Indonesia
NovelToon NovelToon
Menjadi Pengasuh Putri Kecil Mafia

Menjadi Pengasuh Putri Kecil Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Mafia / Ibu Tiri
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Isshabell

Luna berjalan menyusuri jalanan yang sepi di malam yang semakin pekat dan dari jauh dia melihat sosok anak kecil berlari kencang dengan napas tersengal-sengal dan di belakang gadis kecil itu terlihat seorang pria bertubuh tinggi berkulit hitam dengan wajah layaknya seorang penjahat, pria itu berlari mengejar gadis kecil itu sambil mengarahkan pistolnya ke udara memberi peringatan keras pada gadis kecil yang semakin ketakutan itu.
Merasa ada yang tidak beres dengan sigap Luna meraih tubuh mungil gadis kecil itu dan membawanya bersembunyi di dalam sebuah gang sempit sambil menutup mulut gadis kecil itu agar tidak bersuara.

Luna menatap gadis kecil yang ketakutan itu sambil meletakkan jari telunjuknya ke mulutnya memberi isyarat, gadis kecil itu menganggukkan kepalanya menurut.

Luna berhasil menyelamatkan gadis kecil itu dari kejaran para penjahat.

yuk ikuti kelanjutannya di sini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isshabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.3 Penyelamatan berbahaya

"Papa, aku mau Tante Luna pulang ke rumah kita," ucap Emily pada Leon.

Leon tidak bisa menjawab pertanyaan dari putri kecilnya itu, dia hanya menatap Luna tanpa bisa berkata apa-apa karena dia juga tidak tahu dan belum mengenal Luna lebih jauh.

Merasa permintaannya tidak di hiraukan oleh papanya Emily mengalihkan pandangannya pada Luna " Tante Luna mau kan pulang ke rumah Emily?" tanya Emily mendongakkan kepalanya menatap Luna yang lebih tinggi darinya itu.

Luna tersenyum dia memang sangat penyayang sama anak kecil dan tidak bisa untuk melukai hati mereka lalu Luna pun menjawab pertanyaan dari Emily kecil itu sekenanya "Iya sayang, Tante Luna mau temani Emily pulang ke rumah tapi besok Tante Luna balik lagi ke rumah Tante Luna ya," ucap Luna mencoba menenangkan Emily yang sedang meratap padanya.

"Hore...!!" Emily bersorak kegirangan karena merasa senang tapi tiba-tiba kegembiraan Emily itu berubah menjadi suasana yang mencekam lagi saat terdengar seseorang yang berdiri di belakang Leon melepaskan tembakannya ke udara memberi peringatan pada mereka.

Mata Leon menatap tajam ke arah orang yang melepaskan tembakan itu dan dengan geramnya Leon berkata "Kurang ajar," desis Leon saat tahu siapa yang datang itu, mereka adalah teman dari penjahat yang mengejar Emily tadi.

Leon menoleh pada Luna dan segera memerintahkan Luna untuk membawa Emily kabur dari tempat itu "Tolong bawa Emily pergi dari sini, aku akan hadapi orang-orang itu," ucap Leon pada Luna.

"Tapi..." Luna mengkhawatirkan Leon yang akan bertarung menghadapi kawanan penjahat itu lagi.

"Pergilah, aku titip Emily padamu," ucap Leon pada Luna.

Luna menganggukkan kepalanya dan kemudian berlari sambil menuntun Emily pergi dari tempat itu.

Terdengar sebuah tembakan yang membuat jantung Luna berhenti berdegup sesaat dan bersamaan dengan suara tembakan itu Emily sempat jatuh tersungkur saking kagetnya mendengar suara tembakan tersebut. Buru-buru Luna mengangkat tubuh Emily dan menggendongnya sambil menutup kuping Emily agar tidak mendengar suara tembakan lagi.

Sementara itu terlihat Leon dan kawanan penjahat itu sedang baku hantam.

Dua pria berbadan kekar mengepung Leon dari depan dan samping kanan, sementara seorang lainnya merogoh saku jaket berusaha menarik pistol kedua. Tanpa memberi ruang sedikit pun, Leon bergerak secepat kilat. Ia mencengkeram pergelangan tangan pria berpistol, memuntirnya hingga terdengar bunyi krek yang ngilu, disusul jeritan kesakitan dan jatuhnya senjata ke lantai aspal jalanan.

Belum sempat pria itu meracau, Leon melayangkan upper-cut telak tepat di rahang bawahnya. Pria itu ambruk seketika, tak sadarkan diri.

Pria kedua menerjang dari kanan dengan pisau lipat terhunus. Leon merunduk membungkuk, membiarkan mata pisau tebasan musuh menyambar angin kosong. Menggunakan momentum tersebut, Leon menyikut perut musuh dengan siku kanannya, lalu berputar melepas tendangan memutar (spin kick) yang menghantam dada pria itu hingga tubuhnya terpental menabrak tumpukan kayu bekas.

Pria terakhir yang berbadan paling besar mencoba menerkam Leon dari belakang, melingkarkan lengannya di leher Leon untuk menguncinya. Leon menahan napas, menghentakkan tumit sepatunya kuat-kuat ke jemari kaki lawan, lalu membanting tubuhnya ke belakang. Benturan keras membuat pegangan musuh terlepas. Tanpa membuang detik, Leon berbalik, melayangkan kombinasi pukulan beruntun ke wajah dan dada musuh tanpa ampun, sebelum mengakhirinya dengan satu banting bahu (shoulder throw) yang menghantamkan tubuh pria itu ke lantai hingga pingsan.

Suasana lorong seketika hening, hanya diselimuti suara napas Leon yang memburu. Dalam hitungan detik, tiga penjahat itu sudah terkapar tak berdaya. Leon merapikan kerah jas hitamnya yang sedikit kusut, menyapu pandangan dinginnya ke sekeliling. Dia tidak melihat Luna dan Emily di sana dan Leon yakin kalau Luna pasti sudah membawa Emily ke tempat yang aman.

Leon berjalan dengan tegap dan garang melewati tubuh tiga penjahat yang sudah terkapar tidak berdaya itu. Leon menatap sadis ke arah tiga penjahat tersebut kemudian dia melangkahkan kakinya menuju ke mobilnya dan dalam hitungan detik Leon sudah mengemudikan mobilnya meninggalkan tempat itu menuju ke rumahnya dan sepanjang perjalanan mata Leon menyapu tiap sudut jalan berharap menemukan Luna dan Emily putrinya tapi sejauh ini dia tidak menemukan mereka "Semoga Luna sudah menemukan tempat yang aman untuk menginap malam ini," ucap Leon mendoakan Luna dan putrinya Emily.

Sementara itu Luna sudah sampai di depan rumah Susan sahabatnya itu, Susan terkejut sekali melihat Luna yang sedang menggendong seorang gadis kecil dengan kaki yang berdarah-darah "Lun, kamu kenapa? Ini anak siapa? Kenapa bisa begini?" Susan memburu Luna dengan banyak pertanyaan.

Dengan napas yang ngos-ngosan Luna berkata pada Susan " Nanti aku jelaskan, sekarang tolong aku untuk menginap di sini malam ini saja," ucap Luna.

"Iya, iya kamu boleh bermalam di sini, ayo aku antar kamu ke kamar tamu ya," ucap Susan sambil membawa Luna berjalan menuju ke kamar tamu.

"Ini kamarnya," ucap Susan pada Luna dan Luna pun segera masuk ke dalam kamar itu lalu dia menurutkan Emily dari gendongannya dan mendudukkan gadis kecil itu di bibir ranjang tempat tidur.

"Susan, kamu punya kotak P3K? tanya Luna pada Susan yang meringis melihat darah segar yang mengucur di kaki Emily yang terluka akibat terjatuh tadi sewaktu berlari bersama Luna.

"Ada, tunggu aku akan ambilkan" dan dengan segera Susan berjalan cepat mengambil kotak P3K yang ada di dalam lemari kaca di ruang tengah rumahnya.

"Tante Luna, aku takut...," ucap Emily pada Luna sambil menangis.

"Tenang sayang, ada Tante di sini yang akan menemani dan melindungi Emily dari para penjahat itu, jadi...Emily gak boleh takut lagi ya..." Luna memeluk Emily dan mencoba menenangkannya yang mungkin saja jiwanya terguncang melihat kejadian tadi.

"Papa...?" tiba-tiba Emily teringat pada papanya yang berjuang menghadapi kawanan penjahat itu.

Luna mengulas senyumnya dan mengusap rambut lembut Emily " Papa Emily tidak akan kenapa-kenapa, Papa Emily orang yang hebat dia pasti bisa mengalahkan penjahat itu."

Tapi di dalam hati Luna juga ada sedikit perasaan cemas terhadap Leon, Luna juga takut terjadi apa-apa pada papanya Emily itu bukan karena apa tapi lebih karena kasihan pada Emily kalau sampai terjadi sesuatu pada Leon.

Susan masuk ke kamar dengan membawa kotak putih P3K "Ini lun," Susan menyerahkan kotak P3K itu pada Luna.

"Terimakasih Susan," ucap Luna yang kemudian mulai mengambil alkohol untuk membersihkan luka di kaki Emily.

"Emily sayang...di tahan ya, mungkin agak perih sedikit," ucap Luna lembut pada Emily sebelum dia mengoleskan alkohol itu ke luka Luna.

Emily menganggukkan kepalanya pelan sambil meringis takut, Susan yang melihat hal itu langsung merengkuh pundak Emily sambil berkata padanya " Emily kuat kok, ya," ucap Susan tersenyum membuat Emily merasa di kelilingi orang-orang yang sangat menyayanginya.

Kemudian Luna pun mulai membersihkan luka di kaki Emily dan setelah itu dia meneteskan Betadine ke bagian kaki Emily yang terluka setelah itu Luna membalut luka itu dengan kain kasa "Sudah. Selesai sayang," ucap Luna tersenyum menatap Emily yang sedari tadi meringis menahan sakit di kakinya.

1
𝓮𝓵𝓯𝓪𝓷𝓪𝔂𝓪 ₳ⱤⱤ₣₳₳ 🕸🌪
kuy double up kk 🙌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!