Indonesia
NovelToon NovelToon
MENIKAHI PRIA ASING BERKURSI RODA

MENIKAHI PRIA ASING BERKURSI RODA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Balas Dendam / Komedi
Popularitas:10.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Di usianya yang baru 25 tahun, Inayah Putri adalah gabungan sempurna antara kecerobohan, ketomboyan, dan kejeniusan. Ide-ide cemerlangnya sukses mengguncang perusahaan papan atas, melejitkan karier dan gajinya secara instan.

Sayang, sukses di dunia kerja tak sebanding dengan percintaannya. Bertahun-tahun berkorban demi Pasya, Inayah justru menerima kenyataan pahit saat tak sengaja mendengar percakapan Pasya dan ibunya, yang menganggapnya "ATM berjalan". Janji pertunangan dan pernikahan yang diimpikan hanyalah kebohongan belaka.

Dalam keputusasaan di tepi pantai, matanya tertuju pada Abiyan Zimraan, pria misterius berkursi roda yang dikiranya hendak bunuh diri. Tepat ketika ibunya mendesak untuk segera menikah dan Inayah menolak untuk kembali pada Pasya, ia membuat keputusan ternekat dalam hidupnya.

Menatap Abiyan, meski lumpuh tapi memiliki ketampanan memikat, Inayah berpikir: "pria ini seribu kali lebih berharga dibanding pengkhianat seperti Pasya." Tanpa ragu, Inayah melamarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEHANGATAN KELUARGA BARU.

Perjalanan menuju kampung halaman Inayah memakan waktu hampir dua jam. Makin mendekati tujuan, suasana perkotaan yang bising perlahan berganti dengan deretan pemukiman khas pinggiran Jakarta yang masih kental dengan budaya Betawi. Lingkungan yang hangat, ramah, dan apa adanya, persis seperti watak Inayah yang sering kali blak-blakan tanpa tedeng aling-aling.

Mobil mewah milik Abiyan akhirnya berhenti tepat di depan sebuah rumah sederhana berpagar kayu cat putih. Walaupun halamannya tidak terlalu luas, suasananya terasa sangat asri. Di samping rumah, terdapat instalasi kebun sayur hidroponik yang tertata rapi, menunjukkan betapa produktifnya pemilik rumah ini.

Belum juga mesin mobil benar-benar mati, Inayah sudah melompat turun dengan tidak sabaran.

"Assalamualaikum! BUNDAAA, AYYAHHH! Nayah, putrimu yang paling cantik dan gemoy ini pulang nih!" teriak Inayah melengking sambil berlari kecil menuju pintu depan.

Tak berapa lama, pintu kayu tersebut terbuka. Seorang pria paruh baya berkumis tipis dan istrinya yang mengenakan daster rumahan muncul dari dalam.

"Masha Allah, Nayah! Anak Ayah udah pulang!" sambut Pirman, Ayah Inayah, dengan senyum merekah dan tangan terbuka lebar.

Namun, sambutan hangat sang ayah langsung buyar oleh reaksi Royani, Ibu Inayah. Wajah wanita itu seketika menyengit. Tanpa kata, ia meraih sapu lidi yang bersandar di dekat pot bunga, lalu melangkah lebar-lebar menghampiri Inayah.

"Ooh, bagus ya lu! Pulang sendirian ya lu?!" sembur Ibu Royani dengan logat Betawinya yang kental, siap mengayunkan sapu lidi. "Berani-beraninya lu bohongin Bunda! Bilangnya mau kawin sama si Pasya, tapi pas Bunda samperin ke sana, lu kagak ada! Hah?! Ke mana lu?!"

"Huaaa! Ampun, Bunda! Nayah kagak bohong! Nayah beneran udah nikah, tahu!" jerit Inayah histeris sambil berlari memutari pot bunga di halaman. "Ayah! Tolongin Nayah, Yah! Bunda mau KDRT nih!"

Mendengar kata 'nikah', langkah Ibu Royani seketika terhenti di udara. Sapu lidinya perlahan menurunkan posisi.

"Apa lu kata? Lu... udah nikah, Nay?" tanya Ibu Royani dengan mata membelalak, antara kaget dan penasaran.

"Beneran! Nih buktinya!" Inayah buru-buru merogoh tas sampingnya dan mengeluarkan dua buah buku nikah bercover merah dan hijau. Ia memang sudah menyiapkan 'senjata' ini karena tahu betul tabiat ibunya.

Dengan napas terengah-engah, Inayah menyerahkan buku tersebut. Ibu Royani langsung merebutnya, meneliti lembar demi lembar dengan kening berkerut.

"Ini beneran? Kagak dapet beli di pasar rebo, kan? Bukan buku palsu, nih?" bisik sang Ibu masih kurang percaya.

"Buku itu asli, Bu. Kami memang sudah menikah secara sah."

Sebuah suara berat bernada tenang terdengar dari arah gerbang. Otomatis, pasangan suami istri itu mengalihkan pandangannya. Tampak seorang pria muda bertubuh tegap dan bernasib tampan sedang duduk di atas kursi roda, perlahan didorong masuk oleh Bara, pengawalnya.

Ibu Royani terpaku sejenak. Pandangannya berganti antara wajah tampan Abiyan dan kursi roda yang didudukinya. Rasa simpati dan haru seketika terpancar dari wajah sang ibu.

"Eh... Kamu suaminya Nayah, Nak?" tanya Ibu Royani pelan, suaranya melunak.

Namun, berbeda dengan sang istri, Pirman justru melangkah maju dengan wajah berseri-seri yang mendadak berubah serius.

"Tidak! Ini kagak sah!" tegas Pirman sambil berkacak pinggang. "Ayahnya Nayah ini masih hidup, masih sehat bugar! Kenapa bisa-bisanya kalian nikah diam-diam, hah? Pokoknya, sebelum Ayah sendiri yang nikahkan dan jadi walinya, buat Ayah ini belum afdol!"

Mendengar ketegasan sang mertua, Abiyan refleks menoleh ke arah Inayah, melemparkan tatapan mata seolah meminta pertanggungjawaban atas kekacauan ini.

Inayah buru-buru maju, memegang lengan ayahnya. "Ayah... jangan marah sama Mas Biyan. Ini semua Nayah yang mau! Nayah yang ndesak Mas Biyan buat buru-buru nikahin Nayah."

"Kenapa gitu, Nay?" tanya Pirman heran.

"Nayah takut Bunda terus-terusan maksa Nayah nikah sama si Pasya!" cerocos Inayah blak-blakan. "Nayah kagak mau, Yah! Si Pasya itu pria parasit! Dia cuma incer uang Nayah doang, kagak tulus! Makanya Nayah kabur dan minta dinikahin sama Mas Biyan!"

Ibu Royani yang mendengar itu langsung menepuk jidatnya sendiri, merasa bersalah sekaligus merutuki mantannya sang anak. "Aduh... ya udah, ya udah. Kagak enak dibicarain di halaman gini. Tetangga pada ngeliatin. Sebaiknya kita masuk dulu. Ayo, Nak Biyan, silakan masuk..."

Mereka pun melangkah masuk ke dalam rumah sederhana tersebut. Suasana ruang tamu terasa hangat meski furniturnya tampak biasa saja. Pirman duduk di sofa kayu, masih menyilangkan tangan di dada dengan raut muka agak merajuk atas keputusan nekad putrinya.

Melihat kesederhanaan keluarga Inayah yang begitu hidup dan penuh kehangatan, hal yang sama sekali tidak pernah Abiyan dapatkan di rumah mewahnya yang dingin, hati Abiyan tersentuh.

Dengan nada bicara yang sangat sopan dan penuh penghormatan, Abiyan menatap Pirman.

"Ayah... Kalau memang Ayah menginginkan untuk mengijab saya secara langsung, saya sangat siap," kata Abiyan tulus. "Saya akan menyiapkan segalanya. Termasuk jika Ayah dan Ibu ingin mengadakan resepsi pesta pernikahan untuk merayakannya bersama keluarga besar."

Mata Pirman seketika berbinar terang. Wajah merajuknya luntur dalam sekejap.

"Nah! Gitu dong!" seru Pirman girang sambil menepuk paha sendiri. "Mau bagaimanapun, si Nayah ini punya keluarga yang harus tahu kalau dia udah ada yang punya! Biar kagak dikira gadis bunting duluan! Nah, karena Nak Biyan udah menyanggupi, Ayah terima dengan tangan terbuka! Kapan rencananya, Nak?"

"Terserah Ayah dan Ibu. Kapan pun Ayah siap, saya dan tim saya akan langsung mengurus segalanya," jawab Abiyan dengan senyum tipis yang amat jarang ia perlihatkan.

"Udah, udah! Urusan pesta bisa dibicarakan nanti," potong Ibu Royani sambil tersenyum lembut dari arah dapur. "Yang penting sekarang kita makan siang dulu. Kalian pasti lapar kan, perjalanan jauh dari kota?"

"BENER BANGET, BUNDA!" jerit Inayah girang. "Nayah udah lapar banget dari tadi pusing mikirin sapu lidi Bunda!"

Merekapun berkumpul di meja makan kayu yang terletak di dekat dapur. Hidangan rumahan sederhana, seperti sayur asam, ikan asin goreng, sambal terasi, dan tempe mendoan, tersaji hangat.

Suasana makan siang itu penuh dengan gelak tawa. Orang tua Inayah memperlakukan anak perempuannya bukan cuma sebagai putri, tapi juga seperti sahabat karib. Saling ledek, bersenda gurau, dan berbagi cerita tanpa ada batasan kaku.

Abiyan yang biasanya makan dalam diam dan formalitas ketat, kali ini menikmati setiap suapan nasi hangatnya sambil mendengarkan celotehan Inayah dan orang tuanya. Untuk pertama kalinya setelah belasan tahun, Abiyan merasakan kembali apa arti dari sebuah 'keluarga'.

Di tengah-tengah makan, Ibu Royani teringat sesuatu.

"Oh iya, Nay... Nanti sore kamu sama Nak Biyan ke rumah Nenek, ya," ujar sang Ibu. "Beritahu Beliau kalau kalian udah nikah. Kasih tahu juga, Nenek mau dioperasi penyakitnya minggu depan, biar Beliau tenang dan kagak pikiran."

Mendengar kabar itu, mata Inayah berbinar senang. "Wah, beneran, Bun? Siap, Bunda! Nanti sore Nayah sama Mas Biyan langsung ke sana!"

Kehangatan yang mengalir di rumah kecil itu seolah perlahan meluluhkan es batu yang selama ini membeku di dalam hati Abiyan.

1
Baek chanhun
nenek sm kakek tempat inayah sj,.agar awet muda
Sribundanya Gifran
lanjut
falea sezi
lanjuttt🤭 q kirim hadiah
Naftali Hanania
keren nayah...🤩 biarpun tetep aja ada kejadian lucu nya 🤭✌️
Baek chanhun
next thourt💪💪
Sribundanya Gifran
lanjut
mama
top mar kotop abiyan gk ad duany pokok ny,sat set gk bakal ngasih celah buat musuh 😄
Teh Fufah
keren nayah nih... udah punya pengawal
Sribundanya Gifran
thor up yg bnyak thor💪💪💪💪💪
Mutiara Nisak
mimpi apa dirimu nay semalam,dpt cincin seharga milyaran,klo hilang belinya kyk beli kerupuk pasir....😄😄😄
Naftali Hanania
wadaw...ini sultan di atas sultan ya...10m klk ilqng tinggal beli lg.....mantabbbb👍👍👍👍
Naftali Hanania
gak dpt mangsa baru..mangsa lama diudak - udak 😎
Naftali Hanania
begitu kalok jodoh kali ya....saling ngelengkapin 😍👍
Naftali Hanania
🤣🤣🤣 kaget kali sm.interaksinya nayah sm nrnek nya....gak pernah gitu ya byan sm nenek nya 😁✌️
Naftali Hanania
kasihtau gak ya....😁✌️🤭
Naftali Hanania
👍👍👍👍
Naftali Hanania
no jaim2 ya inna 🤭
Naftali Hanania
🤣🤣🤣 inna tidurnya sorah...parah 🤣🤣🤣🤣
Naftali Hanania
mendadak jd orang ssuper duper have ya In 🤭👍
Naftali Hanania
inayah.....👏👏👏👏👏👏😁👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!