kisah seorang anak yang bernama Nina yang tinggal di desa dan bertahun-tahun di tinggal ayahnya, kemudian saat beranjak dewasa , ia di ambil kembali dan di paksa menikah untuk menggantikan saudara tirinya dengan laki-laki kejam seperti serigala.
yuk.. ikuti kisahnya... , akankah Nina bisa bertahan hidup di sarang serigala yang isinya manusia kejam berhati iblis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 22
Jafar menyembunyikan keterkejutannya dengan sangat rapi. Pandangan tajam di balik masker hitamnya kembali dingin dan sulit ditebak. Pria yang dikenal irit bicara dan seirit senyum itu sengaja berpura-pura tidak tahu apa-apa tentang sadapan telepon maupun skenario Bawang Merah dan Bawang Putih.
Jafar bersandar santai, menanti reaksi Nina. Dalam benaknya yang dingin, ia mengira Nina akan menolak dengan wajah penuh martabat persis seperti skenario pria kaya memberi uang pada gadis desa yang polos dan menolak demi jual mahal seperti yang diajarkan Faris.
Namun jafar terkejut bukan main, bukan masalah kartu nya yang dengan sukarela ia serahkan pada Nina, toh dirinya juga masih punya lagi beberapa kartu yang limitnya tak terbatas.ia terkejut dengan reaksi Nina.
Tanpa ragu, tanpa gengsi, dan sama sekali tak berminat berpura-pura jual mahal, jemari mungil Nina dengan sigap menyambar kartu hitam itu. Ia mengelusnya penuh kasih sayang, lalu tersenyum sangat manis dengan wajah polosnya.
"Terima kasih, Tuan... Nina terima nafkah pertama dari Anda," ucap Nina dengan nada lugu tanpa rasa malu sedikit pun.
Jafar yang biasanya berwajah dingin tak tersentuh mendadak membeku. Alisnya bertaut di balik masker.
Jafar".....?".
"Nafkah?" sahut Jafar pendek.
"Iya," jawab Nina polos. "Sejak kita nikah siri beberapa hari yang lalu , Anda langsung pergi dan belum pernah kasih nafkah lahir. Mahar kemarin juga cuma lembaran seratus ribu rupiah... Buat beli bakso langsung habis.... Dan yang Nina tahu Anda pinjam dari anak buah Anda karena tidak pegang uang tunai."
Jafar: "..."
Pria triliuner itu bungkam total. Kenangan saat ia terpaksa meminjam uang seratus ribu dari dompet Dako mendadak terngiang kembali di kepalanya. Matanya berkedip dua kali di balik masker.
"Kamu... mau pakai buat apa... Kartu ini?" pancing Jafar pelan, suaranya tetap diusahakan sedingin mungkin.
Nina tersenyum polos, memeluk kartu hitam itu di dadanya seperti anak kecil menemukan mainan mahal. Di mata Jafar, Nina masihlah sosok gadis desa yang polos dan lugu, tanpa tahu bahwa di balik senyum itu, Nina menyembunyikan muslihat besar.
"Tentu saja Nina mau beli baju-baju bagus buat Gonta ganti saat kuliah, mobil mewah, skincare yang mahal, dan barang-barang bermerek kayak istri orang kaya pada umumnya, Tuan!" jawab Nina ceria. "Walaupun pernikahan kita cuma siri dan Anda bisa menceraikan Nina kapan saja, setidaknya Nina mau menikmati jadi istri orang terkaya!"
Logikanya, Jafar harusnya marah atau murka melihat istri sirinya mendadak berwatak matre dan terang-terangan berniat menguras hartanya. Namun anehnya... rasa marah itu sama sekali tidak muncul di dada Jafar. Pria dingin itu justru hanya menatap Nina datar, memproses kepolosan yang terlalu jujur itu.
Jafar menghembuskan napas pelan lewat hidungnya. Pria irit bicara itu membuang muka, lalu menunjuk ke arah pintu kamar dengan dagunya.
"masuk.... Kamarmu sana," usir Jafar dingin dan mutlak.
Nina merasa heran dan sempat tertegun sejenak. Ia tidak menyangka respons pria di depannya akan sedatar ini setelah ia terang-terangan berkata ingin menguras hartanya. Namun, senyum lega langsung terukir tipis di hati Nina.
Tanpa membuang waktu, Nina membungkuk hormat. "Baik, Tuan. Nina permisi ke kamar dulu. Selamat istirahat!"
Nina berbalik dan melangkah cepat keluar dari penthouse, menggenggam erat Black Card di saku bajunya. Setidaknya untuk malam ini, ia selamat dari kewajiban melayani Jafar di ranjang, sembari mengantongi modal besar untuk melancarkan aksi balas dendamnya.
Sementara itu, Jafar masih berdiri kaku di tengah ruangan yang hening. Pria dingin itu menatap pintu yang baru saja tertutup, lalu menunduk menatap mejanya yang kini kosong.
Di balik masker hitamnya, sudut bibir Jafar yang terkenal tak pernah tersenyum itu perlahan terangkat tipis. Pria irit bicara itu hanya bergumam pendek.
"Dasar aneh."
___
Di dalam kamarnya yang hening di lantai satu, sajadah tebal terpampang rapi. Nina duduk bertafakur setelah melakukan sholat malam sebelum tidur, mengangkat kedua telapak tangannya di cahaya remang lampu tidur nya.
Aroma mukena yang bersih memeluk tubuhnya, namun dadanya terasa sesak oleh gemuruh emosi yang mendadak membuncah. Bayangan almarhumah ibunya, wanita lembut yang tak pernah mengajari Nina arti kebencian, hadir begitu nyata di pelupuk mata.
“Ibu...” batin Nina menjerit pelan, air matanya menetes satu per satu membasahi pipinya.
Langkah balas dendam yang diambilnya selama ini telah melaju begitu jauh. Sebagai seorang muslimah yang tumbuh dengan didikan agama, ada ketakutan mendalam yang menyusup ke sudut hatinya...Apakah langkah ini membuat Sang Khalik murka padanya? Apakah ia sedang mengotori tangannya sendiri demi sebuah amarah?
Namun, di tengah Isak tangis yang tertahan, nuraninya membisikkan kebenaran yang jujur.
Nina tidak pernah menfitnah atau merancang kejahatan dari ketiadaan.
Anggun hancur bukan karena Nina yang jahat, melainkan karena keserakahan Anggun sendiri yang tega mencampurkan bahan-bahan kimia berbahaya ke dalam produk salonnya demi keuntungan pribadi. Apa yang Nina lakukan justru menghentikan kejahatan itu, menyelamatkan puluhan bahkan ratusan wanita lain agar tidak menjadi korban kerusakan kulit yang berakibat fatal.
Begitu pula dengan Hadin. Nina tidak pernah memaksakan narkoba ke dalam tubuh pria itu. Hadin sendiri yang memilih jalan menjadi pecandu. Mendorong Hadin ke pusat rehabilitasi, meski lewat jalan penangkapan yang pahit, mungkin adalah satu-satunya kesempatan bagi Hadin untuk sembuh dan berhenti merusak dirinya sendiri sebelum ketergantungan itu mencabut nyawanya.
Dan Hazel... gadis itu jatuh bukan karena dikutuk, melainkan karena kebodohan, keangkuhan, dan pergaulan bebas yang ia pilih sendiri hingga mudah dimanfaatkan oleh orang-orang licik.
“Ya Allah... Ya Rabb...” bisik Nina parau, menundukkan kepalanya dalam-dalam hingga dahi menyentuh sajadah. “Engkau Maha Tahu apa yang ada di dalam dada hamba. Hamba tidak pernah ingin menjadi hakim atas hidup manusia lain... Hamba hanya menyingkap kebohongan yang mereka tutupi di atas penderitaan almarhumah Ibu... Ampunilah hamba jika langkah ini terlampau jauh...”
Nina menumpahkan seluruh beban rasa bersalah, kerinduan pada ibunya, dan kepasrahan jiwanya di atas sajadah itu. Air matanya mengalir deras, membasahi kain tempat sujudnya hingga dadanya terasa jauh lebih lapang. Ia merasa dipeluk oleh ketenangan yang tak bertepi, seolah Sang Khalik mendengar setiap bisikan penyesalan dan kepasrahannya.
Beberapa saat kemudian, setelah usai berdoa dan merapikan mukenanya, suasana hatinya kembali tenang. Isak tangisnya berganti menjadi hembusan napas lega. Dan bersamaan dengan tenangnya jiwa Nina... perutnya yang kosong mendadak menyuarakan protes yang cukup nyaring.
Kruuuk...
Nina terkekeh pelan di tengah sisa air mata di pipinya. Rasa sedih yang mengharu biru mendadak terusir oleh kenyataan biologis bahwa ia belum makan malam.
Dengan langkah pelan dan wajah yang kembali segar, Nina keluar dari kamar menuju dapur penthouse di lantai dasar. malam itu, dalam keheningan rumah yang megah namun dingin, gadis desa itu hanya ingin menyeduh segelas susu hangat dan mencari sesuatu untuk mengganjal perutnya yang lapar.
sungguh terlalu kamu Faris
gantung banget cerita nya Thorrrr
next 💪💪🥰🥰