Indonesia
NovelToon NovelToon
Dua Tahun Jadi Janda Bersuami, Kini Aku Istri Sang Mayor

Dua Tahun Jadi Janda Bersuami, Kini Aku Istri Sang Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Penyesalan Suami / Menikahi tentara / Mandul
Popularitas:206
Nilai: 5
Nama Author: Vyrkon

Dua tahun hidup seperti janda meski masih bersuami, Larasati terus dihina mandul oleh keluarga suaminya. Sampai sebuah kecelakaan membangkitkan ingatannya: ia hanyalah istri karbitan dalam sebuah novel, tokoh malang yang ditakdirkan mati agar Rendra dan selingkuhannya hidup bahagia.
Kali ini Laras menolak menjadi korban. Ia menuntut cerai, merebut kembali harga dirinya, lalu menerima lamaran Mayor Bramantyo Adiningrat, perwira dingin yang juga dikabarkan tak bisa punya keturunan.
Pernikahan mereka seharusnya hanya sebuah kesepakatan. Namun sang Mayor perlahan menjadi lelaki yang selalu berdiri di depannya saat bahaya datang. Dengan keahlian sebagai dokter hewan dan mimpi yang dapat menunjukkan masa depan, Laras membangun hidup baru, menaklukkan wabah, dan membungkam setiap orang yang pernah merendahkannya.
Semua orang menertawakan pernikahan dua manusia yang dianggap mandul. Mereka tidak tahu bahwa satu rahasia akan segera terungkap: Laras bukanlah sumber masalah dalam pernikahan pertamanya.
Dan ketika tes itu menunjukkan dua garis, siapa sebenarnya yang akan menjadi bahan tertawaan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Bab 18: Bertaruh Nyawa Menolong Persalinan

"Di mana sapinya?" tanya Laras.

Pria itu menunjuk ke halaman belakang Puskeswan. "Di atas gerobak, Bu. Kami bawa kemari karena dokter yang biasa datang tidak ada. Tolong cepat!"

Pegawai senior yang sejak tadi menghalangi Laras mendecakkan lidah. "Jangan asal mengaku bisa. Perempuan seperti kamu lebih cocok duduk di meja pendaftaran. Kalau salah menangani, nama Puskeswan yang rusak."

Laras menatapnya. "Kalau begitu, silakan Bapak yang menangani."

Wajah laki-laki itu menegang. "Dokter sedang keluar. Semua petugas lapangan dikirim ke peternakan utara. Tadi malam ada kawanan ajag turun dan melukai ternak. Saya bagian administrasi."

"Tadi Bapak berkata saya tak pantas masuk karena bukan siapa-siapa. Sekarang ada hewan sekarat, Bapak malah bersembunyi di balik jabatan administrasi." Pak Sutrisno meletakkan telapak tangannya di meja. "Mana petugas jaga?"

Tak ada jawaban.

Tangis putus asa dari halaman membuat Laras berbalik. Ia membawa mapnya dan berlari keluar.

Seekor sapi betina berwarna cokelat rebah di atas gerobak kayu. Tubuh besarnya basah oleh keringat. Perutnya mengeras setiap kali kontraksi datang, tetapi kakinya hanya mampu menendang lemah. Cairan ketuban bercampur darah membasahi jerami dan menetes di sela papan.

Tiga lelaki berusaha menurunkannya dengan tali. Beberapa warga yang mengikuti dari desa berdiri mengelilingi gerobak. Wajah mereka sama pucatnya dengan pemilik sapi itu.

"Sudah sejak subuh," kata pria yang tadi meminta bantuan. Suaranya serak karena menangis. "Tiga tahun saya pelihara dia. Ini satu-satunya induk yang tersisa setelah penyakit kemarin. Kalau dia mati, keluarga kami tidak punya apa-apa lagi."

Seseorang di belakangnya menghela napas berat. "Kalau memang tak tertolong, lebih baik disembelih. Jangan biarkan hewannya tersiksa."

"Jangan!" Pria itu memeluk leher sapinya. "Tolong dia, Bu. Anak sapinya juga masih bergerak tadi."

Laras naik ke gerobak tanpa menjawab. Ia berjongkok di sisi sapi, mengamati irama napas, warna selaput mata, lalu meraba perut dengan kedua tangan. Kontraksi masih ada. Gerakan kecil menyentak di bawah telapak tangannya.

"Anaknya masih hidup," katanya. "Induknya sangat lemah, tetapi peluangnya belum hilang."

Harapan menyala di mata pemilik sapi, lalu segera terganti ketakutan. "Apa yang harus kami lakukan?"

"Turunkan dia perlahan. Jangan tarik ekor atau kakinya. Siapkan tempat rata, beri alas jerami kering, dan jauhkan orang yang tidak membantu. Mulai sekarang, semua mengikuti perintah saya."

Beberapa warga langsung bergerak. Pegawai senior itu menyusul ke halaman dan berdiri di bawah atap, tidak mendekati gerobak.

"Jangan sok berani," katanya. "Sapi yang kesakitan bisa menendang. Pernah ada petugas patah tulang karena berdiri di tempat yang salah. Kalau kamu terluka, jangan salahkan kami."

"Kalau Bapak tahu risikonya, bantu kosongkan sisi belakang dan siapkan tali penahan," balas Laras.

Laki-laki itu terdiam lagi.

Dengan papan landai dan tali di bagian dada, warga menuntun sapi turun. Hewan itu sempat berdiri, tetapi lututnya segera jatuh ke jerami. Erang rendah keluar dari tenggorokannya.

Laras memeriksa bagian belakangnya. Di antara cairan ketuban terlihat satu kaki kecil yang tidak bergerak banyak. Sedikit bagian ekor anak sapi juga tampak, tetapi kaki satunya tidak muncul.

"Dua ekor," bisik seorang perempuan. "Jangan-jangan anaknya aneh."

"Bukan dua ekor," kata Laras tegas. "Ini satu ekor dan satu kaki belakang. Anak sapi keluar dari arah belakang, tetapi salah satu kakinya terlipat di dalam. Karena tubuhnya tersangkut, tali pusarnya bisa tertekan. Kalau terlalu lama, anaknya kekurangan oksigen."

Kerumunan mendadak senyap.

Pemilik sapi meremas kain di tangannya. "Masih bisa diselamatkan?"

"Bisa, kalau posisinya berhasil diperbaiki dan induknya masih punya tenaga untuk mendorong. Saya tidak akan menjanjikan sesuatu yang belum terjadi, tetapi saya akan berusaha menyelamatkan keduanya."

Ia meminta ember berisi air bersih, sabun, kain, jerami kering, pelumas obstetri, dan sarung tangan panjang sampai bahu. Pak Sutrisno bergegas masuk ke gudang bersama Pak Yohanes.

Pegawai senior menghadang di depan pintu. "Peralatan tidak boleh diambil tanpa izin kepala. Semua ada catatannya."

"Catat nama saya," kata Pak Sutrisno. "Kalau satu pasang sarung tangan lebih berharga daripada dua nyawa ternak, tulis juga itu dalam laporan."

"Saya hanya menjalankan prosedur."

"Prosedur darurat justru mewajibkan pertolongan." Pak Yohanes menarik pintu gudang yang setengah tertutup. "Minggir."

Pemilik sapi ikut mendekat. Tatapannya membuat pegawai itu akhirnya melangkah ke samping. Pak Sutrisno menemukan kotak sarung tangan panjang, botol pelumas, tali bersih, dan alat pemeriksaan sederhana.

Di halaman, Laras meminta dua orang menahan kepala sapi dari depan, bukan menduduki lehernya. Dua orang lain menjaga tali di sisi tubuh tanpa berdiri tepat di belakang kaki. Ia memberi induk sedikit air hangat bercampur larutan gula dan garam dalam beberapa teguk, memastikan sapi masih mampu menelan.

"Jangan dituangkan paksa," katanya ketika seorang warga hendak mengangkat ember. "Kalau masuk ke saluran napas, masalahnya bertambah. Sedikit demi sedikit."

Ia membersihkan bagian belakang sapi dan mengganti jerami yang telah tercampur darah. Cairan yang keluar memang mengkhawatirkan, tetapi belum menunjukkan perdarahan hebat. Yang paling berbahaya sekarang adalah waktu.

"Bu, apa kami tarik kaki yang sudah keluar?" tanya seorang lelaki sambil memegang tali.

"Tidak. Menarik satu kaki akan mengunci bahu dan pinggul anak sapi lebih kuat. Saya harus menemukan kaki yang terlipat, mendorong tubuhnya sedikit ke dalam, lalu meluruskan kedua kaki belakang. Baru setelah itu kita menarik mengikuti kontraksi."

"Mendorongnya kembali?" Pemilik sapi membelalak. "Bukankah harus dikeluarkan?"

"Ruang di panggulnya terlalu sempit untuk memperbaiki kaki dalam posisi seperti ini. Kita perlu menciptakan ruang lebih dulu. Kalau dipaksa keluar sekarang, jalan lahir bisa robek dan anaknya mati terjepit."

Penjelasan Laras membuat warga mengangguk meski wajah mereka tetap tegang. Pegawai senior masih berdiri jauh. Setiap kali sapi bergerak, ia mundur satu langkah.

Laras menyingsingkan lengan bajunya. Pak Sutrisno menyerahkan sarung tangan panjang. "Apakah kamu yakin?"

"Saya yakin dengan tindakannya. Hasilnya bergantung pada kondisi induk dan seberapa cepat kami bekerja."

Ia memasukkan rambutnya ke balik kain penutup, mencuci tangan sampai siku, lalu mengenakan sarung tangan. Pelumas dibalurkan tebal pada tangan dan bagian jalan lahir agar gesekan tidak memperparah luka.

Kontraksi lain datang. Sapi itu mengangkat kepala dan menguak panjang. Tali di tangan warga menegang.

"Tahan badannya, jangan tarik anaknya," perintah Laras. "Saat kontraksi reda, saya masuk."

Ia menunggu sampai otot perut induk sedikit mengendur. Kemudian Laras berlutut di atas jerami, menempelkan satu tangan pada pinggul sapi untuk membaca gerak tubuhnya.

"Tenang," bisiknya pada hewan yang kelelahan itu. "Kita keluarkan anakmu bersama-sama."

Saat jeda pendek tiba, tangan Laras yang bersarung perlahan masuk ke jalan lahir, mencari kaki anak sapi yang terlipat dalam ruang sempit dan panas.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!