Tiga tahun Ratri Kusuma dijuluki janda pembawa sial — dituduh membunuh tunangan suaminya dan menyeret ibunya sampai tewas. Suaminya, Baskara Adiningrat, pewaris konglomerat, lenyap tepat setelah malam pernikahan.
Namun di balik topeng itu, Ratri adalah ahli forensik paling ditakuti di negeri ini, dipanggil "Nyai Ratri". Ia juga mengidap garis takdir nyaris putus — nyawanya bisa padam kapan saja.
Lalu Baskara kembali. Bukan untuk menceraikannya, melainkan berlutut dan diam-diam menyambung nyawanya ke sang istri. Ia menyembunyikan dua rahasia: dialah pria terkaya di dunia, dan ia terlahir dengan waskita — mampu melihat takdir semua orang setahun ke depan, kecuali takdir Ratri. Karena perempuan itu memang tak punya masa depan.
Satu per satu topeng terbuka, utang lama ditagih. Dan Jakarta akan belajar: janda yang mereka injak ternyata berdiri di atas mereka semua.
"Kalau kau memang ingin aku menjanda… buktikan dulu kau benar-benar mati, Baskara."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Salma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Bab 16
Kombes yang Terlalu Hormat
Kombes Pol Reza Pratama baru mengangkat kepala setelah Ratri memberi anggukan kecil.
Gerakan itu berlangsung kurang dari dua detik, tetapi Baskara melihatnya dengan jelas. Seorang perwira menengah kepolisian tidak seharusnya menunggu izin seorang pelapor untuk berdiri tegak.
"Bu Ratri," sapa Reza. "Ruang pemeriksaan awal sudah disiapkan?"
Mbak Lia menjawab bahwa ruang tamu di lantai yang sama telah dikosongkan. Reza memberi instruksi kepada dua penyidik di belakangnya untuk menerima laporan, mencatat daftar barang, dan membuat berita acara penyerahan salinan. Dokumen asli tetap diperiksa di tempat sampai surat administrasi yang diperlukan selesai.
Semuanya terdengar sesuai prosedur.
Yang tidak biasa adalah Reza selalu menoleh kepada Ratri sebelum mengambil keputusan berikutnya.
Bimo segera mendekatinya. "Pak Kombes, ini hanya sengketa keluarga. Saya bisa menjelaskan."
"Jelaskan dalam berita acara pemeriksaan."
"Saya anak keluarga Adiningrat."
"Nama keluarga tidak mengubah isi rekaman."
Suryani mencoba menarik Reza ke samping. "Kita pasti punya kenalan yang sama. Jangan membuat masalah kecil jadi besar."
Reza tidak bergerak. "Dugaan pemalsuan dokumen, akses tanpa hak, dan ancaman terhadap saksi bukan masalah kecil."
"Ratri yang menyuruh Anda menekan kami?"
"Bu Ratri menyerahkan bukti. Hukum yang menentukan langkah berikutnya."
Meski jawabannya formal, caranya menyebut nama Ratri tetap berbeda. Tidak ada nada seorang pejabat yang sedang menenangkan pelapor kaya. Ada kehati-hatian seorang bawahan yang tidak ingin salah memahami perintah.
Baskara mengikuti mereka ke ruang tamu.
Ratri duduk di ujung meja bersama Mbak Lia. Wira menyerahkan daftar rekaman dan salinan digital. Anin diminta menunggu di ruang terpisah agar keterangannya tidak tercampur dengan pihak lain.
"Kami mulai dari laporan dan verifikasi barang," kata penyidik. "Setelah itu para pihak dipanggil untuk memberi keterangan."
"Saya ingin semua akses terhadap materi pribadi Anin dibatasi," ujar Ratri. "Materi itu relevan sebagai alat ancaman, bukan konsumsi kantor."
Reza langsung menoleh kepada penyidik. "Pisahkan lampiran terbatas. Catat siapa saja yang membuka."
"Siap, Pak."
Ratri menggeser satu map. "Jangan perlakukan pengakuan Anin sebagai penghapusan kesalahan. Dia tetap mengambil cap dan memberikan kartu akses. Bedakan tindakan yang dia lakukan sendiri dengan tindakan yang dilakukan karena ancaman."
Reza mengangguk. "Kami periksa proporsional."
Baskara bersandar di dekat jendela. Ia telah melihat para jenderal, menteri, dan pemilik konglomerasi menimbang setiap kata di hadapannya. Sikap Reza kepada Ratri berasal dari pola yang sama.
Namun, Ratri tidak pernah menyebut jaringan semacam itu kepadanya.
Waskita Baskara dapat menangkap garis nasib banyak orang seperti bayang-bayang panjang. Ia tahu siapa yang akan jatuh, siapa yang akan naik, dan siapa yang akan mengkhianati janji dalam satu tahun mendatang. Hanya masa depan Ratri yang tetap kosong.
Kini bahkan masa lalunya terasa memiliki ruang yang tidak dapat ia masuki.
Anehnya, itu tidak membuatnya menjauh. Rasa ingin tahu tersebut justru menjerat lebih kuat.
Sore itu, surat panggilan pertama disampaikan kepada Bimo untuk pemeriksaan awal. Bimo memprotes, menghubungi beberapa orang, lalu menyebut nama keluarga berkali-kali. Tidak satu pun telepon mengubah jadwal.
Di sudut kantor polisi, ia akhirnya duduk di depan meja pemeriksa dengan wajah kusut. Pengacaranya meminta penundaan. Penyidik hanya memberi waktu secukupnya untuk konsultasi hukum, lalu melanjutkan pencatatan identitas dan keterangan.
Suryani menunggu di luar sambil menelepon siapa saja yang pernah makan di rumah Adiningrat.
Satu orang tidak mengangkat.
Orang lain mengaku sedang di luar kota.
Seorang pejabat yang biasanya ramah hanya berkata, "Bu, kalau sudah ada rekaman, saya tidak bisa ikut campur."
Untuk pertama kalinya, Suryani merasa nama Adiningrat tidak membuka pintu. Lebih buruk lagi, beberapa pintu tertutup tepat setelah orang mendengar siapa lawan mereka.
Menjelang petang, Reza kembali ke ruang tamu Sinar Sentosa untuk menandatangani daftar serah terima. Ratri berdiri di dekat rak arsip. Baskara menunggu di lorong, seolah sedang membaca pesan di ponselnya.
"Proses berikutnya berjalan biasa," kata Reza.
"Bagus. Jangan beri perlakuan istimewa kepada siapa pun."
"Siap, Bu Ratri."
Reza ragu sesaat. Ia lalu merendahkan suara.
"Untuk urusan pelabuhan, orang-orang kita sudah menemukan rekening penghubung. Apakah saya lanjutkan pemeriksaannya, Bos?"
Ratri melirik pintu yang tidak tertutup sempurna.
"Kirim laporannya melalui Wira. Jangan bawa urusan itu ke kantor."
"Baik."
Reza mundur setengah langkah sebelum berbalik. Ketika keluar, ia melihat Baskara di lorong. Dua pria itu saling menilai dalam diam.
Baskara tersenyum tipis.
Reza tidak membalas.
Setelah perwira itu masuk lift, Ratri berjalan melewati Baskara tanpa bicara.
"Reza menghormatimu seperti menghormati atasan," kata Baskara sambil mengikutinya.
"Dia menghormati bukti yang rapi. Anda seharusnya mencoba hal yang sama."
"Dia juga menunggumu memberi izin sebelum bicara."
Ratri berhenti di depan pintu kantornya. "Anda menguping?"
"Pintunya terbuka. Pendengaranku kebetulan baik."
"Kebetulan Anda terlalu banyak."
Ratri masuk. Baskara ikut sebelum pintu sempat tertutup.
Di meja kerjanya ada tiga gelas kopi yang sudah dingin, tumpukan berkas, serta kotak makan siang yang belum dibuka. Baskara melihat jam. Waktu laku yang ditulisnya lewat hampir dua puluh menit.
Ia mengambil kotak itu dan meletakkannya tepat di atas map yang hendak dibuka Ratri.
"Makan."
"Pindahkan."
"Eyang Suryo menyuruhmu tidak melewatkan makan."
"Eyang Suryo tidak menyuruh Anda mengatur meja saya."
"Kalau kau pingsan lagi, aku akan memindahkan seluruh meja ini ke rumah."
Ratri menatapnya, mencoba memutuskan apakah ancaman itu lelucon. Wajah Baskara terlalu serius.
Ia akhirnya membuka kotak makan. "Lima menit. Setelah itu Anda keluar."
Baskara duduk di seberang tanpa diminta. "Sepuluh."
"Tujuh."
"Sepakat."
Ratri mengambil satu suap, lalu menunjuk pintu dengan sendok. "Dan berhenti menyelidiki orang-orang saya."
Baskara tidak menyangkalnya. "Kau tahu aku akan menyelidiki?"
"Anda melihat Reza seperti sedang menghafal wajah tersangka."
"Aku hanya ingin mengenal dunia istriku."
"Dunia saya tidak membutuhkan Anda."
"Mungkin. Tapi aku tetap ingin masuk."
Untuk satu detik, Ratri tidak mengunyah. Kemudian ia menunduk kembali, seolah nasi di dalam kotak jauh lebih menarik.
Baskara menyembunyikan senyum. Semakin banyak pintu yang ditutup Ratri, semakin besar keinginannya mengetahui apa yang dijaga perempuan itu di baliknya.
Ia pernah mengira menjaga Ratri dari jauh sudah cukup. Sekarang, berdiri di ambang dunianya saja terasa seperti hukuman yang pantas.
Malamnya di kediaman Adiningrat, Panji menerima panggilan ketika baru turun dari mobil.
"Cari hubungan Reza Pratama dengan Ratri," kata Baskara.
"Hubungan pribadi?"
"Jaringan, perkara lama, operasi yang tidak muncul di berita."
Panji memahami nada itu. "Ada kata tertentu yang harus saya cari?"
Baskara teringat satu sapaan yang lolos dari mulut Reza.
"Bos. Cari tahu siapa yang berhak dipanggil begitu oleh seorang Kombes."