Lahir di tengah gemerlap keluarga bangsawan bisnis tak lantas membuat Exel Dirgantara bahagia. Masa lalu kelam menempanya menjadi pria berdarah dingin, berjarak, dan berpandangan tajam seolah mampu membunuh lawan bicaranya dalam hitungan detik. Di balik dinding tebal yang ia bangun, hanya Achmad—sahabat sekaligus asisten pribadinya yang serba bisa dan humoris—yang sanggup memahami luka serta menghadapi kerumitan sikap sang CEO.
Dunia Exel yang tenang dan penuh kontrol mendadak runtuh saat sebuah rencana perjodohan lama mengikatnya dengan Alexa Pramudya. Alexa adalah perwujudan dari segala hal yang dibenci sekaligus dibutuhkan Exel: seorang gadis SMA mungil berparas bak bidadari, namun memiliki suara cempreng, super cerewet, dan energi yang seolah tak pernah habis.
Bersama ketiga sahabatnya yang tak kalah ramai—Rin Mashita si blasteran Jepang-Indo yang cerdas, Safi murid pindahan Malaysia dengan logat Melayu khasnya, serta Melati si cantik berdarah Arab-Indo—Alexa membawa warna baru
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon achmad abdur roufur rokhim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Ungkapan Perasaan dan Malam Pertama yang Sukses
Mobil Rolls-Royce hitam itu membelah kegelapan malam kota Jakarta menuju area apartemen eksklusif di kawasan Pusat. Di dalam kabin yang senyap, atmosfer terasa sangat kaku. Alexa duduk merapat ke sudut pintu kanan, menyembunyikan wajahnya yang masih hangat akibat kejadian heboh di rumah utama tadi.
Kata-katanya sendiri—“Aku istri sahnya Mas Exel Dirgantara!”—masih bergema nyaring di dalam ingatannya. Gadis mungil itu meremas ujung kaus kartun beruangnya kencang, merutuki mulut cemprengnya yang refleks berteriak tanpa disaring.
Di sebelahnya, Exel duduk tegap. Tatapan sang CEO yang biasanya dingin dan datar, kini tampak meredup hangat. Lirikan matanya sesekali terarah pada sang istri mungil yang sedang salah tingkah setengah mati.
Begitu pintu unit penthouse apartemen terbuka dan terkunci dari dalam, Alexa langsung bersiap pasang jurus seribu kaki.
"A-aku mau langsung mandi dan tidur! Selamat malam!" cicit Alexa cepat dengan suara melunak, berniat melesat menembus koridor menuju kamar utama.
Namun, sebelum jemari mungilnya sempat menggapai gagang pintu, sebuah tangan kekar yang hangat meraih pergelangan tangannya secara halus.
Sret.
Langkah Alexa terhenti seketika. Tubuh mungilnya terputar pelan hingga kini berdiri berhadapan langsung dengan dada tegap Exel. Bau harum parfum masculine woody bercampur aroma maskulin alami milik pria itu mendadak memenuhi indra penciumannya.
"Mas... Mas Exel?" cicit Alexa kaku, matanya yang bulat melotot polos mendongak menatap wajah tampan suaminya. "K-kenapa?"
Exel tidak langsung menjawab. Pria itu menunduk sedikit, menatap lurus ke dalam manik mata bulat milik Alexa. Tatapannya begitu dalam, pekat, dan sarat akan emosi yang selama ini terkunci rapat di balik benteng gengsinya.
"Kamu mau lari ke mana, Alexa?" suara Exel terdengar sangat rendah, halus, dan serak.
"A-aku gak lari! Cuma mau tidur..." elak Alexa, pipi tembamnya kembali membara merah padam. "Lagian... gara-gara tadi di rumah Mama, aku malu banget tahu gak! Mulut aku kenapa bisa latah teriak-teriak begitu di depan wanita kanebo basah itu!"
Exel menyunggingkan senyum tipis—sebuah senyuman sangat manis yang sanggup meluluhkan es di Kutub Utara. Jemari panjangnya terulur, mengelus lembut pipi hangat Alexa dengan ibu jarinya.
"Kenapa harus malu?" bisik Exel pelan. "Apa yang kamu ucapkan tadi tidak salah. Kamu memang istri sahku. Nyonya Muda Dirgantara."
Desiran hebat seketika menghantam dada Alexa. Jantungnya berdebar kencang bagaikan genderang perang. "Tapi... tapi kan kita dari awal bilangnya cuma pernikahan formalitas enam bulan, Mas..."
"Tidak ada lagi formalitas," pangkas Exel kaku namun mantap, memotong ucapan Alexa tanpa ragu.
Exel memajukan langkahnya, mengikis jarak di antara mereka hingga tubuh mungil Alexa bersandar di dinding koridor yang dingin. Kedua tangan tegap Exel terkunci di samping kepala Alexa, memagari gadis itu sepenuhnya dalam pepat kekuasaannya.
"Dengar baik-baik, Alexa," kata Exel, tatapannya mendadak berubah menjadi sangat jujur dan emosional. "Masa laluku dengan Clara sudah mati lima tahun lalu. Tidak ada sedikit pun perasaan tersisa untuknya. Dan aku tidak akan pernah membiarkan wanita mana pun merusak rumah tangga kita."
Alexa menahan napasnya, terpaku melihat kesungguhan di mata cokelat gelap milik suaminya.
"Aku yang kaku, aku yang gengsi," lanjut Exel dengan suara yang kian melunak. "Aku menolak mengakui perasaan ini karena ketakutanku pada trauma masa lalu. Tapi melihatmu marah, melihatmu cemburu, dan mendengarmu mengklaim dirimu sebagai istriku tadi malam... membuatku sadar satu hal."
"S-sadar apa...?" bisik Alexa hampir tak terdengar.
Exel menundukkan kepalanya, menyatukan kening mereka. Hembusan napas hangat sang CEO menyapu permukaan bibir tipis Alexa.
"Aku sudah jatuh cinta padamu, Alexa," aku Exel tulus, sebuah pengakuan yang akhirnya merobohkan seluruh tembok es di dadanya. "Bukan karena perjodohan Kakek, bukan karena perintah Mama... tapi karena kamu. Si gadis mungil cempreng yang sudah mengacaukan hidupku."
Deg!
Air mata keharuan mendadak menggenang di pelupuk mata bulat Alexa. Seluruh rasa ragu, takut, dan cemas yang menyelimuti pikirannya seketika menguap. Alexa meremas pinggiran kaus hitam Exel, mendongak menatap suaminya dengan senyuman manis yang memancarkan kejujuran yang sama.
"Aku... aku juga, Mas Es Batu," balas Alexa dengan suara cemprengnya yang melunak pasrah. "Aku juga udah jatuh cinta sama Mas Exel. Aku gak rela Mas Exel dekat-dekat sama cewek lain... Aku takut kalau Mas Exel berpaling."
Exel tersenyum lega. Sebuah beban berat seolah terangkat dari pundaknya. Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, Exel menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang dalam, hangat, dan sarat akan rasa cinta yang membara.
Ciuman kali ini bukan ciuman kilat atau ketidaksengajaan seperti sebelumnya. Ciuman ini adalah bentuk pengikatan janji suci dan penyatuan dua hati yang telah saling memiliki. Alexa memejamkan matanya rapat-rapat, melingkarkan kedua tangan mungilnya di leher tegap Exel, membalas kepasrahan rasa cinta suaminya.
Exel perlahan merengkuh tubuh mungil Alexa ke dalam garapan lengannya, mengangkatnya secara halus tanpa memutus tautan bibir mereka, dan melangkah mantap menuju ranjang utama.
Malam itu, di bawah paparan cahaya lampu tidur bernuansa kuning hangat, tembok gengsi dan kesepakatan formalitas enam bulan resmi runtuh tak tersisa. Di dalam kamar yang tenang, si CEO berdarah dingin memperlakukan istri mungilnya dengan sangat lembut, penuh kehangatan, dan rasa hormat yang mendalam. Malam pertama mereka yang sempat tertunda akhirnya terlaksana dengan begitu sempurna dan membahagiakan.
Sinar matahari pagi menembus celah gorden, menyinari kamar utama unit penthouse.
Alexa terbangun perlahan saat merasakan sebuah lengan tegap dan hangat melingkar kencang di pinggang mungilnya, menarik tubuhnya kian merapat ke dada bidang yang hangat. Alexa mendongak pelan dan menemukan wajah tampan Exel yang masih terpejam tenang di sebelahnya. Rambut hitam sang CEO tampak sedikit berantakan, memancarkan kesan tampan alami tanpa raut kaku.
Alexa tersenyum kecil, jemari mungilnya terulur mengusap pelan garis rahang tegas milik suaminya. Ganteng banget sih Mas Suami kalau lagi tidur gini, batin Alexa memuji polos.
Mata cokelat gelap Exel perlahan terbuka. Begitu melihat mata bulat istrinya yang menatapnya dekat, sebuah senyuman hangat terbit di bibirnya. Exel menunduk dan mendaratkan ciuman manis di dahi Alexa.
"Selamat pagi, Istriku," sapa Exel dengan suara serak khas bangun tidur yang sangat seksi.
Wajah Alexa seketika kembali memerah manis. "S-selamat pagi, Mas Exel..."
"Masih sakit?" tanya Exel lembut seraya mengelus puncak kepala Alexa.
Alexa menyembunyikan wajah panasnya di dada tegap Exel, menyikut pelan perut suaminya. "Mas Exel! Jangan ditanya begitu ah! Malu!"
Exel terkekeh renyah—sebuah suara tawa gembira yang kini makin sering terdengar dari bibirnya.
Bel pintu apartemen mendadak berbunyi.
TING-TONG! TING-TONG!
"Aduh, siapa sih pagi-pagi gini datang?" gerutu Alexa heboh, mencoba duduk.
"Biarkan saja, paling Achmad," ujar Exel santai, namun tetap berdiri dan memakai celana kain serta kaus kasualnya untuk memeriksa pintu depan.
Begitu pintu unit dibuka, Achmad berdiri di sana membawa berkas dokumen dan dua kotak sarapan. Namun, begitu mata Achmad menatap raut wajah Exel—yang mendadak sangat berseri-seri, cerah, dan tidak ada sisa kaku sedikit pun—cengiran paling jahat dalam sejarah hidup Achmad seketika terbit!
Achmad melongokkan kepalanya ke dalam, lalu menatap Exel dari ujung kepala sampai ujung kaki seraya menaik-turunkan alisnya secara provokatif.
"ANJIRRR!" jerit Achmad heboh seraya menepuk dadanya sendiri. "Muka lu beda banget hari ini, Cel! Cerah bagaikan matahari terbit di Bali! Baju agak kusut, aura bucin menembus langit..."
Exel berdeham kaku, berusaha memasang raut datar walau rona merah di ujung telinganya tidak bisa dibohongi. "Achmad, bisa tidak berteriak pagi-pagi?"
"Hahaha! Gak bisa, Bos!" gelak Achmad meledak tanpa beban, melangkah masuk ke ruang tamu. "Gua tahu nih! Gua tahu! 'Malam Pertama yang Gatot' kemarin akhirnya resmi sukses besar, kan?! Hahaha! Selamat ya, Pak CEO!"
"Achmad, diam," desis Exel tajam, walau ada senyuman tipis yang tak mampu ia tahan.
Dari arah koridor, Alexa melangkah keluar dengan gaun rumahannya yang menggemaskan. Begitu melihat Achmad sedang melotot goda ke arahnya, wajah Alexa seketika membara merah padam bagaikan kepiting rebus!
"Aaaa! Paman Achmad jahat banget!" jerit Alexa heboh dengan suara cemprengnya, menyembunyikan wajah panasnya di balik punggung lebar Exel.
Achmad tertawa makin puas melihat pasangan pengantin baru yang sama-sama salah tingkah itu. "Aduh, Nyonya Muda! Jangan sembunyi begitu! Selamat ya! Akhirnya Si 'Kanebo Kering' ini resmi takluk sepenuhnya di tangan Si 'Botol Yakult'!"
Pagi itu, di dalam apartemen yang kini dipenuhi hangatnya cinta dan gelak tawa, sebuah lembaran baru dalam pernikahan rahasia Exel dan Alexa telah resmi dimulai tanpa ada lagi keraguan di dalam hati mereka.