang terdengar menyeramkan, penuh penderitaan dan kegilaan yang membakar dari dalam dada. "Kau bilang ini terbaik untuk keluargaku, sambil berdiri anggun menyaksikan orang tuaku diinjak-injak di hadapanmu?!"

​Zhao Gou melangkah menghampiri meja kayu. Tanpa ragu, ia meraih kantong kulit berisi batu spirit itu dan melemparkannya kembali secara dihantamkan tepat ke dada Tetua Xie.

​Brak

​Tetua Xie mundur dua langkah, terkejut bukan main. Kantong kulit itu pecah, membuat lima puluh batu spirit berhamburan liar di tanah kotor.

​"Bocah kurang ajar! Kau cari mati?!" bentak Tetua Xie, aura kultivasi tahap Foundation Establishment mendadak meledak dari tubuhnya, menekan udara di sekitar hingga terasa berat bagaikan timah.

​Namun Zhao Gou tidak mundur semili pun. Ia berdiri tegak di depan ayahnya, menahan tekanan aura itu walau sudut bibirnya mengeluarkan sedikit darah segar akibat tekanan kultivasi yang berbeda jauh.

​"Simpan batu spirit kotor kalian!" teriak Zhao Gou, suaranya menggema menembus Hutan Kabut. "Hari ini, Klan Xie datang membatalkan pertunangan karena keluarga Zhao jatuh miskin! Ingat kata-kataku hari ini, Xie Yanfeng!"

​Zhao Gou menunjuk lurus ke arah wajah cantik gadis itu.

​"Hari ini kau memandangku sebagai anjing yang merangkak di dalam lumpur! Tapi dalam tiga tahun... aku sendiri yang akan melangkah ke pintu Sekte Awan Langit milikmu! Aku akan merobek kesombonganmu, meratakan Klan Xie, dan membuat kalian semua berlutut memohon ampun atas hinaan hari ini!"

​Xie Yanfeng sedikit mengerutkan alisnya. Untuk pertama kalinya, ada kilatan ketidaknyamanan di matanya melihat kegilaan dan tekad membara di mata Zhao Gou. Namun, ia segera menutupi rasa terkejutnya dengan tatapan meremehkan. "Sumpah orang lemah hanyalah angin lalu."

​"Cukup!" Tetua Xie mengangkat tangannya, wajahnya merah padam karena marah. "Hamba tak berguna! Jika bukan karena fakta bahwa membunuhmu di sini akan mengotori tangan kami, aku sudah meremukkan tulang-tulangmu!"

​Tetua Xie membalikkan badan, mengibaskan jubahnya dengan kasar. "Yanfeng, ayo pergi! Biarkan keluarga pengemis ini membusuk di sudut dunia!"

​Xie Yanfeng tidak mengucapkan sepatah kata pun lagi. Ia membalikkan tubuh anggunnya, melangkah naik ke atas kereta kencana tanpa pernah menoleh kembali. Kereta mewah itu memutar balik, memancarkan debu dan lumpur yang mengotori pakaian Zhao Gou sebelum akhirnya melaju kencang meninggalkan desa.

​Pekarangan rumah panggung itu kembali sunyi. Hanya tersisa robekan kain sutra merah yang kotor di tanah dan suara isolasi tangis ibunya.

​Zhao Tianhe terduduk lemas di tanah, memeluk lututnya dengan penyesalan mendalam. "Maafkan Ayah, Gou-er... Ayah terlalu tidak berguna untuk melindungimu..."

​Zhao Gou menunduk, menatap darah yang menetes dari telapak tangannya sendiri. Ia tidak menjawab. Di dalam hatinya, sebuah keputusan yang sangat gila telah lahir. Menunduk dan bersembunyi tidak akan pernah membebaskan mereka dari rasa hina ini.

​Malam itu, saat seluruh desa tertidur lelap dan orang tuanya terbuai dalam penderitaan, Zhao Gou berdiri di kamar kecilnya. Ia meletakkan sebuah surat pendek di atas meja kayu, mengemas pedang besi tua peninggalan kakeknya, dan melangkah keluar dari jendela.

​Matanya menatap jauh ke arah utara desa—ke arah Lembah Keputusasaan, wilayah terlarang paling berbahaya di Kekaisaran Langit yang dihuni oleh monster buas dan warisan terlarang yang belum pernah ditaklukkan oleh siapa pun.

​"Jika dunia ini dikuasai yang kuat..." bisik Zhao Gou pada kegelapan malam, "maka aku akan menjadi yang terkuat, atau mati berusaha."

​Ia melangkah masuk ke dalam kabut hitam area terlarang, menghilang dari dunia fana.

Terpopuler

Comments

anggita

anggita

dukung like👍 iklan☝pertama.

2026-08-07

1

Raju

Raju

perjalan tuk menjadi kuat sang MC dimulai dari sini....💪💪

2026-08-08

1

lihat semua
Episodes
1 Anjing yang Menelan Ludah
2 Kertas yang Merobek Harga Diri
3 Langkah ke Dalam Jurang Maut
4 Jiwa Naga dan Tulang Pembakar
5 Serigala Bertopeng di Kota Awan Biru
6 Permainan Bayangan di Aula Lelang
7 Darah Naga yang Mengguncang Kota
8 Pembantaian di Gang Sempit
9 Benih Segel di Dalam Darah
10 Pulang di Bawah Bintang
11 Retakan di atas Batu Kuno
12 Berlutut di Atas Panggung
13 Gempa Politik di Kota Awan Biru
14 Puncak Awan Hitam
15 Utusan yang Kembali Tanpa Hasil
16 Pertemuan Dua Mata di Puncak Awan Hitam
17 Perburuan di Hutan Magma
18 Ratapan Pengkhianat di Tanah Magma
19 Sang Dewi di Ujung Maut
20 Puncak Hasil Perburuan
21 Perebutan Mata Air Qi Murni
22 Perangkap di Balik Tirai Sekte
23 Bayangan di Dalam Cermin Jiwa
24 Utusan dari Kota Megah Tiba
25 Malam Pembukaan Pesta Hari Jadi
26 Jebakan di Atas Panggung Kehormatan
27 Topeng yang Terlepas & Eksekusi Pertama
28 Berdiri di Sisi Naga
29 Benturan Dua Generasi
30 Jatuhnya Sang Pembunuh
31 Akhir dari Klan Xie
32 Langkah Menuju Kota Megah
33 Cahaya di Tengah Kehancuran
34 Kota Megah dan Penyamaran Baru
35 Senandung di Balik Dinding Bunga
36 Gesekan di Antara Kelopak Bunga
37 Jejak Perak di Pasar Gelap
38 Bayang-Bayang di Balik Pualam
39 Rahasia Benua Pusat dan Pertapaan Sunyi
40 Senandung Perdamaian di Hutan Kabut
41 Manisan di Bawah Lampu Kota
42 Senda Gurau di Rumah Kecil
43 Langkah Sunyi Sebelum Badai
44 Bisikan Ajal di Lorong Hitam
45 Bantai Murni di Bawah Altar
46 Pisau Dingin di Atas Darah
47 Pembayaran Utang Darah
48 Bentrokan Dua Ranah
49 Keputusasaan dan Ledakan Inti Kematian
50 Fajar Baru di Atas Reruntuhan
51 Panggilan Pertama
52 Jejak Langkah dan Rengekan Manis
53 Asap Dapur di Hutan Kabut
54 Riak Masa Lalu dan Arah Angin
55 Bayangan Bintang
56 Gemuruh Lautan dan Benua yang Jauh
57 Taruhan di Tengah Lautan
58 Gelak Tawa dan Pandangan Sang Raja Naga
59 Cahaya Esensi
60 Pelabuhan Benua Biru
61 Patung Agung dan Warisan Klan Lin
62 Bunga Berduri
63 Identitas Sang Bunga Berduri
64 Gejolak di Bawah Panggung Seleksi
65 Badai di Atas Panggung dan Kabar Sang Tuan Putri
66 Bayangan Malam
67 Jebakan di Panggung Final
68 Kabar Klan Kuno
69 Reuni dan Tuangan Pil Esensi Naga
70 Pelelangan Bintang Laut
71 Tamparan di Panggung Utama
72 Warisan Dewa Perang
73 Pembagian Hasil Lelang dan Arah Daratan Tengah
Episodes

Updated 73 Episodes

1
Anjing yang Menelan Ludah
2
Kertas yang Merobek Harga Diri
3
Langkah ke Dalam Jurang Maut
4
Jiwa Naga dan Tulang Pembakar
5
Serigala Bertopeng di Kota Awan Biru
6
Permainan Bayangan di Aula Lelang
7
Darah Naga yang Mengguncang Kota
8
Pembantaian di Gang Sempit
9
Benih Segel di Dalam Darah
10
Pulang di Bawah Bintang
11
Retakan di atas Batu Kuno
12
Berlutut di Atas Panggung
13
Gempa Politik di Kota Awan Biru
14
Puncak Awan Hitam
15
Utusan yang Kembali Tanpa Hasil
16
Pertemuan Dua Mata di Puncak Awan Hitam
17
Perburuan di Hutan Magma
18
Ratapan Pengkhianat di Tanah Magma
19
Sang Dewi di Ujung Maut
20
Puncak Hasil Perburuan
21
Perebutan Mata Air Qi Murni
22
Perangkap di Balik Tirai Sekte
23
Bayangan di Dalam Cermin Jiwa
24
Utusan dari Kota Megah Tiba
25
Malam Pembukaan Pesta Hari Jadi
26
Jebakan di Atas Panggung Kehormatan
27
Topeng yang Terlepas & Eksekusi Pertama
28
Berdiri di Sisi Naga
29
Benturan Dua Generasi
30
Jatuhnya Sang Pembunuh
31
Akhir dari Klan Xie
32
Langkah Menuju Kota Megah
33
Cahaya di Tengah Kehancuran
34
Kota Megah dan Penyamaran Baru
35
Senandung di Balik Dinding Bunga
36
Gesekan di Antara Kelopak Bunga
37
Jejak Perak di Pasar Gelap
38
Bayang-Bayang di Balik Pualam
39
Rahasia Benua Pusat dan Pertapaan Sunyi
40
Senandung Perdamaian di Hutan Kabut
41
Manisan di Bawah Lampu Kota
42
Senda Gurau di Rumah Kecil
43
Langkah Sunyi Sebelum Badai
44
Bisikan Ajal di Lorong Hitam
45
Bantai Murni di Bawah Altar
46
Pisau Dingin di Atas Darah
47
Pembayaran Utang Darah
48
Bentrokan Dua Ranah
49
Keputusasaan dan Ledakan Inti Kematian
50
Fajar Baru di Atas Reruntuhan
51
Panggilan Pertama
52
Jejak Langkah dan Rengekan Manis
53
Asap Dapur di Hutan Kabut
54
Riak Masa Lalu dan Arah Angin
55
Bayangan Bintang
56
Gemuruh Lautan dan Benua yang Jauh
57
Taruhan di Tengah Lautan
58
Gelak Tawa dan Pandangan Sang Raja Naga
59
Cahaya Esensi
60
Pelabuhan Benua Biru
61
Patung Agung dan Warisan Klan Lin
62
Bunga Berduri
63
Identitas Sang Bunga Berduri
64
Gejolak di Bawah Panggung Seleksi
65
Badai di Atas Panggung dan Kabar Sang Tuan Putri
66
Bayangan Malam
67
Jebakan di Panggung Final
68
Kabar Klan Kuno
69
Reuni dan Tuangan Pil Esensi Naga
70
Pelelangan Bintang Laut
71
Tamparan di Panggung Utama
72
Warisan Dewa Perang
73
Pembagian Hasil Lelang dan Arah Daratan Tengah

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!