Sebagai seorang perawat di Rumah Sakit Jiwa Harapan Sehat, Nadira Anindya selalu percaya bahwa setiap pasien berhak mendapatkan kasih sayang.
Ketika Adrian Mahendra, pria pendiam yang didiagnosis mengalami gangguan jiwa berat, menjadi pasien barunya, Nadira merawatnya dengan penuh ketulusan tanpa mengetahui siapa pria itu sebenarnya.
Di balik tatapan kosong Adrian, tersimpan sebuah rahasia besar. Ia bukan penderita gangguan jiwa, melainkan pewaris tunggal Mahendra Grup yang sengaja dijebloskan ke rumah sakit jiwa oleh ibu sambungnya demi menguasai seluruh harta warisan miliknya.
Ketulusan Nadira perlahan menjadi cahaya dalam hidup Adrian yang telah kehilangan segalanya. Namun saat cinta mulai tumbuh, keduanya harus menghadapi konspirasi, pengkhianatan, dan perebutan warisan yang mengancam nyawa.
Akankah Nadira berhasil mengungkap kebenaran, atau justru ikut terjebak dalam permainan kejam keluarga Mahendra?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30 : Pertemuan yang Tak di inginkan
Beberapa wartawan mulai mengajukan pertanyaan.
Gunawan hanya tersenyum sambil berjalan tenang.
Nadira berdiri di sampingnya, berusaha menjaga ekspresi agar tetap terlihat percaya diri.
Sesuai rencana, dua orang pengawal Gunawan sudah berada tidak jauh dari mereka. Beberapa pengawal lainnya tetap menunggu di dalam kendaraan untuk berjaga-jaga.
Sementara itu, Adrian berdiri beberapa langkah di belakang Gunawan dan Nadira. Penampilannya benar-benar berbeda dari biasanya.
Setelan hitam, rambut yang tertata rapi, serta kacamata hitam membuatnya terlihat seperti pengawal profesional yang sulit didekati.
Ia berdiri tegap dengan kedua tangan berada di depan tubuh. Tatapannya menyapu seluruh area.
Namun beberapa detik kemudian, pandangannya berhenti pada Nadira.
Wanita itu sedang berdiri di samping Gunawan. Sesekali Nadira tersenyum kepada para wartawan yang mengambil gambar.
Entah kenapa, dada Adrian tiba-tiba terasa sesak, tatapannya menjadi lebih lama. Ada sesuatu yang mengganggunya. Bukan karena keadaan di sekitar, bukan pula karena ada seseorang yang mencurigakan. Melainkan karena melihat Nadira berdiri begitu dekat dengan pria lain.
Adrian mengerutkan kening. "Kenapa aku merasa seperti ini?"
Ia sendiri tidak mengerti, selama ini Nadira memang selalu berada di dekatnya. Mereka sering bekerja sama, berbicara, bahkan saling menggoda.
Tapi malam ini terasa berbeda, melihat Nadira tampil begitu cantik dan berdiri di samping Gunawan sebagai seorang wanita yang terlihat anggun membuat perasaan Adrian menjadi aneh.
"Cemburu?" Pikiran itu tiba-tiba muncul. Adrian langsung menggeleng kecil. "Ah... tidak mungkin."
Ia kembali mengalihkan pandangan dan berusaha fokus pada lingkungan sekitar. Namun beberapa detik kemudian, matanya kembali mencari Nadira.
Tanpa disadari Adrian, Nadira juga sempat menoleh ke belakang. Tatapan mereka bertemu, Nadira tersenyum kecil. Adrian hanya mengangguk singkat, berusaha mempertahankan ekspresi dinginnya.
Namun Nadira justru memperhatikan sesuatu. "Kenapa dia terus melihat ke arahku?" pikirnya.
Gunawan yang berdiri di samping Nadira kemudian berkata pelan, "Jangan terlalu banyak melihat Adrian."
Nadira terkejut. "Kenapa, Om?"
"Dia sedang menyamar. Kalau terlalu sering berinteraksi, orang bisa curiga."
Nadira mengangguk. "Oh, iya."
Sementara itu, Adrian kembali memindai area sekitar. Banyak tokoh penting mulai berdatangan.
Satu per satu kendaraan mewah berhenti di depan gedung.
Para tamu turun dengan pengawalan masing-masing.
Adrian memperhatikan mereka dengan saksama. Sampai akhirnya sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan pintu masuk.
Seorang pria turun lebih dulu dan membuka pintu belakang. Adrian langsung memperhatikan kendaraan itu. Instingnya mengatakan kalau dia sangat mengenali mobil itu.
Gunawan yang menyadari perubahan sikap Adrian ikut menoleh. "Kenapa?" tanyanya pelan.
Adrian tidak menjawab, matanya masih tertuju pada mobil tersebut. Pintu belakang akhirnya terbuka, seseorang keluar dari dalam mobil.
Wajah Adrian seketika berubah serius.
Nadira yang berdiri tidak jauh dari sana ikut memperhatikan. "Adrian..." gumamnya pelan.
Adrian masih tidak menjawab.
Di balik kacamata hitamnya, tatapannya semakin tajam. Orang yang baru turun dari mobil itu...
adalah seseorang yang selama ini membuatnya menderita.
Pintu mobil hitam itu akhirnya terbuka sepenuhnya.
Seorang wanita turun lebih dulu. Gaun panjang berwarna gelap membalut tubuhnya dengan anggun. Perhiasan yang dikenakannya terlihat mahal, sementara rambutnya ditata dengan sangat rapi.
Dari cara berjalan dan tatapannya, wanita itu tampak begitu percaya diri. Adrian langsung mengenalinya, dia adalah Miranda Mahendra, Ibu sambungnya.
Beberapa detik kemudian, seorang pria muda turun dari sisi lain mobil, Dimas Mahendra... adik sambung Adrian. Dimas mengenakan setelan jas mahal, wajahnya terlihat tenang dan penuh percaya diri.
Beberapa wartawan bahkan langsung mengarahkan kamera kepadanya.
"Pak Dimas! Bagaimana perkembangan Mahendra Group setelah pergantian kepemimpinan?"
Dimas hanya tersenyum. "Mahendra Group akan terus berkembang. Kami sedang menyiapkan beberapa langkah besar untuk masa depan perusahaan."
Miranda berdiri di sampingnya dengan senyum penuh kebanggaan.
Adrian masih berdiri di tempatnya, tangannya perlahan mengepal. Rahangnya mengeras, seluruh kenangan tentang masa lalu seakan kembali menyerbu pikirannya.
Rumah sakit, ruangan yang dingin, hari-hari ketika dirinya tidak dipercaya siapa pun. Dan sekarang...
orang-orang yang membuatnya kehilangan semuanya justru berdiri di hadapannya dengan pakaian mahal dan senyum penuh kemenangan.
Tatapan Adrian semakin tajam, "seharusnya aku yang berdiri di sana, seharusnya aku yang menggunakan mobil keluarga Mahendra, dan seharusnya aku juga yang memimpin perusahaan itu," gumamnya dalam hati. Kepalan tangannya semakin kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
Gunawan yang melihat perubahan ekspresi Adrian langsung menyadarinya. "Adrian," panggilnya pelan.
Namun Adrian tidak menjawab, ia masih menatap Miranda dan Dimas. Miranda kemudian berjalan melewati barisan wartawan.
Sesekali wanita itu tersenyum kepada orang-orang yang menyapanya. Sementara Dimas tampak menikmati perhatian yang diberikan kepadanya.
Adrian menarik napas dalam-dalam, namun emosinya hampir tidak mampu lagi ia tahan. Tiba-tiba seseorang menyentuh tangannya, seketika Adrian terkejut.
Nadira sudah berdiri di sampingnya, wanita itu menggenggam tangan Adrian dengan erat. Adrian langsung menoleh.
Nadira mendekat sedikit lalu berbisik pelan, "Sabar, Adrian."
Tatapan Adrian masih tertuju ke depan.
"Aku tahu ini pasti berat untukmu," lanjut Nadira. "Tapi jangan lakukan apa pun sekarang."
Adrian hanya terdiam.
Nadira menggenggam tangannya sedikit lebih erat. "Aku yakin kamu bisa merebut kembali semuanya dari nenek sihir itu."
Adrian akhirnya menoleh kepadanya. "Nenek sihir?"
Nadira mengangguk kecil sambil tetap berbisik. "Iya, lihat saja wajahnya. Dia benar-benar seperti nenek sihir yang baru memenangkan kerajaan."
Adrian hampir saja tersenyum, namun ia segera menahan ekspresinya. "Jangan membuatku tertawa sekarang."
Nadira tersenyum kecil. "Setidaknya emosimu sedikit turun."
Adrian kembali menatap Miranda dan Dimas. Kali ini tatapannya lebih tenang. Namun di dalam hatinya, tekadnya justru semakin kuat.
"Aku akan mengambil kembali semuanya, bukan hanya perusahaan. Tapi kebenaran tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Ayah," batinnya.
Sementara itu, Miranda tiba-tiba berhenti.
Tatapannya berkeliling sebelum akhirnya jatuh ke arah Gunawan.
"Oh, ternyata Pak Gunawan juga hadir."
Gunawan tersenyum sopan. "Tentu saja. Acara seperti ini tidak mungkin saya lewatkan."
Miranda kemudian memperhatikan Nadira yang berdiri di samping Gunawan. Tatapannya berhenti beberapa detik pada wanita itu.
"Dia ini siapa?"
Gunawan tersenyum. "Oh ini, dia itu calon istri saya."
Nadira segera tersenyum sopan. "Salam kenal, Nyonya."
Miranda mengangguk tipis. "Ternyata kau membawa calon istrimu."
"Tentu Nyonya Miranda, karena acara sebesar ini sangat penting untuk saya," jawabnya.
Miranda sangat tidak suka saat menatap Nadira, bahkan ia tidak mengenali Nadira sebagai susternya Adrian. Namun kemudian pandangannya beralih ke belakang.
Tatapannya melewati dua pengawal Gunawan dan berhenti pada Adrian. Pria dengan setelan hitam dan kacamata hitam itu berdiri tegap beberapa langkah dari mereka.
Miranda memperhatikannya cukup lama, Adrian tidak bergerak. Tidak ada sedikit pun ekspresi di wajahnya. Namun jantungnya berdetak semakin cepat.
Miranda menyipitkan mata. "Entah kenapa... pengawal itu terasa begitu familiar," pikirnya.